Tonight, when I opened my eyes, I saw his shadow in front of me. Maybe some hours ago, with a nice bluse he saw me...
How I was happy... since that lovely journey, I haven't met him again. If I can say the over something, I truly miss him. So much. I wanna meet him. I wanna see his eyes. And more, I wanna talk to him. Talk as friend,of course...
And at about six p.m, when I prayed together, I closed my eyes and I wished for saw him soon. And Yes I got it. I was surprised. When I opened my eyes, I saw him. I saw his face.
My imagination comes again. I wanna be his close person. he's my motivator for me to keep my life here. I won't to move anymore, maybe because of him.
God, at this time I just wanna him. I wanna him. Become my close person and give me much support to keep my life here and continue all of my dreams...
Oh God ....
Keep my heart for a true person ...
For him ...
Here, I am
lundi, janvier 28, 2013
mercredi, janvier 23, 2013
Lelaki ku ...
Masih
ternguiang begitu jelas tentang kisahku dimasa kecil. Ketika aku masih menjadi
tuan putri di rumah mungilku, tak bisa ku ungkapkan dengan kata begitu
memuncahnya kata bahagiaku. Semua rasa kasih sayang tertumpah hanya untukku. Hampir
tak ada tangis. Yang ada hanya tawa bahagia bersama kedua peri hidupku.
Tapi
setelah masa keemasan itu, aku juga pernah mengalami masa kepahitan dalam detik
hidupku. Merasa selalu berada dalam sebuah sangkar paling kecil dan tak bisa
terbang kemanapun aku ingin terang adalah secuil dari wajah hambarku saat itu. Selalu
harus memutar otak sekeras mungkin hanya untuk menginjakkan kaki di tanah lain
bersama yang lain. Juga yang kerap menjadi rutinitas melelahkan dan membosankan
yakni berkencan dengan tumpukan buku dan segenap kawannya tiap malan dalam
durasi yang tak bisa dibilang singkat. Dan, harus curi-curi waktu demi hiburan
tersederhana sekalipun.
Merasa
duniaku begitu biasa dan sempit juga membosankan. Lelaki ku itu kerap
menunjukkan sikap dan sifat possesifnya yang ku bilang berlebihan. Juga tak
jarang cemburu ketika teman lelakiku yang lain menampakkan wajahnya di depan
pintu rumah. Selalu menelponku ketika aku terlambat mengetuk pintu rumah. Dia bahkan
rela mengantar jemputku ke sekolah yang berjarak lebih dari lima kilo sekalipun
hanya demi sifat possesifnya itu. Rasa cemburunya itu kerap memunculkan sikap
diam kala ia memergoki aku duduk bersampingan dengan lelaki sebelah rumah.
Tapi,
kini aku telah beranjak dewasa. Gerbang kedewasaan telah terbuka lebar didepan
mataku. Kusadari, lelakiku itu sudah mulai merenggangkan otot-ototnya. Tak lagi
mencengkram kedua tanganku. Mulai meninggalkan sifat possesifnya yang
berlebihan. Perlahan mulai berani membuka sangkarku yang selama ini hampir
tertutup dengan sedikit celah bernapas.
Lelaki
ku itu telah berani melepas aku hingga ke kota orang. Telah berani melepas
dekapan eratnya selama ini. Tapi aku tahu, pasti lelaki ku itu selalu menanam kekhawatiran
tentangku. Ini pertama kali dalam hidupnya melepas gadisnya di pelataran orang
asing. Aku yakin, tiap malam ia selalu berucap serentetan doa salah satunya
menyebut namaku.
Masih
geli rasanya ketika pertama kalinya aku meninggalkan dia demi menggapai citaku.
Tiap malam ia selalu menelponku hanya sekedar berbasa-basi menanyakan kabar. Tak
cukup lima menit sepuluh menit ia puas mendengar suara manjaku, melainkan sejam
penuh ia mendengar celotehku dan juga seringkali ia melontarkan nasihat-nasihat
bijaknya.
Dan
ketika kembali ku ingat perjuangan lelaki ku itu demi hidup dan citaku, untaian
air mataku tanpa ku minta berjatuhan dengan membayangkan wajah yang begitu
tampan untukku. Tanpa bergeming, ia dengan sabarnya menemani dan mengawalku
melalui perjalanan panjang dari kota kelahiranku menuju kota dimana aku kini
ada. Ia yang sebenarnya paling tak suka menunggu, kala itu dengan sabarnya
menungguiku mengantri mengurus segala keperluan kuliahku. Ia sangat mau ketika
berjalan bersebelahan denganku lalu menggandeng tanganku ketika menyusuri
jalanan yang mulai direbut para pengendara kendaraan.
Hingga
sekarang. Ia adalah orang yang paling tidak tega ketika aku tak memiliki
apa-apa di kota orang. Ia tak keberatan jika aku menghabiskan uangku demi
makanan. Karena ia faham, aku tak bisa mengunyah ilmu jika belum mengunyah
makanan dimalam hari. Sekali lagi, lelaki ku itu rela melakukan apapun demi
gadisnya ini.
Meski
terkadang aku kesal dan marah, tapi aku tak pernah membencinya. Selalu cinta
yang besar yang ku miliki ku suguhkan untuknya. Untuk lelaki terhebatku yang ku
panggil AYAH.
Takkan
ada lelaki yang bisa menandingi kehebatan dan ketulusanmu ...
Karena
kau akan tetap jadi lelaki ku hingga bumi ini menggulung mengecil ...
Meski
pada waktunya tiba nanti aku akan menemukan lelaki lain yang menggantikan
posisi muliamu, tapi kedudukanmu dihatiku takkan pernah tergeser apalagi
terganti.
Ayah,
aku begitu mencintaimu ...
mardi, janvier 08, 2013
Kisah Sang Kumbang dan Si Lebah ... (Part I)
Suatu masa,seekor lebah jatuh hati
Pada seekor kumbang ia menelurkan cintanya
Tapi si lebah terlalu takut
Ia pendam semanis madunya
Ia bungkam bersama sayapnya
Hingga pada masa selanjutnya,
sang kumbang terbang menujunya
Si lebah menawarkan senyum
namun tiba-tiba kesedihan menapak
Dan selanjutnya tangis pecah membara
Sang kumbang mengulur pintanya
Pinta mencumbu lebah lain
Pinta berkasih dengan lebah lain
Dan pinta terbang bersama sayap yang lain
Sebenarnya,
Sebelah sayap si lebah telah patah
Bukan tak mau,tapi tak sanggup untuk terbang
Madunya tak lagi semanis kisahnya
Dengungnya tak lagi mengusik alam
Meski ...
Akhirnya memecah tangis dalam anggukan
Tak lain demi mengibarkan sayap gagah sang kumbang
Ia rela mematahkan sayapnya ...
mardi, janvier 01, 2013
Bienvenue 2013 ...
Selamat datang tahun baru 2013. Setidaknya itu yang bisa aku ucapkan kala aku terbangun dari tidurku sejenak ketika telingaku menangkap riuhnya letusan kembang api sana-sini ditambah dengan teriakan cewe-cewe. Melihat jam, ternyata aku telah terlelap selama tiga jam dan bangun kembali ketika letusan kembang api menembus telingaku. Bergegas aku menaiki tangga dan ternyata banyak teman-temanku yang sudah stand by di pelataran tanpa atap itu untuk menyaksikan pesta kembang api tepat tengah malam ketika pergantian tahun.
Dalam remang-remang cahaya tengah malam, aku menyaksikan pertunjukan kembang api meskipun tak secara langsung. Perasaanku ikut larut dalam dentuman kembang api yang menandakan tahun 2013 telah datang. Perasaan senang dan sedih perlahan menyusup. Senang karena aku masih membuaka mata untuk menyaksikan datangnya tahun yang baru. Senang karena aku masih diberikan kesempatan menghirup udara. Tapi sedih. Sedih karena aku tak bisa turun dan melangkahkan kaki menikmati pergantian tahun secara langsung dan berteriak sekencang-kencangnya. Memang bukan suaatu keharusan. Tapi aku ingin menikmati momen itu. Aku ingin merasakan hiruk riuhnya sebuah kehidupan yang tak terkekang...
Lagi-lagi jika mengingat keberadaanku, seolah aku ingin menjudge semua ini tidak adil. Melalui lembutnya mereka, aku diarak menuju tempat yang mengepung inginku. Lagi dan lagi rasa tidak terima itu kembali muncul entah untuk kesekian kalinya. Menahan dan hanya menahan yang aku lakukan ...
Tapi tentang 2013. Tentu aku berharap tahun ini aku bisa menggenggam semua yang lebih baik. Aku harap apa yang tengah aku jadikan beban saat ini pelan tapi pasti mulai menemukan jalan terangnya dan anganku bisa di lampu hijaukan ibundaku.
Sebuah revolusi sudah mulai aku coba canangkan ditahun ini. Sebuah planning untuk nafasku kedepannya. Mencoba suatu perubahan. Berubah mulai dari rohani yang terlebih dulu aku soroti. Bahwa aku ingin meningkatkan apa yang memang sudah seharusnya aku tingkatkan selama ini. Juga, semakin mengabdikan diri pada orang-oraang yang secara tak langsung megabdikan diri demi hidupku.
Dan, satu hal lagi. Sedikit aneh. Pacar. Mulai untuk memberanikan diri memutuskan menjalin sebuah hubungan spesial dengan seseorang yang pastinya harus mendapatkan tempat istimewa dihatiku.
Yang terpenting, harus bisa meninggalkan kejelakan dan memposisikan kebaikan. Setidaknya itu pinta ku begitu aku mengawali bermunajah dini hari untuk pertama kalinya ditahun yang masih baru ini ...
Dan akhirnya, Au revoir 2012 et Bienvenue 2013 ...
Semoga kebahagiaan kian memelukku dan juga mereka ...
Inscription à :
Articles (Atom)


