Here, I am



mardi, décembre 25, 2012

Semacam Dilematika Hidup ...

Karena hari ini adalah hari libur nasional, aku pun dengan senang hati berniat untuk membangkongkan diri dengan bangun  kesiangan. Alhasil, sekitar jam sembilan pagi aku baru memiliki hasrat untuk sejenak meninggalkan kasur terindahku yang meski tipis tapi selalu menemani hari--hariku di kamar.
Ketika telah membuka kedua mata, masih sayup-sayup aku mendengar dengan sangat jelas sebuah curhatan seorang gadis dewasa 24 tahun yang mempermasalahkan tentang hidup,jodoh, dan juga keluarganya. 
Dengan tanpa air mata, ia mulai bercerita ditengah kesadaranku yang belum sepenuhnya terkumpul. 
Dia bercerita tentang keadaanya yang sekarang. Lulusan S1 dari universitas dimana aku saat ini tengah mengais ilmu didalamnya, namun ia saat ini tengah membolang mencari pekerjaan. Merantau ke Surabaya lalu ku dengar melancong ke ibukota. 
Padahal si gadis itu telah menggenggam status sarjana sudah lumayan lama. tapi pada kenyataanya masih bingung mencari pekerjaan. Belum lagi masalah kedua orang tuanya yang menyuruhnya agar cepat menikah. Ku dengar jika ayahnya tak terlalu mempermasalahkan jika ia menikah dengan seorang lelaki yang tak bekerja. Asalkan ia cepat menikah. Maklum, di desa tempatnya tinggal pun masih terbilang mengikuti aturan jaman dulu dimana gadis harus ceoat-cepat dinikahkan. 
Tapi si gadis itu yang pemikirannya otomatis sudah menyentuh taraf modern, tak mau begitu saja mengikuti aturan desa dan ayahnya. Baginya, kalau menikah diusahakan dengan lelaki yang sudah mapan. Mapan tak berarti kaya. Maksutnya, ia tak mau ketika ia sudah berumah tangga tapi ia tetap menengadahkan kedua tangan meminta bantuan hidup pada orang tuanya. Baginya sudah cukup orang tuanya mengeluarkan biaya yang tak sedikit demi membiayai kuliahnya kala itu.

Huh, lama-lama aku bertanya sekaligus berpikir. Sedemikian kah dilematika kehidupan orang dewasa pada era gila ini? Ketika kita terlebih anak gadis yang memiliki angan setinggi langit, tapi harus terbata-bata meraihnya karena keluarga lebih mengarahkan mengikuti aturan-aturan yang kita sebut primitif barang kali.
Tak ku pungkiri rasa takut langsung menyusupku. Bagaimana jika itu terjadi pada kasusku. Aku ingin terbang jauh meraih semua mimpiku, tapi justru orang-orang yang ku cintai tak rela melepas tanganku? Bagaimana jika mereka dengan lembutnya memaksaku kembali ke kotak asliku dan merayuku meninggalkan lambaian mimpi-mimpiku? Terbang ke Eropa, keliling dunia, berkarir dan menetap di ibukota atau negeri impianku? Mungkinkan aku bisa meraihnya? 

Seolah saat ini aku tak mau umurku bertambah. Aku ingin tetap menjadi gadis dibawah 20 tahun. Aku masih ingin lebih lama menjadi gadis belasan tahun yang tak harus merasakan getirnya hidup. Tapi hidup akan terus berjalan tanpa henti. Suatu saat aku akan menemukan jalan dimana dilematika itu menghampiriku. Entah apa yang akan ku temui nantinya, aku tak mau terlebih dulu dibuat pusing. Biarkan semuanya mengalir dengan sendirinya sesuai waktu-Nya. Setidaknya itu alibi untuk menenangkan batinku sendiri ...

dimanche, décembre 23, 2012

I B U ...

Ibu, ketika aku mengucap atau hanya mendengar tiga huruf itu disebut, sesosok wajah yang menyejukkan kerap muncul dalam anganku. Seorang wanita yang dengan jilbabnya atau hanya dengan rambut berantakannya dan sebuah daster menutupinya, selalu membangkitkan rasa rindu teramat dalam hatiku.
Seorang wanita yang telah membawaku melihat dunia fana ini, dan wanita yang tak ku sadari telah meyimpan banyak uban di rambut gelombangnya itu adalah wanita yang dengan omelannya selalu membawa hasratku untuk ingin menapakkan kedua kaki kembali ke pintu rumah tercintaku.

Tanggal 21 Desember adalah hari dimana wanita tercintaku itu membuka mata untuk pertama kali dalam tangisan mungil seorang bayi tanpa dosa. Dan, keesokan harinya tanggal 22 Desember, orang-orang mengenal dan memperingatinya sebagai hari ibu sedunia. Sebuah kado spesial telah ku siapkan jauh hari sebelum kedua hari spesial itu datang. Memang bukan sebuah kado mahal yang ku suguhkan untuknya. Hanya sebuah bingkisan kotak persegi panjang berselimut warna hijau dan dua bauh daun hiasan mengatup yang ku kira semakin mempercantik kotak sederhana itu. Sebuah kado yang didalamnya terdapat sebuah benda yang tak mahal tapi mempunyai sebuah makna yang memeluknya.

Sebuah lampu dalam sebuah kotak segi empat yang berhiaskan butiran-butiran pasir berwarna-warni. Ku selipkan sebuah makna dibaliknya. Sebuah lampu yang meski kecil dan tak punya daya besar, tapi tetap mempu untuk menyinari sekitarnya. Sebuah lampu yang meski bukan lampu  terhebat dan terindah, tapi tetap menghidupkan kegelapan di sekitarnya. Sebuah lampu yang ku harapkan menerangi kehidupanku saat ini hingga kapanpun.

Ibu, kini aku telah beranjak dewasa. Meksi tak bisa tiap hari  aku mencium punggung tanganmu sebelum melakukan hari-hariku, tapi lewat untaian doa tiap detik aku haturkan demi namamu. Meski tak bisa tiap hari ku lontarkan cerita-ceritaku, tapi tiap detik ku lontarkan mujanahku untuk hidupmu. 

Dan Ibu, meski aku bukan seorang anak yang selalu membuatmu tersenyum, tapi aku adalah seorang anak yang tiap saat berpikir bagaimana mengukir tawa bahagia bukan hanya di bibirmu tapi juga menyusup dalam benakmu,Ibu...

Ibu, aku hanya ingin kau selalu menjadi lampu itu. Meski uban telah menyulap hampir seluruh rambut hitammu dulu, dan meski usia tak lagi muda, aku tetap percaya bahwa kau akan selalu menjadi wanita terbaik. 

Ibu, meksi aku tak bisa tiap saat berada di sampingmu, tapi percayalah doa dan tangisku ku persembahkan untukmu,Ibu...

Aku mencintaimu,Ibu... 
Kau wanita terindah dalam hidupku.. Tetaplah ada untukku dan untuk orang-orang yang mencintaimu,..
Tuhan, jagalah wanita itu... Jagalah dia dalam kotak bahagia itu ....

samedi, décembre 15, 2012

Today, I Wanna Tell ....


I haven’t  met a special someone since some days ago. As usually, I always meet him in our faculty or in cafetaria.
When I met him, he always gave me his cute smile, of course I gave him back my sweetest smile.
I wanna tell a little about him. He always wears stylist clothes and a nice jacket. He’s so awesome, I think. And he’s a singer. He has a band but I won’t to mention his band’s name. And now, I have one of his songs. That song is about love. And, his voice is beautiful enough. At least, that’s my opinion. Because my close friend said to me that his voice and his song are bad. But I don’t care about it. I think that he’s a talented singer. Every night, I always listen to his song. While I’am studying my lessons, I listened to his music. It’s make me be calm down and memorize to our history.
Our history last year. When I met him for the first time. Last year when I started talking with him. Last year when he gave me his hands to help me. Last year, and last year.
But nowdays, I realize that all of this are imppossible to come anymore. I can’t to tell for some reasons. Let me to save it by my self.
For you, someone who far away from my eyes. I hope somedays, you can give your hands back to me. Although, I don’t know perhaps you have another someone that you loves.
Please, I don’t wanna you know about it. Only, I wanna meet you soon. See your face, see your smile, and see your eyes. Don’t far away. I beg to you.

I’am still can’t to say that I love him so much. I just wanna be his close friend. More? Only God who knows that. I don’t know for the reasons why I can’t love someone again. I wanna try, but I can’t. I just wanna see his eyes and his smile. I just wanna hear his voice. And once more, I just wanna see when he’s a good time for perfomence. That’s all ...
I beg to You, God ...




jeudi, décembre 13, 2012

Misteri Desember untuk SMANSTAR ...

Semalam tepatnya hampir tengah malam, begitu aku membuka akun jejaring sosialku facebook, aku sudah lebih dulu dibuat diam sejenak. Banyak status dari teman-teman SMA ku yang mengutarakan tentang sebuah tragedi yang sama sekali tidak mengenakan untuk kedua kalinya.
Sebuah tragedi kematian. Meninggal di tempat. Kecelakaan. Oleh truck. Dan yang lebih mencengangkan terjadi telah dua kali dalam pertengahan bulan ini. Kecelakaan maut yang pertama terjadi pada tanggal awal bulan ini dan yang kedua yang pasti ku harapkan juga yang terakhir terjadi baru saja kemarin malam  ditanggal yang banyak di eluh-eluhkan orang sebagai tanggal yang cantik dan spesial. 12-12-2012.
Kecelakaan yang merenggut dua nyawa siswi yang tengah mengenyam pendidikan di SMA tempatku pernah mengukir secuil hidupku pula. Mereka adalah adik kelasku meski aku tidak mengenal. Sedang menempuh ditingkat kedua dan ketiga.
Usai mendengar dan sedikit menelusuri kabar miris itu,pikiranku yang aku yakin turut pula menjadi pikiran sebagian teman-teman seperjuanganku dulu, dipaksa untuk flashback ke masa lalu. Sekolahku menjadi pembicaraan yang tidak asing lagi. Bahwa tiap tahun pastilah memakan korban jiwa pada tiap angkatan. Ketika aku masih duduk sebagai siswi ditahun pertama pun, untuk pertama kalinya dibuat kaget oleh kabar kematian kakak kelas tiga yang meninggal ditempat akibat kecelakaan dengan bus ketika akan mengikuti ujian semester. Mulai dari itu berhembus kabar-kabar yang tidak mengenakan. Tentang tiap tahun sekolah akan memakan satu korban siswa maupun siswinya sebagai tumbal atau apalah sejenisnya yang aku sendiri tak begitu memahaminya.
Tak cukup sampai disitu, ketika aku mengenyam pendidikan pada tingkat kedua pun, lagi-lagi kecelakaan itu kembali terulang. Kali ini teman seangkatanku yang meskipun aku tidak mengenalnya akhirnya meregang nyawa setelah sempat memberikan sedikit sinyal kematiannya.  Bahwa ia ingin agar foto-fotonya dipampang di dinding kelas supaya teman-temannya selalu mengingatnya. Sekitar seminggu setelahnya ia pun hanya tingal nama setelah sempat dirawat di rumah sakit, seingatku.
Bayang-bayang itu kembali menghantui aku dan sebagian besar teman-temanku ketika kami menjabat  sebagai kakak tertua di sekolah. Kami khawatir jika kembali satu korban jatuh ketika  kami akan mempersiapkan diri menempuh ujian nasional. Tapi syukurlah, tak ada korban selanjutnya. Kami semua lulus 100% tanpa adanya korban jiwa pada tahun itu.
Kemudian,cukup sunyi dan baik-baik saja untuk setahun sejak aku mendapat predikat alumni. Barulah di bulan akhir tahun ini dua kabar duka sekaligus mengguncang semua yang mengenal SMANSTAR sebagai bagian dari sejarah hidupnya. Dua nyawa melayang dalam waktu yang hampir bersamaan dengan kasus yang sama. Semua turut berduka. 
Entah kenapa seolah sudah menjadi rutinitas "memakan korban" tiap tahunnya. Kebanyakan yang akan menempuh ujian nasional pada tingkat terakhir sekolah. Mitos pun banyak bermunculan sebagai pengiring kabar-kabar ngeri itu. Ada yang mengatakan karena adanya sebuah pohon besar yang menunggui sekolahku itu dan bla bla banyaknya. Hingga muncul sebuah permintaan dari rekan seperjuanganku untuk mengadakan "selametan" supaya kejadian itu tidak kembali terulang. Agar tiap tahun sekolah kami tidak kembali berduka dengan kehilangan salah seorang keluarganya.
Entahlah. Memang semua yang terjadi pastilah rencana Sang Ilahi. Kita pun tak bisa menebak apa yang akan terjadi esok, dua hari kedepan ataukah setahun mendatang. Semua itu masih rahasia-Nya. 
Aku harap, ini akan menjadi kabar duka terakhir yang aku dengar. Semoga tak ada korban apapun lagi nantinya. Semoga semua cerita dibalik itu semua hanya isapan jempol belaka. Setidaknya itu yang bisa aku harapkan ...


lundi, décembre 10, 2012

Atap-Atap ku ...


Berbicara tentang lingkungan, aku adalah orang yang bergumul dengan tiga lingkungan berbeda sekaligus. Untuk hampir semua orang yang mengetahui lingkungan ini menganggap aku “cukup hebat”. Tapi sejatinuya mereka tidak tahu seperti apa aslinya aku mempertarhkan ketiganya.  Sedikit lebay, mati-matian aku mempertahankan ketinganya agar meraih keseimbangan. Tetapi kerap saja bingung, linglung, lelah, malas menyatroni ku dengan kadar luar biasa.
Mengenai ketiga lingkungan itu, ku paparkan sekilas. Sedang mengenyam pendidikan pada dua tempat yang berbeda, juga menikmati tidur dibawah tempat yang dikelilingi berbagai peraturan yang mengikat. Artinya, aku sedang bergumul dengan tiga lingkungan yang berbeda. Berbeda dalam pandangan, berbeda dalam rasa, dan yang pasti berbeda di hampir segalanya.
Ketika berada pada lingkungan pendidikan yang lebih dahulu aku jalani, rasa aman lebih kerap menyelimutiku. Dari segi fasilitas,infrastruktur, dan “kemewahan” mungkin lebih diatas dibanding lingkungan pendidikan ku yang kedua aku tempuh.
Busana stylist, up date informasi-informasi hollywood, juga menggenggam ponsel keluaran terbaru yang menyuratkan jebolan dari kalangan menengah keatas adalah sedikit gambaran atapku yang pertama. Sedangkan kebalikan dari semua itu bisa ku katakan sebagai secuil gambaran dari atap ku yang selanjutnya.
Juga tampilan fisik yang semua orang bisa membedakan keduanya. Jika di atapku yang pertama aku tak perlu merusak binder ku karena ku kibas-kibaskan sebagai kipas pengusir gerah, maka di atapku yang kedua aku harus melakukanya demi mengusir panas agar tak mengganggu proses otakku mencerna menu sehari-hari para mahasiswa. Juga aku tak perlu mencapai lantai yang menjulang hanya dengan mengandalkan anak-anak tangga yang melelahkan ketika bernaung pada atapku yang pertama. Cukup dengan memainkan tombol lalu memasuki sebuah kotak baja mungil yang orang sebut dengan nama “lift” dan sampailah aku pada lantai yang ku tuju.
Tapi keadaan sebaliknya menyapaku. Aku harus menginjak sekian banyak anak-anak tangga entah sebanyak apa aku enggan menghitung, demi kedua kakiku mencapai lantai paling atas. Belum lagi gerah dan panas yang disajikan sebagai tempat menampung ilmu-ilmu dari para perantara ilmu. Dan satu hal yang ku soroti selanjutnya adalah tempat makan. Dimana tak ada cafetaria di setiap gedung, yang ada hanyalah satu tempat  untuk makan yang aku pun hanya pernah sekali saja menjamahnya. Dan tempat untuk makan yang selanjutnya lebih tak ku sukai lagi. tak terawat tentu tak bersih, dekat dengan beberapa tong sampah dan lalat-lalat dengan senangnya bertebangan seolah ingin merebut makanan yang ada. Sungguh pemandangan yang bagiku sangat tak nyaman untuk dijadikan tempat melahap sesuatu.
Begitu banyak kata “beda” yang aku dapat dari kedua atapku itu. Bukan hanya segi fisik, namun turut pula segalanya. Aku tak harus  merasa bosan berada di atap pertama karena banyaknya tempat yang bisa ku jadikan tempat meletakkan punggung sejenak atau menyegarkan otak seusai panas merangkum kewajiban mahasiswa seharian. Tapi kerap merasa tak nyaman dan kebingungan mencari tempat yang pas karena sejumlah keterbatasan ketika aku menjelajah di atap kedua.
Tapi dibalik itu semua, ada satu kelebihan yang lebih unggul digenggam atapku yang kedua. Yakni kekompakan. Selalu tolong-menolong, ramah, dan satu lagi yang tak pernah aku temui yakni berjabat tangan ketika bertemu adalah salah satunya. Itu hal yang mungkin aku nilai tak bisa aku dalami pada atapku yang pertama.
Itulah putaran kehidupan. Dimana-mana pastilah kata “beda” selalu menyertai. Kini, sedikit demi sedikit aku mulai tahu perbedaan diantara kedua atapku. Dan kini pula, pelan tapi pasti aku ingin menyelami perbedaan itu lalu mengkombinasikannya agar tak lagi asing dengan keduanya. Inilah resiko yang telah aku ambil meski didahului dengan kata “terpaksa”. Harus mulai membiasakan terburu-buru dengan harus melewati sekian anak tangga lalu mencapai ruangan yang ku tuju dengan tanpa penyegar ruangan dan hanya disambut ruangan yang tak pernah aku bayangkan. Juga bingung kala ingin memantulkan bayangan melalui kaca wastafel di toilet. Bingung karena belum pernah ku temui sebuah wastafel dengan cermin besar yang menunggui toilet-toilet seperti yang ada pada atapku yang pertama, dimana setiap toilet pastilah memiliki wastafel sebagai pelengkapnya.
Mungkin perlahan aku akan bisa semakin berbaur dengan itu semua. Tapi terkecuali untuk satu hal ini. Makanan. Sebisa mungkin aku akan menghindari untuk tidak melahap makanan di tempat yang telah aku paparkan tadi. Pastinya lebih ku utamakan berada di cafetaria atap ku yang pertama dengan berbagai alasan yang masuk akal. Bukan karena jiwa angkuh atau apapun yang ingin orang lontarkan. Namun setiap orang tentunya memiliki selera yangg tak sama. Jika memungkinkan untuk berada di tempat yang lebih sehat untuk makanan, mengapa tidak?
Dan selanjutnya yang ingin sedikit ku paparkan adalah atap yang ku tiduri selama ini. Lebih tepatnya beberapa bulan belakangan. Jujur. Atap sangat sempit yang ku punya, dilengkapi dengan sekumpulan orang yang turut bernaung yang kerap  menunjukkan wajah tak bersahabat.  Huft. Atap yang tiap kali aku pikir, menyeramkan. Selalu kata hati ingin meninggalkan tapi kedua “tiang hidupku” selalu mempunyai alasan untuk kembali menahanku dan selanjutnya aku harus kembali tertahan entah untuk berapa waktu.
Tapi ya sudahlah. Jika ku pikirkan dengan nurani yang bersih, ini semua memang yang terbaik yang harus aku lakukan. Namun sayangnya aku belum menjumpai nurani ku yang bersih.

mardi, novembre 13, 2012

Mon Anniversaire ...

Kemarin tepatnya tanggal 12 nopember aku telah menggenggam usia genap 19 tahun. Semua rasa berbaur menjadi satu. Antara senang dan sedih. Bahagia dan menangis. Bahagia karena hampir semua mengucapkan " joyeux anniversaire" padaku. Tapi sedih. Justru beberapa orang yang memiliki andil dalam hidupku sama sekali tak menyuarakkan suaranya.
Memang saat ini kerenggangan tengah memisahkan aku dengan mereka. Tapi sejatinya mereka mengingat lalu minimal ucap "selamat" padaku. Bukan hadiah wow yang aku inginkan. Bukan kado mewah yang aku harapkan. Tapi hanya untaian ucapan tulus beserta senyum terkembang dari bibir mereka lah yang aku nantikan. Meski begitu, aku tetap mencoba yakin bahwa meski tak terucap lewat kata, pastilah teruntai lewat doa dalam setiap munajah yang mereka hadirkan.
Dan kini, tak terasa bahwa aku telah membuka mata selama 19 tahun lamanya. Sungguh anugrah luar biasa dalam hidupku. Sudah 19 tahun sudah aku menapaki bumi tua ini. Selama itu pula aku menjalani berbagai proses kehidupan yang tak bisa aku hilangkan.  Saatnya kini aku dewasa. Menjadi dewasa lebih tepatnya. Dengan berbagai hal yang menerpaku, aku semakin diajarkan oleh-Nya tentang kisah hidup yang sesungguhnya. Semakin belajar lah aku akan sebuah kehidupan.
Di detik ini, aku harap agar aku menjadi pribadi yang jauh lebih baik tentunya. Semakin dewasa dalam segala hal dan belajar dari berbagai masalah yang pernah singgah membelaiku.
Aku harap, aku bisa semakin akrab dengan badai itu lalu bisa mengencaninya. 
Ya Rabb, aku yakin Kau selalu mendengar tiap kata yang aku lontarkan pada-Mu, juga aku mohon Kau kabulkan tiap untai pinta yang aku suguhkan pada-Mu ...
Hanya Kau yang tahu apa yang aku mau ...
Bungkuslah ini semua dalam bingkai terindah dalam hidupku agar kelak aku dapat mengenangnya sebagai hal terindah dalam genggamku ...

mercredi, novembre 07, 2012

Tuhan, tolong ...

Saat ini ketika jari jemariku tengah pilu menelusuri bodi laptopku, tangisku hampir saja pecah. Miris jika kembali mengingat keberadaanku. Pada sebuah tempat yang sama sekali tak kubayangkan sebelumnya akan begini berbaur dalam khayalku.
Memainkan tiga kehidupan yang sama sekali tak sama. Berbeda satu dengan yang lain. Dan karena itu, tertekan seolah menjadi cerminan hidupku tiap hari. Dan aku melakukan itu semua semata-mata demi kedua malaikatku. Demi kedua orang tuaku.
Tapi, sedih. Rasa lelah dan jenuh selalu menghampiriku. Aku bukan wonder woman yang dengan mudah menjalani ini semua. Aku hanyalah gadis biasa yang tak punya kekuatan besar untuk memikul ini semua. Aku tahu. Sangat tahu bahwa ini semua adalah amanat dari mereka demi semua kebaikanku. Tapi, tegakah mereka menumpahkan semuanya padaku? Harus ini dan harus itu. Memikirkan ini dan memikirkan itu. Jujur Tuhan! aku tidak sanggup menjalani ini semua dalam waktu bersamaan. Aku ingin melepas semuanya. Aku hanya ingin bebas mengekspresikan semua yang kurasakan yang terlalu lama bersarang dalam benakku.
Tuhann,, sampaikan pada mereka. Tolong jangan menumpahkan semuanya pada kedua pundakku. Aku juga punya keinginan bagi diriku sendiri. Aku juga berhak menentukan jalan mana yang sekiranya terbaik untukku dan hidupku. Kini aku telah tumbuh menjadi seorang yang dewasa. Prosentase andilku harusnya semakin besar dalam penentuan jalan hidupku sendiri. 
Tuhan, tolong sentuh lembut hati mereka agar menerima inginku. Aku lelah dengan semua ini. Aku muak dengan sekitarku. Aku ingin menemukan jati diriku sendiri. Aku ingin menari dengan caraku sendiri. Dan, aku ingin memeluk anganku seorang diri.
Aku ingin terbang , Tuhannnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn
Aku lelaaaaaaaahhhhhh
Biarkan aku menghirup ketenangan ituuuuu
Biarkan aku terbang sejenakk ...

vendredi, octobre 19, 2012

Pesantren, Oh Pesantren...



Tinggal di Pesantren?  Mungkin orang kebanyakan akan langsung ngacir mendengar itu. Mungkin mereka akan bertanya-tanya, buat apa tinggal di pesantren? Lebih enak di kos. Dapat apa di pesantren? Lebih enak di kos dapat kebebasan.
Mungkin semua itu ada benarnya. Di kos lebih bebas, tidak ada yang ngatur tapi mungkin juga bisa kebablasan. Sedangkan di pesantren, semua rutinitas terjadwal dengan apiknya. Tinggal kita nya sendiri, mengikuti jadwalnya dengan baik, ataukah nakal dan menyimpang dari peraturan.
Berbicara mengenai pesantren, mana ada pessantren yang bebas? Sebebas-bebasnya pastilah tetap ada peraturan yang terkesan mengekang. Telebih untuk kaum Hawa. Bagi orang luar pesantren akan terasa bagaikan hidup di neraka. Seperti mereka sudah pernah merasakan tinggal di neraka saja.
Tapi dibalik mitos seputar kehidupan di pesantren, ternyata begitu banyak hal-hal unik yang akan selalu terkesan dan menjadi ciri khas “ nyantren”. Bangun pagi-pagi ketika para ayam pertama kalinya konser berkokok membangunkan jutaan anak Adam, lalu bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Dan satu keharusan yang sudah menjadi kewajiban adalah ngantri!
Antrian mengular sudah terlihat sejak Muadzin mengumandangkan adzan dengan merdunya. Tak jarang, mengantre dengan posisi mata masih lengket terpejam dengan berdiri pun sudah menjadi hal yang biasa.
Belum lagi, setelah itu wajib sholat shubuh berjamaah dan istighosah dengan serentetan bacaan yang tak kalah mengularnya. Duduk bergoyang karena ngantuk pun sudah menjadi pemandangan terlalu biasa ketika shubuh di mushola. Juga ketika sedang melahap kitab kala ngaji kitab. Berburu tempat strategis untuk tidur ketika mengaji adalah kebiasaanku. Mencari tempat yang dekat dengan tembok agar bisa menyandarkan punggung, kemudian tidur ketika sang Kyai sedang berkutat dengan mike-nya untuk mengartikan kitab kuning. Yang lain juga tak mau kalah. Meski tak dapat sandaran tembok, mereka sama-sama menggunakan punggung teman sebelahnya. Alhasil adegan seperti pada video klip The Virgin ketika menyanyikan Cinta Terlarang pun terlihat di sana-sini.
Satu lagi yang benar-benar menjadi ciri khas nya nyantri adalah kasur lantai. Iya! Tidur hanya beralaskan sebuah kasur tipis dan berposisi berjajar satu sama lain seperti ikan pepes yang berjajar adalah menu wajib santri setiap malam. Berdesak-desakan, posisi tidur tak karuan, ah itu sudah terlalu biasa juga.
Tapi dibalik itu semua, ada unsur kekeluargaan yang sangat kental dalam pesantren. Di pesantren dengan latar belakang penghuni dari berbagai usia,pendidikan, dan karakter, maka kita seolah akan mempunyai adik dan kakak. Kita bisa dipanggil “mbak” (kaum putri) atau juga dipanggil “dek” oleh senior. Didalamnya kita juga seakan mempunyai keluarga yang baru. Karena didalamnya kita bisa makan hingga tidur bersama. Susah dan senang juga bersama.  Saling memberikan nasihat yang terbaik tentunya sering dilakukan.
Seperti yang dulu pernah aku alami. Ketika aku masih nyantri di kota kelahiranku. Aku bisa berperan sebagai seorang kakak terhadap beberapa anak SMP dengan cara mengajari pelajaran bahasa pada mereka, kemudian juga memberikan saran. Tetapi di sisi lain, aku juga seolah menjadi seorang adik yang mempunyai kakak perempuan. Aku bisa bermanja-manjaan dengan para senior, meminta bantuan dalam melakukan sesuatu yang tidak bisa aku lakukan, dan ngambek ketika permintaanku tidak mereka turuti.
Semua hal-hal itu bisa terjadi dalam pesantren. Rasa solidaritas yang tinggi juga tak kalah menjadi ciri khas nya. Merasa menjadi kawan senasib seperjuangan, yang kelak akan menorehkan kenangan indah dalam hidup yang takkan mampu kita hapuskan dan akan selalu menjadi hadiah terindah yang terbungkus dalam kemasan permanen selamanya.
Tapi ada satu hal yang paling aku benci. Karena hidup dengan berbanyak orang, tentu kita tidak bisa melakukan hal-hal semau kita. Jika kita melakukan suatu kesalahan saja, maka menggunjing dan sedikit mencibir akan menyebar luas menjadi trend. Bahkan bisa juga si “korban” menjadi trending topic karena terlalu banyak dibicarakan atau digunjing.
Ya tapi itulah yang dinamakan kehidupan. Kita tidak mungkin bisa menemukan suatu tempat dalam kehidupan kita yang didalamnya selalu positif dan menyenangkan. Kalau ada kata menyenangkan pasti juga ada kata sebaliknya. Menyedihkan,tentunya. Yang jelas dimanapun kita tinggal dalam mengarungi kehidupan ini, semua itu tergantung pada diri kita masing-masing sebagai subjek utama yang menjalaninya.
Meski aku telah biasa dengan semua hal dan rutinitas di pesantren, tapi toh nyatanya aku masih harus banyak belajar beradaptasi lagi dan lagi. Seperti yang saat ini sedang aku jalani. Nyantri di sebuah pesantren modern. Memang intensitas ngajinya tidak sepadat yang ku kira, namun kapasitas penghuninya lengkap dengan komunitas dan kebiasaan  nya lah yang justru selama ini tak pernah ku kira.
Tidak betah? Pasti rasa itu yang pertama kali menggerogotiku. Tapi aku yakin aku bisa melanjutkan hidupku di sini. Aku hanya membutuhkan waktu untuk lebih mengenal dan mendalami orang-orang di sekitarku saat ini. Orang-orang dengan latar belakang dan pendidikan yang berbeda membuatku sedikit kesusahan untuk memahami satu per satu.
Tapi suatu keyakinan kuat telah menancap dengan sendirinya dalam benakku, bahwa ini adalah rumah kedua yang paling tepat untukku selama aku mengarungi ilmu di alam perantauan. Bahwa ini memang jalan terbaik yang telah digariskan oleh Sang Ilahi.
Dan kini, aku selalu berusaha tersenyum menghadapi apapun yang akan terjadi padaku di rumah baruku ini. Karena aku percaya, bahwa ketika kita ikhlas dalam melakukan suatu hal kebaikan, maka bahagia cepat atau lambat akan segera memeluk kita... Aamiin..

Walaupun kerap aku masih saja mengeluh entah itu lewat coretan atau melontar langsung pada orang-orang yang ku percaya. Meskipun aku sudah berkomitmen pada diriku sendiri untuk konsisten menjalani kehidupan baru ku ini, toh nyatanya aku masih saja kerap mencari tempat mungil yang sepi untuk menangis. Tetap saja, perasaan capek, bosan, dan tentu tidak betah kerap menyambangiku setiap detik. 
Aku hanya bisa berdoa agar seiring berjalannya waktu, aku bisa semakin menyesuaikan dengan lingkungan baru yang masih asing ini. Setidaknya bisa turut tersenyum bersama mereka.

mercredi, octobre 17, 2012

Sejenak Saja...

Sepertinya setiap yang hidup pasti akan berjumpa dengan masalah. Bukan sepertinya lagi. Tapi lebih tepatnya pastinya. Manusia pasti akan menjumpai bertubi-tubi masalah dalam hidupnya yang akan setia menggandengnya untuk berjalan berarakan. 
Seperti aku saat ini. Sedang mengambang didera masalah yang kerap membuat aku berpikir aku tak akan mampu menjalaninya. Masalah pendidikan dengan dua lingkungan dan segala sistemnya yang berbeda, juga tentang tempat tinggal yang selalu membuatku merasa aku ini hanya orang bodoh yang mencoba menumpang hidup di dunia ini.
Mungkin saat ini untuk masalah pendidikan, aku berusaha untuk bisa menyatukan keduanya meski aku tahu itu begitu sulit. Tapi sulit bukan berarti tidak bisa,kan? Aku mau mencoba untuk menjalanni keduanya. Berjalan beriringan ditengah-tengahnya kemudian tersenyum karena telah menggapai keduanya. Tapi, tempat tinggal? seketika otakku dipaksa untuk berhenti bekerja ketika teringat tentang sebuah penjara suci itu. Penjara yang selalu membuatku tidak nyaman dengan segala hiruk pikuk didalamnya. Penjara yang menurutku dihuni oleh ratusan manusia yang dengan segala karakteristiknya sukses membuatku menjadi manusia terkerdil di dunia.
Sebenarnya, tidak mengambil pusing masalah manusia-manusia itu bisa saja aku lakukan. Bersikap acuh tak acuh seolah tak mempedulikan apa yang mereka lakukan dan bicarakan tentangku. Toh, mereka sama sekali tak tahu apa-apa tentang hidupku, pikirku. Tapi manusia adalah makhluk sosial, teori yang ku kenal sejak berseragam merah putih itu selalu membuatku membalikkan semua pemikiranku. Bahwa hidup itu pasti membutuhkan uluran tangan dari yang lain juga. Bahwa kita takkan mampu menjalani kehidupan seorang diri.
Tapi lingkungan saat ini sama sekali bukan lingkungan yang aku harapkan untuk menyempurnakan kehidupanku. Berkumpul dengan orang-orang berpendidikan namun terkadang pelupa dengan yang mereka ucapkan sendiri merupakan salah satu dari sekian gambaran yang paling memuakkan yang pernah aku tahu. 
Ya. Tapi aku bisa apa saat ini. Meski aku berteriak sekencang mungkin mengatakan bahwa aku ingin keluar dari lingkungan ini lalu menjalani kehidupan lebih "normal" dengan lingkungan yang lebih nikmat lagi, takkan mampu mengubah semua ini. Tetap saja aku akan berada dalam naungan atap hijau ini.
Dan saat ini, aku ingin melancong dan menyentuh deburan pantai kemudian berteriak sekencang mungkin. Aku ingin sejenak saja bermain-main dengan ombak, membasahi kainku, membaurkan tubuhku lalu memejamkan mata dan menikmati sentuhan lembut angin dalam tenangnya laut.
Sejenak saja, menikmati itu semua. Sejenak saja menyentuh bintang. Dan, sejenak saja tertidur dalam nyenyak nya nyanyian malam ...

dimanche, octobre 14, 2012

Tangisan Semu ...

Menangis itu adalah sebuah hal yang manusiawi. Tak ada larangan untuk menumpahkan kekesalan, kemarahan atau perasaan apapun lewat untaian air mata. Karena dengan memupuskan air mata, hati akan sedikit menyentuh kelegaan.
Aku pun juga hanya manusia kerdil biasa yang hidup dibawah jutaan debu yang tiap detik menari-nari secara kasat mata. Aku hanya setitik bulatan kecil tak terlihat di tengah-tengah lautan antah berantah.
Ketika menemui guratan masalah, aku memilih untuk bungkam dan tanpa isak, menitikan air mata di tempat yang ku pikir akan menutupi kekonyolanku. Merasakan air mata membelaiku , menelusuriku kemudian menghempaskan sedetik sedihku..
Dan, ketika saat ini aku berada pada sebuah llingkungan yang  ku pikir tak sesuai dengan suara hatiku, aku hanya menerimanya dengan anggapan yang terbaik untuk orang-orang yang memohonku untuk menyentuh dasarnya. Aku ingin berkorban. Aku merelakan semua yang kujalani tak sesuai dengan apa yang kuteriakan dalam benakku. Tapi sekali lagi, aku rela. Aku rela jika itu jalan mengukir senyum terindah untuk mereka .
Meski begitu, meski sakit, aku mau untuk tetap berdiri. Aku mau untuk tetap terjaga dalam kebaikan diriku sendiri. Aku mau untuk berbaur dengan yang tak kuinginkan sebenarnya.
Dan ketika aku mulai mencoba untuk melebur di dalamya, tetap saja wajah-wajah memuakkan kerap menampakkan seramnya keaslian. Selalu  menepiskan semangatku untuk memulai semuanya dengan sesuatu yang baru dan lebih baik. Wajah-wajah yang sama sekali tak kuinginkan untuk menumpang dalam kehidupanku.
Tetapi dibalik itu semua, tak ada ruang kosong untuk aku bisa berkiprah bersama tangisanku. Tak ada tempat untuk menemani air mataku. Semua hanya teronggok dalam sarangku. Tanpa aku bisa membaginya, tanpa aku bisa menelurkan pada siapapun.
Yang ada hanya sebuah tangisan abstrak yang tak pernah mau terdengar oleh telinga asing lainnya dan hanya menari dalam kedalaman perasaanku...
Memang yang ada hanyalah tangisan semu yang tak semua mata mampu menatapnya, tak semua hati bisa merasakannya ...
Kemudian aku harap agar suatu saat nanti, aku bisa mengarak air mataku sepuasnya di pundak yang tepat. Di dekapan yang sebenarnya ....

lundi, octobre 08, 2012

Demi Dewasaku ...

Inilah hidup. Inilah kehidupan. Hidup dan kehidupan itu pasti diselimuti pilihan. Ada iya ada tidak. Ada berhasil ada gagal, ada senang ada sedih, ada tersenyum ada menangis. Semua itu adalah sebuah pilihan yang mutlak akan dijalani setiap manusia.
itulah yang saat ini sedang coba aku telisik lebih mendalam lagi. Tentang hakikat kehidupan yang sebenarnya.  Aku mencoba untuk mulai menjadi seorang yang lebih dewasa seiring berlarinya usia. Dan, semakin kedepan, aku semakin tahu bahwa kedewasaan itu bukan berdasar pada seberapa tua  kah usia seseorang, melainkan seberapa matang kah pemikiran seseorang itu. Dan pernah seseorang menghadirkan katanya untukku, bahwa masalah itu datang tak lain demi mendewasakan kita.
Ternyata kini aku merasakannya. Bahwa, memang masalah dihadirkan untuk mematangkan pemikiran kita, untuk mendewasakan kita agar kedepannya kita bisa peka terhadap setiap masalah yang akan lanjut menerpa kita.
Sejak aku menginjakkan kedua kakiku di bumi Arema ini, aku masih terlalu ingat dengan masalah pertamaku. Masalah yang hampir menyurutkan niat batinku. Namun, ku kira hati kecilku mengetukku bahwa ini hanyalah kerikil paling kecil yang menyentuh tubuhku. Bukankah selanjutnya akan ada batu-batuan lebih besar bahkan raksasa yang akan menggamparku? entah dengan cara apa, aku pun masih buta dibuatnya.
Hingga akhirnya, aku dapat menaklukan satu masalah pertamaku itu. dan berkelanjutan, anak-anak masalah itu silih berganti menggandengku. 
Bahkan kini, otakku diminta berputar keras menembus jalan keluar yang tepat. Mendobrak gerbang yang sempat buntu gelap. Aku tahu, apapun yang kita ambil, belum tentu terpeluk oleh orang-orang yang mematrikan diri untuk kita. 
Secuplik cerita, kini aku mulai menjalani tiga kehidupan yang berbeda. Menjadi mahasiswi pada dua universitas yang berbeda, juga menjadi seorang santri pada sebuah pesantren yang pasti terikat dengan segala peraturannya.
sempat membuat bingung hampir semua kawan dalam lingkupku. Sempat juga diam mendengar berbagai  hiruk omongan kanan-kiri yang terkadang menjatuhkan semangatku. Mereka bilang, buat apa kuliah lagi? apa kampus pertamamu kurang bagus? bagaimana time management nya?
Memang jika dilihat, semua itu rumit. Jadwal bentrok, waktu mepet, dan pasti lelah teramat. Minggu pertama telah mengawali dengan kelelahan dan kewalahan yang tak terkira. Mondar-mandir dari kampus satu ke kampus berikutnya. Menghadap orang-orang atas demi mendapatkan kemudahan sudah menjadi menuku tiap hari. Bahkan, aku harus rela berpindah-pindah kelas demi menyetarakan semua jadwal. Agak pusing jika sudah berbicara mengenai berbagai tugas. 
Tapi sedikitpun tak ada niatan untuk melepas salah satunya. Bagiku, ini adalah cobaan selanjutnya yang harus dan mutlak aku taklukan. Sama seperti cobaan terdahulu, aku pasti bisa menghempaskannya. Dan disaat hampir semua orang memberi saran yang bagiku tak sesuai, dua orang lelaki yang begitu berharga dalam hidupku selalu datang menyuratkan kata-kata motivasi agar aku tak berhenti sampai disini. Bahwa aku pasti bisa. Mereka ucapkan kalimat yang menyejukkan nuraniku kala aku merasa semua ini tak sanggup aku pikul sendiri.
Adalah ayah dan pamanku. Lewat udara, mereka berkata agar aku tetap sabar berada diatas tebing yang curam. Karena mereka tahu, inilah yang akan terbaik untukku. Dengan lembut, mereka membelai sanubariku untuk lebih kuat. Dan mereka selalu meyakinkanku bahwa mereka selalu ada untukku. 
dan, saat ini aku percaya bahwa semua ini hanyalah sementara. Tentu kesulitan dan kelelahan yang memelukku takkan selamanya bersamaku. 
Aku semakin percaya, masalah hadir hanya untuk mendewasakan kita ...
Dan, aku tak sendirian ... aku bersama Tuhan dan orang-orang hebat dimataku ...
Aku pasti bisa menghempaskan semua kerikil maupun bebatuan besar sekalipun ...

mercredi, septembre 19, 2012

Kotak Kecil Itu, Surgaku ...



Subuh tersadar,
Ku buka  mata,kumpulkan segenap nyawa,
Memulai  cakrawala dalam barunya jendela
Sedikit terkejut, menangkap langit-langit asing
Ku sapu dalam pandangan, ku rasa dalam keheningan
Kini, hanya sebuah kotak kecil yang membingkai
Kotak kecil yang membungkus, aku dan kehidupanku
Ya. Hanya sekotak kecil.
Kotak yang tak lebar apalagi panjang
Kotak terbungkus wadah kesederhanaan
Terkatup dinginya alas putih kusam
Terdesak bisunya perkakas
Juga tertidur dalam jajaran tipisnya perebah tubuh lelah
Memejamkan mata berbingkai harapan nakal
Agar, semua ini takkan hijrah dalam kisah nyata
Takkan berjalan diatas pijakan mata kakiku
Berharap, kembali memeluk kotak lebih besar itu
Kotak lebih mewah pastinya,
Dan, dengusan nafas kecewa menyemburat disambut kibasan angin
Ternyata hanya sebuah kotak kecil
Sangat kecil dalam pelukku
Begitu mungil dalam tatapanku
Dan yang ada memang sekotak kecil itu,
Ku bangkitkan tubuh lemasku
Ku topang wajah sayuku
Juga ku paksa mata sembabku
Lalu, gemericik air berlomba membasuh wajah,lengan,juga kaki
Aku berwudhu dibawah sayup-sayup sinar rembulan
Kemudian setelahnya,
Menatap langit tak kunjung biru
Masih jutaan bintang menemani setia
Setetes air jatuh dari pelupuk mata
Semakin lancar dalam isak sebuah diam
Seuntai doa melambai para bintang
Akankah semua ini memang garisku?
Garis penuh belokan tajam
Garis penuh lengkungan karam
Kembali terpejam mata basahku
Menelaah Raja langit melontar dengan lembutnya
Menyibak mahkotaku, membelai kelopakku
Bukankah nyawa akan berjumpa tanah?
Bukankah degupan akan kaku melemah?
Dan,bukankah dunia akan berhenti berdansa?
Itu tanyanya...
Lalu, jika waktunya memelukmu
Apa suguhan bekal abadimu?
Siapa yang  berkata membelamu?
Kepada siapa kau meronta mengiba?
Lanjutnya lagi...
Jika  sudah menetap dalam lubang terkecil sekalipun,
Mau kemana kau berlari?
 Siapa peduli dengar air matamu?
Kemudian, apa yang kau hadiahkan?
Apakah gelar sarjana,master atau profesormu?
Apakah hasil penelitian ilmiahmu? Piala? Emas? Perak?
Ataukah kau tipu dengan  bahasa duniamu ?
Kemudian,ku rasa sesuatu merembas semakin deras
Ku dengar hujatannya
Mana tiangmu! Mana kakimu!
Kau pikir cukup satu jalan!
Kau pikir selamanya bersama bumi tua ini!
Kau pikir akan kemana setelah bumi punah!
Mati? Iya! Tentu! Tapi apa kau telah menyiapkan syarat abadi itu!
Syarat membangun istana megah lebih dari semesta ini!
Lalu mana?  Bukankah ada yang lebih abadi dari dunia mungil ini?
Cepat, aku membuka mata...
Langit tampak muram, siratan sebuah amarah
Benar, ini memang garisku, garis terindahku
Dan bodohnya, langit jua menepuk sadar untukku
Ini surgaku! Kotak kecil, teramat mungil ternyata surgaku
Kotak tak menyakinkan bagi mereka, justru adalah surga duniaku
Juga surga dunia yang akan menerbangkanku pada surga sesungguhnya
Setidaknya itu munajahku
Kini, senyumku mulai terkembang lagi,
Menatap mantap dunia lepas di mataku
Akhirnya hatiku berucap
Inilah surga terbaik dalam pengarungan samudraku ....


dimanche, septembre 09, 2012

Aku Takkan Tidur Sebelum Aku Menjadi Lilin Untuk Duniaku ...



Meski mataku tak kuasa selamanya tetap terbuka,
Meski ragaku takkan tegar sepanjang dunia ada,
Meski tanganku tak kuasa lama demi menggenggam,
Dan meski hening juga sunyi tak lama lagi akan menyapaku,
Atau bahkan aku tak mampu lagi menopang tubuhku,
Aku hanya bisa mengukir satu pinta sederhanaku
Bahwa aku tak mau tertidur sebelum aku bisa menjadi sebuah lilin untuk dunia kecilku...
Aku hanya ingin menjadi sebuah lilin yang meski mungil tapi menerangi kegelapan di sekelilingnya,
Aku hanya ingin menjadi sebuah lilin, yang dengan pancaran sinar kecilnya, mampu menghidupkan dunia sekitarnya,
Tapi aku tahu, bahwa lilin itu takkan lama untuk tetap mengobarkan cahayanya,
Bahwa aku tahu, lilin itu dengan cepat akan meleleh, dan meredup, kemudian lenyap...
Tapi aku sungguh ingin seperti lilin... menerangi, menghidupi, dengan cahaya dan kekuatan kecil yang aku punya untuk duniaku, meskipun itu takkan bertahan lama,
Meskipun aku akan meredup, dan...
Dan tak lagi punya cahaya,
Juga tak lagi ada...
Tapi setidaknya, aku bisa tertidur dengan penuh kemenangan,
Bahwa aku telah berhasil menjadi sebuah lilin diujung hidupku,
Bahwa aku telah meredup usai bersinar,
Bahwa aku telah rapuh usai tegar,
Dan bahwa aku pernah ada di dunia ini,
Pernah hadir menyumbang tangis dan tawa tak berarti,
Pernah tersenyum bersama bentangan langit,
Pernah tertawa merangkul alam,
Pernah menari dengan goyangan ilalang,
Juga pernah menangis berteman hembusan angin,
Meski...
Hanya sejenak...
Meski hanya sesaat...
Tapi, lebih dari cukup jika hidupku mengukir tawa pada bibir mereka,
Jika tanganku merangkul hangat jari-jari mereka,
Tetap satu pintaku pada Sang Raja Dunia
Sempatkanlah aku menjadi lilin,
Sempatkanlah aku mengumbar sedikit saja cahayaku,
Sempatkanlah aku mengukir senyum untuk para pengiring hidupku,
Sebelum, Kau benar-benar menggenggam tanganku,
Lalu, dengan Kuasa-Mu Kau pejamkan kedua mataku,
Kau lemahkan tubuhku, Kau pucatkan wajahku,
Dan Kau pinta degup jantungku,
Sekali lagi kutegaskan,
Aku takkan tidur sebelum aku menjadi lilin untuk duniaku...
Dunia singkat dimana aku pernah 
tersenyum disisi air mata...

Novamour ... Novamour ...






jeudi, août 09, 2012

Joyeux Anniversaire....

Kemarin, tepatnya menginjak tanggal 08 Agustus 2012, ada salah satu orang yang bisa dikatakan dia cukup mempunyai andil dalam hidupku, yang telah memasuki gerbang usia yang baru. Yap! laki-laki itu berulang tahun! entah yang keberapa pun aku juga tak begitu  tahu, hanya yang kuingat tanggal dan bulan ia dilahirkan ke dunia ini. 
Laki-laki yang semakin lama semakin kupikir berjasa dalam hidupku. Betapa tidak? selalu meluangkan waktunya untuk mengulurkan tangannya demi membantu apa yang kami butuhkan. Selalu siap siaga jika ibu atau ayahku mulai mengankat ganggang telepon kemudian menghubunginya untuk segera datang ke rumah mengerjakan suatu pekerjaan yang tak dikuasai orang tuaku. 
Tak jarang, kesana dan kesini ia melangkah demi memenuhi permintaan orang tuaku. Bukan hanya orang tuaku tetapi juga aku! terlalu parah bahkan. Masih kuingat ketika aku masih ingusan beberapa tahun silam, dimana aku belum mengenal dunia luas juga tentunya belum dewasa. Selalu merepotkan dia. Meminta ini dan itu. Bahkan pernah juga melemparinya sandal karena marah tidak dibelikan suatu barang yang memang pada zaman itu sedang melegenda. hahaha, masa itu...
Beranjak dewasa pula, aku masih setia merepotinya. Belum terlalu mengenal tekhnologi, dia yang kujadikan sasaranku. Memboyongnya ke alun-alun kota kelahiranku untuk mendapat sinyal wi-fi hanya untuk menjelajah dunia facebook. Terkadang memaksanya untuk mengerjakan tugas-tugasku yang aku sendiri tidak bisa melakukannya.
hahaha jika kuingat semua itu rasanya tak ada yang bisa menandingi semua kebaikannya. Bahkan, aku juga kerap mengaguminya kala dengan sabarnya ia menjelaskan jawaban dari pertanyaan konyolku. Tentang bagaimana terjadinya air terjun, tentang hal-hal yang terjadi di dunia ini. Dia yang paling sabar menjelaskan dengan berpikir dari sudut pandangku, ketika ibuku menyerah untuk menjelaskan kepadaku. Ia yang bisa berbaur dengan pemikiran orang-orang di sekitarnya. Ia yang sering  netral ketika keluarga kami tertimpa masalah dan bersebarangan dalam pikiran. Ia yang sering ditarik kesana-kesini oleh semua kakaknya. Membantu ini, membantu itu. 
Tapi satu hal. Dia tak pernah mengeluh. Bahkan ketika tengah malam ayahku datang ke rumahnya lalu membangunkannya untuk menemani ke warnet melihat hasil SNMPTNku tahun lalu pun, ia mengiyakan meski dengan kedua mata sayup-sayup masih lengket mengatup enggan terbuka.
Tapi kini, setidaknya ia mulai meraih apa yang ia angankan. Membeli barang-barang yang ia punya dengan tabungan yang entah ia kumpulkan sejak kapan. Dulu, ia yang berangkat kerja dengan sebuah motor butut bersuara bising, kini sudah berubah menjadi sebuah motor yang lebih baik meski bukan keluaran baru lagi. 
Aku tersenyum kagum ketika kuingat wajahnya saat ini. Wajah dengan hidung terlanjur mancung dan kulit lumayan putih itu ternyata sangat berjasa dalam hidupku. Mau mondar-mandir turut mengurus proses aku menjadi seorang mahasiswi. Dan kudengar dari ibuku, kini ia selalu meluangkan waktu berliburnya untuk menemani keluargaku berjalan-jalan ria dengan duduk dibalik kemudi mobil.
Tapi sedih. di usianya yang kubilang sudah sangat matang ini, satu pertanyaan kusisipkan untuknya. Kenapa belum melangkah ke pelaminan juga? Banyak pemikiranku yang berkelebat mencoba menerka alasanya. Tapi aku tahu, ia sedang mencari seseorang yang terbaik dari semua yang baik. Mungkin kehidupan saudara-saudaranya terdahulu yang menjadi acuannya untuk menapaki jalannya kedepan bersama seseorang yang kelak akan menjadi tulang rusuknya.
Dan akhirnya kini aku telah dewasa, aku tak bisa menyumbang sama banyaknya dengan apa yang pernah ia lakukan untukku dan keluargaku. Hanya seuntai doa yang bisa kusuguhkan untuknya. Semoga kelak kau akan bahagia dengan buah yang telah kau tanam selama ini...
Aku percaya, suatu saat akan banyak tangan yang terulur untuk merangkulmu...
Terima kasih atas semuanya..
Sekali lagi, Selamat Ulang Tahun kepada laki-laki yang kupanggil Om Safik itu...
Tak ada kado atau menjulangnya lilin diatas tumpukan kue. Yang ada hanyalah doa tulus, dan sekali lagi hanya ucapan sederhaha dariku...
Dari keponakanmu yang selalu merepotkan, yang selalu cerewet, dan tentunya bawel.
Joyeux Anniversaire, Mon Oncle...

vendredi, août 03, 2012

Sebuah Nama “ Novamour “ ...


Novamour. Adalah sebuah nama yang bukan sembarang nama untukku. Tak langsung kemudian muncul sebagai Novamour begitu saja. Sedikit hiperbola, mungkin membutuhkan proses waktu lebih dari setahun dua tahun.
Bagi orang yang mengenal bahasa Prancis pasti akan menangkap ada satu kosakata yang sudah tak asing lagi. Amour . kosakata dalam bahasa Prancis yang artinya Cinta.
Berawal dari pertama kalinya aku mempelajari bahasa Prancis empat tahun yang lalu, dimana aku mulai mengenal kata Amour. Pertama kali mendengarnya seolah aku sudah menyukai kata itu. Tentu, karena mempunyai arti Cinta, aku terpatri dengannya.
Lalu, seiring bergulirnya waktu aku menamai diriku sebagai Nonophe Amour. Agak alay memang. Sesuai usia yang pada saat itu aku masih tergolong anak ABG yang masih berkutat dengan seragam putih abu-abu. Hingga di pesantren kala aku nyantri dulu pun, hampir semuanya memanggilku dengan panggilan Amour.
Dan sekarang pun aku masih sangat menyukai kata Amour. Hingga sampai saat ini kata itu mengikuti nama panggilanku. Tentu hanya aku yang tahu. Melalui beberapa perubahan, akhirnya aku jatuh cinta dengan Novamour. Sebuah nama yang bagiku tak hanya sekedar nama. Juga bukan karena mempunyai arti Cinta. Lebih dari itu, Novamour seolah menjadi bagian dari hidupku.
Aku pun menyematkan nama itu dalam beberapa situs jaringan sosial yang aku punya. Aku juga berangan jika suatu saat nanti karyaku telah berhasil menembus dunia luas, aku akan tampil sebagai Novamour sebagai nama pena ku.
Tapi mendengar Novamour, teman-teman seangkatanku langsung bertanya-tanya atau bahkan menertawakannya. Aku tak mau ambil pusing. Setiap nama mempunyai sejarah tersendiri. Begitu pula dengan Novamour yang bagiku memiliki sejarahnya tersendiri. Sejarah yang menyangkut keberadaan seseorang dimasa lalu ku. Sejarah yang tak bisa lepas dari kenangan dimasa lampau ku.
Sekali lagi, aku menyematkan kata Amour bukan karena berarti Cinta. Jika diartikan Novamour mungkin bisa jadi namaku dikaitkan dengan cinta. Tapi bukan itu yang aku mau. Aku menyukai Amour karena keunikannya dan arti yang mendalam yang hanya aku yang bisa mengartikannya sendiri.
Novamour, sebuah nama sebuah cerita sebuah sejarah sebuah kenangan dan sebuah impian yang terselubung didalamnya...
Sekali lagi, hanya aku dan Tuhan yang mengerti tentangnya...
Tentang sebuah kata " Novamour"....




lundi, juillet 30, 2012

Tak Pernah Menyesal Mengenalmu

Dulu, dulu sekali aku pernah terpaut denganmu. Pernah terlibat dalam sepenggal cerita dalam hidupmu. Masih ingat,kah?
Sadar atau tidak, aku pernah sedikit mengisi hari-harimu kala itu. Bermain bersama, bercengkerama bersama, melakukan aktivitas bersama hingga terkadang tanpa kau sadar, aku tahu semua tentangmu. Aku tahu sifat terdalammu, aku tahu kebiasaanmu hingga aku juga tahu seluk beluk keluargamu. Tentang kehidupanmu yang tak semulus kehidupan keluarga bahagia lainnya. Dimana dibalik senyum manis yang selalu kukagumi, kau menyimpan tangis yang tak mau kau eluh-eluhkan. Itu karena kau tidak ingin orang lain berbelas kasih padamu.
Aku tahu, kau tak mau berlama-lama berada di rumah bukan karena tak peduli dengan keluargamu, tapi lebih tepatnya kau tidak mau sepanjang hari hanya terpuruk meratapi nasibmu yang tak bisa berkumpul bersama kedua orang tuamu layaknya sebuah keluarga bahagia.
Kau juga acuh bukan karena kau tak peduli, melainkan kau ingin lebih menikmati hidupmu yang mungkin hanya kau yang bisa memaknai dan megartikannya.
Aku juga sangat mengerti selama ini kau mendapat cap anak nakal, itu bukan tanpa sebab. Kau hanya ingin melampiaskan apa yang terpendam dalam relungmu melalui perbuatan. Bahwa kau juga ingin menunjukkan bahwa kau itu ada. Bahwa kau juga hidup di dunia ini. Bukan hanya sekedar replika nama belaka.
Tapi aku percaya. Sangat percaya, bahwa dibalik semua keburukan yang orang lain sematkan pada mu, sesungguhnya kau adalah seorang lelaki yang penuh kasih sayang. Dan satu hal yang selalu aku kagumi selain senyummu dari dulu hingga sekarang. Bahwa kau selalu menghormati dan menghargai wanita, bahwa kau tak pernah mau sedikit pun melukai wanita.
Masih kuingat betul kenangan sekian tahun yang lalu itu. Kau pernah menunjukkan sikap bahwa kau sama sekali tak ingin melukaiku. Sungguh sifat yang kudambakan dari seorang Adam.
Dan kini, meski aku sudah tak lagi bertatap denganmu, meski tak lagi tahu menahu keadaanmu, tapi setidaknya, kenangan itu akan selalu ku ukir indah bersama hidupku...
Satu hal yang harus kau tahu, bahwa aku tak pernah menyesal mengenalmu,
Bahwa aku tak pernah menyesal sedikitpun mencintaimu, menjadikanmu cinta pertamaku....

dimanche, juillet 29, 2012

Prancis, Betapa Ingin Aku Menjamahmu...


Mungkin selama ini bisa dikatakan aku terlalu buta akan dunia luas. Bagaimana tidak? Dulu, aku hanya berkutat dengan hal itu-itu saja. Tak begitu mengenal teknologi, fashion style apalagi ranah Eropa yang rata-rata menjadi kiblat bagi penduduk dunia.
Seperti kita tahu bahwa bumi Eropa di huni oleh negri-negri dengan sejuta pesona dan membawa gebrakan baru bagi dunia secara keseluruhan. Ambil contoh negara Prancis. Negara dengan ikon Eiffel ini menjadi salah satu tujuan wisata yang banyak diburu.
Prancis. Berbincang mengenai negara ini. Hal pertama yang terbesit pada benak kita selain menjulang tingginya Eiffel, pasti juga keju dan anggurnya. Ya. Negara satu ini terkenal dengan keju yang dalam bahasa Prancis disebut fromage, juga anggur yang disebut vin.
Aku mengenal Prancis ketika pertama kali aku belajar bahasa indah tersebut pada saat duduk manis dibangku pertama sekolah menengah atas. Selanjutnya, memutuskan untuk lebih mendalami bahasa itu, maka semakin berbaur lah aku bersamanya.
Apalagi saat ini aku sedang mengenyam pendidikan di sastra Prancis. Semakin dan semakin kenyang lah aku melahap semua tentang dunia Prancis.
Pertama, mulai dikenalkan dengan pelafalan dalam bahasa Prancis ketika berada pada tahun pertama dibangku kuliah. Lucu, unik, dan tentu menarik kesan yang hingga kini masih terngiang di benakku. Mengotak-atik mulut demi melafalkan kata berbahasa Prancis secara baik dan benar adalah tugas utamaku sebagai pemula. Bunyi sengau, nazal, bunyi yang bacanya terbalik dari tulisannya adalah sekilas hal yang selalu membuatku begitu terpikat dan agak sedikit geli dengan bahasa yang satu ini.
Juga keunikan orang Prancis yang tak bisa mengucapkan huruf R yang sebenarnya, juga tak bisa melafalkan huruf H. Sungguh bahasa yang unik dan selalu memancingku untuk tetap dan bertambah cinta padanya.
Dan satu hal lagi mengenai negara gemerlap ini. Keindahannya. Beberapa tempat wisata yang terangkul dalam dekapan tanah Prancis telah aku masukan dalam daftar tempat-tempat yang begitu ingin aku kunjungi.

Menara Eiffel

L'arc de Triomphe

Musee du Louvre

La Sorbonne

Place de la Concorde

Menara Eiffel, tentunya. Aku ingin bisa meng-klik foto di depan menara tersohor di dunia itu, kemudian bisa berada di ketinggian puncaknya untuk menikmati malamnya kota Paris. Lalu, Musee du Louvre yang merupakan museum terbesar yang mana mempunyai arsitektur unik bergaya piramida dari kaca. Juga di dalamnya konon terdapat lukisan asli Monalisa karya sang legendaris Leonardo Da Vinci yang hingga kini misterinya masih simpang siur.
Menilik La Sorbonne, boleh juga. Komplek universitas yang telah tersohor di dunia ini begitu membuatku iri dengan semua sistem pendidikannya. Arsitek Gothic yang tak kalah memikatnya menambah keunikan tempat yang telah menjadi salah satu tempat wisata yang wajib dukinjungi ketika menginjakkan kaki di Prancis.
Satu lagi tempat yang wajib aku kunjungi ketika suatu saat nanti Takdir bisa membawaku ke bumi Eropa, L’arc de Triomphe atau yang dalam bahasa Indonesia berarti gapura kemenangan. Monumen berbentuk pelengkung kemenangan di Paris yang berdiri dengan gagahnya di tengah area Place de l’Etoile, di ujung barat wilayah Champs-Elysees ini dibangun atas perintah Napoleon Bonaperte dengan tujuan untuk menghormati jasa para tentara kebesarannya.
Arc de Tromphe ini merupakan salah satu monumen yang terkenal di Paris dimana konon katanya terdapat makam Napoleon di dalamnya. Namun ada juga yang menyebutkan jenazah Napoleon hanya diarak melewatinya saja sebelum dimakamkan di Invalides. Juga kasak-kusuk menyebutkan di bawah Arc de Triomphe terdapat sebuah makam prajurit tak dikenal sebagai wujud penghargaan atas jasa-jasanya.
Selain itu aku juga ingin mengunjungi alun-alun terluas di Prancis yang dikenal dengan nama Place de la Concorde. Alun-alun yang dibangun pada sekitar tahun 1755 diatas lahan seluas 86.400 meter ini memiliki ciri khasnya dengan monumen dan air mancur. Agak ngeri, sebelum dinamai Place de la Concorde, dulu pada masa Revolusi, tempat ini pernah digunakan sebagai tempat guillotine atau eksekusi hukuman mati. Termasuk hukuman mati pada Raja Louis XVI dan istrinya yang dijuluki madame defisit, Marie Antoinette.
Dan, ada yang ketinggalan. Sungai Seine tak boleh dilewatkan tentunya. Sungai yang mengalir indah di sekitaran sang Eiffel ini terkenal dengan suasan romantisnya. Sungguh tak bisa dibayangkan jika aku bisa berada di Prancis lalu mengunjungi sungai Seine dan menikmati keromantisan kotanya yang khas.
Wow, luar biasa, bukan? Terbang ke Prancis seolah mimpi wajib bagi anak-anak jebolan sastra Prancis. Mungkin kalau sedang mengenyam pendidikan di sastra Korea atau Jepang juga mimpinya juga akan pergi ke dua negara itu. Korea dan Jepang.
Begitu pula lah dengan aku yang semenjak mengenal dan lebih memperdalam bahasa Prancis, hasrat ingin mencumbunya begitu luar biasa. Meski aku tak punya uang yang cukup untuk terbang kemudian hidup di sana, tapi aku percaya Tuhan itu selalu mempunyai rencana yang indah yang tentu tak pernah kita duga. Bisa saja tiba-tiba ada orang kaya raya yang baik hati yang secara cuma-cuma memberiku tiket pulang pergi ke Prancis lengkap biaya hidupnya untuk semakin mendalami bahasa Prancis. Tentu, semua itu mungkin saja terjadi.
Bagiku, mimpi setinggi mungkin itu harus. Buang jauh-jauh pikiran yang mengatakan bahwa buat apa mimpi setinggi mungkin, kalau jatuh nanti sakit. Aihh,, pepatah jebolan kapan itu? Justru anak muda jaman sekarang dituntut untuk bermimpi sejauh mungkin. Asalkan tidak hanya bermimpi, melainkan juga dibarengi usaha pastinya.
Aku teringat dengan sebuah perkataan seseorang yang pernah menyemangatiku :
Kalau kebanyakan orang mempunyai mimpi yang masuk akal tapi cara meraihnya melalui hal-hal yang tida masuk akal, maka aku sebaliknya. Aku mempunyai mimpi yang tidak masuk akal, tapi aku menggunakan cara-cara yang masuk akal untuk meraihya.”
Kurang lebihnya seperti itu lah.
Hmm.... sederhana namun mengandung makna yang luar biasa jika dirasakan. Memang benar,kan? Kita boleh kok mempunyai mimpi yang mungkin bagi orang tidak masuk akal. Seperti suatu saat aku benar-benar bisa melanjutkan pendidikanku di Prancis melalui beasiswa bergengsi Erasmus Mundus, lalu bertemu dengan pengusaha asli Prancis yang menyerahkan salah satu perusahaannya kepadaku untuk aku kelola di Indonesia. Haha, kedengarannya tidak masuk akal,dan juga terlalu muluk, tapi hari depan siapa yang tahu? Di hadapan Allah, semua tidak ada yang tidak masuk akal. Saat ini aku langsung nemu tiket pesawat ke Prancis juga sah-sah saja kalau memang Allah mengaturnya begitu.
Jadi, percyalah. Mimpi setinggi mungkin itu sangat perlu untuk membangkitkan naluri hidup kita agar lebih maju dan lebih baik lagi tentunya. (Motivasi untuk diriku sendiri)
Intinya, aku percaya bahwa aku pasti bisa meraih semua mimpiku. Aku pasti bisa terbang ke Prancis secara gratis ( Aamiin, Ya Allah)...

Kun Fayakun, maka jadilah!