09 April adalah salah satu hari bersejarah dalam hidupku juga kota
kelahiranku. Pasalnya tertanggal pada angka brilian itu, kota kecilku merayakan
hari jadinya yang semakin bertambah. Dan juga sebuah perubahan telah terjadi
dalam hidupku. Si bungsu telah membuka mata untuk melihat dunia. Adik kecilku
telah lahir, tepatnya tujuh tahun yang lalu.
Namanya Hikam. Sering keluarga kami memangilnya Ikam, Adek, Ndut, Sayang,
atau panggilan kesayangan lainnya. Saat dia dilahirkan dari ibuku, Jepara
sedang heboh dengan perayaan “kirab” dan karnaval budaya nya.
Kini, si kecil itu mulai bermertamorfosa menjadi bukan “anak kecil” lagi. Usianya
bukan lagi seusia balita apalagi batita. Namun, ia telah menjadi seorang anak
sekolah dasar tingkat pertama. Dia adalah anak brilian, setidaknya menurutku
dan orang-orang yang mencintainya. Dari kami bertiga, anak ayah ibu kami, dia
lah yang paling cerdas. Sejak usia balita, ia sudah mulai diperkenalkan dengan
berbagai barang-barang teknologi. Sudah mulai bisa mengoperasikan hape sejak
usia TK, dan juga ia sudah berteman akrab dengan komputer sejak dini. Bahkan,
kini ia sudah memiliki hape pribadi, layar sentuh pula! Jika flashback, semuanya
berbanding terbalik dengan masa kecilku.
Padahal jika kuingat, dulu aku dan adik pertama ku tidak secepat itu
mengenal teknologi. Terlebih aku yang ketika masa kecilku, kedua orang tuaku
masih tak punya apa-apa. Tapi melihat si bungsu, aku bangga. Diusianya yang
hari kemarin telah genap tujuh tahun, ia sudah mulai mengantongi sejumlah ilmu.
Seperti komputer, bahasa Inggris, bahasa Arab, juga mungkin lingkungan elit di
sekolahnya.
Ya, elit jika kubilang. Sekolahnya memang bukan sekolah negeri milik
pemerintah. Tapi sebuah sekolah yang baru sekitar tiga tahun lalu didirikan
namun sudah mempunyai peminat yang membludak tiap tahunnya.
Sekolahnya pun sekolah modern berbasic ajaran Islam. Bukan hanya bahasa
Inggris tapi juga diajarkan bahasa Arab. Sistem pengajarannya pun bukan lah
sistem manual lagi, melainkan sudah cukup canggih. Satu kelas hanya berkisar 28
murid dengan dua guru dan perlatan elektronik lengkap, mulai dari pendingin
ruangan hingga laptop dan LCD proyektor pun telah menghiasi di tiap ruangannya.
Tapi bisa dikatakan sekolah si bungsu ini memiliki jam terbang lebih padat
dari sekolah umum lainnya. Pelajaran dimulai dari jam delapan hingga jam dua
siang. Alhasil, tiap siswa disediakan makan siang di sana.
Mengingat rutinitas padat tempat mencari ilmu bagi anak-anak mungil seperti
si bungsu itu, aku menjadi salut pada adik kecilku. Tiap hari ia harus
digembleng dengan sekian jadwal dengan durasi yang tak biasa. Tapi, adik ku
adalah anak yang luar biasa. Ia tetap menikmati kesehariannya meski melelahkan.
Sepulang sekolah, ia langsung mempraktikan semua pelajaran yang telah ia serap
seharian. Seperti menggambar sesuatu menggunakan komputer. Jadilah jadwal
wajibnya seusai sekolah adalah berkutat dengan komputer di rumah.
Selain anak pintar karena menjadi juara kelas kemarin, ia juga anak rajin. Dia
anak yang peka dengan keadaan. Kedua orang tuaku adalah orang yang bisa
dikatakan sibuk dengan pekerjaannya. Terlebih ibuku yang tiap harinya harus
berada diluar rumah. Dampak dari kesibukan orang tua adalah rumah berantakan
karena tak mempunya pembantu. Tentu aku tidak bisa membantu mengurus segala
pekerjaan rumah. Dulu, setiap aku pulang ke rumah karena mendapat sedikit
liburan kuliah, aku selalu mengatakan pada si bungsu untuk selalu membantu
pekerjaan orang tua seperti menyapu. Aku mencoba memberinya pengertian bahwa
orang tua kami terlalu lelah berkutat dengan pekerjaan yang melelahkan.
Dan, mujarab! Acap kali aku menelpon ibuku dari kota kini aku berada, ibuku
kerap menceritakan kerajinan si bungsu. Dia menyapu dari dalam hingga halaman
rumah, membersihkan kaca, bahkan mencuci piring di wastafel. Agak geli membayangkan
ketika tinggi badannya belum melampaui tinggi wastafel untuk mencuci. Ibuku mengatakan,
tiap kali si bungsu mencuci selalu menggunakan kursi kecil agar tingginya
melampaui wastafel. Dan melakukan pekerjaan yang belum saatnya ia sentuh itu. Tiap
kali dilarang, ia tak menggubris. Aku tahu, ia tak tega melihat lelahnya orang
tua kami.
Hmm, ketika membayangkan wajah mungil nan polosnya anak kecil, aku selalu
merindukan celotehnya. Lucu, renyah dan polos khas anak kecil tanpa dosa. Belum
lagi selalu dibuat tersenyum ketika ibu menceritakan bahwa dia selalu memberi
tebakan dalam bahasa Inggris pada ibuku yang tidak mengerti bahasa
internasional itu. Karena si bungsu selalu belajar bahasa asing itu, tanpa
disadari ibuku juga turut belajar pula.
Hikam, adik kecilku, si bungsu malaikatku....
Kemarin adalah hari ulang tahunmu dimana kini kamu telah memasuki usia
tujuh tahun.
Sayang, tetaplah kamu menjadi anak cerdas dan berbudi baik. Kelak kamu akan
menjadi harapan orang tua selanjutnya. Kamu harus menjadi anak terbaik
setidaknya untuk orang-orang yang selalu mencintai kamu.
Meski, kakakmu ini belum bisa membawakanmu sebuah hadiah tapi hadiah
sesungguhnya untukmu adalah untaian doaku tentangmu, sayang...
Adek, tetaplah jadi kebanggaan kami, tetaplah menjadi penebar senyum untuk
kami yang selalu memelukmu ....
Selamat ulang tahun, malaikat kecilku, Hikam ....
Kelak akan kugambarkan lukisan indah tentangmu...
