Masih
ternguiang begitu jelas tentang kisahku dimasa kecil. Ketika aku masih menjadi
tuan putri di rumah mungilku, tak bisa ku ungkapkan dengan kata begitu
memuncahnya kata bahagiaku. Semua rasa kasih sayang tertumpah hanya untukku. Hampir
tak ada tangis. Yang ada hanya tawa bahagia bersama kedua peri hidupku.
Tapi
setelah masa keemasan itu, aku juga pernah mengalami masa kepahitan dalam detik
hidupku. Merasa selalu berada dalam sebuah sangkar paling kecil dan tak bisa
terbang kemanapun aku ingin terang adalah secuil dari wajah hambarku saat itu. Selalu
harus memutar otak sekeras mungkin hanya untuk menginjakkan kaki di tanah lain
bersama yang lain. Juga yang kerap menjadi rutinitas melelahkan dan membosankan
yakni berkencan dengan tumpukan buku dan segenap kawannya tiap malan dalam
durasi yang tak bisa dibilang singkat. Dan, harus curi-curi waktu demi hiburan
tersederhana sekalipun.
Merasa
duniaku begitu biasa dan sempit juga membosankan. Lelaki ku itu kerap
menunjukkan sikap dan sifat possesifnya yang ku bilang berlebihan. Juga tak
jarang cemburu ketika teman lelakiku yang lain menampakkan wajahnya di depan
pintu rumah. Selalu menelponku ketika aku terlambat mengetuk pintu rumah. Dia bahkan
rela mengantar jemputku ke sekolah yang berjarak lebih dari lima kilo sekalipun
hanya demi sifat possesifnya itu. Rasa cemburunya itu kerap memunculkan sikap
diam kala ia memergoki aku duduk bersampingan dengan lelaki sebelah rumah.
Tapi,
kini aku telah beranjak dewasa. Gerbang kedewasaan telah terbuka lebar didepan
mataku. Kusadari, lelakiku itu sudah mulai merenggangkan otot-ototnya. Tak lagi
mencengkram kedua tanganku. Mulai meninggalkan sifat possesifnya yang
berlebihan. Perlahan mulai berani membuka sangkarku yang selama ini hampir
tertutup dengan sedikit celah bernapas.
Lelaki
ku itu telah berani melepas aku hingga ke kota orang. Telah berani melepas
dekapan eratnya selama ini. Tapi aku tahu, pasti lelaki ku itu selalu menanam kekhawatiran
tentangku. Ini pertama kali dalam hidupnya melepas gadisnya di pelataran orang
asing. Aku yakin, tiap malam ia selalu berucap serentetan doa salah satunya
menyebut namaku.
Masih
geli rasanya ketika pertama kalinya aku meninggalkan dia demi menggapai citaku.
Tiap malam ia selalu menelponku hanya sekedar berbasa-basi menanyakan kabar. Tak
cukup lima menit sepuluh menit ia puas mendengar suara manjaku, melainkan sejam
penuh ia mendengar celotehku dan juga seringkali ia melontarkan nasihat-nasihat
bijaknya.
Dan
ketika kembali ku ingat perjuangan lelaki ku itu demi hidup dan citaku, untaian
air mataku tanpa ku minta berjatuhan dengan membayangkan wajah yang begitu
tampan untukku. Tanpa bergeming, ia dengan sabarnya menemani dan mengawalku
melalui perjalanan panjang dari kota kelahiranku menuju kota dimana aku kini
ada. Ia yang sebenarnya paling tak suka menunggu, kala itu dengan sabarnya
menungguiku mengantri mengurus segala keperluan kuliahku. Ia sangat mau ketika
berjalan bersebelahan denganku lalu menggandeng tanganku ketika menyusuri
jalanan yang mulai direbut para pengendara kendaraan.
Hingga
sekarang. Ia adalah orang yang paling tidak tega ketika aku tak memiliki
apa-apa di kota orang. Ia tak keberatan jika aku menghabiskan uangku demi
makanan. Karena ia faham, aku tak bisa mengunyah ilmu jika belum mengunyah
makanan dimalam hari. Sekali lagi, lelaki ku itu rela melakukan apapun demi
gadisnya ini.
Meski
terkadang aku kesal dan marah, tapi aku tak pernah membencinya. Selalu cinta
yang besar yang ku miliki ku suguhkan untuknya. Untuk lelaki terhebatku yang ku
panggil AYAH.
Takkan
ada lelaki yang bisa menandingi kehebatan dan ketulusanmu ...
Karena
kau akan tetap jadi lelaki ku hingga bumi ini menggulung mengecil ...
Meski
pada waktunya tiba nanti aku akan menemukan lelaki lain yang menggantikan
posisi muliamu, tapi kedudukanmu dihatiku takkan pernah tergeser apalagi
terganti.
Ayah,
aku begitu mencintaimu ...

Aucun commentaire:
Enregistrer un commentaire