Sebuah tragedi kematian. Meninggal di
tempat. Kecelakaan. Oleh truck. Dan yang lebih mencengangkan terjadi telah dua
kali dalam pertengahan bulan ini. Kecelakaan maut yang pertama terjadi pada
tanggal awal bulan ini dan yang kedua yang pasti ku harapkan juga yang terakhir
terjadi baru saja kemarin malam ditanggal yang banyak di eluh-eluhkan orang sebagai
tanggal yang cantik dan spesial. 12-12-2012.
Kecelakaan yang merenggut dua nyawa siswi
yang tengah mengenyam pendidikan di SMA tempatku pernah mengukir secuil hidupku
pula. Mereka adalah adik kelasku meski aku tidak mengenal. Sedang menempuh
ditingkat kedua dan ketiga.
Usai mendengar dan sedikit menelusuri
kabar miris itu,pikiranku yang aku yakin turut pula menjadi pikiran sebagian
teman-teman seperjuanganku dulu, dipaksa untuk flashback ke masa lalu. Sekolahku menjadi
pembicaraan yang tidak asing lagi. Bahwa tiap tahun pastilah memakan korban
jiwa pada tiap angkatan. Ketika aku masih duduk sebagai siswi ditahun pertama
pun, untuk pertama kalinya dibuat kaget oleh kabar kematian kakak kelas tiga
yang meninggal ditempat akibat kecelakaan dengan bus ketika akan mengikuti ujian semester. Mulai dari itu berhembus
kabar-kabar yang tidak mengenakan. Tentang tiap tahun sekolah akan memakan satu
korban siswa maupun siswinya sebagai tumbal atau apalah sejenisnya yang aku
sendiri tak begitu memahaminya.
Tak cukup sampai disitu, ketika aku
mengenyam pendidikan pada tingkat kedua pun, lagi-lagi kecelakaan itu kembali
terulang. Kali ini teman seangkatanku yang meskipun aku tidak mengenalnya
akhirnya meregang nyawa setelah sempat memberikan sedikit sinyal kematiannya.
Bahwa ia ingin agar foto-fotonya dipampang di dinding kelas supaya
teman-temannya selalu mengingatnya. Sekitar seminggu setelahnya ia pun hanya
tingal nama setelah sempat dirawat di rumah sakit, seingatku.
Bayang-bayang itu kembali menghantui aku
dan sebagian besar teman-temanku ketika kami menjabat sebagai kakak
tertua di sekolah. Kami khawatir jika kembali satu korban jatuh ketika
kami akan mempersiapkan diri menempuh ujian nasional. Tapi syukurlah, tak
ada korban selanjutnya. Kami semua lulus 100% tanpa adanya korban jiwa pada
tahun itu.
Kemudian,cukup sunyi dan baik-baik saja untuk
setahun sejak aku mendapat predikat alumni. Barulah di bulan akhir tahun ini
dua kabar duka sekaligus mengguncang semua yang mengenal SMANSTAR sebagai
bagian dari sejarah hidupnya. Dua nyawa melayang dalam waktu yang hampir
bersamaan dengan kasus yang sama. Semua turut berduka.
Entah kenapa seolah sudah menjadi
rutinitas "memakan korban" tiap tahunnya. Kebanyakan yang akan
menempuh ujian nasional pada tingkat terakhir sekolah. Mitos pun banyak
bermunculan sebagai pengiring kabar-kabar ngeri itu. Ada yang mengatakan karena
adanya sebuah pohon besar yang menunggui sekolahku itu dan bla bla banyaknya.
Hingga muncul sebuah permintaan dari rekan seperjuanganku untuk mengadakan
"selametan" supaya kejadian itu tidak kembali terulang. Agar tiap
tahun sekolah kami tidak kembali berduka dengan kehilangan salah seorang
keluarganya.
Entahlah. Memang semua yang terjadi
pastilah rencana Sang Ilahi. Kita pun tak bisa menebak apa yang akan terjadi
esok, dua hari kedepan ataukah setahun mendatang. Semua itu masih
rahasia-Nya.
Aku harap, ini akan menjadi kabar duka terakhir yang aku dengar. Semoga tak ada korban apapun lagi nantinya. Semoga semua cerita dibalik itu semua hanya isapan jempol belaka. Setidaknya itu yang bisa aku harapkan ...
.jpg)
Aucun commentaire:
Enregistrer un commentaire