Here, I am



mardi, août 06, 2013

Malam Puncak Muwadda'ah ...

Pagi ini, ternyata aku masih menjelajah alam internet di blok B tempat warnet murah ala pesantren LUHUR, rumahku tercinta. Dan, eng ing eng ... sepi, sunyi, senyap, yang terdengar hanyalah berisiknya siaran TV tepat di depanku kini. Sangat kontras dengan yang sering teradi. Jika sehari-hari bisingnya TV harus selalu bersaing dengan super bisingnya suara penghuni pesantren ini, kini yang ada hanya seglintir orang yang agaknya tidak berminat "guyonan" seperti biasanya.

Kenapa? karena hari ini adalah H-2. Kenapa kalau H-2? karena tradisi turun-temurun di pesantren kami, baru boleh pulang lebaran kalau sudah H-2, meskipun pada kenyataanya banyak yang melanggar. Tapi karena aku sudah betah meninggali pesantren mungil tapi unik ini, akupun hingga hari ini masih berkutat dengan laptop kesayanganku di sini. 

Dan seperti tradisi tahunan, malam tadi telah diadakan sebuah acara intern terbesar di pesantren LUHUR tercinta. Adalah malam puncak Muwadda'ah sebagai acara perpisahan sebelum para santri kembali ke habitatnya masing-masing. Dan, aku mendapat kesempatan dengan menjadi panitianya dalam divisi PDD. Membuat poster, stiker, banner, backdrop, panggung dan tak ketinggalan dokumentasi adalah bagian tim ku. 

Awalnya sempat uring-uringan dengan diri sendiri karena merasa dibebani amanah yang menurutku tidak sanggup aku laksanakan. Tapi karena tekad dan bantuan dari orang-orang sekitar, akhirnya aku bisa melaksanakan semu tugasku dengan baik, alhamdulillah. Dan serangkaian acara Muwadda'ah telah aku lalui dengan lancar dan disusul dengan suksesnya acara Malam Puncak Muwadda'ah tadi malam.

Dengan konsep yang hampir sama tapi banyak berubah dari Muwadda'ah tahun kemarin, kami men-setting panggung yang mungil dengan backdrop yang sederhana namun terkesan mewah, dan dibuntuti dengan serangkaian penampilan dan video yang menarik dan bagiku semakin menumbuhkan rasa cinta terhadap pesantren.

Terdiri dari berbagai penampilan wajib, juga lomba comic motion per blok atau per lantai, juga diikuti berbagai persembahan yang tak kalah meriahnya dengan disempurnakan dentuman drum, piano, dan juga gitar yang menggelegar keras semakin memeriahkan acara dengan nuansa gelap elegan. Dan yang semakin membuat haru birunya kami, adalah ketika persembahan terakhir kami persembahkan untuk salah seorang santriwati, tetangga kamarku yang telah lebih dulu berpulang ke rahmatullah awal tahun ini. Salah seorang sahabatnya membacakan sebait puisi dengan diiringi video tampilan foto-foto almarhumah yang kian mengharukan suasana gelap semalam.

Dan kini, seolah aku enggan untuk meninggalkan pesantren ini. Masih ingin berlibur disini meskipun hanya gulung-gullung tidak ada kegiatan. Tapi paling tidak aku tidak harus disibukkan dengan sekian aktivitas perkuliahan yang melelahkan. 

Tapi rasa rinduku pada keluarga dan kampung halamab juga membuncah, dan memaksaku untuk kembali secepatnya...

Kini aku sudah "merumahkan" pesantren ini. Sebuah rumah temapt aku bernaung dan surga bagiku untuk mengais kepingan surga sebenarnya, insyaallah ...

jeudi, août 01, 2013

Halaqoh Perdana ...



Ternyata hari itu tiba juga. Adalah hari yang aku tunggu-tunggu agar cepat berlalu. Tapi sebenarnya hari itu adalah satu dari sekian hari yang cukup menegangkan, setidaknya bagiku. 
Kamis, 25 Juli 2013. Dengan judul ilmiah motto  Every dark cloud has a silver lining  aku mulai berdiri diantara ratusan santri lainnya dan yang pasti berdiri didepan Kyai ku tercinta untuk mempresentasikan judulku itu. Deg degan? sebuah hal yang pasti akan dialami oleh semua yang berdiri dibalik mimbar coklat pagi itu. Terkadang mempresentasikan ilmu yang belum pernah dipelajari dan harus siap  kalau-kalau "dibantai" Kyai yang kami panggil Abah. Ah, ternyata itu sudah sangat biasa. Karena hampir tiap pagi ketika pidato ilmiah yang kami sebut halaqoh itu, abah sering “membantai” si pemateri yang terdiri dari satu santri putra dan satu santri putri dengan judul yang sama.

Pertama, setelah sholat shubuh berjamaah, seperti biasa dilanjut dengan serentetan istighosah, seketika hatiku bergetar lumayan cepat juga, pertanda kegugupan mulai melanda. Tapi, aku berusaha mengalahkan  kegugupan itu dengan terus tersenyum dan mengalihkan perhatianku pada sebuah mic yang tengah menanti untuk kujamah. Dan tanpa basa-basi lagi, pagi itu aku langsung menuju pada judulku yang berbahasa Inggris.

Every dark cloud has a silver lining, it means that every problem or darkness in a human life has a positive sign hidden in it. Not being afraid of the darkness if we only focus on the edges of the cloud we can see the sunshine, a shine of hope.

Kalimat diatas merupakan kalimat yang aku ucapkan alhamdulillah dengan fasihnya (kata teman-temanku yang menonton) dan ketika aku mengucap kalimat itupun banyak mata seketika tertuju kepadaku yang mulai berhasil menghilangkan rasa gugup.

Dan, eng ing eng, ternyata aku sama sekali tidak “dibantai” abah justru aku hanya diberi kesempatan untuk membaca judul berikut penjelasan singkatnya tanpa harus membeberkan secara rinci latar belakangnya. Dan ketika abah mengutus pemateri kedua yang berarti jatahku berdiri sudah selesai, hembusan nafas lega selega-leganya langsung aku suguhkan beserta senyum gemilangku. Akhirnya, aku telah berhasil melewati hari halaqoh dengan sukses. Hanya sesingkat itu.

Tapi agak geli ketika sedikit menengok kebelakang. Kepikiran karena halaqoh sebenarnya sudah ada dikepalaku sejak pertama kali aku menjadi santri baru. Membayangkan harus mempresentasikan judul yang lebih seringnya nyeleneh dari jurusan yang kita ambil dibangku kuliah juga sekaligus berhadapan langsung dengan sang kyai yang mengantongi berbagai disiplin ilmu dan tak ketinggalan serentetan jabatan, Prof.Dr.Kyai H.Achmad Mudlor, SH. Beliau dikenal sebagai guru besar Filsafat dan menguasai berbagai bahasa asing salah satunya bahasa yang tengah aku dalami, Prancis.

Tentu membayangkannya saja membuat kami, para santri baru dulu agak takut. Bahkan, hal itu yang dulu membuat aku hampir mengundurkan diri dari pesantren dimana aku tinggal sekarang. Tapi sebenarnya halaqoh itu juga tidak terlalu menyeramkan seperti yang dulu sering aku bayangkan. Kata penghuni lama disini, “dibantai” atau tidaknya itu tergantung mood abah pada pagi hari itu. Kalau beliau sedang enak hati, insyaallah halaqoh kita sukses dan tidak banyak revisi. Tapi kalau sebaliknya, alamat malu di depan kaum santri yang lainnya. Tapi sekali lagi, itu adalah hal yang kata mereka para senior sudah sangat biasa terjadi. Begitu juga kata teman-temanku menyemangatiku.

Dan untuk mempersiapkan hari halaqohku itu, aku sudah mondar-mandir di dunia internet demi menemukan referensi yang tepat, selama dua minggu. Sempat pusing dan hampir putus asa karena merasakan begitu susah mencari referensi yang sesuai. Bahkan aku tanya sana-sini. Tanya beberapa dosenku di Unisma meskipun hasilnya jauh dari yang aku inginkan. Juga sempat bertanya pada sejumlah teman kampus, juga teman-teman pesantren. Bahkan sempat kepikiran untuk bertanya pada rektor Brawijaya. Dan, akhirnya jurus kepepet keluar. Karena hingga sehari sebelum aku maju, aku belum menemukan apa yang akan aku tuangkan dalam paper ku, terpaksa aku lebih dulu menghubungi partner ku yakni santri putra. Niatnya ingin menyelesaikan sendiri, tapi apa boleh buat, otak sudah keburu ditumbuhi ketakutan akan “dibantai” abah.

Alhasil, karena karja sama dengan partner ku via sms, aku langsung menyelesaikan tugas wajibku malam itu juga. Dan ternyata ketika aku sudah menyelesaikan seluruh paper ku hingga pembahasanku tujuh lembar, aku hanya berkesempatan membacakan judul dengan penjelasan singkatnya. Hanya itu saja! Sama sekali tidak sebanding dengan “perjuangan” ku selama dua minggu apalagi ditambah dengan “ketakutan”ku dari awal menjadi santri baru, tahun lalu.

Dan satu lagi, halaqoh itu meninggalkan kesan indah yang tidak akan pernah bisa aku lupakan, karena dipagi itu pula, banyak yang mendukungku. Terutama Fitroh dan kawan-kawan di blok Azka yang mendukung di samping aku berdiri. Rasanya aku tidak sendirian.

Sekarang aku telah melewati salah satu hal yang selama ini bisa dibilang menjadi penghambat aku untuk membetahkan diri tinggal disini. Rasanya ramadhan ini tidak ingin berakhir saja. Halaqoh sudah terlewatkan dengan sukses, dua kuliah libur juga diniyah sudah berakhir sementara. Rasanya indah untuk menikmati hidup meski di kota perantauan ini aku hanya gulung-gulung kebingungan karena tidak tahu aktivitas apa yang bisa aku lakukan untuk mengisi liburan. Ngaji? Belajar? Ah, itu sudah merupakan makanan sehari-hari ...

Dan, biarlah hidupku berlanjut apa adanya dengan kehendak-Nya ...






















jeudi, juillet 18, 2013

An Interesting Book : Snow Flower and The Secret Fan ...




Berawal dari ketertarikanku pada sejarah dan seluk beluk dunia tradisional dari belahan negeri lain, aku pun tanpa ragu menjadikan sebuah buku cukup tebal yang berjudul Snow Flower and The Secret Fan sebagai milikku. Sebuah buku berselimut warna orange khas Cina itu bercerita tentang kehidupan negeri Cina pada abad 19 khususnya tentang kehidupan wanita.
Salah satu karya yang disebut-sebut sebagai karya terbaik dari seorang novelis Lisa See yang saat ini berdomisili di Los Angeles yang telah mampu mengikut sertakan pembacanya masuk dan mencampur adukan emosi ketika menyelami berbagai tradisi bangsa lain yang begitu berbeda dan bahkan hampir tidak masuk akal (menurutku). Tapi pada nyatanya, penulis bisa membuat pembacanya enggan untuk berhenti membaca karena sudah terlanjur hanyut dalam “permainan” nya yang menceritakan segala sesuatunya secara rinci.
Salah satu yang unik adalah ketika didalamnya penulis mencoba berinteraksi dengan pembacanya sehingga seolah-olah kisah kehidupan seorang wanita yang ia tuangkan adalah kisah nyata. Menceritakan kehidupan dua wanita Cina mulai dari usia sangat muda hingga tua dan meninggal berikut dengan macam-macam tradisi yang berlaku pada jaman itu.
Tradisi pengikatan kaki, Loutong, saudara-saudara sejati, tulisan rahasia wanita Nu Shu, Festival pengusiran burung, Hari beras dan garam, kamar wanita lantai atas dan lain sebagainya tergambar jelas dalam balutan novel tersebut. Tradisi-tradisi yang bagiku sangat aneh ternyata bisa menggugah keinginan untuk semakin menenggelamkan diri dalam tiap cerita novel terjemahan yang kukira sebuah kisah nyata si tokoh utama.
Benar-benar sebuah karya yang mengaggumkan hasil observasi si penulis beserta tim nya yang langsung terjun ke TKP, daerah-daerah di daratan Cina yang bisa dikatakan masih terisolir dengan penduduknya yang masih menjalani beberapa tradisinya. Tradisi pengikatan kaki saat ini telah dihapuskan karena adanya berbagai protes, sedangkan tulisan Nu Shu yang kini dilindungi oleh pemerintah karena merupakan aset sejarah bangsa yang begitu berharga.  

***

Well, adalah kisah tentang seorang gadis bernama Lily yang merupakan keturunan asli Cina pada abad 19, tinggal di sebuah desa kecil bernama Puwei, dan takdir melahirkan ia sebagai seorang anak perempuan kedua dari keluarga petani yang tak mendapat jaminan hidup berlimpah dari kekaisaran. Mama dan bapa nya memiliki empat orang anak. Anak laki-laki pertama, anak perempuan kedua _Lily_, anak laki-laki ketiga, dan anak perempuan keempat. Begitulah cara orang Cina terdahulu mendeskripsikan keluarganya, dengan menyebut urutan anak ketimbang nama.
Pada jaman tersebut terdapat salah satu tradisi yang sangat unik namun sangat mengerikan pula, yakni tradisi pengikatan kaki bagi gadis berusia antara enam atau tujuh tahun (umumnya enam tahun). Pengikatan kaki bertujuan untuk menjadikan kaki si gadis seperti bunga lotus yang indah dan mungil. Kaki yang dianggap sempurna setelah pengikatan kaki adalah kaki mungil sempurna dan berbentuk dengan apiknya. Gadis dengan kaki mungil sempurna diidentifikasikan akan mendapatkan suami dari keluarga yang berada dan terpandang, sedangkan gadis berkaki besar yang artinya ia tak pernah menjalani masa pengikatan kaki, maka ia akan menjadi perawan tua alias tidak berhak untuk menikah. Dalam hal ini ia akan menjadi seorang budak rendahan.
Dengan bantuan peramal atau yang mereka sebut sebagai Mak Comblang, dalam buku tersebut adalah Madame Wang, Lily melakukan tradisi pengikatan kaki pada usia tujuh tahun. Dia menjalani tradisi itu bebarengan dengan adik perempuan dan sepupunya yang bernama Bulan Indah. Pertama, kedua kakinya harus diikat sekencang mungkin dengan perban bersih hingga menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Ikatan perban tersebut bertujuan untuk meretakan tulang-tulang nya dan kemudian agar bisa membentuk kaki yang jauh lebih kecil dan terbentuk (ia dicekoki berbagai makanan khusus untuk peretekan tulang dan pengendoran kulit). Selama berbulan-bulan, ia harus menahan sakit akibat terikatnya kaki sebegitu kencang dan menahan ngilu atas darah dan nanah yang keluar. Tiap empat hari sekali perbannya harus dibuka untuk dibersihkan dan diganti perban yang baru. Tiap hari ia dipaksa untuk terus berjalan di dalam kamar wanita lantai atas (ruangan di lantai atas yang dikhususkan bagi para wanita) demi mematahkan tulang-tulang yang diperban agar dapat terbentuk sesuai yang diinginkan.
Tradisi pengikatan kaki yang sedemikian itu bagi wanita adalah antara hidup dan mati. Jika berhasil, maka akan didapat sepasang kaki yang mungil dan indah yang menyaratkan pribadi gadis yang baik dan anggun, seperti halnya sepasang kaki Lily setelah melewati pengikatan kaki, ia mendapati sepasang kaki nya begitu mungil bahkan memiliki panjang hanya tujuh centimenter. Tapi ada pula yang berdampak buruk mulai dari cacat permanen hingga berujung kematian. Seperti mama Lily yang harus mengandalkan sebuah tongkat untuk berjalan akibat tidak sempurnanya kaki setelah menjalani tradisi itu. Atau tentang adik perempuan Lily yang nyatanya harus menemui ajal pada hari-hari awal masa pengikatan kaki karena terjadi peradangan darah.
Setelah mendapatkan sepasang kaki hasil tradisi turun temurun dari pengikatan kaki, tradisi selanjutnya yang harus dilalui oleh para gadis normal adalah semacam salah satu tahap perjodohan dikemudian hari. Dalam hal ini, mak comblang yang bernama Madame Wang yang merupakan mak comblang terkemuka lah yang mencarikan jodoh bagi Lily. Hingga akhirnya, karena suatu alasan, Lily mendapatkan kesempatan yang langka untuk memiliki seorang Loutong atau seorang kembaran hati. Yang artinya pasangan (ia adalah seorang gadis pula) yang akan selalu menjadi sahabat terbaik selama hidup. Biasanya para gadis hanya akan dicarikan saudara perempuan sejati yang akan selalu menemani hanya hingga terjadinya pernikahan. Tetapi Loutong adalah kembaran hati yang akan selalu menemani hingga maut menjemput. Loutong Lily adalah seorang gadis dari desa makmur Toungku yang merupakan gadis dari keluarga yang jauh lebih berada ketimbang dirinya, bernama Bunga Salju.
Alasan mereka dijodohkan sebagai sepasang Loutong karena mereka memiliki delapan kesamaan. Diantaranya, mereka sama-sama bershio kuda, lahir di tahun, bulan, juga hari yang sama, menajalani pengikatan kaki dihari yang sama, memiliki saudara dengan jumlah yang sama, dan memiliki adik perempuan yang sama-sama telah meninggal. Dari sekian persamaan itulah, Madame Wang merasa mereka cocok untuk dijadikan sepasang Loutong yang akan saling mencintai hingga akhir hayat.
Mereka pun menjalani hari-hari mulai dari usia tujuh tahun hingga tua bersama-sama. Saling berbagi kesedihan dan kebahagiaan yang sama, menikmati masa-masa gadis yang indah hingga dihadapkan pada takdir tentang sebuah pernikahan. Pada usia tujuh belas tahun, mereka menikah. Lily menikah dengan salah satu keluarga terpandang di desa Toungku yang merupakan tanah kelahiran Bunga Salju. Keluarga suaminya adalah orang-orang terpandang yang memiliki banyak warisan, bahkan mendapat jaminan dari kekaisaran. Suaminya adalah seorang laki-laki (anak lelaki pertama) yang tampan, tinggi, gagah, dan tentu berpendidikan. Lily merasa sangat beruntung dengan takdir yang terjadi padanya, kendati perjalanannya tak semulus yang ia harapkan. Pada jaman itu, perjodohan yang mutlak terjadi, selalu mengakibatkan hubungan yang tidak dekat antara suami dan istri. Dunia laki-laki adalah diluar, mereka bekerja dan lain sebagainya. Sedangkan, dunia wanita adalah di rumah dengan kewajiban mutlak mengurus ibu kandung suami dan menjalani “urusan ranjang” untuk mendapatkan keturunan.
Pada masa itu, semua orang begitu menginginkan kelahiran anak laki-laki. Karena dengan adanya anak laki-laki, maka kedudukan mereka bisa aman. Seperti halnya posisi Lily yang merupakan menantu perempuan pertama dalam keluarga suaminya, ketika ia melahirkan anak laki-laki maka posisinya akan aman juga suaminya. Karena mereka berpandangan bahwa anak lelaki adalah segalanya, sama sekali tidak ada bandingannya dengan anak perempuan. Bahkan, mereka berfilosofi bahwa anak perempuan dibesarkan hanya untuk keluarga orang lain. Maksutnya, orang tua membesarkan anak perempuan ibarat seperti barang titipan. Mereka hanya membesarkan dengan kasih sayang ‘ala kadarnya’ dan kemudian pada usia yang dianggap cukup, anak tersebut dinikahkan. Dalam tradisi Cina dulu, setelah seorang gadis menikah, dan setelah melahirkan, ia harus tinggal di rumah suami selamanya. Diperbolehkan kembali mengunjungi rumah kelahiran hanya jika terdapat perayaan besar tahunan.
Kehidupan pasca menikah antara Lily dan Bunga Salju sangat berbeda. Jika Lily mendapat keluarga yang berada bahkan terkaya di daerahnya, lain hal dengan suami Bunga Salju. Ia yang menikah sebulan setelah Lily, mendapatkan suami seorang tukang jagal yang dianggap masyarakat setempat adalah pekerjaan kotor karena harus menyembelih binatang-binatang yang tak berdosa. Suaminya pun adalah seseorang yang pendek, agak gemuk, berkulit agak coklat lusuh dan kasar. Sering memukul, selalu tidak menghiraukan, jarang melakukan komunikasi meski sering meminta melakukan kegiatan ranjang. Ibu mertuanya yang bershio tikus pun adalah seorang wanita tua yang cerewet, rakus, dan kasar. Kehidupan Bunga Salju di daerah suaminya, desa Jintan sangat berat. Dipaksa selalu bekerja dan hanya makan nasi dan sayur.
Setelah menikah, Bunga Salju dan Lily selalu berkomunikasi melalui surat yang ditulis dengan huruf Nu Shu yang merupakan tulisan rahasia bagi kaum wanita. Hingga mereka melahirkan anak laki-laki pertama dan anak-anak selanjutnya.
Dalam novel tersebut, diceritakan kisah-kisah yang mengalir apa adanya sesuai situasi pada abad ketika itu. Hingga Bunga Salju meninggal karena tumor di perutnya yang sebesar bayi telah menggerogotinya selama depalan tahun. Dan hingga kedua wanita itu menjadi seorang nenek dengan banyak cucu, meninggal dan berharap bertemu kembali di alam baka.








lundi, juin 24, 2013

Autobiography ...


Wow, for some mounths I haven't written my stories in this my own blog. All of this because I was so busy to face all of my activities. 
And, this is my last assigment in writing subject for this second semester in one my universities. 
I just wanna share about my own life. A little bit about my family, about my personality, my hobbies, my dreams and so on. Let's check this out ....

It’s Me, An Ordinary Girl
On Friday midnight 12 November twenty years ago, I was born in the clinic at the small city on the corner of Central Java, Jepara. My father gives me a wonderful name, Nur Laili Noviana Mukarromah, and people just call me Novi. I’m a first daughter of  Kamaji and Sri Zuliyanti. Since I was born, my parents are teacher. My father is a teacher of junior high school, and my mother is a teacher of senior high school. I’ve two younger brothers. My first brother is in junior high school, and the second one is still in the elemantary school.
First, I’ll explain about my name story. NUR LAILI NOVIANA MUKARROMAH. Nur Laili is kind of Arabien name that means the night light. Noviana came because I was born on November. And the last, Mukarromah means the woman who is always blessed by Allah.
Since I was born until senior high school, I lived in Jepara. The short story, I graduated from kindergarten (TK) names Tarbiyathul Atfhal I Jepara from 1997-1999, elementary school (SD) Panggang 09 Jepara from 1999-2005, junior high school from 2005-2008, senior high school from 2008-2011. And on 2011, I chose Brawijaya University Malang as my next education in Languange and French Litterature. Next, on 2012 my parents gave me an advice to take English Departement in Unisma. So, started from 2012 I have studied in two different universities in Malang. In the other hand, on the same year, I’ve been living in the Islamic Boarding House  names Luhur that near of Brawijaya University. When I decided to take two different universities and also live in Islamic boarding house, all of my friends asked me why I did it. Only one reason that I gave, for my better future. I love French and English so much. My  parents support me to learn more about that languages. Besides that, my parents want me to reach the education higher than them. They only graduated from S1, so they want me to do more than it. And about why I decided to live in Islamic boarding house, my parents always say that not only we learn about general knowledge such as in school or university, but also we must learn about our religion. And I’am agree with that.
Reading, writing, watching movies, listening to music, and travelling are my hobbies. I love them so much. As people say that reading is the window of the world, so I want to improve my knowledge with loving books.  Although I love litterature so much, I read the other books. For example, pscycology, medecine, filosophy, even about astronomy and biology. All of them are knowledges which I can’t get in my classes. 
About writing, I love writing since I was in elemantary school. And started in junior high school, I’ve written some novels and short stories (cerpen). For me, writing is my way to show up my mind, my imagination and also my inspiration about my world. But, since I’m a student university and live in Islamic boarding house, I don’t have enough time to keep writing. So, I just let my inspiration wait for me only in my mind.
Every night, I always listening to my favorite music while I studying my lessons. Without music, maybe I can’t concentrate with my lessons. Western and Korean music are my favorite. I think that with my music  I can be calme down when I got the problem. Just close my eyes and use my lovely earphone, I enjoy with the rhythm of my music on my own bed in my bedroom. I can make my imagination fly high by following the lyrics. And every weekend, I spend my day for watching movies. My favorite movies are Hollywood, Korean, and French movies with genre are romantic, sadness, imagination, motivation, and action. Honestly, I don’t really love the Indonesian movies except the films that can give the audiences some messeges, such as Habibi Ainun, Tanah Surga Katanya, Surat Kecil Untuk Tuhan.
My last hobbies is travelling. I really love travelling with my friends is like going to the beach, mountains, or the other places that has beautiful view. I’ve visited some tourism places in Malang, such as Bale Kambang beach, Kondang Merak beach, Mount Bromo, Coban Rondo, Coban Talun, and Batu. Although as a student university that  have a lot of homeworks, I keep travelling when I’ve free time. I think that every body has to refresh his mind after doing all of the tiring activities.
About my weakness and excess, all of people sure have weakness and excess in their own and I am too. Most of my family say that I am an ambitious, stubborn, and consumptive girl. I don’t know why they say I am an ambitious girl. And I admit that I am a stubborn and consumptive girl. Related to stubborn, because I’ve a principle in my own life. I remember, when I was in the first class of senior high school, my parents asked me to take scientict or social knowledge in the next class as my major, but I refused. I said that I love language and I wanted to take language class. At the time, I was crying for keeping my choice. Because, my parents know that I am a stubborn girl, they allowed me to take whatever I want.
Consumptive girl? I have to admit that I am a consumptive person. If  I’ve a lot of money, I’ll buy what I want. My parents always give me advise to be a thrifth girl. And since moved to Malang, I’ve promissed to my self that I’ll save a half of my money for my future then.
Then, I want to share about my achievement. My achievement  when I was in junior high school and senior high school  is I got an achievement by the winner of my major for many times. And also I got by the best graduation of my major at final examination (UN) in my school. And the last achievement, I got the local scholarship in one of my universities, Brawijaya University.
About my dream. I have a lot of dreams. I want to be lecturer, an author, an enterprenuer, a designer and I want go abroad to continue my next education or to work there. And I want around the Indonesia and Europe for digging many cultures. And almost all of people who know me, they know that I really want to go to French. I want continue my study in Sorbonne University, one of  the best universities in the world. I always ask to God to let me reach all of my dreams. But, the important thing that I always want to do is make my parents are proud of me. Because they’re my inspiration and motivation to keep my dreams. Although I don’t have much money to go to French, but I am sure that one day God will let me to take some photos in front of the Eiffel tower directly and say “Bonjour” means good morning to everyone in French. I always set in my mind the Agnes  Monica’s quote “ Dream, believe, and make it happen”.
And my life motto is “My journey is my own history”, that’s way I love travelling and let my life creats my own history.



mercredi, avril 10, 2013

Adek, Malaikat Mungilku ...

09 April adalah salah satu hari bersejarah dalam hidupku juga kota kelahiranku. Pasalnya tertanggal pada angka brilian itu, kota kecilku merayakan hari jadinya yang semakin bertambah. Dan juga sebuah perubahan telah terjadi dalam hidupku. Si bungsu telah membuka mata untuk melihat dunia. Adik kecilku telah lahir, tepatnya tujuh tahun yang lalu.
Namanya Hikam. Sering keluarga kami memangilnya Ikam, Adek, Ndut, Sayang, atau panggilan kesayangan lainnya. Saat dia dilahirkan dari ibuku, Jepara sedang heboh dengan perayaan “kirab” dan karnaval budaya nya.
Kini, si kecil itu mulai bermertamorfosa menjadi bukan “anak kecil” lagi. Usianya bukan lagi seusia balita apalagi batita. Namun, ia telah menjadi seorang anak sekolah dasar tingkat pertama. Dia adalah anak brilian, setidaknya menurutku dan orang-orang yang mencintainya. Dari kami bertiga, anak ayah ibu kami, dia lah yang paling cerdas. Sejak usia balita, ia sudah mulai diperkenalkan dengan berbagai barang-barang teknologi. Sudah mulai bisa mengoperasikan hape sejak usia TK, dan juga ia sudah berteman akrab dengan komputer sejak dini. Bahkan, kini ia sudah memiliki hape pribadi, layar sentuh pula! Jika flashback, semuanya berbanding terbalik dengan masa kecilku.
Padahal jika kuingat, dulu aku dan adik pertama ku tidak secepat itu mengenal teknologi. Terlebih aku yang ketika masa kecilku, kedua orang tuaku masih tak punya apa-apa. Tapi melihat si bungsu, aku bangga. Diusianya yang hari kemarin telah genap tujuh tahun, ia sudah mulai mengantongi sejumlah ilmu. Seperti komputer, bahasa Inggris, bahasa Arab, juga mungkin lingkungan elit di sekolahnya.
Ya, elit jika kubilang. Sekolahnya memang bukan sekolah negeri milik pemerintah. Tapi sebuah sekolah yang baru sekitar tiga tahun lalu didirikan namun sudah mempunyai peminat yang membludak tiap tahunnya.
Sekolahnya pun sekolah modern berbasic ajaran Islam. Bukan hanya bahasa Inggris tapi juga diajarkan bahasa Arab. Sistem pengajarannya pun bukan lah sistem manual lagi, melainkan sudah cukup canggih. Satu kelas hanya berkisar 28 murid dengan dua guru dan perlatan elektronik lengkap, mulai dari pendingin ruangan hingga laptop dan LCD proyektor pun telah menghiasi di tiap ruangannya.
Tapi bisa dikatakan sekolah si bungsu ini memiliki jam terbang lebih padat dari sekolah umum lainnya. Pelajaran dimulai dari jam delapan hingga jam dua siang. Alhasil, tiap siswa disediakan makan siang di sana.
Mengingat rutinitas padat tempat mencari ilmu bagi anak-anak mungil seperti si bungsu itu, aku menjadi salut pada adik kecilku. Tiap hari ia harus digembleng dengan sekian jadwal dengan durasi yang tak biasa. Tapi, adik ku adalah anak yang luar biasa. Ia tetap menikmati kesehariannya meski melelahkan. Sepulang sekolah, ia langsung mempraktikan semua pelajaran yang telah ia serap seharian. Seperti menggambar sesuatu menggunakan komputer. Jadilah jadwal wajibnya seusai sekolah adalah berkutat dengan komputer di rumah.
Selain anak pintar karena menjadi juara kelas kemarin, ia juga anak rajin. Dia anak yang peka dengan keadaan. Kedua orang tuaku adalah orang yang bisa dikatakan sibuk dengan pekerjaannya. Terlebih ibuku yang tiap harinya harus berada diluar rumah. Dampak dari kesibukan orang tua adalah rumah berantakan karena tak mempunya pembantu. Tentu aku tidak bisa membantu mengurus segala pekerjaan rumah. Dulu, setiap aku pulang ke rumah karena mendapat sedikit liburan kuliah, aku selalu mengatakan pada si bungsu untuk selalu membantu pekerjaan orang tua seperti menyapu. Aku mencoba memberinya pengertian bahwa orang tua kami terlalu lelah berkutat dengan pekerjaan yang melelahkan.
Dan, mujarab! Acap kali aku menelpon ibuku dari kota kini aku berada, ibuku kerap menceritakan kerajinan si bungsu. Dia menyapu dari dalam hingga halaman rumah, membersihkan kaca, bahkan mencuci piring di wastafel. Agak geli membayangkan ketika tinggi badannya belum melampaui tinggi wastafel untuk mencuci. Ibuku mengatakan, tiap kali si bungsu mencuci selalu menggunakan kursi kecil agar tingginya melampaui wastafel. Dan melakukan pekerjaan yang belum saatnya ia sentuh itu. Tiap kali dilarang, ia tak menggubris. Aku tahu, ia tak tega melihat lelahnya orang tua kami.
Hmm, ketika membayangkan wajah mungil nan polosnya anak kecil, aku selalu merindukan celotehnya. Lucu, renyah dan polos khas anak kecil tanpa dosa. Belum lagi selalu dibuat tersenyum ketika ibu menceritakan bahwa dia selalu memberi tebakan dalam bahasa Inggris pada ibuku yang tidak mengerti bahasa internasional itu. Karena si bungsu selalu belajar bahasa asing itu, tanpa disadari ibuku juga turut belajar pula.
Hikam, adik kecilku, si bungsu malaikatku....
Kemarin adalah hari ulang tahunmu dimana kini kamu telah memasuki usia tujuh tahun.
Sayang, tetaplah kamu menjadi anak cerdas dan berbudi baik. Kelak kamu akan menjadi harapan orang tua selanjutnya. Kamu harus menjadi anak terbaik setidaknya untuk orang-orang yang selalu mencintai kamu.
Meski, kakakmu ini belum bisa membawakanmu sebuah hadiah tapi hadiah sesungguhnya untukmu adalah untaian doaku tentangmu, sayang...
Adek, tetaplah jadi kebanggaan kami, tetaplah menjadi penebar senyum untuk kami yang selalu memelukmu ....
Selamat ulang tahun, malaikat kecilku, Hikam ....
Kelak akan kugambarkan lukisan indah tentangmu...

lundi, février 18, 2013

Hanya Dalam Diamku ...

Ketika aku tak berani melangkah bersamamu
Ketika ketakutan masih membingkai suara hatiku,
Aku hanya akan mencintaimu,
Dalam diamku ...

Jika mulutku tak sanggup ungkap rasaku,
Dan jika gerakku tak mampu beri kataku,
Maka tanganku akan tulis hatiku
Tanganku akan urai kisahku
Tanganku akan tulis ceritaku
Tulisan yang kelak akan beritahumu
Tentang hidup dan kisahku
Tentangku, tentang mereka, dan tentangmu ...
Goresan yang suatu saat akan mendatangimu

Jika tanganku tak lagi hadirkan cerita
Jika coretanku tak lagi hiasi kertasku
Jika aku tak lagi ada...
Maka tulisanku yang akan bicara
Bicara tentang kisah kasihku
Kisah mencintaimu
Kisah mengaggumimu
Hanya dalam diamku ...
Hanya dalam heningku,
Aku mengaggumimu ...
Dalam tiap munajahku ...

vendredi, février 01, 2013

Bukan Sastra ...

Sejak aku mengenal dunia sastra aku memang telah memantapkan hidup untuk semakin menyelami dunia itu. Aku mencintai sastra. Aku mengagumi tiap katanya yang mengalir dengan anggun dan indah. Aku kerap terpukau pada tiap untaian bisikan sastrawi yang mengalun dengan apiknya. 
Hidupku sekian persen ku pakukan pada dunia sastra. Aku membaca tumpukan buku berbumbu kata sastra yang indah, aku menulis sejumlah kata yang mencoba untuk "sastrais". Aku mencoba menaburkan jutaan imaji tak lepas dari wanginya sastra.
Tiap langkah yang ku langkahkan dalam jangkah hidupku, ku terohkan melalui coretan-coretan yang mencoba agar hanya aku dan orang yang mencintai sastra lah yang mengetahui dan tahu apa yang ku celotehkan.
Tapi, meski aku mencintai sastra beserta kawannya, aku tak pernah menginginkan adanya sosok "Adam" yang turut menggeluti dunia yang kucintai itu. Aku tak "menginginkan" sosok lelaki yang menorehkan ceritanya juga lewat untaian kata indah sastra. 
Lebih jujur, aku mengangankan sosok yang mengenggam dunia lain selain duniaku. Aku ingin dia berkecimpung dalam kolam ilmu lain selain ilmu yang ku selami saat ini. 
Sungguh aku tak mengangankan sosok yang menuliskan tiap jengkal kisah hidupnya diatas lembaran kertas lalu ia hanya bungkam dalam katanya.
Karna aku mewarnai hidupku dengan sastra, aku ingin seseorang yang suatu saat akan mewarnai hidupku kelak adalah seseorang yang mewarnai hidupnya dengan dunia yang berbanding terbalik dengan duniaku. Tentu dengan segala konsekuensinya dan tentu dengan segala komitmennya ...
Dan kuharap bukan sastra ...

lundi, janvier 28, 2013

When ...

Tonight, when I opened my eyes, I saw his shadow in front of me. Maybe some hours ago, with a nice bluse he saw me...
How I was happy... since that lovely journey, I haven't met him again. If I can say the over something, I truly miss him. So much. I wanna meet him. I wanna see his eyes. And more, I wanna talk to him. Talk as friend,of course...
And at about six p.m, when I prayed together, I closed my eyes and I wished for saw him soon. And Yes I got it. I was surprised. When I opened my eyes, I saw him. I saw his face.
My imagination comes again. I wanna be  his close person. he's my motivator for me to keep my life here. I won't to move anymore, maybe because of him.
God, at this time I just wanna him. I wanna him. Become my close person and give me much support to keep my life here and continue all of my dreams...
Oh God ....
Keep my heart for a true person ...
For him ...

mercredi, janvier 23, 2013

Lelaki ku ...


Masih ternguiang begitu jelas tentang kisahku dimasa kecil. Ketika aku masih menjadi tuan putri di rumah mungilku, tak bisa ku ungkapkan dengan kata begitu memuncahnya kata bahagiaku. Semua rasa kasih sayang tertumpah hanya untukku. Hampir tak ada tangis. Yang ada hanya tawa bahagia bersama kedua peri hidupku.
Tapi setelah masa keemasan itu, aku juga pernah mengalami masa kepahitan dalam detik hidupku. Merasa selalu berada dalam sebuah sangkar paling kecil dan tak bisa terbang kemanapun aku ingin terang adalah secuil dari wajah hambarku saat itu. Selalu harus memutar otak sekeras mungkin hanya untuk menginjakkan kaki di tanah lain bersama yang lain. Juga yang kerap menjadi rutinitas melelahkan dan membosankan yakni berkencan dengan tumpukan buku dan segenap kawannya tiap malan dalam durasi yang tak bisa dibilang singkat. Dan, harus curi-curi waktu demi hiburan tersederhana sekalipun.

Merasa duniaku begitu biasa dan sempit juga membosankan. Lelaki ku itu kerap menunjukkan sikap dan sifat possesifnya yang ku bilang berlebihan. Juga tak jarang cemburu ketika teman lelakiku yang lain menampakkan wajahnya di depan pintu rumah. Selalu menelponku ketika aku terlambat mengetuk pintu rumah. Dia bahkan rela mengantar jemputku ke sekolah yang berjarak lebih dari lima kilo sekalipun hanya demi sifat possesifnya itu. Rasa cemburunya itu kerap memunculkan sikap diam kala ia memergoki aku duduk bersampingan dengan lelaki sebelah rumah.

Tapi, kini aku telah beranjak dewasa. Gerbang kedewasaan telah terbuka lebar didepan mataku. Kusadari, lelakiku itu sudah mulai merenggangkan otot-ototnya. Tak lagi mencengkram kedua tanganku. Mulai meninggalkan sifat possesifnya yang berlebihan. Perlahan mulai berani membuka sangkarku yang selama ini hampir tertutup dengan sedikit celah bernapas.

Lelaki ku itu telah berani melepas aku hingga ke kota orang. Telah berani melepas dekapan eratnya selama ini. Tapi aku tahu, pasti lelaki ku itu selalu menanam kekhawatiran tentangku. Ini pertama kali dalam hidupnya melepas gadisnya di pelataran orang asing. Aku yakin, tiap malam ia selalu berucap serentetan doa salah satunya menyebut namaku.

Masih geli rasanya ketika pertama kalinya aku meninggalkan dia demi menggapai citaku. Tiap malam ia selalu menelponku hanya sekedar berbasa-basi menanyakan kabar. Tak cukup lima menit sepuluh menit ia puas mendengar suara manjaku, melainkan sejam penuh ia mendengar celotehku dan juga seringkali ia melontarkan nasihat-nasihat bijaknya.

Dan ketika kembali ku ingat perjuangan lelaki ku itu demi hidup dan citaku, untaian air mataku tanpa ku minta berjatuhan dengan membayangkan wajah yang begitu tampan untukku. Tanpa bergeming, ia dengan sabarnya menemani dan mengawalku melalui perjalanan panjang dari kota kelahiranku menuju kota dimana aku kini ada. Ia yang sebenarnya paling tak suka menunggu, kala itu dengan sabarnya menungguiku mengantri mengurus segala keperluan kuliahku. Ia sangat mau ketika berjalan bersebelahan denganku lalu menggandeng tanganku ketika menyusuri jalanan yang mulai direbut para pengendara kendaraan.

Hingga sekarang. Ia adalah orang yang paling tidak tega ketika aku tak memiliki apa-apa di kota orang. Ia tak keberatan jika aku menghabiskan uangku demi makanan. Karena ia faham, aku tak bisa mengunyah ilmu jika belum mengunyah makanan dimalam hari. Sekali lagi, lelaki ku itu rela melakukan apapun demi gadisnya ini.
Meski terkadang aku kesal dan marah, tapi aku tak pernah membencinya. Selalu cinta yang besar yang ku miliki ku suguhkan untuknya. Untuk lelaki terhebatku yang ku panggil AYAH.

Takkan ada lelaki yang bisa menandingi kehebatan dan ketulusanmu ...
Karena kau akan tetap jadi lelaki ku hingga bumi ini menggulung mengecil ...
Meski pada waktunya tiba nanti aku akan menemukan lelaki lain yang menggantikan posisi muliamu, tapi kedudukanmu dihatiku takkan pernah tergeser apalagi terganti.

Ayah, aku begitu mencintaimu ...















mardi, janvier 08, 2013

Kisah Sang Kumbang dan Si Lebah ... (Part I)


Suatu masa,seekor lebah jatuh hati
Pada seekor kumbang ia menelurkan cintanya
Tapi si lebah terlalu takut
Ia pendam semanis madunya
Ia bungkam bersama sayapnya

Hingga pada masa selanjutnya,
sang kumbang terbang menujunya
Si lebah menawarkan senyum
namun tiba-tiba kesedihan menapak
Dan selanjutnya tangis pecah membara
Sang kumbang mengulur pintanya
Pinta mencumbu lebah lain
Pinta berkasih dengan lebah lain
Dan pinta terbang bersama sayap yang lain

Sebenarnya,
Sebelah sayap si lebah telah patah
Bukan tak mau,tapi tak sanggup untuk terbang
Madunya tak lagi semanis kisahnya
Dengungnya tak lagi mengusik alam
Meski ...
Akhirnya memecah tangis dalam anggukan
Tak lain demi mengibarkan sayap gagah sang kumbang
Ia rela mematahkan sayapnya ...

mardi, janvier 01, 2013

Bienvenue 2013 ...

Selamat datang tahun baru 2013. Setidaknya itu yang bisa aku ucapkan kala aku terbangun dari tidurku sejenak ketika telingaku menangkap riuhnya letusan kembang api sana-sini ditambah dengan teriakan cewe-cewe. Melihat jam, ternyata aku telah terlelap selama tiga jam dan bangun kembali ketika letusan kembang api menembus telingaku. Bergegas aku menaiki tangga dan ternyata banyak teman-temanku yang sudah stand by di pelataran tanpa atap itu untuk menyaksikan pesta kembang api tepat tengah malam ketika pergantian tahun.
Dalam remang-remang cahaya tengah malam, aku menyaksikan pertunjukan kembang api meskipun tak secara langsung. Perasaanku ikut larut dalam dentuman kembang api yang menandakan tahun 2013 telah datang. Perasaan senang dan sedih perlahan menyusup. Senang karena aku masih membuaka mata untuk menyaksikan datangnya tahun yang baru. Senang karena aku masih diberikan kesempatan menghirup udara. Tapi sedih. Sedih karena aku tak bisa turun dan melangkahkan kaki menikmati pergantian tahun secara langsung dan berteriak sekencang-kencangnya. Memang bukan suaatu keharusan. Tapi aku ingin menikmati momen itu. Aku ingin merasakan hiruk riuhnya sebuah kehidupan yang tak terkekang...
Lagi-lagi jika mengingat keberadaanku, seolah aku ingin menjudge semua ini tidak adil. Melalui lembutnya mereka, aku diarak menuju tempat yang mengepung inginku. Lagi dan lagi rasa tidak terima itu kembali muncul entah untuk kesekian kalinya. Menahan dan hanya menahan yang aku lakukan ...
Tapi tentang 2013. Tentu aku berharap tahun ini aku bisa menggenggam semua yang lebih baik. Aku harap apa yang tengah aku jadikan beban saat ini pelan tapi pasti mulai menemukan jalan terangnya dan anganku bisa di lampu hijaukan ibundaku. 
Sebuah revolusi sudah mulai aku coba canangkan ditahun ini. Sebuah planning untuk nafasku kedepannya. Mencoba suatu perubahan. Berubah mulai dari rohani yang terlebih dulu aku soroti. Bahwa aku ingin meningkatkan apa yang memang sudah seharusnya aku tingkatkan selama ini. Juga, semakin mengabdikan diri pada orang-oraang yang secara tak langsung megabdikan diri demi hidupku.
Dan, satu hal lagi. Sedikit aneh. Pacar. Mulai untuk memberanikan diri memutuskan menjalin sebuah hubungan spesial dengan seseorang yang pastinya harus mendapatkan tempat istimewa dihatiku. 
Yang terpenting, harus bisa meninggalkan kejelakan dan memposisikan kebaikan. Setidaknya itu pinta ku begitu aku mengawali bermunajah dini hari untuk pertama kalinya ditahun yang masih baru ini ...
Dan akhirnya, Au revoir 2012 et Bienvenue 2013 ...
Semoga kebahagiaan kian memelukku dan juga mereka ...