Karena hari ini adalah hari libur nasional, aku pun dengan senang hati berniat untuk membangkongkan diri dengan bangun kesiangan. Alhasil, sekitar jam sembilan pagi aku baru memiliki hasrat untuk sejenak meninggalkan kasur terindahku yang meski tipis tapi selalu menemani hari--hariku di kamar.
Ketika telah membuka kedua mata, masih sayup-sayup aku mendengar dengan sangat jelas sebuah curhatan seorang gadis dewasa 24 tahun yang mempermasalahkan tentang hidup,jodoh, dan juga keluarganya.
Dengan tanpa air mata, ia mulai bercerita ditengah kesadaranku yang belum sepenuhnya terkumpul.
Dia bercerita tentang keadaanya yang sekarang. Lulusan S1 dari universitas dimana aku saat ini tengah mengais ilmu didalamnya, namun ia saat ini tengah membolang mencari pekerjaan. Merantau ke Surabaya lalu ku dengar melancong ke ibukota.
Padahal si gadis itu telah menggenggam status sarjana sudah lumayan lama. tapi pada kenyataanya masih bingung mencari pekerjaan. Belum lagi masalah kedua orang tuanya yang menyuruhnya agar cepat menikah. Ku dengar jika ayahnya tak terlalu mempermasalahkan jika ia menikah dengan seorang lelaki yang tak bekerja. Asalkan ia cepat menikah. Maklum, di desa tempatnya tinggal pun masih terbilang mengikuti aturan jaman dulu dimana gadis harus ceoat-cepat dinikahkan.
Tapi si gadis itu yang pemikirannya otomatis sudah menyentuh taraf modern, tak mau begitu saja mengikuti aturan desa dan ayahnya. Baginya, kalau menikah diusahakan dengan lelaki yang sudah mapan. Mapan tak berarti kaya. Maksutnya, ia tak mau ketika ia sudah berumah tangga tapi ia tetap menengadahkan kedua tangan meminta bantuan hidup pada orang tuanya. Baginya sudah cukup orang tuanya mengeluarkan biaya yang tak sedikit demi membiayai kuliahnya kala itu.
Huh, lama-lama aku bertanya sekaligus berpikir. Sedemikian kah dilematika kehidupan orang dewasa pada era gila ini? Ketika kita terlebih anak gadis yang memiliki angan setinggi langit, tapi harus terbata-bata meraihnya karena keluarga lebih mengarahkan mengikuti aturan-aturan yang kita sebut primitif barang kali.
Tak ku pungkiri rasa takut langsung menyusupku. Bagaimana jika itu terjadi pada kasusku. Aku ingin terbang jauh meraih semua mimpiku, tapi justru orang-orang yang ku cintai tak rela melepas tanganku? Bagaimana jika mereka dengan lembutnya memaksaku kembali ke kotak asliku dan merayuku meninggalkan lambaian mimpi-mimpiku? Terbang ke Eropa, keliling dunia, berkarir dan menetap di ibukota atau negeri impianku? Mungkinkan aku bisa meraihnya?
Seolah saat ini aku tak mau umurku bertambah. Aku ingin tetap menjadi gadis dibawah 20 tahun. Aku masih ingin lebih lama menjadi gadis belasan tahun yang tak harus merasakan getirnya hidup. Tapi hidup akan terus berjalan tanpa henti. Suatu saat aku akan menemukan jalan dimana dilematika itu menghampiriku. Entah apa yang akan ku temui nantinya, aku tak mau terlebih dulu dibuat pusing. Biarkan semuanya mengalir dengan sendirinya sesuai waktu-Nya. Setidaknya itu alibi untuk menenangkan batinku sendiri ...


.jpg)