Here, I am



mardi, mai 22, 2012

Andai 13 Tahun Yang Lalu....

jika saat ini aku mengingat berapa usiaku, mungkin sedikit banyak rasa terkejut,bangga dan sedih mulai ilegal menyusup perlahan dalam benakku.. aku sudah memasuki usia 18 tahun dimana sudah lebih satu tahun sebagai ukuran sebuah kedewasaan seseorang. aku merasa mulai bermertamorfosa untuk menjadi seorang gadis dewasa, bukan remaja lagi tentunya. tapi apakah sinkron dengan keadaanku saat ini? dimana aku masih saja dianggap anak kecil yang tak punya andil apa-apa dalam mengambil sebuah keputusan.

mengenai pemikiran. aku merasa justru diusia tahun inilah aku sedikit banyak berhasil menjadi seseorang yang berpikiran lebih (meski hanya sedikit). aku mulai open minded terhadap sesuatu yang baru. aku mulai menerapkan cara berpikir yang sebenarnya meski tidak semudah yang dibayangkan. tapi setidaknya aku mau mencobanya. dan semua itu aku mulai dapatkan setelah aku berhijrah ke sebuah kota dimana aku bisa memulai untuk mengembangkan apa yang sedari dulu begitu ingin aku kembangkan. di sebuah kota yang menjadi kota impianku untuk melanjutkan petualangan hidupku. di sebuah kota dimana aku bisa bertemu sekaligus bisa bertukar pikiran dengan manusia-manusia dari belahan tanah lain yang semula begitu asing bagiku.

disinilah aku merasa baru menemukan jati diriku yang selama ini telah tertutup oleh timangan dari orang tua yang begitu memagari inginku. disinilah aku merasa sayapku perlahan mulai terbuka dan kuinginkan semakin melebar. meski selalu ada ketakutan menyelinap akan hingar bingar yang ada, tapi aku percaya bahwa aku berdiri disini hanya untuk mereka yang selalu terbingkai begitu indah dalam genggamku selamanya. aku percaya bahwa mataku terbuka hanya teruntuk mereka yang selalu menguntai doa dan air mata untukku. karena mereka adalah malaikat hidupku. baktiku hanya untuk mereka.

dan kini, saat aku menoleh kebelakang lagi tentang semua yang telah terjadi, rasanya aku ingin menjadi seseorang di tiga belas tahun yang lalu. dimana aku hanyalah seorang balita yang tak punya dosa, tak mengerti dunia,dan yang pasti tak mengenal luka dan tangis yang sebenarnya.

ketika itu, rasa bahagia selalu menjadi menu ku setiap hari. tertawa adalah bumbu wajibku. dan canda adalah hiburanku kala itu. masih terukir jelas dalam ingatanku. aku yang kecil bernyanyi dalam lingkaran tangan ayahku yang menggendongku kemanapun aku mau. aku bisa terlelap sebegitu indahnya dalam dekapan hangatnya. aku masih tak punya malu kala ayahku memandikanku dengan mendengarkan semua ocehanku.mengikat rambutku meski tak serapi ibuku, juga mengayunkan sepedanya dengan gurauan syahdunya.

juga tentang ibuku yang dengan kelembutannya mendekapku dengan selendang merahnya lalu menyuapiku dan mendengarkan kicauanku di sudut teras rumah. juga tanpa kupinta membelai rambut tipisku kala aku memeluk guling sambil mendengarkan dongengan indahnya.

aku masih menjadi tuan putri dalam keluarga kecil orang tuaku saat itu. hanya ada ayah,ibu dan tentu aku. semua yang mereka punya mereka tumpahkan hanya untukku.begitu dunia milikku. begitu bahagia. namun beberapa tahun setelahnya, dua jagoan mulai muncul dan sempat membuatku merasa terdepak dari kehidupanku yang dulu. tapi pelan aku mulai sadar bahwa inilah yang dinamakan hidup. berbagi adalah suatu kewajiban. aku mulai menyandang status kakak dari kedua jagoanku.

dan sekarang, aku hanya akan menjadikan segala momen tiga belas tahun itu sebuah kenangan terindah yang takkan terlupa sampai aku kembali menutup mata lagi. karena mereka bagian perjalanan hidupku yang akan tetap mewarnai hitam putihnya jalanku.

andai tiga belas tahun itu bisa kuhadirkan kembali dalam warna yang berbeda namun tetap pada akar yang sama...

dimanche, mai 06, 2012

Aku Ingin Mengepakkan Sayap ke Bulan...




Milya, gadis polos datang dari sebuah kota kecil di pojok sebuah provinsi di pulau jawa yang cenderung pendiam namun selalu berteman dengan sejuta rangkaian angan dan mimpi diotak nya.Merantau ke sebuah kota yang tentu lebih besar dari kota kelahiranya.Kota yang lebih metropolitan pastinya.Tujuannya hanya satu.Ingin mengembangkan diri dan kehidupannya. Ia menyadari bahwa dirinya takkan berkembang jika hanya berdiam diri di kota kecilnya. Hanya mematung tanpa gubrakan berarti. Hanya terpaku menangkap semua karyanya menjadi seonggok sampah tak bernilai.Ia ingin sebuah perubahan memeluknya.
Maka ia pun memutuskan merantau untuk menjadi seorang mahasiswi disebuah universitas yang cukup mempunyai nama.Sebuah tekad bulat tertancap erat dibenaknya  bahwa ia akan menjadi seoranga Milya yang jauh lebih baik.
Dan benar saja, tekadnya ia aplikasikan dalam kesehariannya di kota perantauan. Ia terus mengorek sejumlah informasi yang ia rasa penting untuk mengembangkan dirinya.Lebih sering menghabiskan kesehariannya di kampus bersama teman-temannya.Sepulangnya ia langsung menjelajah dunia maya mencari jawaban atas semua hal-hal yang membuatnya penasaran sambil sesekali menelusuri alam facebook.
Hari semakin berlomba untuk secepat mungkin. Kehidupan gadis lugu ini perlahan demi perlahan mulai berkembang.Tidak hanya tahu tentang satu hal atau terpaku pada sesuatu saja.Lebih dari itu, ia mulai mengenal dunia yang semakin mengglobal.Juga mulai terbiasa dengan hiruk-pikuk orang-orang kota yang menyrempet ke arah dunia bebas tanpa kendali.Seperti sudah tidak tercengang lagi kala matanya menangkap seorang wanita yang sedang ayik mengepulkan asap dari puntungan rokok ditanganya. Atau telinganya menangkap logat anak-anak Jakarta dengan bahasa loe-gue nya.Semuanya seolah sudah turut berbaur berkolaborasi jadi satu dengan hidupnya.
Ia sadar bahwa inilah saatnya ia terbang ke tempat manapun yang ia mau. Inilah saatnya ia melangkahkan kedua kaki menuju hamparan seindah yang ia inginkan.Tanpa ada siapapun yang membatasi geraknya. Terkadang ia berfikir bahwa begitu bedanya hidupnya dulu dengan sekarang. Dimana ketika ia masih dalam rangkulan erat orang tuanya yang mengharuskan ia menuruti segala yang mereka titahkan. Dimana ia tergagap-gagap untuk menyuarakan apa yang ia mau.Dimana ia harus sekuat tenaga menahan diri ketika ia ingin mengunjungi suatu tempat bersama dengan teman-teman sekolahnya.
Namun sekarang semua berubah. Ia tak lagi ada dalam rangkulan erat kedua orang tuannya yang baginya terlalu mengekangnya. Ia bisa menjelajah kemanapun ia mau tanpa harus memelas memohon izin orang tuanya. Ia bisa pergi sesuka hati dengan teman manapun yang ia mau. Tanpa harus memikirkan gertakan ayah atau ibunya. Ia merasa jauh lebih bebas.
Tapi ia juga tahu, bahwa kebebasan yang ia dapatkan bukanlah bebas sebebas-bebasnya.Bukanlah bebas tanpa kontrol. Bukanlah bebas menyalurkan hura-hura. Ia memaknai kebebasan ini untuk ia bisa menggepakkan sayapnya setinggi mungkin.Meski jauh dari pantauan orang tua,tapi ia tetaplah Milya seorang gadis yang diberi amanah untuk menimba ilmu dan pulang dengan mereguk kesuksesan. Ia juga sadar,bahwa kedatanganya bukanlah untuk sekedar bermain menikmati indahnya dunia anak muda.Ia tahu orang tuanya membanting tulang untuk menguliahkan dia di tempat yang jauh lebih baik.Ia selalu memegang amanah yang dipikulnya itu.
Selain itu, ia pun telah merangkai mimpi sejuta keindahan yang selalu terbingkai apik dalam memorinya.mimpi yang selalu menjadi penyemangatnya.Mimpi yang menorehkan kebahagiaan tersendiri yang hanya mampu ia pahami.
Ia telah merajut angan untuk masa depannya kelak. Ia ingin jadi apa,ingin berdomisili dimana.Berpenghasilan berapa hingga impian untuk memutari tanah Eropa dengan orang-orang yang ia cintai.Semuanya sudah ia angankan.Mimpi-mimpinya itulah yang menjadi acuan untuk menjalani hari-harinya.
Namun sebuah pergolakan batin mulai menghampirinya ketika pemikiranya ditentang oleh ibu dan neneknya tercinta.Kedua wanita yang sangat ia hormati itu seolah tak sejalan dengan segala pemikirannya.Ia mengatakan bahwa ia ingin melanjutkan kehidupannya di kota perantauannya. Ia ingin menikah dengan orang sana.Ia ingin berkarir di sana. Ia juga mengatakan bahwa ia tidak ingin kembali ke kota aslinya untuk melanjutkan hidupnya,karena menurutnya ia takkan berkembang jika kembali ke kota kelahirannya.
Ibunya mungkin tidak secara gamblang menentang impiannya. Tetapi neneknya lah yang dengan tanpa perantara mengatakan bahwa ia seharusnya kembali ke kotanya setelah selesai menempuh kuliahnya. Neneknya menyarankan ia untuk bekerja di kota aslinya juga berumah tangga.
Masih ia ingat betul perkataan sang nenek yang terus menghantuinya:
“ Kamu itu anak putri satu-satunya orang tuamu. Anak pertama juga.Sebaiknya setelah kamu selesai kuliah,kamu cepat kembali ke sini.Cari kerja disini dan kalau bisa menikah dengan orang sini saja. Tidak usah cari jodoh orang jauh.Ya memang jodoh ditangan Tuhan,tapi kamu berusahalah untuk menikah dengan orang sini saja.”
Lalu Milya katakan:
“Tapi nek aku tidak ingin kembali kesini lagi untuk kedepannya. Aku ingin tetap disana. Kerja disana. Menikah dengan orang sana. Karena jurusan yang aku ambil ini orientasinya ya di kota-kota besar. Kalau disini susah..”
Nenekpun kembali membalas:
“Rezeki itu sudah ada yang mengatur. Kalau Tuhan memberi kamu rezeki disini yang jalanmu akan mudah disini. Kamu lihat mbak Firoh.Dia lulusan luar kota tapi sekarang nyatanya bisa sukses kerja disini. Suaminya juga mau diajak berumah tangga disini.”
“ Tapi aku ingin bekerja disana. Aku ingin melanjutkan hidup disana,Nek...” Rengekku layaknya anak kecil yang meminta permen pada mama nya.
“ Apa kamu tidak kasihan dengan ibumu?Kamu anak perempuan satu-satunya ibumu.Sekarang ibumu juga sakit-sakitan.Ibumu terkena Diabetes yang setiap saat bisa membutuhkan pertolongan.Kalau nanti kamu sudah selesai kuliah,ganti adikmu yang keluar kota untuk kuliah.Kamu ya harus kembali kesini untuk bekerja sekaligus menjaga ibumu!Kalau bukan kamu lalu siapa lagi?”
Milya terdiam bungkam tanpa kata setelah neneknya usai mengatakan itu. Ibunya sakit. Iya memang belakangan ini ibunya sering mengeluh sakit,pegal dan sebagainya. Ia pun tahu bahwa ibunya mengidap Diabetes meski belum cukup parah.
Setetes air mata mengawali menjamah pipinya dengan lembut.Meruntuhkan semua asanya.Merobekkan perasaanya jika kembali mengingatnya.Lagi-lagi kata-kata neneknya kembali terngiang dikepalanya:
“ Kasihan ibumu. Dia membutuhkan anak perempuannya. Apa kamu sampai hati membiarkan ibumu sakit sedangkan kamu asyik bekerja jauh dari dia?Kelak ibumu membutuhkan anaknya untuk merawatnya. Jangan hanya menuruti ego mu saja.”
Tapi lagi-lagi Milya juga membantah secara halus:
“Nenek,Milya ingin berkarir di kota besar.Milya ingin meraih cita-cita Milya..”
“ Tidak usah berfikir terlalu jauh seperti itu. Lebih baik kamu menjadi guru saja disini. Nenek rasa guru itu pekerjaan yang terbaik untuk seorang wanita. Kehidupannya bisa terjamin. Kamu juga bisa bekerja sambil menemani ibumu nantinya..”
Milya memutar otaknya. Menjadi guru? Memang itu adalah pekerjaan yang mulia tapi bukan berarti terbaik untuk seorang wanita. Ia sadar bahwa ternyata pemikiran neneknya itu masih terlalu kolot. Seolah neneknya masih hidup di zaman dulu pula. Dalam pikiran Milya ini adalah zaman globalisasi. Zaman modern dimana emansipasi wanita menjadi tren. Wanita tidak dibatasi dalam hal pendidikan ataupun pekerjaan. Wanita boleh berpendidikan setinggi mungkin dan mendapat pekerjaan sebaik mungkin. Tidak harus lurus kedepan mengikuti tren zaman dulu dimana wanita menjadi guru adalah wanita yang paling beruntung sedunia.
Saat ini wanita juga boleh menjadi direktur,manager, atau apa saja sesuai kemampuan dan pendidikannya. Tentu tidak ada yang tidak mungkin. Milya berfikir buat apa ia jauh-jauh menimba ilmu di kota besar tetapi pada akhirnya harus kembali menjadi seorang guru di kota aslanya? Ya memang tidak ada yang salah tapi kalau ada yang lebih baik kenapa tidak mengambil yang lebih baik itu?
Milya tidak ingin hanya menjadi guru biasa di kota kecil. Ia ingin menjadi seseorang yang jauh lebih baik. Ia tidak mau terlalu disetir keluarganya untuk menggeluti pekerjaan turun-temurun dari keluarganya.Guru. Baginya,meskipun sebagian besar keluarganya adalah seorang guru,ia tidak wajib untuk mengikutinya. Ia bebas menentukan masa depannya sendiri karena ini adalah hidup dan jalannya.
Namun sekali lagi,pergolakan batin itu terjadi ketika ia mengingat ucapan neneknya. Ia bingung. Manakah yang harus ia pilih?Mimpi dan impian besarnya ataukah kota kecilnya yang terlihat ibunya melambai-lambai agar ia kelak akan kembali lagi?
Tentu ia ingin memilih keduanya. Merealisasikan mimpi-mimpinya juga tetap berada disisi keluarga yang amat ia cintai itu.
Entahlah, pemikiranya itu masih terlalu dini untuknya mengingat dirinya masih dalam lingkup usia belasan tahun... tapi hal itu kerap menganggu tidurnya.Berkelebat dalam bayanganya...
Rasanya ia ingin meneriakkan semua isi hatinya bahwa ia tidak ingin terus-menerus disetir oleh meraka!Ia berhak menentukan masa depannya sendiri!Ia berhak memutuskan dimana ia ingin melanjutkan hidupnya atau dengan siapa ia akan melanjutkan umurnya!
Rasa dilematis tentu kerap menyambanginya setiap saat. Pilihan antara mimpi dan ibunya. Disatu sisi, ia ingin mereguk kesuksesan mimpi-mimpinya. Tapi disisi lain,ibunya seolah menitikkan air mata kesedihan melihat ia dan ibunya harus terpisahkan oleh jarak.
Lagi dan lagi air matanya jatuh perlahan dan mulai deras saja. Ia membayangkan sang ibu jika tergolek tak berdaya mengharapkan kehadiranya. Namun ia juga membayangkan impiannya sudah menanti untuk digenggam.....
Iapun melangkah kaki menyusuri sebuah pantai berpasir. Ia melentangkan kedua tanganya.Menghirup dalam-dalam udara khas pantai.Memejamkan kedua matanya.Kemudian sebuah teriakan keras tertangkap telinganya.
“Aku ingin mengepakkan sayap ke bulan.........”
Ia membuka mata setelah suaranya ia dengar cukup keras berharap sang ombak mendengar dan memberi jawaban.
Ia menatap hamparan laut tanpa batas dengan berteman ombak yang mencumbu bebatuan teman setia sang pantai....
Debur sang ombak terdengar disela-sela suara samar sebuah isak tangis seseorang....
“Sungguh aku ingin terbang ke bulan...”
Isaknya kian menjadi .......