Here, I am



jeudi, décembre 13, 2012

Misteri Desember untuk SMANSTAR ...

Semalam tepatnya hampir tengah malam, begitu aku membuka akun jejaring sosialku facebook, aku sudah lebih dulu dibuat diam sejenak. Banyak status dari teman-teman SMA ku yang mengutarakan tentang sebuah tragedi yang sama sekali tidak mengenakan untuk kedua kalinya.
Sebuah tragedi kematian. Meninggal di tempat. Kecelakaan. Oleh truck. Dan yang lebih mencengangkan terjadi telah dua kali dalam pertengahan bulan ini. Kecelakaan maut yang pertama terjadi pada tanggal awal bulan ini dan yang kedua yang pasti ku harapkan juga yang terakhir terjadi baru saja kemarin malam  ditanggal yang banyak di eluh-eluhkan orang sebagai tanggal yang cantik dan spesial. 12-12-2012.
Kecelakaan yang merenggut dua nyawa siswi yang tengah mengenyam pendidikan di SMA tempatku pernah mengukir secuil hidupku pula. Mereka adalah adik kelasku meski aku tidak mengenal. Sedang menempuh ditingkat kedua dan ketiga.
Usai mendengar dan sedikit menelusuri kabar miris itu,pikiranku yang aku yakin turut pula menjadi pikiran sebagian teman-teman seperjuanganku dulu, dipaksa untuk flashback ke masa lalu. Sekolahku menjadi pembicaraan yang tidak asing lagi. Bahwa tiap tahun pastilah memakan korban jiwa pada tiap angkatan. Ketika aku masih duduk sebagai siswi ditahun pertama pun, untuk pertama kalinya dibuat kaget oleh kabar kematian kakak kelas tiga yang meninggal ditempat akibat kecelakaan dengan bus ketika akan mengikuti ujian semester. Mulai dari itu berhembus kabar-kabar yang tidak mengenakan. Tentang tiap tahun sekolah akan memakan satu korban siswa maupun siswinya sebagai tumbal atau apalah sejenisnya yang aku sendiri tak begitu memahaminya.
Tak cukup sampai disitu, ketika aku mengenyam pendidikan pada tingkat kedua pun, lagi-lagi kecelakaan itu kembali terulang. Kali ini teman seangkatanku yang meskipun aku tidak mengenalnya akhirnya meregang nyawa setelah sempat memberikan sedikit sinyal kematiannya.  Bahwa ia ingin agar foto-fotonya dipampang di dinding kelas supaya teman-temannya selalu mengingatnya. Sekitar seminggu setelahnya ia pun hanya tingal nama setelah sempat dirawat di rumah sakit, seingatku.
Bayang-bayang itu kembali menghantui aku dan sebagian besar teman-temanku ketika kami menjabat  sebagai kakak tertua di sekolah. Kami khawatir jika kembali satu korban jatuh ketika  kami akan mempersiapkan diri menempuh ujian nasional. Tapi syukurlah, tak ada korban selanjutnya. Kami semua lulus 100% tanpa adanya korban jiwa pada tahun itu.
Kemudian,cukup sunyi dan baik-baik saja untuk setahun sejak aku mendapat predikat alumni. Barulah di bulan akhir tahun ini dua kabar duka sekaligus mengguncang semua yang mengenal SMANSTAR sebagai bagian dari sejarah hidupnya. Dua nyawa melayang dalam waktu yang hampir bersamaan dengan kasus yang sama. Semua turut berduka. 
Entah kenapa seolah sudah menjadi rutinitas "memakan korban" tiap tahunnya. Kebanyakan yang akan menempuh ujian nasional pada tingkat terakhir sekolah. Mitos pun banyak bermunculan sebagai pengiring kabar-kabar ngeri itu. Ada yang mengatakan karena adanya sebuah pohon besar yang menunggui sekolahku itu dan bla bla banyaknya. Hingga muncul sebuah permintaan dari rekan seperjuanganku untuk mengadakan "selametan" supaya kejadian itu tidak kembali terulang. Agar tiap tahun sekolah kami tidak kembali berduka dengan kehilangan salah seorang keluarganya.
Entahlah. Memang semua yang terjadi pastilah rencana Sang Ilahi. Kita pun tak bisa menebak apa yang akan terjadi esok, dua hari kedepan ataukah setahun mendatang. Semua itu masih rahasia-Nya. 
Aku harap, ini akan menjadi kabar duka terakhir yang aku dengar. Semoga tak ada korban apapun lagi nantinya. Semoga semua cerita dibalik itu semua hanya isapan jempol belaka. Setidaknya itu yang bisa aku harapkan ...


Aucun commentaire:

Enregistrer un commentaire