Here, I am



mardi, décembre 25, 2012

Semacam Dilematika Hidup ...

Karena hari ini adalah hari libur nasional, aku pun dengan senang hati berniat untuk membangkongkan diri dengan bangun  kesiangan. Alhasil, sekitar jam sembilan pagi aku baru memiliki hasrat untuk sejenak meninggalkan kasur terindahku yang meski tipis tapi selalu menemani hari--hariku di kamar.
Ketika telah membuka kedua mata, masih sayup-sayup aku mendengar dengan sangat jelas sebuah curhatan seorang gadis dewasa 24 tahun yang mempermasalahkan tentang hidup,jodoh, dan juga keluarganya. 
Dengan tanpa air mata, ia mulai bercerita ditengah kesadaranku yang belum sepenuhnya terkumpul. 
Dia bercerita tentang keadaanya yang sekarang. Lulusan S1 dari universitas dimana aku saat ini tengah mengais ilmu didalamnya, namun ia saat ini tengah membolang mencari pekerjaan. Merantau ke Surabaya lalu ku dengar melancong ke ibukota. 
Padahal si gadis itu telah menggenggam status sarjana sudah lumayan lama. tapi pada kenyataanya masih bingung mencari pekerjaan. Belum lagi masalah kedua orang tuanya yang menyuruhnya agar cepat menikah. Ku dengar jika ayahnya tak terlalu mempermasalahkan jika ia menikah dengan seorang lelaki yang tak bekerja. Asalkan ia cepat menikah. Maklum, di desa tempatnya tinggal pun masih terbilang mengikuti aturan jaman dulu dimana gadis harus ceoat-cepat dinikahkan. 
Tapi si gadis itu yang pemikirannya otomatis sudah menyentuh taraf modern, tak mau begitu saja mengikuti aturan desa dan ayahnya. Baginya, kalau menikah diusahakan dengan lelaki yang sudah mapan. Mapan tak berarti kaya. Maksutnya, ia tak mau ketika ia sudah berumah tangga tapi ia tetap menengadahkan kedua tangan meminta bantuan hidup pada orang tuanya. Baginya sudah cukup orang tuanya mengeluarkan biaya yang tak sedikit demi membiayai kuliahnya kala itu.

Huh, lama-lama aku bertanya sekaligus berpikir. Sedemikian kah dilematika kehidupan orang dewasa pada era gila ini? Ketika kita terlebih anak gadis yang memiliki angan setinggi langit, tapi harus terbata-bata meraihnya karena keluarga lebih mengarahkan mengikuti aturan-aturan yang kita sebut primitif barang kali.
Tak ku pungkiri rasa takut langsung menyusupku. Bagaimana jika itu terjadi pada kasusku. Aku ingin terbang jauh meraih semua mimpiku, tapi justru orang-orang yang ku cintai tak rela melepas tanganku? Bagaimana jika mereka dengan lembutnya memaksaku kembali ke kotak asliku dan merayuku meninggalkan lambaian mimpi-mimpiku? Terbang ke Eropa, keliling dunia, berkarir dan menetap di ibukota atau negeri impianku? Mungkinkan aku bisa meraihnya? 

Seolah saat ini aku tak mau umurku bertambah. Aku ingin tetap menjadi gadis dibawah 20 tahun. Aku masih ingin lebih lama menjadi gadis belasan tahun yang tak harus merasakan getirnya hidup. Tapi hidup akan terus berjalan tanpa henti. Suatu saat aku akan menemukan jalan dimana dilematika itu menghampiriku. Entah apa yang akan ku temui nantinya, aku tak mau terlebih dulu dibuat pusing. Biarkan semuanya mengalir dengan sendirinya sesuai waktu-Nya. Setidaknya itu alibi untuk menenangkan batinku sendiri ...

dimanche, décembre 23, 2012

I B U ...

Ibu, ketika aku mengucap atau hanya mendengar tiga huruf itu disebut, sesosok wajah yang menyejukkan kerap muncul dalam anganku. Seorang wanita yang dengan jilbabnya atau hanya dengan rambut berantakannya dan sebuah daster menutupinya, selalu membangkitkan rasa rindu teramat dalam hatiku.
Seorang wanita yang telah membawaku melihat dunia fana ini, dan wanita yang tak ku sadari telah meyimpan banyak uban di rambut gelombangnya itu adalah wanita yang dengan omelannya selalu membawa hasratku untuk ingin menapakkan kedua kaki kembali ke pintu rumah tercintaku.

Tanggal 21 Desember adalah hari dimana wanita tercintaku itu membuka mata untuk pertama kali dalam tangisan mungil seorang bayi tanpa dosa. Dan, keesokan harinya tanggal 22 Desember, orang-orang mengenal dan memperingatinya sebagai hari ibu sedunia. Sebuah kado spesial telah ku siapkan jauh hari sebelum kedua hari spesial itu datang. Memang bukan sebuah kado mahal yang ku suguhkan untuknya. Hanya sebuah bingkisan kotak persegi panjang berselimut warna hijau dan dua bauh daun hiasan mengatup yang ku kira semakin mempercantik kotak sederhana itu. Sebuah kado yang didalamnya terdapat sebuah benda yang tak mahal tapi mempunyai sebuah makna yang memeluknya.

Sebuah lampu dalam sebuah kotak segi empat yang berhiaskan butiran-butiran pasir berwarna-warni. Ku selipkan sebuah makna dibaliknya. Sebuah lampu yang meski kecil dan tak punya daya besar, tapi tetap mempu untuk menyinari sekitarnya. Sebuah lampu yang meski bukan lampu  terhebat dan terindah, tapi tetap menghidupkan kegelapan di sekitarnya. Sebuah lampu yang ku harapkan menerangi kehidupanku saat ini hingga kapanpun.

Ibu, kini aku telah beranjak dewasa. Meksi tak bisa tiap hari  aku mencium punggung tanganmu sebelum melakukan hari-hariku, tapi lewat untaian doa tiap detik aku haturkan demi namamu. Meski tak bisa tiap hari ku lontarkan cerita-ceritaku, tapi tiap detik ku lontarkan mujanahku untuk hidupmu. 

Dan Ibu, meski aku bukan seorang anak yang selalu membuatmu tersenyum, tapi aku adalah seorang anak yang tiap saat berpikir bagaimana mengukir tawa bahagia bukan hanya di bibirmu tapi juga menyusup dalam benakmu,Ibu...

Ibu, aku hanya ingin kau selalu menjadi lampu itu. Meski uban telah menyulap hampir seluruh rambut hitammu dulu, dan meski usia tak lagi muda, aku tetap percaya bahwa kau akan selalu menjadi wanita terbaik. 

Ibu, meksi aku tak bisa tiap saat berada di sampingmu, tapi percayalah doa dan tangisku ku persembahkan untukmu,Ibu...

Aku mencintaimu,Ibu... 
Kau wanita terindah dalam hidupku.. Tetaplah ada untukku dan untuk orang-orang yang mencintaimu,..
Tuhan, jagalah wanita itu... Jagalah dia dalam kotak bahagia itu ....

samedi, décembre 15, 2012

Today, I Wanna Tell ....


I haven’t  met a special someone since some days ago. As usually, I always meet him in our faculty or in cafetaria.
When I met him, he always gave me his cute smile, of course I gave him back my sweetest smile.
I wanna tell a little about him. He always wears stylist clothes and a nice jacket. He’s so awesome, I think. And he’s a singer. He has a band but I won’t to mention his band’s name. And now, I have one of his songs. That song is about love. And, his voice is beautiful enough. At least, that’s my opinion. Because my close friend said to me that his voice and his song are bad. But I don’t care about it. I think that he’s a talented singer. Every night, I always listen to his song. While I’am studying my lessons, I listened to his music. It’s make me be calm down and memorize to our history.
Our history last year. When I met him for the first time. Last year when I started talking with him. Last year when he gave me his hands to help me. Last year, and last year.
But nowdays, I realize that all of this are imppossible to come anymore. I can’t to tell for some reasons. Let me to save it by my self.
For you, someone who far away from my eyes. I hope somedays, you can give your hands back to me. Although, I don’t know perhaps you have another someone that you loves.
Please, I don’t wanna you know about it. Only, I wanna meet you soon. See your face, see your smile, and see your eyes. Don’t far away. I beg to you.

I’am still can’t to say that I love him so much. I just wanna be his close friend. More? Only God who knows that. I don’t know for the reasons why I can’t love someone again. I wanna try, but I can’t. I just wanna see his eyes and his smile. I just wanna hear his voice. And once more, I just wanna see when he’s a good time for perfomence. That’s all ...
I beg to You, God ...




jeudi, décembre 13, 2012

Misteri Desember untuk SMANSTAR ...

Semalam tepatnya hampir tengah malam, begitu aku membuka akun jejaring sosialku facebook, aku sudah lebih dulu dibuat diam sejenak. Banyak status dari teman-teman SMA ku yang mengutarakan tentang sebuah tragedi yang sama sekali tidak mengenakan untuk kedua kalinya.
Sebuah tragedi kematian. Meninggal di tempat. Kecelakaan. Oleh truck. Dan yang lebih mencengangkan terjadi telah dua kali dalam pertengahan bulan ini. Kecelakaan maut yang pertama terjadi pada tanggal awal bulan ini dan yang kedua yang pasti ku harapkan juga yang terakhir terjadi baru saja kemarin malam  ditanggal yang banyak di eluh-eluhkan orang sebagai tanggal yang cantik dan spesial. 12-12-2012.
Kecelakaan yang merenggut dua nyawa siswi yang tengah mengenyam pendidikan di SMA tempatku pernah mengukir secuil hidupku pula. Mereka adalah adik kelasku meski aku tidak mengenal. Sedang menempuh ditingkat kedua dan ketiga.
Usai mendengar dan sedikit menelusuri kabar miris itu,pikiranku yang aku yakin turut pula menjadi pikiran sebagian teman-teman seperjuanganku dulu, dipaksa untuk flashback ke masa lalu. Sekolahku menjadi pembicaraan yang tidak asing lagi. Bahwa tiap tahun pastilah memakan korban jiwa pada tiap angkatan. Ketika aku masih duduk sebagai siswi ditahun pertama pun, untuk pertama kalinya dibuat kaget oleh kabar kematian kakak kelas tiga yang meninggal ditempat akibat kecelakaan dengan bus ketika akan mengikuti ujian semester. Mulai dari itu berhembus kabar-kabar yang tidak mengenakan. Tentang tiap tahun sekolah akan memakan satu korban siswa maupun siswinya sebagai tumbal atau apalah sejenisnya yang aku sendiri tak begitu memahaminya.
Tak cukup sampai disitu, ketika aku mengenyam pendidikan pada tingkat kedua pun, lagi-lagi kecelakaan itu kembali terulang. Kali ini teman seangkatanku yang meskipun aku tidak mengenalnya akhirnya meregang nyawa setelah sempat memberikan sedikit sinyal kematiannya.  Bahwa ia ingin agar foto-fotonya dipampang di dinding kelas supaya teman-temannya selalu mengingatnya. Sekitar seminggu setelahnya ia pun hanya tingal nama setelah sempat dirawat di rumah sakit, seingatku.
Bayang-bayang itu kembali menghantui aku dan sebagian besar teman-temanku ketika kami menjabat  sebagai kakak tertua di sekolah. Kami khawatir jika kembali satu korban jatuh ketika  kami akan mempersiapkan diri menempuh ujian nasional. Tapi syukurlah, tak ada korban selanjutnya. Kami semua lulus 100% tanpa adanya korban jiwa pada tahun itu.
Kemudian,cukup sunyi dan baik-baik saja untuk setahun sejak aku mendapat predikat alumni. Barulah di bulan akhir tahun ini dua kabar duka sekaligus mengguncang semua yang mengenal SMANSTAR sebagai bagian dari sejarah hidupnya. Dua nyawa melayang dalam waktu yang hampir bersamaan dengan kasus yang sama. Semua turut berduka. 
Entah kenapa seolah sudah menjadi rutinitas "memakan korban" tiap tahunnya. Kebanyakan yang akan menempuh ujian nasional pada tingkat terakhir sekolah. Mitos pun banyak bermunculan sebagai pengiring kabar-kabar ngeri itu. Ada yang mengatakan karena adanya sebuah pohon besar yang menunggui sekolahku itu dan bla bla banyaknya. Hingga muncul sebuah permintaan dari rekan seperjuanganku untuk mengadakan "selametan" supaya kejadian itu tidak kembali terulang. Agar tiap tahun sekolah kami tidak kembali berduka dengan kehilangan salah seorang keluarganya.
Entahlah. Memang semua yang terjadi pastilah rencana Sang Ilahi. Kita pun tak bisa menebak apa yang akan terjadi esok, dua hari kedepan ataukah setahun mendatang. Semua itu masih rahasia-Nya. 
Aku harap, ini akan menjadi kabar duka terakhir yang aku dengar. Semoga tak ada korban apapun lagi nantinya. Semoga semua cerita dibalik itu semua hanya isapan jempol belaka. Setidaknya itu yang bisa aku harapkan ...


lundi, décembre 10, 2012

Atap-Atap ku ...


Berbicara tentang lingkungan, aku adalah orang yang bergumul dengan tiga lingkungan berbeda sekaligus. Untuk hampir semua orang yang mengetahui lingkungan ini menganggap aku “cukup hebat”. Tapi sejatinuya mereka tidak tahu seperti apa aslinya aku mempertarhkan ketiganya.  Sedikit lebay, mati-matian aku mempertahankan ketinganya agar meraih keseimbangan. Tetapi kerap saja bingung, linglung, lelah, malas menyatroni ku dengan kadar luar biasa.
Mengenai ketiga lingkungan itu, ku paparkan sekilas. Sedang mengenyam pendidikan pada dua tempat yang berbeda, juga menikmati tidur dibawah tempat yang dikelilingi berbagai peraturan yang mengikat. Artinya, aku sedang bergumul dengan tiga lingkungan yang berbeda. Berbeda dalam pandangan, berbeda dalam rasa, dan yang pasti berbeda di hampir segalanya.
Ketika berada pada lingkungan pendidikan yang lebih dahulu aku jalani, rasa aman lebih kerap menyelimutiku. Dari segi fasilitas,infrastruktur, dan “kemewahan” mungkin lebih diatas dibanding lingkungan pendidikan ku yang kedua aku tempuh.
Busana stylist, up date informasi-informasi hollywood, juga menggenggam ponsel keluaran terbaru yang menyuratkan jebolan dari kalangan menengah keatas adalah sedikit gambaran atapku yang pertama. Sedangkan kebalikan dari semua itu bisa ku katakan sebagai secuil gambaran dari atap ku yang selanjutnya.
Juga tampilan fisik yang semua orang bisa membedakan keduanya. Jika di atapku yang pertama aku tak perlu merusak binder ku karena ku kibas-kibaskan sebagai kipas pengusir gerah, maka di atapku yang kedua aku harus melakukanya demi mengusir panas agar tak mengganggu proses otakku mencerna menu sehari-hari para mahasiswa. Juga aku tak perlu mencapai lantai yang menjulang hanya dengan mengandalkan anak-anak tangga yang melelahkan ketika bernaung pada atapku yang pertama. Cukup dengan memainkan tombol lalu memasuki sebuah kotak baja mungil yang orang sebut dengan nama “lift” dan sampailah aku pada lantai yang ku tuju.
Tapi keadaan sebaliknya menyapaku. Aku harus menginjak sekian banyak anak-anak tangga entah sebanyak apa aku enggan menghitung, demi kedua kakiku mencapai lantai paling atas. Belum lagi gerah dan panas yang disajikan sebagai tempat menampung ilmu-ilmu dari para perantara ilmu. Dan satu hal yang ku soroti selanjutnya adalah tempat makan. Dimana tak ada cafetaria di setiap gedung, yang ada hanyalah satu tempat  untuk makan yang aku pun hanya pernah sekali saja menjamahnya. Dan tempat untuk makan yang selanjutnya lebih tak ku sukai lagi. tak terawat tentu tak bersih, dekat dengan beberapa tong sampah dan lalat-lalat dengan senangnya bertebangan seolah ingin merebut makanan yang ada. Sungguh pemandangan yang bagiku sangat tak nyaman untuk dijadikan tempat melahap sesuatu.
Begitu banyak kata “beda” yang aku dapat dari kedua atapku itu. Bukan hanya segi fisik, namun turut pula segalanya. Aku tak harus  merasa bosan berada di atap pertama karena banyaknya tempat yang bisa ku jadikan tempat meletakkan punggung sejenak atau menyegarkan otak seusai panas merangkum kewajiban mahasiswa seharian. Tapi kerap merasa tak nyaman dan kebingungan mencari tempat yang pas karena sejumlah keterbatasan ketika aku menjelajah di atap kedua.
Tapi dibalik itu semua, ada satu kelebihan yang lebih unggul digenggam atapku yang kedua. Yakni kekompakan. Selalu tolong-menolong, ramah, dan satu lagi yang tak pernah aku temui yakni berjabat tangan ketika bertemu adalah salah satunya. Itu hal yang mungkin aku nilai tak bisa aku dalami pada atapku yang pertama.
Itulah putaran kehidupan. Dimana-mana pastilah kata “beda” selalu menyertai. Kini, sedikit demi sedikit aku mulai tahu perbedaan diantara kedua atapku. Dan kini pula, pelan tapi pasti aku ingin menyelami perbedaan itu lalu mengkombinasikannya agar tak lagi asing dengan keduanya. Inilah resiko yang telah aku ambil meski didahului dengan kata “terpaksa”. Harus mulai membiasakan terburu-buru dengan harus melewati sekian anak tangga lalu mencapai ruangan yang ku tuju dengan tanpa penyegar ruangan dan hanya disambut ruangan yang tak pernah aku bayangkan. Juga bingung kala ingin memantulkan bayangan melalui kaca wastafel di toilet. Bingung karena belum pernah ku temui sebuah wastafel dengan cermin besar yang menunggui toilet-toilet seperti yang ada pada atapku yang pertama, dimana setiap toilet pastilah memiliki wastafel sebagai pelengkapnya.
Mungkin perlahan aku akan bisa semakin berbaur dengan itu semua. Tapi terkecuali untuk satu hal ini. Makanan. Sebisa mungkin aku akan menghindari untuk tidak melahap makanan di tempat yang telah aku paparkan tadi. Pastinya lebih ku utamakan berada di cafetaria atap ku yang pertama dengan berbagai alasan yang masuk akal. Bukan karena jiwa angkuh atau apapun yang ingin orang lontarkan. Namun setiap orang tentunya memiliki selera yangg tak sama. Jika memungkinkan untuk berada di tempat yang lebih sehat untuk makanan, mengapa tidak?
Dan selanjutnya yang ingin sedikit ku paparkan adalah atap yang ku tiduri selama ini. Lebih tepatnya beberapa bulan belakangan. Jujur. Atap sangat sempit yang ku punya, dilengkapi dengan sekumpulan orang yang turut bernaung yang kerap  menunjukkan wajah tak bersahabat.  Huft. Atap yang tiap kali aku pikir, menyeramkan. Selalu kata hati ingin meninggalkan tapi kedua “tiang hidupku” selalu mempunyai alasan untuk kembali menahanku dan selanjutnya aku harus kembali tertahan entah untuk berapa waktu.
Tapi ya sudahlah. Jika ku pikirkan dengan nurani yang bersih, ini semua memang yang terbaik yang harus aku lakukan. Namun sayangnya aku belum menjumpai nurani ku yang bersih.