jika saat ini aku mengingat berapa usiaku, mungkin sedikit banyak rasa terkejut,bangga dan sedih mulai ilegal menyusup perlahan dalam benakku.. aku sudah memasuki usia 18 tahun dimana sudah lebih satu tahun sebagai ukuran sebuah kedewasaan seseorang. aku merasa mulai bermertamorfosa untuk menjadi seorang gadis dewasa, bukan remaja lagi tentunya. tapi apakah sinkron dengan keadaanku saat ini? dimana aku masih saja dianggap anak kecil yang tak punya andil apa-apa dalam mengambil sebuah keputusan.
mengenai pemikiran. aku merasa justru diusia tahun inilah aku sedikit banyak berhasil menjadi seseorang yang berpikiran lebih (meski hanya sedikit). aku mulai open minded terhadap sesuatu yang baru. aku mulai menerapkan cara berpikir yang sebenarnya meski tidak semudah yang dibayangkan. tapi setidaknya aku mau mencobanya. dan semua itu aku mulai dapatkan setelah aku berhijrah ke sebuah kota dimana aku bisa memulai untuk mengembangkan apa yang sedari dulu begitu ingin aku kembangkan. di sebuah kota yang menjadi kota impianku untuk melanjutkan petualangan hidupku. di sebuah kota dimana aku bisa bertemu sekaligus bisa bertukar pikiran dengan manusia-manusia dari belahan tanah lain yang semula begitu asing bagiku.
disinilah aku merasa baru menemukan jati diriku yang selama ini telah tertutup oleh timangan dari orang tua yang begitu memagari inginku. disinilah aku merasa sayapku perlahan mulai terbuka dan kuinginkan semakin melebar. meski selalu ada ketakutan menyelinap akan hingar bingar yang ada, tapi aku percaya bahwa aku berdiri disini hanya untuk mereka yang selalu terbingkai begitu indah dalam genggamku selamanya. aku percaya bahwa mataku terbuka hanya teruntuk mereka yang selalu menguntai doa dan air mata untukku. karena mereka adalah malaikat hidupku. baktiku hanya untuk mereka.
dan kini, saat aku menoleh kebelakang lagi tentang semua yang telah terjadi, rasanya aku ingin menjadi seseorang di tiga belas tahun yang lalu. dimana aku hanyalah seorang balita yang tak punya dosa, tak mengerti dunia,dan yang pasti tak mengenal luka dan tangis yang sebenarnya.
ketika itu, rasa bahagia selalu menjadi menu ku setiap hari. tertawa adalah bumbu wajibku. dan canda adalah hiburanku kala itu. masih terukir jelas dalam ingatanku. aku yang kecil bernyanyi dalam lingkaran tangan ayahku yang menggendongku kemanapun aku mau. aku bisa terlelap sebegitu indahnya dalam dekapan hangatnya. aku masih tak punya malu kala ayahku memandikanku dengan mendengarkan semua ocehanku.mengikat rambutku meski tak serapi ibuku, juga mengayunkan sepedanya dengan gurauan syahdunya.
juga tentang ibuku yang dengan kelembutannya mendekapku dengan selendang merahnya lalu menyuapiku dan mendengarkan kicauanku di sudut teras rumah. juga tanpa kupinta membelai rambut tipisku kala aku memeluk guling sambil mendengarkan dongengan indahnya.
aku masih menjadi tuan putri dalam keluarga kecil orang tuaku saat itu. hanya ada ayah,ibu dan tentu aku. semua yang mereka punya mereka tumpahkan hanya untukku.begitu dunia milikku. begitu bahagia. namun beberapa tahun setelahnya, dua jagoan mulai muncul dan sempat membuatku merasa terdepak dari kehidupanku yang dulu. tapi pelan aku mulai sadar bahwa inilah yang dinamakan hidup. berbagi adalah suatu kewajiban. aku mulai menyandang status kakak dari kedua jagoanku.
dan sekarang, aku hanya akan menjadikan segala momen tiga belas tahun itu sebuah kenangan terindah yang takkan terlupa sampai aku kembali menutup mata lagi. karena mereka bagian perjalanan hidupku yang akan tetap mewarnai hitam putihnya jalanku.
andai tiga belas tahun itu bisa kuhadirkan kembali dalam warna yang berbeda namun tetap pada akar yang sama...
Here, I am
mardi, mai 22, 2012
dimanche, mai 06, 2012
Aku Ingin Mengepakkan Sayap ke Bulan...
Milya, gadis polos datang dari sebuah kota kecil
di pojok sebuah provinsi di pulau jawa yang cenderung pendiam namun selalu
berteman dengan sejuta rangkaian angan dan mimpi diotak nya.Merantau ke sebuah
kota yang tentu lebih besar dari kota kelahiranya.Kota yang lebih metropolitan
pastinya.Tujuannya hanya satu.Ingin mengembangkan diri dan kehidupannya. Ia
menyadari bahwa dirinya takkan berkembang jika hanya berdiam diri di kota
kecilnya. Hanya mematung tanpa gubrakan berarti. Hanya terpaku menangkap semua
karyanya menjadi seonggok sampah tak bernilai.Ia ingin sebuah perubahan
memeluknya.
Maka ia pun memutuskan merantau untuk menjadi
seorang mahasiswi disebuah universitas yang cukup mempunyai nama.Sebuah tekad
bulat tertancap erat dibenaknya bahwa ia
akan menjadi seoranga Milya yang jauh lebih baik.
Dan benar saja, tekadnya ia aplikasikan dalam
kesehariannya di kota perantauan. Ia terus mengorek sejumlah informasi yang ia
rasa penting untuk mengembangkan dirinya.Lebih sering menghabiskan
kesehariannya di kampus bersama teman-temannya.Sepulangnya ia langsung
menjelajah dunia maya mencari jawaban atas semua hal-hal yang membuatnya
penasaran sambil sesekali menelusuri alam facebook.
Hari semakin berlomba untuk secepat mungkin.
Kehidupan gadis lugu ini perlahan demi perlahan mulai berkembang.Tidak hanya
tahu tentang satu hal atau terpaku pada sesuatu saja.Lebih dari itu, ia mulai
mengenal dunia yang semakin mengglobal.Juga mulai terbiasa dengan hiruk-pikuk
orang-orang kota yang menyrempet ke arah dunia bebas tanpa kendali.Seperti
sudah tidak tercengang lagi kala matanya menangkap seorang wanita yang sedang
ayik mengepulkan asap dari puntungan rokok ditanganya. Atau telinganya
menangkap logat anak-anak Jakarta dengan bahasa loe-gue nya.Semuanya seolah
sudah turut berbaur berkolaborasi jadi satu dengan hidupnya.
Ia sadar bahwa inilah saatnya ia terbang ke
tempat manapun yang ia mau. Inilah saatnya ia melangkahkan kedua kaki menuju
hamparan seindah yang ia inginkan.Tanpa ada siapapun yang membatasi geraknya.
Terkadang ia berfikir bahwa begitu bedanya hidupnya dulu dengan sekarang.
Dimana ketika ia masih dalam rangkulan erat orang tuanya yang mengharuskan ia
menuruti segala yang mereka titahkan. Dimana ia tergagap-gagap untuk menyuarakan
apa yang ia mau.Dimana ia harus sekuat tenaga menahan diri ketika ia ingin
mengunjungi suatu tempat bersama dengan teman-teman sekolahnya.
Namun sekarang semua berubah. Ia tak lagi ada
dalam rangkulan erat kedua orang tuannya yang baginya terlalu mengekangnya. Ia
bisa menjelajah kemanapun ia mau tanpa harus memelas memohon izin orang tuanya.
Ia bisa pergi sesuka hati dengan teman manapun yang ia mau. Tanpa harus
memikirkan gertakan ayah atau ibunya. Ia merasa jauh lebih bebas.
Tapi ia juga tahu, bahwa kebebasan yang ia
dapatkan bukanlah bebas sebebas-bebasnya.Bukanlah bebas tanpa kontrol. Bukanlah
bebas menyalurkan hura-hura. Ia memaknai kebebasan ini untuk ia bisa
menggepakkan sayapnya setinggi mungkin.Meski jauh dari pantauan orang tua,tapi
ia tetaplah Milya seorang gadis yang diberi amanah untuk menimba ilmu dan
pulang dengan mereguk kesuksesan. Ia juga sadar,bahwa kedatanganya bukanlah
untuk sekedar bermain menikmati indahnya dunia anak muda.Ia tahu orang tuanya
membanting tulang untuk menguliahkan dia di tempat yang jauh lebih baik.Ia selalu
memegang amanah yang dipikulnya itu.
Selain itu, ia pun telah merangkai mimpi sejuta
keindahan yang selalu terbingkai apik dalam memorinya.mimpi yang selalu menjadi
penyemangatnya.Mimpi yang menorehkan kebahagiaan tersendiri yang hanya mampu ia
pahami.
Ia telah merajut angan untuk masa depannya kelak.
Ia ingin jadi apa,ingin berdomisili dimana.Berpenghasilan berapa hingga impian
untuk memutari tanah Eropa dengan orang-orang yang ia cintai.Semuanya sudah ia
angankan.Mimpi-mimpinya itulah yang menjadi acuan untuk menjalani hari-harinya.
Namun sebuah pergolakan batin mulai
menghampirinya ketika pemikiranya ditentang oleh ibu dan neneknya
tercinta.Kedua wanita yang sangat ia hormati itu seolah tak sejalan dengan
segala pemikirannya.Ia mengatakan bahwa ia ingin melanjutkan kehidupannya di
kota perantauannya. Ia ingin menikah dengan orang sana.Ia ingin berkarir di
sana. Ia juga mengatakan bahwa ia tidak ingin kembali ke kota aslinya untuk
melanjutkan hidupnya,karena menurutnya ia takkan berkembang jika kembali ke
kota kelahirannya.
Ibunya mungkin tidak secara gamblang menentang
impiannya. Tetapi neneknya lah yang dengan tanpa perantara mengatakan bahwa ia
seharusnya kembali ke kotanya setelah selesai menempuh kuliahnya. Neneknya
menyarankan ia untuk bekerja di kota aslinya juga berumah tangga.
Masih ia ingat betul perkataan sang nenek yang
terus menghantuinya:
“ Kamu itu anak putri satu-satunya orang tuamu.
Anak pertama juga.Sebaiknya setelah kamu selesai kuliah,kamu cepat kembali ke
sini.Cari kerja disini dan kalau bisa menikah dengan orang sini saja. Tidak
usah cari jodoh orang jauh.Ya memang jodoh ditangan Tuhan,tapi kamu berusahalah
untuk menikah dengan orang sini saja.”
Lalu Milya katakan:
“Tapi nek aku tidak ingin kembali kesini lagi
untuk kedepannya. Aku ingin tetap disana. Kerja disana. Menikah dengan orang
sana. Karena jurusan yang aku ambil ini orientasinya ya di kota-kota besar.
Kalau disini susah..”
Nenekpun kembali membalas:
“Rezeki itu sudah ada yang mengatur. Kalau Tuhan
memberi kamu rezeki disini yang jalanmu akan mudah disini. Kamu lihat mbak
Firoh.Dia lulusan luar kota tapi sekarang nyatanya bisa sukses kerja disini.
Suaminya juga mau diajak berumah tangga disini.”
“ Tapi aku ingin bekerja disana. Aku ingin
melanjutkan hidup disana,Nek...” Rengekku layaknya anak kecil yang meminta
permen pada mama nya.
“ Apa kamu tidak kasihan dengan ibumu?Kamu anak
perempuan satu-satunya ibumu.Sekarang ibumu juga sakit-sakitan.Ibumu terkena
Diabetes yang setiap saat bisa membutuhkan pertolongan.Kalau nanti kamu sudah
selesai kuliah,ganti adikmu yang keluar kota untuk kuliah.Kamu ya harus kembali
kesini untuk bekerja sekaligus menjaga ibumu!Kalau bukan kamu lalu siapa lagi?”
Milya terdiam bungkam
tanpa kata setelah neneknya usai mengatakan itu. Ibunya sakit. Iya memang
belakangan ini ibunya sering mengeluh sakit,pegal dan sebagainya. Ia pun tahu
bahwa ibunya mengidap Diabetes meski belum cukup parah.
Setetes air mata
mengawali menjamah pipinya dengan lembut.Meruntuhkan semua asanya.Merobekkan
perasaanya jika kembali mengingatnya.Lagi-lagi kata-kata neneknya kembali
terngiang dikepalanya:
“ Kasihan ibumu. Dia
membutuhkan anak perempuannya. Apa kamu sampai hati membiarkan ibumu sakit
sedangkan kamu asyik bekerja jauh dari dia?Kelak ibumu membutuhkan anaknya
untuk merawatnya. Jangan hanya menuruti ego mu saja.”
Tapi lagi-lagi Milya
juga membantah secara halus:
“Nenek,Milya ingin
berkarir di kota besar.Milya ingin meraih cita-cita Milya..”
“ Tidak usah berfikir
terlalu jauh seperti itu. Lebih baik kamu menjadi guru saja disini. Nenek rasa
guru itu pekerjaan yang terbaik untuk seorang wanita. Kehidupannya bisa
terjamin. Kamu juga bisa bekerja sambil menemani ibumu nantinya..”
Milya memutar otaknya.
Menjadi guru? Memang itu adalah pekerjaan yang mulia tapi bukan berarti terbaik
untuk seorang wanita. Ia sadar bahwa ternyata pemikiran neneknya itu masih
terlalu kolot. Seolah neneknya masih hidup di zaman dulu pula. Dalam pikiran
Milya ini adalah zaman globalisasi. Zaman modern dimana emansipasi wanita
menjadi tren. Wanita tidak dibatasi dalam hal pendidikan ataupun pekerjaan.
Wanita boleh berpendidikan setinggi mungkin dan mendapat pekerjaan sebaik
mungkin. Tidak harus lurus kedepan mengikuti tren zaman dulu dimana wanita
menjadi guru adalah wanita yang paling beruntung sedunia.
Saat ini wanita juga
boleh menjadi direktur,manager, atau apa saja sesuai kemampuan dan
pendidikannya. Tentu tidak ada yang tidak mungkin. Milya berfikir buat apa ia
jauh-jauh menimba ilmu di kota besar tetapi pada akhirnya harus kembali menjadi
seorang guru di kota aslanya? Ya memang tidak ada yang salah tapi kalau ada
yang lebih baik kenapa tidak mengambil yang lebih baik itu?
Milya tidak ingin hanya
menjadi guru biasa di kota kecil. Ia ingin menjadi seseorang yang jauh lebih
baik. Ia tidak mau terlalu disetir keluarganya untuk menggeluti pekerjaan
turun-temurun dari keluarganya.Guru. Baginya,meskipun sebagian besar
keluarganya adalah seorang guru,ia tidak wajib untuk mengikutinya. Ia bebas
menentukan masa depannya sendiri karena ini adalah hidup dan jalannya.
Namun sekali
lagi,pergolakan batin itu terjadi ketika ia mengingat ucapan neneknya. Ia
bingung. Manakah yang harus ia pilih?Mimpi dan impian besarnya ataukah kota
kecilnya yang terlihat ibunya melambai-lambai agar ia kelak akan kembali lagi?
Tentu ia ingin memilih
keduanya. Merealisasikan mimpi-mimpinya juga tetap berada disisi keluarga yang
amat ia cintai itu.
Entahlah, pemikiranya
itu masih terlalu dini untuknya mengingat dirinya masih dalam lingkup usia
belasan tahun... tapi hal itu kerap menganggu tidurnya.Berkelebat dalam
bayanganya...
Rasanya ia ingin
meneriakkan semua isi hatinya bahwa ia tidak ingin terus-menerus disetir oleh
meraka!Ia berhak menentukan masa depannya sendiri!Ia berhak memutuskan dimana
ia ingin melanjutkan hidupnya atau dengan siapa ia akan melanjutkan umurnya!
Rasa dilematis tentu
kerap menyambanginya setiap saat. Pilihan antara mimpi dan ibunya. Disatu sisi,
ia ingin mereguk kesuksesan mimpi-mimpinya. Tapi disisi lain,ibunya seolah
menitikkan air mata kesedihan melihat ia dan ibunya harus terpisahkan oleh
jarak.
Lagi dan lagi air
matanya jatuh perlahan dan mulai deras saja. Ia membayangkan sang ibu jika
tergolek tak berdaya mengharapkan kehadiranya. Namun ia juga membayangkan
impiannya sudah menanti untuk digenggam.....
Iapun melangkah kaki
menyusuri sebuah pantai berpasir. Ia melentangkan kedua tanganya.Menghirup
dalam-dalam udara khas pantai.Memejamkan kedua matanya.Kemudian sebuah teriakan
keras tertangkap telinganya.
“Aku ingin mengepakkan
sayap ke bulan.........”
Ia membuka mata setelah
suaranya ia dengar cukup keras berharap sang ombak mendengar dan memberi
jawaban.
Ia menatap hamparan
laut tanpa batas dengan berteman ombak yang mencumbu bebatuan teman setia sang
pantai....
Debur sang ombak
terdengar disela-sela suara samar sebuah isak tangis seseorang....
“Sungguh aku ingin
terbang ke bulan...”
Isaknya kian menjadi
.......
Inscription à :
Articles (Atom)