(Random short story I ever made, yang saya tahu saya hanya ingin menulis kisah ini)
Vio terus saja berpikir. Memutar otaknya, memainkan jemarinya, mondar-mandir menimbulkan suara hentak kaki, menggigit bibir pula memasang wajah serius. Mungkin sedang fokus pada skripsi, begitu batin teman-temannya. Berulang menarikan sepuluh jarinya di atas keyboard yang menimbulkan suara agak berisik, dan tak jarang pula terdengar hembusan dengus kekesalan. Menyibak rambut panjangnya menjadi alibi penenangnya sendiri meskipun acap kali tak mujarab.
Vio terus saja berpikir. Memutar otaknya, memainkan jemarinya, mondar-mandir menimbulkan suara hentak kaki, menggigit bibir pula memasang wajah serius. Mungkin sedang fokus pada skripsi, begitu batin teman-temannya. Berulang menarikan sepuluh jarinya di atas keyboard yang menimbulkan suara agak berisik, dan tak jarang pula terdengar hembusan dengus kekesalan. Menyibak rambut panjangnya menjadi alibi penenangnya sendiri meskipun acap kali tak mujarab.
Bukan skripsi, bukan juga dunia perkuliahan yang
sedang bergelantung sadis dalam otaknya. Tapi? Tapi … tapi tentang laki-laki
lebih tepatnya. Mengucap ‘ini gila’ berkali-kali dalam hatinya karena
bisa-bisanya ada laki-laki yang berani merobohkan pertahanan otak dan hatinya. Laki-laki
macam apa itu? Laki-laki yang mengantongi angka seratus kah atau minimal Sembilan
puluh sekian? Atau laki-laki yang pas tuntas dengan deretan kriteria paten
seorang Vio? Sepertinya bukan, dan memang bukan. Bukan laki-laki berkategori
seratus, bahkan banyak menyimpang dari kriteria dan rentetan teori antah
berantahnya.
“Dia pasti udah sayang sama cewe lain, bukan sayang
lagi, udah jadian malah. Kok bisa? Cepet banget gitu? Anj*r aku dikibulin gitu?”
keluhnya entah kepada siapa ia mengeluhkan. Laptop menyala yang sedari tadi
hanya membatu menatapnya? Atau kasur yang begitu pasrah ia tiduri?
“Tapi kan baru kemaren-kemaren dia bilang sayang? Dih,
pasti cuman sayang di mulut doang.” Tambahnya makin berpikir keras.
Laki-laki yang bukan tipenya itu ajaib membuat
seorang Vio ‘dipaksa’ memikirkan kenapa belakangan laki-laki ini berubah. Baiklah,
Vio harus mengakui bahwa akhir-akhir ini ia sedang tertuju pada seseorang. Teman
kelas yang tak pernah ia bayangkan akan sedekat ini. Dekat? Sebelumnya ia tak
pernah merasa sedekat ini dengan laki-laki. Akhir-akhir ini ia sering
menghabiskan sepenggal waktu bersama laki-laki yang sama sekali gagal menjadi
laki-laki idaman Vio. Tapi kenapa tidak? Vio adalah seseorang yang membahas
cinta melalui hati. Baginya, hati tidak bisa direncanakan untuk berlabuh
kemana. Begitu pula dengan rasa nyaman. Untuknya, begitu sulit untuk merasa
sekedar nyaman yang benar-benar nyaman dengan seseorang. Baginya pula, bukan
tentang masalah waktu. Bukan berarti yang sudah sekian lama mendekatinya,
berhak mendapat kenyamanan dari gadis ‘gila’ satu ini. Lihat saja, ia baru saja
dekat dengan laki-laki ini tapi sudah mendapat rasa nyaman yang entah ia akui
belum pernah ia rasakan.
Laki-laki yang Vio sendiri juga tak bisa
menggambarkannya seperti apa. Yang jelas sama sekali bukan kriterianya. Seorang
laki-laki yang puitis, mencintai dunia menulis, dekat dengan alat bernama
gitar, bukan laki-laki yang tegas, tidak begitu pintar dalam perkuliahan tapi
lumayan mengantongi pengetahuan umum yang luas, dan yang paling menggelikan
adalah brondong. Baiklah, itu adalah beberapa daftar dari laki-laki yang tidak
disukai Vio. But see what? Ia merasa
senang ketika laki-laki itu pernah mengucap sekilas sayang padanya. Pada malam
itu, laki-laki itu mengatakan saat ini hanya nyaman dengannya dan dari nyaman
itulah rasa sayang mulai mengikuti.
“Karena perasaan nyaman semua ini bisa terjadi. Dan dari
perasaan nyaman itu ada rasa sayang. Tapi mungkin rasa sayangku belum sampai ke
rasa cinta. Perasaanku belum kuat sama seperti kuatnya perasaan si dia.”
Kalimat dari laki-laki itu masih terngiang di kepala
Vio. Entah tersenggol setan dari mana, ia merasa senang mendapat pengakuan ‘sekedar
sayang’ dari laki-laki itu. Padahal biasanya, ia mendadak ilfeel jika laki-laki sok mengatakan sayang di depannya. Tapi kali
ini?
“Kamu nyaman dan sayang sama siapa lagi sekarang?” Tanya
Vio
“Ehmm, ga ada sih cuma kamu aja saat ini sayangnya.”
“ Adik tingkat itu?”
“ Dulu sempet suka tapi kayaknya dia udah punya
pacar atau entahlah apa itu, sekarang udah biasa aja.”
Hanya itu poin pembicaraan yang selalu Vio ingat
dari malam itu. Pembicaraan yang seketika memberanikan Vio untuk mengirimi
sebuah surat elektronik pada laki-laki itu malam ini juga. Ia tidak betah
dihindari seseorang. Dan sedetik kemudian, dengan cepat jemarinya mengetik
sekian banyak huruf dan mulai merangkai kata-kata sebagai perwakilan
perasaannya. Dan Hei, ia menuliskan ‘aku sayang kamu’ dalam rangkaian banyak
katanya. Sejak kapan ia berani mengatakan kalimat sakral dalam hidupnya itu? Sakral?
‘aku cinta kamu’, ‘aku sayang kamu’, ‘aku kangen kamu’ adalah deretan kalimat sakral
dalam kamus pribadinya. Ia belum pernah mengucapkannya pada laki-laki manapun
sebelumnya? Lalu saat ini? Entahlah, ia tak mengikut sertakan otaknya untuk
bekerja kali ini. Yang ia turuti hanya nasihat hati yang mengatakan ‘katakan
apa yang ingin kamu katakan’. Jika laki-laki itu tidak pernah mengatakan ‘sayang’
padanya, ia pun tak akan seberani ini mengakui perasaannya. Ini sama halnya
dengan ia dipancing.
Setelah berhasil menekan tanda ‘send’, sekian menit
setelahnya ia mendapat balasan. Membaca paragraf pertama hingga beberapa paragraf
selanjutnya, ia merasa senang, sangat senang. Laki-laki itu mengatakan ia
memang sayang Vio. Dua alasan pertama laki-laki itu menghindarinya adalah
mengalah karena ada orang lain yang lebih ‘mengejar’ Vio dan alasan kedua
adalah menjaga perasaan Vio agar tidak lagi sakit hati karena kelakuan mantan
pacar si laki-laki. Oke, alasan yang masuk akal meski sulit dicerna untuk
ukuran kepala Vio yang menginginkan segalanya realistis. Memasuki alasan yang
ketiga, Vio diam seketika. Perasaan marah pelan-pelan menyusup lembut
menampilkan guratan kekecewaan. Ia jatuh cinta dengan gadis lain meski gadis
itu sudah punya pacar. Pikiran Vio seketika tertuju pada adik kelas yang pernah
mereka bicarakan malam itu. Bukankah ia mengatakan hanya nyaman dengan aku? Perasaan
dengan adik tingkat itu adalah perasaan kemarin? Begitu pertanyaan yang menohok
hatinya. Lalu apa ini?
Tanpa pikir panjang, ia segera menulis surat
balasan. Yang intinya sebuah pertanyaan yang ia inginkan jawabannya.
Jadi intinya, waktu kamu ngomong
sayang sebenernya kamu udah duluan dan masih sayang plus cinta sama si cewe itu
kan ya? Trus buat apa ngomong begitu?
Lima menit, lima belas
menit setelah mengirim, nihil tidak ada balasan lagi. Oke, otaknya masih
berusaha mencerna alur cerita yang sudah lebih dulu terjadi.
Esoknya, suasana
canggung mulai terbangun. Meskipun dalam surat itu pula, sama-sama sepakat
untuk tetap saling menyapa, tapi bagi Vio tidak mudah menyapa laki-laki seperti
itu. Hari pertama, mereka masih bertegur sapa meski atmosfer super canggung
benar-benar tercipta. Hari-hari selanjutnya, Vio mulai malas disusul geram
untuk sekedar menyapanya.
Tak lama setelah
berkirim surat, Vio mendapati laki-laki itu berpacaran dengan adik tingkat yang
dimaksud. Tepat sasaran! Bahkan semakin hari, laki-laki itu sudah mulai
mempublikasikan hubungan mereka. Baginya, siapapun gadis itu, cantik ataupun
tidak, terkenal ataupun kuper, menarik ataupun cupu, Vio tidak akan pernah mau
tahu. Ia tidak ada urusan dengan gadis itu, yang ia tahu ia sudah dipermainkan
brondong br*ngsek.
Iya. Bahkan ia sudah
berani memasukkan laki-laki itu dalam daftar cowo br*ngsek. Selama ini ia tidak
pernah menyebutkan kata-kata itu, tapi kali ini hatinya sudah marah, lebih
tepatnya kecewa. Terlebih karena ia sadar, laki-laki itu sudah mendapatkan apa
yang tidak bisa didapat laki-laki lain dari dirinya.
Semua terjadi sebegitu
cepat. Proses hubungan dekat yang mesra, secuil perhatian yang mengagumkan,
canda tawa singkat yang menenangkan, juga sentuhan manis itu. Semua tiba-tiba
lenyap tanpa bekas, hanya meninggalkan jejak menyakitkan yang tidak akan pernah
Vio lupakan. Selamanya, laki-laki itu akan selalu ia ingat sebagai laki-laki
pertama yang menyakiti dan merusaknya.
Tapi Vio tahu, ini
semacam teguran halus dari Sang Maha Pembolak-balik Hati. Ia sering
mempermainkan perasaan laki-laki yang mendekatinya. Ia selalu menolak perasaan
mereka dengan sejuta alasan. Karena memang prinsipnya, rasa nyaman tidak bisa
dipaksakan. Kini, ketika Vio sudah berhasil menggugah perasaan nyaman juga
sayang, hanya ampas yang ia kenang. Ketika laki-laki itu yang pada suatu malam
menggegam erat kedua tangannya sembari meminta untuk membuka hatinya, entah
untuk siapa, justru laki-laki itu pula yang mematahkan hatinya ketika Vio telah
memberikan setengah celah hatinya.
Ia benci laki-laki itu.
Ia membencinya. Tapi ia tidak semudah itu menghilangkan perasaan sayangnya. Teorinya
sekali lagi berfatwa bahwa orang yang
tidak mudah jatuh cinta berarti orang yang tidak mudah melupakan. Meski dengan
dibumbuhi emosi ia menuliskan dalam surat elektroniknya bahwa ia akan dengan
mudah menghapus perasaan sayangnya, tapi ia yakin akan butuh banyak waktu untuk
menjalaninya. Baginya, jatuh cinta lalu melupakan bukan hal semudah ia
menghabiskan seloyang coklat cair kegemarannya. Semua butuh proses yang entah
akan berakhir kapan. Yang ia tahu, ia hanya kecewa dengan laki-laki itu. Pada waktu
bersamaan, berapa laki-laki yang ia tolak dan hindari hanya untuk memantapkan
perasaan sayangnya pada laki-laki itu? Bahkan setelah laki-laki itu gencar menyebutkan
nama gadisnya di media sosial, Vio justru baru menolak laki-laki mapan dan
dewasa yang bermaksud memperistrinya. Kurang gila apa gadis yang tidak mau
berkompromi dengan hati ini?
Entah dan hanya akan ada
entah yang tersisa. Vio benci jika harus membicarakan masalah hati. Untuknya,
hati itu rumit. Otak dan hati tidak pernah berjalan bergandengan menuju satu
tujuan. Mereka selalu menjadi musuh satu sama lain. Saat ini yang ia tahu, ia
hanya kecewa.
Yang ia ingin lakukan
hanya ia ingin segera jatuh cinta dan menemukan penyembuh hati robotnya. Hanya itu.
Ia ingin bisa jatuh cinta dengan laki-laki yang ‘tidak sekedar menyayanginya’.
Aucun commentaire:
Enregistrer un commentaire