Here, I am



vendredi, octobre 19, 2012

Pesantren, Oh Pesantren...



Tinggal di Pesantren?  Mungkin orang kebanyakan akan langsung ngacir mendengar itu. Mungkin mereka akan bertanya-tanya, buat apa tinggal di pesantren? Lebih enak di kos. Dapat apa di pesantren? Lebih enak di kos dapat kebebasan.
Mungkin semua itu ada benarnya. Di kos lebih bebas, tidak ada yang ngatur tapi mungkin juga bisa kebablasan. Sedangkan di pesantren, semua rutinitas terjadwal dengan apiknya. Tinggal kita nya sendiri, mengikuti jadwalnya dengan baik, ataukah nakal dan menyimpang dari peraturan.
Berbicara mengenai pesantren, mana ada pessantren yang bebas? Sebebas-bebasnya pastilah tetap ada peraturan yang terkesan mengekang. Telebih untuk kaum Hawa. Bagi orang luar pesantren akan terasa bagaikan hidup di neraka. Seperti mereka sudah pernah merasakan tinggal di neraka saja.
Tapi dibalik mitos seputar kehidupan di pesantren, ternyata begitu banyak hal-hal unik yang akan selalu terkesan dan menjadi ciri khas “ nyantren”. Bangun pagi-pagi ketika para ayam pertama kalinya konser berkokok membangunkan jutaan anak Adam, lalu bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Dan satu keharusan yang sudah menjadi kewajiban adalah ngantri!
Antrian mengular sudah terlihat sejak Muadzin mengumandangkan adzan dengan merdunya. Tak jarang, mengantre dengan posisi mata masih lengket terpejam dengan berdiri pun sudah menjadi hal yang biasa.
Belum lagi, setelah itu wajib sholat shubuh berjamaah dan istighosah dengan serentetan bacaan yang tak kalah mengularnya. Duduk bergoyang karena ngantuk pun sudah menjadi pemandangan terlalu biasa ketika shubuh di mushola. Juga ketika sedang melahap kitab kala ngaji kitab. Berburu tempat strategis untuk tidur ketika mengaji adalah kebiasaanku. Mencari tempat yang dekat dengan tembok agar bisa menyandarkan punggung, kemudian tidur ketika sang Kyai sedang berkutat dengan mike-nya untuk mengartikan kitab kuning. Yang lain juga tak mau kalah. Meski tak dapat sandaran tembok, mereka sama-sama menggunakan punggung teman sebelahnya. Alhasil adegan seperti pada video klip The Virgin ketika menyanyikan Cinta Terlarang pun terlihat di sana-sini.
Satu lagi yang benar-benar menjadi ciri khas nya nyantri adalah kasur lantai. Iya! Tidur hanya beralaskan sebuah kasur tipis dan berposisi berjajar satu sama lain seperti ikan pepes yang berjajar adalah menu wajib santri setiap malam. Berdesak-desakan, posisi tidur tak karuan, ah itu sudah terlalu biasa juga.
Tapi dibalik itu semua, ada unsur kekeluargaan yang sangat kental dalam pesantren. Di pesantren dengan latar belakang penghuni dari berbagai usia,pendidikan, dan karakter, maka kita seolah akan mempunyai adik dan kakak. Kita bisa dipanggil “mbak” (kaum putri) atau juga dipanggil “dek” oleh senior. Didalamnya kita juga seakan mempunyai keluarga yang baru. Karena didalamnya kita bisa makan hingga tidur bersama. Susah dan senang juga bersama.  Saling memberikan nasihat yang terbaik tentunya sering dilakukan.
Seperti yang dulu pernah aku alami. Ketika aku masih nyantri di kota kelahiranku. Aku bisa berperan sebagai seorang kakak terhadap beberapa anak SMP dengan cara mengajari pelajaran bahasa pada mereka, kemudian juga memberikan saran. Tetapi di sisi lain, aku juga seolah menjadi seorang adik yang mempunyai kakak perempuan. Aku bisa bermanja-manjaan dengan para senior, meminta bantuan dalam melakukan sesuatu yang tidak bisa aku lakukan, dan ngambek ketika permintaanku tidak mereka turuti.
Semua hal-hal itu bisa terjadi dalam pesantren. Rasa solidaritas yang tinggi juga tak kalah menjadi ciri khas nya. Merasa menjadi kawan senasib seperjuangan, yang kelak akan menorehkan kenangan indah dalam hidup yang takkan mampu kita hapuskan dan akan selalu menjadi hadiah terindah yang terbungkus dalam kemasan permanen selamanya.
Tapi ada satu hal yang paling aku benci. Karena hidup dengan berbanyak orang, tentu kita tidak bisa melakukan hal-hal semau kita. Jika kita melakukan suatu kesalahan saja, maka menggunjing dan sedikit mencibir akan menyebar luas menjadi trend. Bahkan bisa juga si “korban” menjadi trending topic karena terlalu banyak dibicarakan atau digunjing.
Ya tapi itulah yang dinamakan kehidupan. Kita tidak mungkin bisa menemukan suatu tempat dalam kehidupan kita yang didalamnya selalu positif dan menyenangkan. Kalau ada kata menyenangkan pasti juga ada kata sebaliknya. Menyedihkan,tentunya. Yang jelas dimanapun kita tinggal dalam mengarungi kehidupan ini, semua itu tergantung pada diri kita masing-masing sebagai subjek utama yang menjalaninya.
Meski aku telah biasa dengan semua hal dan rutinitas di pesantren, tapi toh nyatanya aku masih harus banyak belajar beradaptasi lagi dan lagi. Seperti yang saat ini sedang aku jalani. Nyantri di sebuah pesantren modern. Memang intensitas ngajinya tidak sepadat yang ku kira, namun kapasitas penghuninya lengkap dengan komunitas dan kebiasaan  nya lah yang justru selama ini tak pernah ku kira.
Tidak betah? Pasti rasa itu yang pertama kali menggerogotiku. Tapi aku yakin aku bisa melanjutkan hidupku di sini. Aku hanya membutuhkan waktu untuk lebih mengenal dan mendalami orang-orang di sekitarku saat ini. Orang-orang dengan latar belakang dan pendidikan yang berbeda membuatku sedikit kesusahan untuk memahami satu per satu.
Tapi suatu keyakinan kuat telah menancap dengan sendirinya dalam benakku, bahwa ini adalah rumah kedua yang paling tepat untukku selama aku mengarungi ilmu di alam perantauan. Bahwa ini memang jalan terbaik yang telah digariskan oleh Sang Ilahi.
Dan kini, aku selalu berusaha tersenyum menghadapi apapun yang akan terjadi padaku di rumah baruku ini. Karena aku percaya, bahwa ketika kita ikhlas dalam melakukan suatu hal kebaikan, maka bahagia cepat atau lambat akan segera memeluk kita... Aamiin..

Walaupun kerap aku masih saja mengeluh entah itu lewat coretan atau melontar langsung pada orang-orang yang ku percaya. Meskipun aku sudah berkomitmen pada diriku sendiri untuk konsisten menjalani kehidupan baru ku ini, toh nyatanya aku masih saja kerap mencari tempat mungil yang sepi untuk menangis. Tetap saja, perasaan capek, bosan, dan tentu tidak betah kerap menyambangiku setiap detik. 
Aku hanya bisa berdoa agar seiring berjalannya waktu, aku bisa semakin menyesuaikan dengan lingkungan baru yang masih asing ini. Setidaknya bisa turut tersenyum bersama mereka.

mercredi, octobre 17, 2012

Sejenak Saja...

Sepertinya setiap yang hidup pasti akan berjumpa dengan masalah. Bukan sepertinya lagi. Tapi lebih tepatnya pastinya. Manusia pasti akan menjumpai bertubi-tubi masalah dalam hidupnya yang akan setia menggandengnya untuk berjalan berarakan. 
Seperti aku saat ini. Sedang mengambang didera masalah yang kerap membuat aku berpikir aku tak akan mampu menjalaninya. Masalah pendidikan dengan dua lingkungan dan segala sistemnya yang berbeda, juga tentang tempat tinggal yang selalu membuatku merasa aku ini hanya orang bodoh yang mencoba menumpang hidup di dunia ini.
Mungkin saat ini untuk masalah pendidikan, aku berusaha untuk bisa menyatukan keduanya meski aku tahu itu begitu sulit. Tapi sulit bukan berarti tidak bisa,kan? Aku mau mencoba untuk menjalanni keduanya. Berjalan beriringan ditengah-tengahnya kemudian tersenyum karena telah menggapai keduanya. Tapi, tempat tinggal? seketika otakku dipaksa untuk berhenti bekerja ketika teringat tentang sebuah penjara suci itu. Penjara yang selalu membuatku tidak nyaman dengan segala hiruk pikuk didalamnya. Penjara yang menurutku dihuni oleh ratusan manusia yang dengan segala karakteristiknya sukses membuatku menjadi manusia terkerdil di dunia.
Sebenarnya, tidak mengambil pusing masalah manusia-manusia itu bisa saja aku lakukan. Bersikap acuh tak acuh seolah tak mempedulikan apa yang mereka lakukan dan bicarakan tentangku. Toh, mereka sama sekali tak tahu apa-apa tentang hidupku, pikirku. Tapi manusia adalah makhluk sosial, teori yang ku kenal sejak berseragam merah putih itu selalu membuatku membalikkan semua pemikiranku. Bahwa hidup itu pasti membutuhkan uluran tangan dari yang lain juga. Bahwa kita takkan mampu menjalani kehidupan seorang diri.
Tapi lingkungan saat ini sama sekali bukan lingkungan yang aku harapkan untuk menyempurnakan kehidupanku. Berkumpul dengan orang-orang berpendidikan namun terkadang pelupa dengan yang mereka ucapkan sendiri merupakan salah satu dari sekian gambaran yang paling memuakkan yang pernah aku tahu. 
Ya. Tapi aku bisa apa saat ini. Meski aku berteriak sekencang mungkin mengatakan bahwa aku ingin keluar dari lingkungan ini lalu menjalani kehidupan lebih "normal" dengan lingkungan yang lebih nikmat lagi, takkan mampu mengubah semua ini. Tetap saja aku akan berada dalam naungan atap hijau ini.
Dan saat ini, aku ingin melancong dan menyentuh deburan pantai kemudian berteriak sekencang mungkin. Aku ingin sejenak saja bermain-main dengan ombak, membasahi kainku, membaurkan tubuhku lalu memejamkan mata dan menikmati sentuhan lembut angin dalam tenangnya laut.
Sejenak saja, menikmati itu semua. Sejenak saja menyentuh bintang. Dan, sejenak saja tertidur dalam nyenyak nya nyanyian malam ...

dimanche, octobre 14, 2012

Tangisan Semu ...

Menangis itu adalah sebuah hal yang manusiawi. Tak ada larangan untuk menumpahkan kekesalan, kemarahan atau perasaan apapun lewat untaian air mata. Karena dengan memupuskan air mata, hati akan sedikit menyentuh kelegaan.
Aku pun juga hanya manusia kerdil biasa yang hidup dibawah jutaan debu yang tiap detik menari-nari secara kasat mata. Aku hanya setitik bulatan kecil tak terlihat di tengah-tengah lautan antah berantah.
Ketika menemui guratan masalah, aku memilih untuk bungkam dan tanpa isak, menitikan air mata di tempat yang ku pikir akan menutupi kekonyolanku. Merasakan air mata membelaiku , menelusuriku kemudian menghempaskan sedetik sedihku..
Dan, ketika saat ini aku berada pada sebuah llingkungan yang  ku pikir tak sesuai dengan suara hatiku, aku hanya menerimanya dengan anggapan yang terbaik untuk orang-orang yang memohonku untuk menyentuh dasarnya. Aku ingin berkorban. Aku merelakan semua yang kujalani tak sesuai dengan apa yang kuteriakan dalam benakku. Tapi sekali lagi, aku rela. Aku rela jika itu jalan mengukir senyum terindah untuk mereka .
Meski begitu, meski sakit, aku mau untuk tetap berdiri. Aku mau untuk tetap terjaga dalam kebaikan diriku sendiri. Aku mau untuk berbaur dengan yang tak kuinginkan sebenarnya.
Dan ketika aku mulai mencoba untuk melebur di dalamya, tetap saja wajah-wajah memuakkan kerap menampakkan seramnya keaslian. Selalu  menepiskan semangatku untuk memulai semuanya dengan sesuatu yang baru dan lebih baik. Wajah-wajah yang sama sekali tak kuinginkan untuk menumpang dalam kehidupanku.
Tetapi dibalik itu semua, tak ada ruang kosong untuk aku bisa berkiprah bersama tangisanku. Tak ada tempat untuk menemani air mataku. Semua hanya teronggok dalam sarangku. Tanpa aku bisa membaginya, tanpa aku bisa menelurkan pada siapapun.
Yang ada hanya sebuah tangisan abstrak yang tak pernah mau terdengar oleh telinga asing lainnya dan hanya menari dalam kedalaman perasaanku...
Memang yang ada hanyalah tangisan semu yang tak semua mata mampu menatapnya, tak semua hati bisa merasakannya ...
Kemudian aku harap agar suatu saat nanti, aku bisa mengarak air mataku sepuasnya di pundak yang tepat. Di dekapan yang sebenarnya ....

lundi, octobre 08, 2012

Demi Dewasaku ...

Inilah hidup. Inilah kehidupan. Hidup dan kehidupan itu pasti diselimuti pilihan. Ada iya ada tidak. Ada berhasil ada gagal, ada senang ada sedih, ada tersenyum ada menangis. Semua itu adalah sebuah pilihan yang mutlak akan dijalani setiap manusia.
itulah yang saat ini sedang coba aku telisik lebih mendalam lagi. Tentang hakikat kehidupan yang sebenarnya.  Aku mencoba untuk mulai menjadi seorang yang lebih dewasa seiring berlarinya usia. Dan, semakin kedepan, aku semakin tahu bahwa kedewasaan itu bukan berdasar pada seberapa tua  kah usia seseorang, melainkan seberapa matang kah pemikiran seseorang itu. Dan pernah seseorang menghadirkan katanya untukku, bahwa masalah itu datang tak lain demi mendewasakan kita.
Ternyata kini aku merasakannya. Bahwa, memang masalah dihadirkan untuk mematangkan pemikiran kita, untuk mendewasakan kita agar kedepannya kita bisa peka terhadap setiap masalah yang akan lanjut menerpa kita.
Sejak aku menginjakkan kedua kakiku di bumi Arema ini, aku masih terlalu ingat dengan masalah pertamaku. Masalah yang hampir menyurutkan niat batinku. Namun, ku kira hati kecilku mengetukku bahwa ini hanyalah kerikil paling kecil yang menyentuh tubuhku. Bukankah selanjutnya akan ada batu-batuan lebih besar bahkan raksasa yang akan menggamparku? entah dengan cara apa, aku pun masih buta dibuatnya.
Hingga akhirnya, aku dapat menaklukan satu masalah pertamaku itu. dan berkelanjutan, anak-anak masalah itu silih berganti menggandengku. 
Bahkan kini, otakku diminta berputar keras menembus jalan keluar yang tepat. Mendobrak gerbang yang sempat buntu gelap. Aku tahu, apapun yang kita ambil, belum tentu terpeluk oleh orang-orang yang mematrikan diri untuk kita. 
Secuplik cerita, kini aku mulai menjalani tiga kehidupan yang berbeda. Menjadi mahasiswi pada dua universitas yang berbeda, juga menjadi seorang santri pada sebuah pesantren yang pasti terikat dengan segala peraturannya.
sempat membuat bingung hampir semua kawan dalam lingkupku. Sempat juga diam mendengar berbagai  hiruk omongan kanan-kiri yang terkadang menjatuhkan semangatku. Mereka bilang, buat apa kuliah lagi? apa kampus pertamamu kurang bagus? bagaimana time management nya?
Memang jika dilihat, semua itu rumit. Jadwal bentrok, waktu mepet, dan pasti lelah teramat. Minggu pertama telah mengawali dengan kelelahan dan kewalahan yang tak terkira. Mondar-mandir dari kampus satu ke kampus berikutnya. Menghadap orang-orang atas demi mendapatkan kemudahan sudah menjadi menuku tiap hari. Bahkan, aku harus rela berpindah-pindah kelas demi menyetarakan semua jadwal. Agak pusing jika sudah berbicara mengenai berbagai tugas. 
Tapi sedikitpun tak ada niatan untuk melepas salah satunya. Bagiku, ini adalah cobaan selanjutnya yang harus dan mutlak aku taklukan. Sama seperti cobaan terdahulu, aku pasti bisa menghempaskannya. Dan disaat hampir semua orang memberi saran yang bagiku tak sesuai, dua orang lelaki yang begitu berharga dalam hidupku selalu datang menyuratkan kata-kata motivasi agar aku tak berhenti sampai disini. Bahwa aku pasti bisa. Mereka ucapkan kalimat yang menyejukkan nuraniku kala aku merasa semua ini tak sanggup aku pikul sendiri.
Adalah ayah dan pamanku. Lewat udara, mereka berkata agar aku tetap sabar berada diatas tebing yang curam. Karena mereka tahu, inilah yang akan terbaik untukku. Dengan lembut, mereka membelai sanubariku untuk lebih kuat. Dan mereka selalu meyakinkanku bahwa mereka selalu ada untukku. 
dan, saat ini aku percaya bahwa semua ini hanyalah sementara. Tentu kesulitan dan kelelahan yang memelukku takkan selamanya bersamaku. 
Aku semakin percaya, masalah hadir hanya untuk mendewasakan kita ...
Dan, aku tak sendirian ... aku bersama Tuhan dan orang-orang hebat dimataku ...
Aku pasti bisa menghempaskan semua kerikil maupun bebatuan besar sekalipun ...