Here, I am



mercredi, janvier 23, 2013

Lelaki ku ...


Masih ternguiang begitu jelas tentang kisahku dimasa kecil. Ketika aku masih menjadi tuan putri di rumah mungilku, tak bisa ku ungkapkan dengan kata begitu memuncahnya kata bahagiaku. Semua rasa kasih sayang tertumpah hanya untukku. Hampir tak ada tangis. Yang ada hanya tawa bahagia bersama kedua peri hidupku.
Tapi setelah masa keemasan itu, aku juga pernah mengalami masa kepahitan dalam detik hidupku. Merasa selalu berada dalam sebuah sangkar paling kecil dan tak bisa terbang kemanapun aku ingin terang adalah secuil dari wajah hambarku saat itu. Selalu harus memutar otak sekeras mungkin hanya untuk menginjakkan kaki di tanah lain bersama yang lain. Juga yang kerap menjadi rutinitas melelahkan dan membosankan yakni berkencan dengan tumpukan buku dan segenap kawannya tiap malan dalam durasi yang tak bisa dibilang singkat. Dan, harus curi-curi waktu demi hiburan tersederhana sekalipun.

Merasa duniaku begitu biasa dan sempit juga membosankan. Lelaki ku itu kerap menunjukkan sikap dan sifat possesifnya yang ku bilang berlebihan. Juga tak jarang cemburu ketika teman lelakiku yang lain menampakkan wajahnya di depan pintu rumah. Selalu menelponku ketika aku terlambat mengetuk pintu rumah. Dia bahkan rela mengantar jemputku ke sekolah yang berjarak lebih dari lima kilo sekalipun hanya demi sifat possesifnya itu. Rasa cemburunya itu kerap memunculkan sikap diam kala ia memergoki aku duduk bersampingan dengan lelaki sebelah rumah.

Tapi, kini aku telah beranjak dewasa. Gerbang kedewasaan telah terbuka lebar didepan mataku. Kusadari, lelakiku itu sudah mulai merenggangkan otot-ototnya. Tak lagi mencengkram kedua tanganku. Mulai meninggalkan sifat possesifnya yang berlebihan. Perlahan mulai berani membuka sangkarku yang selama ini hampir tertutup dengan sedikit celah bernapas.

Lelaki ku itu telah berani melepas aku hingga ke kota orang. Telah berani melepas dekapan eratnya selama ini. Tapi aku tahu, pasti lelaki ku itu selalu menanam kekhawatiran tentangku. Ini pertama kali dalam hidupnya melepas gadisnya di pelataran orang asing. Aku yakin, tiap malam ia selalu berucap serentetan doa salah satunya menyebut namaku.

Masih geli rasanya ketika pertama kalinya aku meninggalkan dia demi menggapai citaku. Tiap malam ia selalu menelponku hanya sekedar berbasa-basi menanyakan kabar. Tak cukup lima menit sepuluh menit ia puas mendengar suara manjaku, melainkan sejam penuh ia mendengar celotehku dan juga seringkali ia melontarkan nasihat-nasihat bijaknya.

Dan ketika kembali ku ingat perjuangan lelaki ku itu demi hidup dan citaku, untaian air mataku tanpa ku minta berjatuhan dengan membayangkan wajah yang begitu tampan untukku. Tanpa bergeming, ia dengan sabarnya menemani dan mengawalku melalui perjalanan panjang dari kota kelahiranku menuju kota dimana aku kini ada. Ia yang sebenarnya paling tak suka menunggu, kala itu dengan sabarnya menungguiku mengantri mengurus segala keperluan kuliahku. Ia sangat mau ketika berjalan bersebelahan denganku lalu menggandeng tanganku ketika menyusuri jalanan yang mulai direbut para pengendara kendaraan.

Hingga sekarang. Ia adalah orang yang paling tidak tega ketika aku tak memiliki apa-apa di kota orang. Ia tak keberatan jika aku menghabiskan uangku demi makanan. Karena ia faham, aku tak bisa mengunyah ilmu jika belum mengunyah makanan dimalam hari. Sekali lagi, lelaki ku itu rela melakukan apapun demi gadisnya ini.
Meski terkadang aku kesal dan marah, tapi aku tak pernah membencinya. Selalu cinta yang besar yang ku miliki ku suguhkan untuknya. Untuk lelaki terhebatku yang ku panggil AYAH.

Takkan ada lelaki yang bisa menandingi kehebatan dan ketulusanmu ...
Karena kau akan tetap jadi lelaki ku hingga bumi ini menggulung mengecil ...
Meski pada waktunya tiba nanti aku akan menemukan lelaki lain yang menggantikan posisi muliamu, tapi kedudukanmu dihatiku takkan pernah tergeser apalagi terganti.

Ayah, aku begitu mencintaimu ...















Aucun commentaire:

Enregistrer un commentaire