Here, I am



mercredi, avril 10, 2013

Adek, Malaikat Mungilku ...

09 April adalah salah satu hari bersejarah dalam hidupku juga kota kelahiranku. Pasalnya tertanggal pada angka brilian itu, kota kecilku merayakan hari jadinya yang semakin bertambah. Dan juga sebuah perubahan telah terjadi dalam hidupku. Si bungsu telah membuka mata untuk melihat dunia. Adik kecilku telah lahir, tepatnya tujuh tahun yang lalu.
Namanya Hikam. Sering keluarga kami memangilnya Ikam, Adek, Ndut, Sayang, atau panggilan kesayangan lainnya. Saat dia dilahirkan dari ibuku, Jepara sedang heboh dengan perayaan “kirab” dan karnaval budaya nya.
Kini, si kecil itu mulai bermertamorfosa menjadi bukan “anak kecil” lagi. Usianya bukan lagi seusia balita apalagi batita. Namun, ia telah menjadi seorang anak sekolah dasar tingkat pertama. Dia adalah anak brilian, setidaknya menurutku dan orang-orang yang mencintainya. Dari kami bertiga, anak ayah ibu kami, dia lah yang paling cerdas. Sejak usia balita, ia sudah mulai diperkenalkan dengan berbagai barang-barang teknologi. Sudah mulai bisa mengoperasikan hape sejak usia TK, dan juga ia sudah berteman akrab dengan komputer sejak dini. Bahkan, kini ia sudah memiliki hape pribadi, layar sentuh pula! Jika flashback, semuanya berbanding terbalik dengan masa kecilku.
Padahal jika kuingat, dulu aku dan adik pertama ku tidak secepat itu mengenal teknologi. Terlebih aku yang ketika masa kecilku, kedua orang tuaku masih tak punya apa-apa. Tapi melihat si bungsu, aku bangga. Diusianya yang hari kemarin telah genap tujuh tahun, ia sudah mulai mengantongi sejumlah ilmu. Seperti komputer, bahasa Inggris, bahasa Arab, juga mungkin lingkungan elit di sekolahnya.
Ya, elit jika kubilang. Sekolahnya memang bukan sekolah negeri milik pemerintah. Tapi sebuah sekolah yang baru sekitar tiga tahun lalu didirikan namun sudah mempunyai peminat yang membludak tiap tahunnya.
Sekolahnya pun sekolah modern berbasic ajaran Islam. Bukan hanya bahasa Inggris tapi juga diajarkan bahasa Arab. Sistem pengajarannya pun bukan lah sistem manual lagi, melainkan sudah cukup canggih. Satu kelas hanya berkisar 28 murid dengan dua guru dan perlatan elektronik lengkap, mulai dari pendingin ruangan hingga laptop dan LCD proyektor pun telah menghiasi di tiap ruangannya.
Tapi bisa dikatakan sekolah si bungsu ini memiliki jam terbang lebih padat dari sekolah umum lainnya. Pelajaran dimulai dari jam delapan hingga jam dua siang. Alhasil, tiap siswa disediakan makan siang di sana.
Mengingat rutinitas padat tempat mencari ilmu bagi anak-anak mungil seperti si bungsu itu, aku menjadi salut pada adik kecilku. Tiap hari ia harus digembleng dengan sekian jadwal dengan durasi yang tak biasa. Tapi, adik ku adalah anak yang luar biasa. Ia tetap menikmati kesehariannya meski melelahkan. Sepulang sekolah, ia langsung mempraktikan semua pelajaran yang telah ia serap seharian. Seperti menggambar sesuatu menggunakan komputer. Jadilah jadwal wajibnya seusai sekolah adalah berkutat dengan komputer di rumah.
Selain anak pintar karena menjadi juara kelas kemarin, ia juga anak rajin. Dia anak yang peka dengan keadaan. Kedua orang tuaku adalah orang yang bisa dikatakan sibuk dengan pekerjaannya. Terlebih ibuku yang tiap harinya harus berada diluar rumah. Dampak dari kesibukan orang tua adalah rumah berantakan karena tak mempunya pembantu. Tentu aku tidak bisa membantu mengurus segala pekerjaan rumah. Dulu, setiap aku pulang ke rumah karena mendapat sedikit liburan kuliah, aku selalu mengatakan pada si bungsu untuk selalu membantu pekerjaan orang tua seperti menyapu. Aku mencoba memberinya pengertian bahwa orang tua kami terlalu lelah berkutat dengan pekerjaan yang melelahkan.
Dan, mujarab! Acap kali aku menelpon ibuku dari kota kini aku berada, ibuku kerap menceritakan kerajinan si bungsu. Dia menyapu dari dalam hingga halaman rumah, membersihkan kaca, bahkan mencuci piring di wastafel. Agak geli membayangkan ketika tinggi badannya belum melampaui tinggi wastafel untuk mencuci. Ibuku mengatakan, tiap kali si bungsu mencuci selalu menggunakan kursi kecil agar tingginya melampaui wastafel. Dan melakukan pekerjaan yang belum saatnya ia sentuh itu. Tiap kali dilarang, ia tak menggubris. Aku tahu, ia tak tega melihat lelahnya orang tua kami.
Hmm, ketika membayangkan wajah mungil nan polosnya anak kecil, aku selalu merindukan celotehnya. Lucu, renyah dan polos khas anak kecil tanpa dosa. Belum lagi selalu dibuat tersenyum ketika ibu menceritakan bahwa dia selalu memberi tebakan dalam bahasa Inggris pada ibuku yang tidak mengerti bahasa internasional itu. Karena si bungsu selalu belajar bahasa asing itu, tanpa disadari ibuku juga turut belajar pula.
Hikam, adik kecilku, si bungsu malaikatku....
Kemarin adalah hari ulang tahunmu dimana kini kamu telah memasuki usia tujuh tahun.
Sayang, tetaplah kamu menjadi anak cerdas dan berbudi baik. Kelak kamu akan menjadi harapan orang tua selanjutnya. Kamu harus menjadi anak terbaik setidaknya untuk orang-orang yang selalu mencintai kamu.
Meski, kakakmu ini belum bisa membawakanmu sebuah hadiah tapi hadiah sesungguhnya untukmu adalah untaian doaku tentangmu, sayang...
Adek, tetaplah jadi kebanggaan kami, tetaplah menjadi penebar senyum untuk kami yang selalu memelukmu ....
Selamat ulang tahun, malaikat kecilku, Hikam ....
Kelak akan kugambarkan lukisan indah tentangmu...