Here, I am



lundi, décembre 12, 2016


22 Oktober 2016

Yeah, finally I did it ...
Wisuda pertama telah terlewatkan. wisuda kedua dan ketiga masih menunggu untuk dilaksanakan.
Pelan-pelan, satu-satu, sabar tawakal. Pasti bisa. Aku masih dipeluk orang-orang yang menyayangi dan menyemangiku. Iya, mereka. Iya, dia  tentunya.

Sudah, aku hanya ingin menyimpan kenangan ini. Jika sudah saat nya nanti, akan ku tunjukan pada mereka. Bahwa aku telah meraihnya.

kantukku menyerang, ku sudahi sementara.

Dan aku cukup bahagia meski masih ada perjuangan selanjutnya ...

Terima kasih Allah ...

mercredi, octobre 21, 2015

Geng Eek ...

Setelah pasukan Berisik, saat ini biarkan aku memperkenalkan Geng Eek sebagai sahabat-sahabatku selanjutnya. Kenapa Eek namanya? Jorok kah? Haha,biar kusuguhkan foto kami berlima.
Sudah mengantongi jawabannya? Eek karena warna kuning pada jilbab yang tidak sengaja kami kenakan secara bersamaan khusus untuk sesi foto pada hari itu. Tanpa cekcok panjang, terceletuklah nama Eek itu secara spontan.
Seperti biasa, kuperkenalkan satu per satu anggotanya. Tapi kali ini, ku ulas kisah cinta mereka, bukan dari segi kepribadian.





Intan namanya. Punya pacar asli Madura yang sudah dipacarinya selama kurang lebih lima tahun sejak SMA. Saat ini sedang menjalani hubungan jarak jauh, dan itu menjadi alibinya untuk membuka celah bagi si Riko (nama disamarkan) yang merupakan teman satu jurusanku yang juga sudah punya pacar. Si Intan mengaku tidak mencintai pacarnya lagi dan sudah benar-benar  jatuh cinta pada cowo yang juga asli Madura ini meskipun dia sudah tau Riko sudah punya pacar. Tapi dasar cowo diam-diam nakal juga, meskipun sudah punya pacar, tetap saja ia menjalin kedekatan dengan Intan. Terus-terusan memberi perhatian pada Intan, pastinya membuat luluh hatinya. Padahal mereka sama-sama tahu jika hubungan mereka ini sudah tidak sehat, tapi Intan mengaku cintanya memang hanya untuk si Riko, tapi ia juga tetap mempertahankan hubungannya dengan pacarnya, bahkan dengan percaya dirinya, ia yakin jodohnya adalah si mas pacar. Lah, buat apa kamu menyabangkan hati? Tapi baiklah aku cukup hargai keputusannya.

Selanjutnya adalah Saroh. Anak Madura yang sempat bingung memilih antara tetap mempertahankan hubungan dengan pacar yang sudah dipacarinya selama lima tahun ataukah menjalani hubungan yang baru dengan si Jeje yang ceritanya adalah cinlokan waktu di KKN. Bisa dibayangkan, kan? dia sampai berani meninggalkan pacar terlama nya itu hanya karena dia merasa nyaman dengan si Jeje yang notabene baru dia kenal? Gila juga sih menurutku. Bagaimana bisa meninggalkan orang yang sudah dicintai sebegitu lama hanya karena bertemu dengan laki-laki baru? Malah kata orang si Jeje ini tidak ada apa-apanya dibanding dengan pacarnya yang dulu. Tapi meskipun Saroh ragu dengan Jeje yang sama sekali tidak bisa baca Alqur'an ditambah pula tidak pernah sholat, ia tetap menjalani hubungannya saat ini. Katanya, biarkan mengalir apa adanya. Yowes sakarepmu nduk :D

Yulia panggilannya. Gadis Madiun yang kata orang pecicilan. Kisah cintanya berawal dari KKN pula. Dengan alasan nyaman, ia terlebih dahulu mengungkapkan perasaan nyaman dan sayangnya pada Adit, si koordinator desa di KKN kami. Usut punya usut, pada saat KKN, Adit sedang dalam kubangan PDKT dengan adik tingkatnya. Entah seperti apa, singkat cerita, mereka berdua saling berkomitmen untuk saling sayang meski tidak ada kata 'jadian'. Ajaibnya Adit langusng meninggalkan PDKTannya demi Yulia. Untuk hal itu pula, Yulia memutus segala akses dari beberapa cowo yang masih mendekatinya. Untuk Adit pula yang notabene alim, ia rela pelan-pelan merubah penampilannya menjadi lebih agamis dengan balutan jubah-jubah cantiknya, bahkan mengurangi kegiatan hura-huranya seperti belanja dan karaokean. Asik, salut dah sama ini orang!

Nah, yang kali ini nih yang sebenarnya bikin kesel haha. Yang paling cantik diantara kita juga yang paling proporsional badannya. Binti banyak orang memanggilnya. Gadis Magetan yang berkulit putih dan tinggi semampai. Personil paling lebay dan tukang bikin rusuh haha. Suara khas cemprengnya kerap sekali memekakkan telinga siapa saja yang mendengarnya, terlebih jika kami sedang berkaraoke ria dan ia yang menguasai mic nya. Beeehh, suara cemprengnyaa haha. Dua hal yang mengusik personil Eek lainnya dari seorang Binti adalah sifat mudah paniknya dan ketidak tegasannya tentang hati. Jika ada masalah, ia seperti kebakaran jenggot mengeluh sana-sini tentu dengan suara kerasnya, tanpa menyadari bahwa mengeluh hanya akan memperumit masalah dan memberikan efek negatif bagi orang-orang sekitarnya. Belum lagi masalah cowo. Alibinya sejak diputus dari sang mantan, yang tadinya ia adalah sosok yang setia tiba-tiba berubah menjadi sang pemain cinta (haha). Dalam satu waktu ia bisa memacari dua orang sekaligus juga masih meladeni beberapa cowo lain lagi. Jika kami yang lain merasa malas menanggapi dan melayani cowo yang tidak bisa membuat kami nyaman, lain dengan Binti yang 'terlalu baik' hingga 'merangkul' semua yang menghampirinya tanpa khawatir perasaan pacar. Entah bisa dikatakan playgirl atau apalah itu, yang jelas aku tidak akan pernah sejalan dengan pemikirannya. Di Malang ia menjalin hubungan dengan cinlokan di KKN, tapi menyimpan pacar di Surabaya, pun masih meladeni yang dari Magetan dan Madura. Berulang kali dinasihati oleh kami yang lain, tapi apa daya jika hati sekeras batu. Baru-baru ini, ia ketahuan selingkuh, si pacar marah besar, ia justru bingung dan tidak terima dilontari kata-kata kejam dari si pacar. Ampun dah nona satu ini. Nyerah gueeh vroh :D

Dan terakhir ya yang nulis blog ini. Entah, apa mungkin karena terpengaruh lingkungan anak-anak Eek yang langganan bergalau ria, aku pun jadi lumayan 'terpaksa' untuk memikirkan ya yang begituan. Setelah kemarin hari mengakhiri hubungan dengan entah siapapun itu tak mau lagi aku sebutkan (tapi bukan putus pacaran, cuma putus TTM-an) saat ini sedang 'sedikit dekat' dengan cowo super cuek dan susah ditebak. Mungkin itu cerminan dari pribadiku sendiri yang cuek dan tidak mau tau juga tak mau berjuang masalah percintaan. Sudahlah, aku enggan berbicara panjang penuh untuk cowo yang masih belum jelas ini.

Nah, sudah kenal dengan anak-anak Eek? kami dipertemukan oleh KKN yang hanya sebulan di pucuk Tumpang, desa Benjor (Mungkin setelah ini akan dirilis cerita tentang Sang Benjor :D) Anehnya, selama KKN kami berlima sama-sama saling pencar dan tidak tergabung dalam Geng Eek. Kebersamaan kami muncul pasca KKN dimana aku yang memulai untuk menginap di kontrakan Yulia dan tanpa diduga disusul Saroh, Binti, dan Intan. Kurang lebih selama dua minggu lah kami berlima berkumpul satu kamar dan mulai mengenal satu sama lain. Seperti keluarga sendiri, kami menjalani hari-hari bersama-sama dan melewati apapun itu selalu dengan tawa. Karena bagi kami, berkumpul dan tertawa bersama adalah obat paling mujarab dari segala masalah.

Dimulai dengan belanja gila-gilaan barang-barang ber merk, perawatan dokter terkenal dan mahal. Bahkah aku yang tadinya anti perawatan, entah terpengaruh apa, mengiyakan menginjakkan kaki di tempat perawatan Natasha yang terbilang cukup mahal. Bocoran nih, Aku dan Yulia memilih Natasha untuk perawatan, sedangkan Binti dan Intan memilih LBC (London Beauty Center), dan Saroh memilih Nava Green. Gila kan kami berlima yang sama-sama kompak masalah perawatan dokter? Entahlah, aku sendiripun masih tak habis pikir.

Satu lagi. Adalah ritual wajib Geng Eek dipandu oleh si Ratu nyanyi, Intan, Karaoke. Sumpek sedikit ya karaoke, ada masalah seupil ya karaoke. Hingga aku sendiripun sudah sangat biasa keluar masuk tempat karaoke. Tapi tenang guys, kami hanya menyanyi dan berjoged sewajarnya kok. Malah aku yang selalu diam mematung di atas sofa disaat yang lain heboh menyanyi dan berjoged.

Kenekatan yang menurutku paling ekstrem dari kami adalah berkenalan dengan Penggadaian. Haha, karena lumayan hura-hura dengan alibi stress pasca KKN, kami kehabisan uang sebelum waktunya. Takut mengemis pada orang tua, maka penggadaian solusinya (Mengatasi masaah menambah beban haha). Laptop Binti yang menjadi sasarannya. Tembus satu juta seratus, kami bagi berempat uangnya (tanpa Saroh). Haha, ini kali pertama ku berhubungan dengan penggadaian. Tapi bagiku, it doesn't matter, ini pengalaman baru dalam hidupku. Bersama dengan orang-orang gila seperti mereka dan banyak melakukan kegilaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Karena ini sama saja keluar dari zona nyamanku dimana sebelumnya aku hanya bersahabat dekat dengan orang-orang yang alim dan lurus-lurus saja, mungkin kini saatnya aku membuka diri tapi tetap membatasi. Kepingan-kepingan impian bisa saja menyempil imut di ujung perjalanan yang tak pernah kita pikirkan sama sekali kok.

Well, akan selalu ada cerita-cerita baru lainnya ditiap harinya. Menemukan pengalaman-pengalaman baru yang tidak selamanya senyaman zona sebelumnya. Aku tidak akan menyesal mengenal kalian, girls. Dan semoga kalian akan menjadi saudara-saudaraku selanjutnya.

Semoga, bukan hanya hari ini saja. Tapi selamanya, hingga kita saling memperkenalkan Eek-Eek junior kita kelak :D

dimanche, juillet 12, 2015

Robotic ...

(Random short story I ever made, yang saya tahu saya hanya ingin menulis kisah ini)

Vio terus saja berpikir. Memutar otaknya, memainkan jemarinya, mondar-mandir menimbulkan suara hentak kaki, menggigit bibir pula memasang wajah serius. Mungkin sedang fokus pada skripsi, begitu batin teman-temannya. Berulang menarikan sepuluh jarinya di atas keyboard yang  menimbulkan suara agak berisik, dan tak jarang pula terdengar hembusan dengus kekesalan. Menyibak rambut panjangnya menjadi alibi penenangnya sendiri meskipun acap kali tak mujarab.

Bukan skripsi, bukan juga dunia perkuliahan yang sedang bergelantung sadis dalam otaknya. Tapi? Tapi … tapi tentang laki-laki lebih tepatnya. Mengucap ‘ini gila’ berkali-kali dalam hatinya karena bisa-bisanya ada laki-laki yang berani merobohkan pertahanan otak dan hatinya. Laki-laki macam apa itu? Laki-laki yang mengantongi angka seratus kah atau minimal Sembilan puluh sekian? Atau laki-laki yang pas tuntas dengan deretan kriteria paten seorang Vio? Sepertinya bukan, dan memang bukan. Bukan laki-laki berkategori seratus, bahkan banyak menyimpang dari kriteria dan rentetan teori antah berantahnya.

“Dia pasti udah sayang sama cewe lain, bukan sayang lagi, udah jadian malah. Kok bisa? Cepet banget gitu? Anj*r aku dikibulin gitu?” keluhnya entah kepada siapa ia mengeluhkan. Laptop menyala yang sedari tadi hanya membatu menatapnya? Atau kasur yang begitu pasrah ia tiduri?
“Tapi kan baru kemaren-kemaren dia bilang sayang? Dih, pasti cuman sayang di mulut doang.” Tambahnya makin berpikir keras.

Laki-laki yang bukan tipenya itu ajaib membuat seorang Vio ‘dipaksa’ memikirkan kenapa belakangan laki-laki ini berubah. Baiklah, Vio harus mengakui bahwa akhir-akhir ini ia sedang tertuju pada seseorang. Teman kelas yang tak pernah ia bayangkan akan sedekat ini. Dekat? Sebelumnya ia tak pernah merasa sedekat ini dengan laki-laki. Akhir-akhir ini ia sering menghabiskan sepenggal waktu bersama laki-laki yang sama sekali gagal menjadi laki-laki idaman Vio. Tapi kenapa tidak? Vio adalah seseorang yang membahas cinta melalui hati. Baginya, hati tidak bisa direncanakan untuk berlabuh kemana. Begitu pula dengan rasa nyaman. Untuknya, begitu sulit untuk merasa sekedar nyaman yang benar-benar nyaman dengan seseorang. Baginya pula, bukan tentang masalah waktu. Bukan berarti yang sudah sekian lama mendekatinya, berhak mendapat kenyamanan dari gadis ‘gila’ satu ini. Lihat saja, ia baru saja dekat dengan laki-laki ini tapi sudah mendapat rasa nyaman yang entah ia akui belum pernah ia rasakan.

Laki-laki yang Vio sendiri juga tak bisa menggambarkannya seperti apa. Yang jelas sama sekali bukan kriterianya. Seorang laki-laki yang puitis, mencintai dunia menulis, dekat dengan alat bernama gitar, bukan laki-laki yang tegas, tidak begitu pintar dalam perkuliahan tapi lumayan mengantongi pengetahuan umum yang luas, dan yang paling menggelikan adalah brondong. Baiklah, itu adalah beberapa daftar dari laki-laki yang tidak disukai Vio. But see what? Ia merasa senang ketika laki-laki itu pernah mengucap sekilas sayang padanya. Pada malam itu, laki-laki itu mengatakan saat ini hanya nyaman dengannya dan dari nyaman itulah rasa sayang mulai mengikuti.

“Karena perasaan nyaman semua ini bisa terjadi. Dan dari perasaan nyaman itu ada rasa sayang. Tapi mungkin rasa sayangku belum sampai ke rasa cinta. Perasaanku belum kuat sama seperti kuatnya perasaan si dia.”

Kalimat dari laki-laki itu masih terngiang di kepala Vio. Entah tersenggol setan dari mana, ia merasa senang mendapat pengakuan ‘sekedar sayang’ dari laki-laki itu. Padahal biasanya, ia mendadak ilfeel jika laki-laki sok mengatakan sayang di depannya. Tapi kali ini?

“Kamu nyaman dan sayang sama siapa lagi sekarang?” Tanya Vio
“Ehmm, ga ada sih cuma kamu aja saat ini sayangnya.”
“ Adik tingkat itu?”
“ Dulu sempet suka tapi kayaknya dia udah punya pacar atau entahlah apa itu, sekarang udah biasa aja.”

Hanya itu poin pembicaraan yang selalu Vio ingat dari malam itu. Pembicaraan yang seketika memberanikan Vio untuk mengirimi sebuah surat elektronik pada laki-laki itu malam ini juga. Ia tidak betah dihindari seseorang. Dan sedetik kemudian, dengan cepat jemarinya mengetik sekian banyak huruf dan mulai merangkai kata-kata sebagai perwakilan perasaannya. Dan Hei, ia menuliskan ‘aku sayang kamu’ dalam rangkaian banyak katanya. Sejak kapan ia berani mengatakan kalimat sakral dalam hidupnya itu? Sakral? ‘aku cinta kamu’, ‘aku sayang kamu’, ‘aku kangen kamu’ adalah deretan kalimat sakral dalam kamus pribadinya. Ia belum pernah mengucapkannya pada laki-laki manapun sebelumnya? Lalu saat ini? Entahlah, ia tak mengikut sertakan otaknya untuk bekerja kali ini. Yang ia turuti hanya nasihat hati yang mengatakan ‘katakan apa yang ingin kamu katakan’. Jika laki-laki itu tidak pernah mengatakan ‘sayang’ padanya, ia pun tak akan seberani ini mengakui perasaannya. Ini sama halnya dengan ia dipancing.

Setelah berhasil menekan tanda ‘send’, sekian menit setelahnya ia mendapat balasan. Membaca paragraf pertama hingga beberapa paragraf selanjutnya, ia merasa senang, sangat senang. Laki-laki itu mengatakan ia memang sayang Vio. Dua alasan pertama laki-laki itu menghindarinya adalah mengalah karena ada orang lain yang lebih ‘mengejar’ Vio dan alasan kedua adalah menjaga perasaan Vio agar tidak lagi sakit hati karena kelakuan mantan pacar si laki-laki. Oke, alasan yang masuk akal meski sulit dicerna untuk ukuran kepala Vio yang menginginkan segalanya realistis. Memasuki alasan yang ketiga, Vio diam seketika. Perasaan marah pelan-pelan menyusup lembut menampilkan guratan kekecewaan. Ia jatuh cinta dengan gadis lain meski gadis itu sudah punya pacar. Pikiran Vio seketika tertuju pada adik kelas yang pernah mereka bicarakan malam itu. Bukankah ia mengatakan hanya nyaman dengan aku? Perasaan dengan adik tingkat itu adalah perasaan kemarin? Begitu pertanyaan yang menohok hatinya. Lalu apa ini?

Tanpa pikir panjang, ia segera menulis surat balasan. Yang intinya sebuah pertanyaan yang ia inginkan jawabannya.

Jadi intinya, waktu kamu ngomong sayang sebenernya kamu udah duluan dan masih sayang plus cinta sama si cewe itu kan ya? Trus buat apa ngomong begitu?

Lima menit, lima belas menit setelah mengirim, nihil tidak ada balasan lagi. Oke, otaknya masih berusaha mencerna alur cerita yang sudah lebih dulu terjadi.

Esoknya, suasana canggung mulai terbangun. Meskipun dalam surat itu pula, sama-sama sepakat untuk tetap saling menyapa, tapi bagi Vio tidak mudah menyapa laki-laki seperti itu. Hari pertama, mereka masih bertegur sapa meski atmosfer super canggung benar-benar tercipta. Hari-hari selanjutnya, Vio mulai malas disusul geram untuk sekedar menyapanya.

Tak lama setelah berkirim surat, Vio mendapati laki-laki itu berpacaran dengan adik tingkat yang dimaksud. Tepat sasaran! Bahkan semakin hari, laki-laki itu sudah mulai mempublikasikan hubungan mereka. Baginya, siapapun gadis itu, cantik ataupun tidak, terkenal ataupun kuper, menarik ataupun cupu, Vio tidak akan pernah mau tahu. Ia tidak ada urusan dengan gadis itu, yang ia tahu ia sudah dipermainkan brondong br*ngsek.

Iya. Bahkan ia sudah berani memasukkan laki-laki itu dalam daftar cowo br*ngsek. Selama ini ia tidak pernah menyebutkan kata-kata itu, tapi kali ini hatinya sudah marah, lebih tepatnya kecewa. Terlebih karena ia sadar, laki-laki itu sudah mendapatkan apa yang tidak bisa didapat laki-laki lain dari dirinya.

Semua terjadi sebegitu cepat. Proses hubungan dekat yang mesra, secuil perhatian yang mengagumkan, canda tawa singkat yang menenangkan, juga sentuhan manis itu. Semua tiba-tiba lenyap tanpa bekas, hanya meninggalkan jejak menyakitkan yang tidak akan pernah Vio lupakan. Selamanya, laki-laki itu akan selalu ia ingat sebagai laki-laki pertama yang menyakiti dan merusaknya.

Tapi Vio tahu, ini semacam teguran halus dari Sang Maha Pembolak-balik Hati. Ia sering mempermainkan perasaan laki-laki yang mendekatinya. Ia selalu menolak perasaan mereka dengan sejuta alasan. Karena memang prinsipnya, rasa nyaman tidak bisa dipaksakan. Kini, ketika Vio sudah berhasil menggugah perasaan nyaman juga sayang, hanya ampas yang ia kenang. Ketika laki-laki itu yang pada suatu malam menggegam erat kedua tangannya sembari meminta untuk membuka hatinya, entah untuk siapa, justru laki-laki itu pula yang mematahkan hatinya ketika Vio telah memberikan setengah celah hatinya.

Ia benci laki-laki itu. Ia membencinya. Tapi ia tidak semudah itu menghilangkan perasaan sayangnya. Teorinya sekali lagi berfatwa  bahwa orang yang tidak mudah jatuh cinta berarti orang yang tidak mudah melupakan. Meski dengan dibumbuhi emosi ia menuliskan dalam surat elektroniknya bahwa ia akan dengan mudah menghapus perasaan sayangnya, tapi ia yakin akan butuh banyak waktu untuk menjalaninya. Baginya, jatuh cinta lalu melupakan bukan hal semudah ia menghabiskan seloyang coklat cair kegemarannya. Semua butuh proses yang entah akan berakhir kapan. Yang ia tahu, ia hanya kecewa dengan laki-laki itu. Pada waktu bersamaan, berapa laki-laki yang ia tolak dan hindari hanya untuk memantapkan perasaan sayangnya pada laki-laki itu? Bahkan setelah laki-laki itu gencar menyebutkan nama gadisnya di media sosial, Vio justru baru menolak laki-laki mapan dan dewasa yang bermaksud memperistrinya. Kurang gila apa gadis yang tidak mau berkompromi dengan hati ini?

Entah dan hanya akan ada entah yang tersisa. Vio benci jika harus membicarakan masalah hati. Untuknya, hati itu rumit. Otak dan hati tidak pernah berjalan bergandengan menuju satu tujuan. Mereka selalu menjadi musuh satu sama lain. Saat ini yang ia tahu, ia hanya kecewa.


Yang ia ingin lakukan hanya ia ingin segera jatuh cinta dan menemukan penyembuh hati robotnya. Hanya itu. Ia ingin bisa jatuh cinta dengan laki-laki yang ‘tidak sekedar menyayanginya’.

Teori Antah Berantah

(Behind the Vio's life)

Menjadi cewe yang tidak mudah jatuh cinta itu bagai anugrah juga petaka. Anugrah yang berarti dia tidak harus pusing-pusing memikirkan cinta kacangan bernuansa picisan, tapi pula petaka dimana tidak mudah jatuh cinta berbanding lurus dengan tidak mudah melupakan. Iya itu salah satu teori dari deretan teori antah berantahnya Vio. Cewe yang lama-kelamaan semakin menyadari ada yang tidak beres dari dirinya. Tidak bisa jatuh cinta adalah hal yang dirinya claim sebagai sesuatu yang tidak beres. Ikut nimbrung bernafas di dunia ini selama 21 tahun diakuinya tidak ada satupun laki-laki yang bisa meluluh-lantahkan hatinya. Alhasil, meskipun sudah kepala dua, pacaran masih menjadi hal yang wajib ia pikirkan paling tidak sepuluh kali dalam sehari. Jangankan pacaran, mengatakan ‘aku sayang kamu’ yang sedang kekinian pun masih menjadi kalimat ter-ekstrem dalam hidpunya.
Dibesarkan dalam keluarga yang keras hasil didikan tegas orang tuanya, membuat seorang Vio tumbuh menjadi gadis yang luar biasa keras kepalanya. Keras kepala yang ia miliki menjalar ke hampir seluruh aspek kehidupannya. Mulai dari pendidikan hingga masalah perasaan. Asal tahu, gadis yang tak pernah bosan bertemu dengan coklat dalam bentuk apapun ini pernah membantah keras orang tuanya sambil menangis ala-ala drama Korea karena tidak terima jika harus pindah sekolah. Orang tua yang menginginkannya untuk pindah ke sekolah yang lebih terpercaya ditolaknya mentah-mentah dengan janji mati ia akan menjadi juara kelas di sekolah lamanya. Trik nya kali itu mujarab. Menjadi langganan juara kelas akhirnya memenangkan sayembara gadungan Vio dan orang tuanya. Sejak itu, ia menemukan dirinya menjelma sebagai gadis berkepala batu.
Tapi itu belum seberapa dibanding keras kepala perasaannya. Jika iya ya akan iya jika tidak ya selamanya tidak. Tapi dalam kasus percintaan, lebih banyak ‘tidak’ yang ia suarakan. Meskipun tidak pernah mencicipi yang orang sebut pacaran, tapi jangan salah, gebetannya bisa lebih dari satu dalam satu waktu. Tergolong playgirl? Tidak juga menurutnya. Ia hanya menjalani apa yang ada di depan matanya saja (itu alibinya). Dari semua gebetan yang ada, tidak ada satupun dari mereka yang berakhir dengan cintanya mulus diterima. Paling mentok mereka hanya akan menjadi sahabat atau kakak-adik zone.
Entah apa yang menjadi penyebabnya, jika menyinggung masalah hati dan jatuh cinta, ia akan menutupnya rapat-rapat. Juga karena ia mengakui ketidakberesannya selama ini, ia mendaftar sekian daftar mengenai perasaannya.
Tipe laki-laki idaman:
1.   Yang primer dan wajib dimiliki adalah laki-laki dengan iman yang kuat. Baginya, kalau imannya sudah kuat, maka kata-kata seperti komitmen, tanggung jawab, menjaga dan semua yang diinginkan wanita akan ada dengan sendirinya.
2.      Ada lima hal yang menjadi kriteria sekunder nya:
a.       Pecinta travelling. Karena Vio adalah seorang yang tergila-gila dengan sebuah perjalanan, maka baginya akan lebih indah jika ia bisa keliling Indonesia bersama dengan suaminya kelak.
b.   Pecinta wisata kuliner. Sejak makanan menjadi salah satu mood booster nya, ia gemar sekali menjelajah aneka tempat yang sekiranya menyediakan makanan-makanan yang belum pernah ia cicipi. Terbayang dalam benaknya, akan indah sekiranya ditengah perjalanan menyalurkan hobi jalan-jalannya, ia bisa menikmati semangkok makanan khas suatu daerah di depan laki-laki tercinta.
c.     Pecinta buku. Meskipun Vio adalah orang yang menurutnya ‘amburadul’ tak karuan, tapi ia begitu mencintai buku. Paling betah ‘ngadem’ di toko buku yang menyajikan musik mengalun indah, tapi kurang tertarik jika harus mengunjungi perpustakaan. Yang ia mau, laki-lakinya nanti juga mencintai buku sama seperti dirinya. Karena salah satu mimpinya adalah bangun pagi dengan sapaan rapi perpustakaan mini dalam kamar pribadinya.
d.  Pecinta anak kecil. Entah ke-ibu-an atau justru kekanak-kanakan, Vio sangat antusias berinteraksi dengan makhluk kecil lucu yang menggemaskan. Dimanapun dan kapanpun, ia tak segan melambaikan tangan atau sekedar iseng mencubit pipi anak kecil manapun yang ia anggap lucu (sering pula dipelototin mak-nya si anak). Tak jauh beda dengan dirinya, ia ingin laki-laki yang menaruh cinta dan perhatiannya kepada anak kecil. Menurutnya, laki-laki penyayang anak kecil adalah laki-laki yang bisa bertanggung jawab dan tidak memiliki minat dan bakat dalam  menyakiti.
e.    Pecinta kucing dan anjing. Kucing dan anjing adalah dua hewan yang paling ia cintai. Sama dengan jika bertemu dengan anak kecil, ia akan heboh kegirangan jika bersapaan dengan dua hewan mamalia itu. Pun, ia mengimpikan seseorang yang mencintai dua hewan paling menggemaskan dalam kamus hidupnya.
Masih belum cukup sampai disitu, berikut teori antah-berantah seorang Vio.
1.     Teori pertamanya, ia paling tidak suka dengan pertanyaan basa-basi ‘kamu lagi ngapain?’, pertanyaan kacangan yang baginya sudah buang-buang waktu.
2.    Yang kedua, ia anti brondong! Meskipun faktanya ia sering dekat dengan para brondong, tapi baginya meskipun ganteng, baik dan kriteria sempurna lainnya tapi kalau brondong, lebih baik tidak.
3.   Meskipun ia suka menulis, dan memang ia adalah seorang penulis novel abal-abal juga pecinta sastra, ia tidak suka dengan laki-laki yang juga gemar menulis dan sastra.
4.      Ia benci laki-laki romantis. Baginya romantis itu alay.
5.      Laki-laki yang pintar dan rapi akan menambah nilai super plus dimatanya.
6.      Benci laki-laki manja, gemar selfie, terlalu pencitraan.
7.   Laki-laki adalah mahluk yang mudah jatuh cinta sekaligus melupakan. mereka akan secepat kilat mencari pengganti.
8.      Laki-laki itu ‘habis manis sepah dibuang’. Mereka terkungkung nafsu sesaat.
9.   Baginya, jatuh cinta adalah hal sulit kedua setelah rumus matematika atau ilmu eksak lainnya.
10.  Ketika ia sudah jatuh cinta kelak, ia akan sulit untuk melupakan. Dibenaknya, melupakan orang yang kita sayang adalah hal sulit selanjutnya setelah jatuh cinta.
11.  Meski ia punya kriteria, ia percaya ‘love is blind’. Tidak menutup kemungkinan ia akan jatuh cinta dengan laki-laki yang jauh dari kriterianya.
12.  Ia sangat percaya ‘witing trisno jalaran soko kulino’ yang artinya munculnya cinta karena adanya kebersamaan yang terus-menerus, dan ia tidak percaya ‘love at first sight’.
13.  Sulit baginya pula untuk menceritakan sepenggal kisah hidupnya kepada laki-laki. Jika ia sudah menceritakannnya, berarti ia telah menaruh kepercayaan dan kenyamanan yang sesungguhnya pada laki-laki itu.
14.  Sekali kepercayaannya dihancurkan, ia tidak akan pernah percaya pada laki-laki itu lagi.
15. Ketika ia belum bisa nyaman, apapun yang dilakukan laki-laki itu akan selalu salah dimatanya.
16.  Tapi ketika ia telah jatuh cinta suatu saat nanti, tanpa diminta ia akan menerima laki-laki itu apa adanya.
17.  Jika telah jatuh cinta, kesetiannya akan mengiringi dengan sendirinya.
18.  Hatinya akan luluh jika diterpa perhatian dan perjuangan, hanya saja ia tidak tahu kapan akan luluh dan luluh yang berakhir seperti apa.
19.  Laki-laki kerap  mengumbar ‘sayang’ ke beberapa cewe dalam waktu bersamaan.
Beberapa kalimat sakral dalam kamus hidup seorang Vio:
1.      I love you, aku cinta kamu
2.      Aku sayang kamu
3.      Aku kangen kamu
4.      Cuma kamu dan akan tetap kamu.
5.      Aku butuh kamu
6.      Dan kalimat-kalimat senada lainnya.
kalimat-kalimat sakral yang tidak pernah Vio ucapkan kepada laki-laki manapun. Ia pun tidak akan seketika percaya ketika laki-laki manapun mengatakan kalimat-kalimat diatas, baginya semua yang diucapkan akan selalu butuh pembuktian. Jika suatu saat ia berani mengatakan kalimat sakral diatas entah pada siapapun yang ia pilih, dan laki-laki itu mengecewakannya, ia yakin tidak akan pernah mengulang kalimat yang pernah ia katakana lagi.
Begitulah, banyak teori gila seorang Vio yang menjadikannya seorang gadis robot yang sulit menjatuhkan hatinya.


jeudi, juin 04, 2015

GOYAH ...

Bukan Novi yang sekarang. Novi yang sekarang sepertinya sudah tersesat. Bukan sepertinya, tapi memang iya, sudah tersesat. Sudah jauh tersesatnya. Sadar? Iya, Novi sendiripun sudah sadar tentang semua hal yang dia lakukan sekarang itu salah. Bukan dirinya yang sekarang, begitu katanya. Lihat saja apa yang akhir-akhir ini dia lakukan di luar sangkar yang kata orang telah mengurung kebebasannya. Pulang larut malam setelah menyelesaikan perkuliahannya hingga berulang kali menginap di kontrakan teman-temannya. Mending kalau hanya menginap, dia bahkan kluyuran bersama teman-temannya hingga dini hari. Memang tidak melakukan apapun, tapi tetap saja bukan suatu hal yang kerap dia lakukan sebelumnya.

Seminggu lebih tidak bercumbu dengan segala buku kuliahnya, melahap banyak makanan entah apa saja isi dalam perutnya, hingga berhari-hari menduakan laptop yang sebelumnya menjadi teman setia disetiap malamnya. Bahkan, satu hal terekstrim dalam hidupnya telah berani dia lakukan, meskipun dia tahu telah mematahkan prinsip hanya demi mencari jawaban dari segala teori gilanya juga menutupi semua rasa penasarannya selama ini. Ini gila! Sepertinya dia tidak akan pernah menceritakan hal gila dan ekstrim apa yang telah dia lalui, yang jelas, itu memang sudah gila. Setidaknya baginya.

Menyesal? Tentu iya katanya. Kadang, dia hanya melamun sendiri di atas kasur busa kesayangannya dan segera mengajak pikirannya untuk kembali ke masa-masa sebelumnya. Katanya, dulu dia bukan dia yang sekarang. Dulu, dia tidak akan mau melakukan hal-hal gila itu. Tapi sekarang bagaimana? Sudah menabrak garis hidupnya sendiri. Semua jadi terbengkalai, desahnya. Semua rencana manis yang tadinya berlenggok ria di kepalanya, sebentar lagi akan berlenggok lesu mati tanpa sisa.

Bisiknya, tidak ada yang bisa mengetuk pintu hatinya. Sudah sekeras batu dia rasa. Hingga pada suatu malam, salah seorang sahabat baiknya menanyakan satu pertanyaan menohok hatinya “Kapan kamu kembali?” Tak kunjung dia lontarkan jawaban, sahabatnya lebih dulu menimpali “Kapanpun kamu kembali, aku selalu menunggu kamu”. Meleleh? Iya, dia hampir menangis. Dalam tangisnya, dia justru sibuk mencari nama Novi minimal setahun yang lalu. Novi yang dalam bayangannya masih baik-baik saja.

Sudah sekian hari dia jarang menyuarakan suaranya di lingkungan kesayangannya. Jangankan suara, menunjukkan muka pun sudah bisa dihitung dengan jari. Pulang larut malam, besok paling pagi dia sudah menghilang lagi. Begitu seterusnya belakangan ini.

Entah, mau sampai kapan ini menggeluti hari-hari sumpeknya. Sumpek? Iya sih, sumpek dan bosan yang menjadi alibinya. Dia sempat mengeluh kalau dia jenuh dan bosan dengan semua yang terjadi. Banyak hal yang menjadi beban juga pikirannya. Sebenarnya dia sedang marah. Tapi marah pada siapa juga dia tidak pernah tahu. Akhirnya dia menyimpulkan untuk memarahi dirinya sendiri.

Saat ini dia sedang diterjang badai cukup hebat, begitu lirihnya dalam hati. Tapi dia bukan orang yang suka menyuarakkan seluruh isi hatinya pada kebanyakan orang. Dia hanya akan terus menyimpannya sendiri. Baginya, tidak perlu mereka tahu apa yang sedang terjadi. Segala prosesnya biar dia yang tahu, tunggu dan lihat saja hasil akhirnya apapun nanti. Begitu teorinya.

Saat ini, dia sedang butuh pencerahan. Tidak butuh siapa-siapa sih kata egonya. Hanya beri dia sedikit waktu sendiri dan melakukan apa yang sedang ingin dia lakukan. Jangan ganggu dan jangan beri pertanyaan menyakitkan. Cukup diam, temani dan amati dari jauh dan jangan pernah tinggalkan. Dia adalah orang yang paling benci ditinggalkan orang-orang di sekitarnya. Hanya itu saja yang dia pinta saat ini.


Jangan pernah tinggalkan dia yang sedang ada pada titik paling rendah.

lundi, avril 20, 2015

Memiliki. Hanya Itu Saja ...

Oke, disela-sela waktu kuliah pagi menjelang siang ini, nyempil di warnet pula, rasanya jemariku sudah gatal ingin menuangkan pikiranku. Kali ini mari berbicara tentang satu kata yang sering terdengar namun sakral untuk kuucapkan. Kata yang mewakili perasaan, apalagi jika bukan tentang cinta. Tentu, mari bercengkrama tentang cinta.

Cinta dan sayang. Dua hal semu sama namun beda. Setidaknya menurut kamus hidupku. Kamu bisa memberikan rasa sayang kepada semua orang, namun tidak dengan cinta. Cinta. Satu kata banyak makna. Cinta. Satu kata beribu ungkapan. Cinta. Satu kata penyimpan sejuta asa. Itukah? Hanya itu? Tidak, kurasa. Siapapun boleh menelurkan katanya untuk cinta, tak terkecuali aku tentunya. 

Cinta itu omong kosong. Kuulangi sekali lagi, cinta itu omong kosong. Bualan nafas bau belaka. Juga, genjrengan pengamen jalanan ogah-ogahan bernyanyi. Atau bisa juga, meong-an kucing tetangga yang sedang kawin, sangat memekakan telinga. Sekali lagi, hanya rentengan kata munafik.

Sebelum ada pernikahan, begitulah cinta. Sekumpulan janji-janji palsu dibumbui lantunan lagu sok romantis. Sungguh memuakan. Hanya itu, hanya pemberian hal-hal biasa yang di romantis-romantiskan saja. Tidak lebih. Tapi setelah bersanding menjadi satu dalam untuain kata janji suci yang sebenarnya, cinta itu hanya tentang memiliki. 

Memiliki berarti bertanggung jawab. Memiliki berarti melindungi. Memiliki berarti memberikan yang terbaik. Dan yang terpenting, memiliki berarti mencintai, sepenuh hati. Tapi bagimana jika sebelum terjadi pernikahan? Ah, jangan mudah goblok tertipu bualan genit yang katanya sehidup semati. Sehidup semati? Haha tertawalah sekencang mungkin. 

Kubisiki, seseorang yang bukan hanya mengaku cinta saja tapi juga menanam keseriusan, dia tidak akan berlaku konyol. Dia tidak akan berbuat kasar, berkata seenak jidat, apalagi berlaku 'habis manis sepah dibuang'. Yang dia tahu dia hanya akan menjaga dan melindungi, bukan menikmati. Yang dia pahami, dia hanya akan bertimgkah bukan berucap saja, dengan hati bukan hanya dengan kepala.

Apakah aku sudah ahli dalam hal ini? Haha tentu tidak. Tidak pernah berpacaran bukan berarti buta dalam hal ini. Mengantongi banyak pengalaman hasil curcol berbagai bentuk teman dengan segala ceritanya, menciptakan mesin pemilih cinta otomatis dalam diriku. Haha, dari mereka, seorang Novi yang tidak pernah mencicipi 'nikmat' pacaranpun jadi semakin tahu 'musibah' pacaran. 

Sudahlah, aku tidak akan mengungkap cinta yang sesungguhnya hingga janji pasti itu. Kapan? Hingga kutemukan kunci membuka rasaku. Entahlah, hingga terbesit kalimat 'Aku telah siap'.

Baiklah, sepertinya rasa bosanku sudah terusir setelah menarikan jemariku. Saatnya kembali menyapa serentetan aktivitas melelahkan. Melelahkan? Kurasa tidak ketimbang harus diam mengimajinasikan cinta konyol.

T R A U M A

Orang-orang terbiasa menyebutnya ‘terpuruk’. Keadaan dimana semua terasa menyakitkan, bahkan mengenaskan. Atau ada pula yang berceloteh ‘sudah jatuh tertimpa tangga pula’. Ada lagi kata kekinian ‘Aku mah orangnya ga bisa diginiin’ yang sedang ngehits jadi meme di akun instagram. Entahlah, terlalu banyak hal yang mendefiniskan ‘terpuruk’.
Baiklah, ceritaku kali ini bermula dari kata itu. Terpuruk. Terpuruk yang mewakili semuanya. Entah bisa disebut terpuruk ataupun tidak, siapa peduli? Yang jelas itu yang kini sedang menggerogotiku. Peduli amat orang lain berceloteh ria.
Semua data di laptop hilang mendadak karena hardisk rusak. Tidak ada tanda-tanda sebelumnya, ibarat kata seperti orang mati mendadak karena serangan jantung. Awalnya sehat sehat saja, mendadak tak bernyawa begitu saja. Laptop yang kuberi nama ‘Della’ itu tiba-tiba mati tidak berfungsi. Setelah dicek, hardisk tidak terdeteksi. Tamatlah riwayatku! Semuanya tersembunyi dalam laptop berusia hampir empat tahun itu. Bisa dibilang, semua yang terjadi dalam hidupku, kisahku, tertuang dalam berbagai bentuk. Berupa foto atau bisa berupa tulisan-tulisan. Si Della yang menyimpan memori semuanya. Bahkan, foto-foto keluarga yang hanya aku yang menyimpan pun ikut lenyap. Oh Tuhan, apa-apaan ini? Semua musnah tanpa bekas secuilpun yang terselamatkan.
Data kuliah mulai semester satu hingga semester ini di dua kampus yag berbeda, koleksi foto-foto, koleksi album musik berbagai negara favorit hingga hasil tulisan tanganku berupa novel dan cerpen atau sekedar diary, semua tak tersisa? Empat tahun semua tersimpan rapi hingga pada malam itu sejarahku hilang.
Terlepas dari ikhlas ataupun tidak, jika kembali memikirkan, terselip rasa marah. Entah marah pada siapa. Bagi mereka, mungkin hanyalah masalah sepele. Hanya kehilangan data. Itu saja. Tapi tidak sesimpel itu dimataku. Kehilangan data sama saja kehilangan sejarah. Jika kau tahu, sejak dulu, selalu berangan-angan suatu saat nanti bisa menunjukkan semua sejarah itu kepada anak cucu (lebay kah bagi kalian?) tapi jika sudah tak ada lagi yang tersisa, apa yang harus ditunjukkan? Sejarah yang mana? Sejarah adalah bukti, sedang aku tak punya bukti.
Hingga, terbesit satu kata lagi. Trauma. Kehilangan data yang tiga tahun lalupun meninggalkan rasa takut untuk kembali menulis novel ataupun apapun yang kugemari. Apalagi kehilangan data yang jauh lebih besar kali ini? Sudah kupastikan trauma itu akan datang lagi. Takut menulis kembali, takut mengulang apapun lagi. Dan hanya takut. Sekali lagi, bagi mereka akan terdengar berlebihan. Tapi apa lah arti sejarah bagi mereka jika mereka tidak bisa menghargainya?
Lalu sekarang? apa yang tersisa? Sebenarnya hanyalah onggokan kenangan semu dalam pikiran yang tak banyak dari mereka mengerti, tahu pun tidak. Kembali menulis lagi? Novel ataupun cerpen? Atau sekedar menuliskan diary harian? Sepertinya butuh waktu, panjang pula. Mengingat kemana perginya ribuan foto? Ah, semakin menyisakan gemetar hati saja. Atau ratusan file hasil mengenyam kuliah sehari-hari? Apalagi mengingat itu. Semakin gila saja memikirkannya. Kalau begitu tinggalkan saja lalu lupakan. Haha, kadang, hidup tak semudah hanya melahirkan bayi kecil ke dunia lalu membuangnya di got begitu saja. Sekali lagi, ini tentang untaian sejarah. Sejarah tentang kehadiran manusia. Lalu apa bukti demi menunjang kehadiran manusia itu jika semua musnah terlebih dulu? Hanya bualan kata-kata di udara, kah? Atau oksigen yang menempel pada kaca dipagi hari? Sungguh omong kosong.

Entahlah, semua bercampur jadi satu. Beradu menjadi padu. Tak tersisa, tak berbekas. Sejarahku juga kisahku. Bagimana aku bisa menceritakan kepadamu?

jeudi, octobre 09, 2014

#20Factsaboutme








  1.      Nama lengkap Nur Laili Noviana Mukarromah (ada Mukarromah-nya). Satu-satunya anak cewe di rumah yang lahir dibulan November dengan dua adek cowo dan terobsesi punya kakak cowo
  2.      Punya banyak nama panggilan yang nyeleweng dari nama asli
  3.      Penggila coklat, eskrim, durian dan pedas, paling ga suka keju dan udang ataupun seafood
  4.      Takut balon, jempol, gelap sama ketinggian, tapi suka liat lampu-lampu kota dari ketinggian
  5.      Merinding sama ular, darah, rumah sakit juga kuburan (mending disuruh ngunjungin kantor polisi)
  6.      Sampe setua gini belum bisa nelen obat atau pil (kalo terpaksa, lebih milih ngunyah obat)
  7.      Maniak pink dan merah tapi ga tertarik aksesoris cewe
  8.      Betah belanja buku atau sekedar nongkrong di Gramed (karya sastra atau terjemahan)
  9.      Pecinta hal-hal berbau Prancis, wisata kuliner, jalan-jalan, film-film recomended juga fotografi meskipun ga tau tekniknya dan hanya mengandalkan kamera HP
10.  Gemes tiap liat wanita hamil, kucing dan anak kecil
11.  Ngga bisa belajar tanpa makanan atau musik
12.  Berharap dapet pasangan dari Jawa Timur (terutama yang bisa bahasa Madura) ato Jawa Barat haha :D
13.  Belom pernah pacaran (Catet! Ini nih yang orang-orang ngeyel ga percaya)
14.  Mengeluarkan unek2 lewat tulisan, Sejak SMP udah nulis beberapa novel dan cerpen meskipun abal-abal dan ngga punya nyali untuk di publikasikan
15.  Si pelupa tingkat dewa yang selalu bawa buku agenda tiap kuliah dan si moody-an. Kalo mood lagi bagus ya ceria kalo jelek ya muka udah kayak buntelan ketek.
16.  Bisa jadi cewe feminin (tapi belom tertarik high heels) bisa juga sedikit tomboy, tergantung sikon dan mood
17.  Kalo jalan kaki rame-rame, sering minta digandeng soalnya hobi nyasar.
18.  Sedang belajar tiga bahasa. Inggris, Prancis dan Madura haha. Tertarik sama budaya (tari tradisional) dan sejarah kolosal meskipun ga sebegitu ngerti
19.  Pengen nikah, ga mau malem pertama, langsung hamil gede, ga usah melahirkan langsung punya anak kecil. Bimsalabim!
20.  Si anak Jepara dengan Menara Eiffel mimpinya.