Here, I am



dimanche, décembre 23, 2012

I B U ...

Ibu, ketika aku mengucap atau hanya mendengar tiga huruf itu disebut, sesosok wajah yang menyejukkan kerap muncul dalam anganku. Seorang wanita yang dengan jilbabnya atau hanya dengan rambut berantakannya dan sebuah daster menutupinya, selalu membangkitkan rasa rindu teramat dalam hatiku.
Seorang wanita yang telah membawaku melihat dunia fana ini, dan wanita yang tak ku sadari telah meyimpan banyak uban di rambut gelombangnya itu adalah wanita yang dengan omelannya selalu membawa hasratku untuk ingin menapakkan kedua kaki kembali ke pintu rumah tercintaku.

Tanggal 21 Desember adalah hari dimana wanita tercintaku itu membuka mata untuk pertama kali dalam tangisan mungil seorang bayi tanpa dosa. Dan, keesokan harinya tanggal 22 Desember, orang-orang mengenal dan memperingatinya sebagai hari ibu sedunia. Sebuah kado spesial telah ku siapkan jauh hari sebelum kedua hari spesial itu datang. Memang bukan sebuah kado mahal yang ku suguhkan untuknya. Hanya sebuah bingkisan kotak persegi panjang berselimut warna hijau dan dua bauh daun hiasan mengatup yang ku kira semakin mempercantik kotak sederhana itu. Sebuah kado yang didalamnya terdapat sebuah benda yang tak mahal tapi mempunyai sebuah makna yang memeluknya.

Sebuah lampu dalam sebuah kotak segi empat yang berhiaskan butiran-butiran pasir berwarna-warni. Ku selipkan sebuah makna dibaliknya. Sebuah lampu yang meski kecil dan tak punya daya besar, tapi tetap mempu untuk menyinari sekitarnya. Sebuah lampu yang meski bukan lampu  terhebat dan terindah, tapi tetap menghidupkan kegelapan di sekitarnya. Sebuah lampu yang ku harapkan menerangi kehidupanku saat ini hingga kapanpun.

Ibu, kini aku telah beranjak dewasa. Meksi tak bisa tiap hari  aku mencium punggung tanganmu sebelum melakukan hari-hariku, tapi lewat untaian doa tiap detik aku haturkan demi namamu. Meski tak bisa tiap hari ku lontarkan cerita-ceritaku, tapi tiap detik ku lontarkan mujanahku untuk hidupmu. 

Dan Ibu, meski aku bukan seorang anak yang selalu membuatmu tersenyum, tapi aku adalah seorang anak yang tiap saat berpikir bagaimana mengukir tawa bahagia bukan hanya di bibirmu tapi juga menyusup dalam benakmu,Ibu...

Ibu, aku hanya ingin kau selalu menjadi lampu itu. Meski uban telah menyulap hampir seluruh rambut hitammu dulu, dan meski usia tak lagi muda, aku tetap percaya bahwa kau akan selalu menjadi wanita terbaik. 

Ibu, meksi aku tak bisa tiap saat berada di sampingmu, tapi percayalah doa dan tangisku ku persembahkan untukmu,Ibu...

Aku mencintaimu,Ibu... 
Kau wanita terindah dalam hidupku.. Tetaplah ada untukku dan untuk orang-orang yang mencintaimu,..
Tuhan, jagalah wanita itu... Jagalah dia dalam kotak bahagia itu ....

Aucun commentaire:

Enregistrer un commentaire