Here, I am



mercredi, septembre 19, 2012

Kotak Kecil Itu, Surgaku ...



Subuh tersadar,
Ku buka  mata,kumpulkan segenap nyawa,
Memulai  cakrawala dalam barunya jendela
Sedikit terkejut, menangkap langit-langit asing
Ku sapu dalam pandangan, ku rasa dalam keheningan
Kini, hanya sebuah kotak kecil yang membingkai
Kotak kecil yang membungkus, aku dan kehidupanku
Ya. Hanya sekotak kecil.
Kotak yang tak lebar apalagi panjang
Kotak terbungkus wadah kesederhanaan
Terkatup dinginya alas putih kusam
Terdesak bisunya perkakas
Juga tertidur dalam jajaran tipisnya perebah tubuh lelah
Memejamkan mata berbingkai harapan nakal
Agar, semua ini takkan hijrah dalam kisah nyata
Takkan berjalan diatas pijakan mata kakiku
Berharap, kembali memeluk kotak lebih besar itu
Kotak lebih mewah pastinya,
Dan, dengusan nafas kecewa menyemburat disambut kibasan angin
Ternyata hanya sebuah kotak kecil
Sangat kecil dalam pelukku
Begitu mungil dalam tatapanku
Dan yang ada memang sekotak kecil itu,
Ku bangkitkan tubuh lemasku
Ku topang wajah sayuku
Juga ku paksa mata sembabku
Lalu, gemericik air berlomba membasuh wajah,lengan,juga kaki
Aku berwudhu dibawah sayup-sayup sinar rembulan
Kemudian setelahnya,
Menatap langit tak kunjung biru
Masih jutaan bintang menemani setia
Setetes air jatuh dari pelupuk mata
Semakin lancar dalam isak sebuah diam
Seuntai doa melambai para bintang
Akankah semua ini memang garisku?
Garis penuh belokan tajam
Garis penuh lengkungan karam
Kembali terpejam mata basahku
Menelaah Raja langit melontar dengan lembutnya
Menyibak mahkotaku, membelai kelopakku
Bukankah nyawa akan berjumpa tanah?
Bukankah degupan akan kaku melemah?
Dan,bukankah dunia akan berhenti berdansa?
Itu tanyanya...
Lalu, jika waktunya memelukmu
Apa suguhan bekal abadimu?
Siapa yang  berkata membelamu?
Kepada siapa kau meronta mengiba?
Lanjutnya lagi...
Jika  sudah menetap dalam lubang terkecil sekalipun,
Mau kemana kau berlari?
 Siapa peduli dengar air matamu?
Kemudian, apa yang kau hadiahkan?
Apakah gelar sarjana,master atau profesormu?
Apakah hasil penelitian ilmiahmu? Piala? Emas? Perak?
Ataukah kau tipu dengan  bahasa duniamu ?
Kemudian,ku rasa sesuatu merembas semakin deras
Ku dengar hujatannya
Mana tiangmu! Mana kakimu!
Kau pikir cukup satu jalan!
Kau pikir selamanya bersama bumi tua ini!
Kau pikir akan kemana setelah bumi punah!
Mati? Iya! Tentu! Tapi apa kau telah menyiapkan syarat abadi itu!
Syarat membangun istana megah lebih dari semesta ini!
Lalu mana?  Bukankah ada yang lebih abadi dari dunia mungil ini?
Cepat, aku membuka mata...
Langit tampak muram, siratan sebuah amarah
Benar, ini memang garisku, garis terindahku
Dan bodohnya, langit jua menepuk sadar untukku
Ini surgaku! Kotak kecil, teramat mungil ternyata surgaku
Kotak tak menyakinkan bagi mereka, justru adalah surga duniaku
Juga surga dunia yang akan menerbangkanku pada surga sesungguhnya
Setidaknya itu munajahku
Kini, senyumku mulai terkembang lagi,
Menatap mantap dunia lepas di mataku
Akhirnya hatiku berucap
Inilah surga terbaik dalam pengarungan samudraku ....


dimanche, septembre 09, 2012

Aku Takkan Tidur Sebelum Aku Menjadi Lilin Untuk Duniaku ...



Meski mataku tak kuasa selamanya tetap terbuka,
Meski ragaku takkan tegar sepanjang dunia ada,
Meski tanganku tak kuasa lama demi menggenggam,
Dan meski hening juga sunyi tak lama lagi akan menyapaku,
Atau bahkan aku tak mampu lagi menopang tubuhku,
Aku hanya bisa mengukir satu pinta sederhanaku
Bahwa aku tak mau tertidur sebelum aku bisa menjadi sebuah lilin untuk dunia kecilku...
Aku hanya ingin menjadi sebuah lilin yang meski mungil tapi menerangi kegelapan di sekelilingnya,
Aku hanya ingin menjadi sebuah lilin, yang dengan pancaran sinar kecilnya, mampu menghidupkan dunia sekitarnya,
Tapi aku tahu, bahwa lilin itu takkan lama untuk tetap mengobarkan cahayanya,
Bahwa aku tahu, lilin itu dengan cepat akan meleleh, dan meredup, kemudian lenyap...
Tapi aku sungguh ingin seperti lilin... menerangi, menghidupi, dengan cahaya dan kekuatan kecil yang aku punya untuk duniaku, meskipun itu takkan bertahan lama,
Meskipun aku akan meredup, dan...
Dan tak lagi punya cahaya,
Juga tak lagi ada...
Tapi setidaknya, aku bisa tertidur dengan penuh kemenangan,
Bahwa aku telah berhasil menjadi sebuah lilin diujung hidupku,
Bahwa aku telah meredup usai bersinar,
Bahwa aku telah rapuh usai tegar,
Dan bahwa aku pernah ada di dunia ini,
Pernah hadir menyumbang tangis dan tawa tak berarti,
Pernah tersenyum bersama bentangan langit,
Pernah tertawa merangkul alam,
Pernah menari dengan goyangan ilalang,
Juga pernah menangis berteman hembusan angin,
Meski...
Hanya sejenak...
Meski hanya sesaat...
Tapi, lebih dari cukup jika hidupku mengukir tawa pada bibir mereka,
Jika tanganku merangkul hangat jari-jari mereka,
Tetap satu pintaku pada Sang Raja Dunia
Sempatkanlah aku menjadi lilin,
Sempatkanlah aku mengumbar sedikit saja cahayaku,
Sempatkanlah aku mengukir senyum untuk para pengiring hidupku,
Sebelum, Kau benar-benar menggenggam tanganku,
Lalu, dengan Kuasa-Mu Kau pejamkan kedua mataku,
Kau lemahkan tubuhku, Kau pucatkan wajahku,
Dan Kau pinta degup jantungku,
Sekali lagi kutegaskan,
Aku takkan tidur sebelum aku menjadi lilin untuk duniaku...
Dunia singkat dimana aku pernah 
tersenyum disisi air mata...

Novamour ... Novamour ...