Tinggal di Pesantren? Mungkin orang
kebanyakan akan langsung ngacir mendengar itu. Mungkin mereka akan
bertanya-tanya, buat apa tinggal di pesantren? Lebih enak di kos. Dapat apa di
pesantren? Lebih enak di kos dapat kebebasan.
Mungkin semua itu ada benarnya. Di kos lebih bebas, tidak ada yang ngatur
tapi mungkin juga bisa kebablasan. Sedangkan di pesantren, semua rutinitas terjadwal
dengan apiknya. Tinggal kita nya sendiri, mengikuti jadwalnya dengan baik,
ataukah nakal dan menyimpang dari peraturan.
Berbicara mengenai pesantren, mana ada pessantren yang bebas?
Sebebas-bebasnya pastilah tetap ada peraturan yang terkesan mengekang. Telebih
untuk kaum Hawa. Bagi orang luar pesantren akan terasa bagaikan hidup di neraka.
Seperti mereka sudah pernah merasakan tinggal di neraka saja.
Tapi dibalik mitos seputar kehidupan di pesantren, ternyata begitu banyak
hal-hal unik yang akan selalu terkesan dan menjadi ciri khas “ nyantren”.
Bangun pagi-pagi ketika para ayam pertama kalinya konser berkokok membangunkan
jutaan anak Adam, lalu bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Dan satu keharusan yang sudah menjadi kewajiban adalah ngantri!
Antrian mengular sudah terlihat sejak Muadzin mengumandangkan adzan dengan
merdunya. Tak jarang, mengantre dengan posisi mata masih lengket terpejam
dengan berdiri pun sudah menjadi hal yang biasa.
Belum lagi, setelah itu wajib sholat shubuh berjamaah dan istighosah dengan
serentetan bacaan yang tak kalah mengularnya. Duduk bergoyang karena ngantuk
pun sudah menjadi pemandangan terlalu biasa ketika shubuh di mushola. Juga
ketika sedang melahap kitab kala ngaji kitab. Berburu tempat strategis untuk
tidur ketika mengaji adalah kebiasaanku. Mencari tempat yang dekat dengan
tembok agar bisa menyandarkan punggung, kemudian tidur ketika sang Kyai sedang
berkutat dengan mike-nya untuk mengartikan kitab kuning. Yang lain juga tak mau
kalah. Meski tak dapat sandaran tembok, mereka sama-sama menggunakan punggung
teman sebelahnya. Alhasil adegan seperti pada video klip The Virgin ketika
menyanyikan Cinta Terlarang pun terlihat di sana-sini.
Satu lagi yang benar-benar menjadi ciri khas nya nyantri adalah kasur
lantai. Iya! Tidur hanya beralaskan sebuah kasur tipis dan berposisi berjajar
satu sama lain seperti ikan pepes yang berjajar adalah menu wajib santri setiap
malam. Berdesak-desakan, posisi tidur tak karuan, ah itu sudah terlalu biasa
juga.
Tapi dibalik itu semua, ada unsur kekeluargaan yang sangat kental dalam
pesantren. Di pesantren dengan latar belakang penghuni dari berbagai
usia,pendidikan, dan karakter, maka kita seolah akan mempunyai adik dan kakak.
Kita bisa dipanggil “mbak” (kaum putri) atau juga dipanggil “dek” oleh senior.
Didalamnya kita juga seakan mempunyai keluarga yang baru. Karena didalamnya
kita bisa makan hingga tidur bersama. Susah dan senang juga bersama. Saling memberikan nasihat yang terbaik
tentunya sering dilakukan.
Seperti yang dulu pernah aku alami. Ketika aku masih nyantri di kota kelahiranku. Aku bisa berperan sebagai seorang kakak
terhadap beberapa anak SMP dengan cara mengajari pelajaran bahasa pada mereka,
kemudian juga memberikan saran. Tetapi di sisi lain, aku juga seolah menjadi
seorang adik yang mempunyai kakak perempuan. Aku bisa bermanja-manjaan dengan
para senior, meminta bantuan dalam melakukan sesuatu yang tidak bisa aku
lakukan, dan ngambek ketika permintaanku tidak mereka turuti.
Semua hal-hal itu bisa terjadi dalam pesantren. Rasa solidaritas yang
tinggi juga tak kalah menjadi ciri khas nya. Merasa menjadi kawan senasib
seperjuangan, yang kelak akan menorehkan kenangan indah dalam hidup yang
takkan mampu kita hapuskan dan akan selalu menjadi hadiah terindah yang terbungkus
dalam kemasan permanen selamanya.
Tapi ada satu hal yang paling aku benci. Karena hidup dengan berbanyak
orang, tentu kita tidak bisa melakukan hal-hal semau kita. Jika kita melakukan
suatu kesalahan saja, maka menggunjing dan sedikit mencibir akan menyebar luas
menjadi trend. Bahkan bisa juga si “korban” menjadi trending topic karena
terlalu banyak dibicarakan atau digunjing.
Ya tapi itulah yang dinamakan kehidupan. Kita tidak mungkin bisa menemukan
suatu tempat dalam kehidupan kita yang didalamnya selalu positif dan
menyenangkan. Kalau ada kata menyenangkan pasti juga ada kata sebaliknya.
Menyedihkan,tentunya. Yang jelas dimanapun kita tinggal dalam mengarungi
kehidupan ini, semua itu tergantung pada diri kita masing-masing sebagai subjek
utama yang menjalaninya.
Meski aku telah biasa dengan semua hal dan rutinitas di pesantren, tapi toh
nyatanya aku masih harus banyak belajar beradaptasi lagi dan lagi. Seperti yang
saat ini sedang aku jalani. Nyantri di sebuah pesantren modern. Memang intensitas
ngajinya tidak sepadat yang ku kira, namun kapasitas penghuninya lengkap dengan
komunitas dan kebiasaan nya lah yang justru
selama ini tak pernah ku kira.
Tidak betah? Pasti rasa itu yang pertama kali menggerogotiku. Tapi aku
yakin aku bisa melanjutkan hidupku di sini. Aku hanya membutuhkan waktu untuk
lebih mengenal dan mendalami orang-orang di sekitarku saat ini. Orang-orang
dengan latar belakang dan pendidikan yang berbeda membuatku sedikit kesusahan
untuk memahami satu per satu.
Tapi suatu keyakinan kuat telah menancap dengan sendirinya dalam benakku,
bahwa ini adalah rumah kedua yang paling tepat untukku selama aku mengarungi
ilmu di alam perantauan. Bahwa ini memang jalan terbaik yang telah digariskan
oleh Sang Ilahi.
Dan kini, aku selalu berusaha tersenyum menghadapi apapun yang akan terjadi
padaku di rumah baruku ini. Karena aku percaya, bahwa ketika kita ikhlas dalam
melakukan suatu hal kebaikan, maka bahagia cepat atau lambat akan segera
memeluk kita... Aamiin..
Walaupun kerap aku
masih saja mengeluh entah itu lewat coretan atau melontar langsung pada
orang-orang yang ku percaya. Meskipun aku sudah berkomitmen pada diriku sendiri
untuk konsisten menjalani kehidupan baru ku ini, toh nyatanya aku masih saja
kerap mencari tempat mungil yang sepi untuk menangis. Tetap saja, perasaan
capek, bosan, dan tentu tidak betah kerap menyambangiku setiap detik.
Aku hanya bisa berdoa
agar seiring berjalannya waktu, aku bisa semakin menyesuaikan dengan lingkungan
baru yang masih asing ini. Setidaknya bisa turut tersenyum bersama mereka.
Aucun commentaire:
Enregistrer un commentaire