Here, I am



mercredi, juin 13, 2012

Sarasehan Bersama Putu Wijaya


Sejak beberapa tahun yang lalu, pikiran dan hidupku sudah ingin kudedikasikan untuk dunia sastra, kekagumanku kupatrikan untuk sajak sastra. Bagiku, sastra adalah sebuah seni yang terlalu indah, bagiku sastra adalah hidupku yang baru. Lewat sastra, aku bisa mencurahkan sedalam-dalamnya isi hatiku. Lewat sastra, aku bisa mengungkapkan suara hatiku yang mungkin tak bisa aku gemborkan secara nyata.

Meski aku belum banyak mengenal sebegitu banyak sastrawan-sastrawan nasional apalagi internasional, tetapi paling tidak ada hasrat dalam hatiku untuk menekuni dunia sastra secara mendalam. Aku menyukai puisi, aku menyukai novel, cerpen dan bahkan hikayat yang dianggap orang telah ketinggalan zaman pun, aku masih tetap menyukainya.

Dan sejak aku bermukim dikota inilah, aku mempunyai kesempatan yang lebih besar lagi untuk sesegera mungkin menemui deretan orang-orang hebat yang telah sekian banyak menelurkan karya-karyanya yang memukau.

Seorang Putu Wijaya. Seorang sastrawan Indonesia yang lahir di Puri Anom Tabanan,Bali pada 11 April 68 tahun silam itu telah banyak menorehkan karyanya dan menjadikannya seorang sastrawan yang cukup terkenal juga dikenal sebagai sastrawan yang serba bisa. Tak hanya jago merangkai kata-kata indah dalam puisi, beliau juga dikenal sebagai penulis drama,novel,essay, juga skenario film dan sinetron.

Dan beliau adalah sastrawan Indonesia kedua yang berhasil aku temui dan aku jabat tangannya. Sebelum bertemu seorang lelaki tinggi besar dan bertopi, Putu Wijaya, terlebih dahulu aku sudah berhasil bertemu kemudian berfoto sekaligus bersalaman dengan seorang sastrawan Indoenesia yang tak kalah hebatnya. Beliau adalah Rama Zawawi Imron.

Kembali ke Putu Wijaya. Hari Sabtu tertanggal 09 Juni 2012 bertempat di Hall Rektorat kampus tercintaku, sebuah acara dari fakultasku yang bertajuk tentang budaya menghadirkan seorang Putu Wijaya. Hanya dengan HTM 10.000 saja, aku bisa masuk ke Hall tersebut dan berhadapan langsung dengan beliau.

Begitu pertama aku melihat sosok sastrawan hebat itu, kedua mataku seketika langsung memusatkan pandangan ke seorang lelaki bertopi dengan style yang tetap masa kini meski menilik usianya yang memang sudah tak muda lagi.

Dengan ramah dan suara yang agak pelan, beliau mulai mengeluarkan kata-kata. Mataku hampir tak berkedip dibuatnya. Beliau mengatakan satu kalimat yang meneduhkan hati. Beliau ambil dari perkataan kakak iparnya ...

“ kita boleh berkeinginan apapun , boleh bermimpi setinggi apapun untuk kebaikan kita nantinya, akan tetapi apapun yang akan terjadi pada diri kita nantinya, itulah yang terbaik”
Banyak ungkapan-ungakpan khas seorang sastrawan yang beliau suguhkan kepada kami yang terus memusatkan pandangan hanya untuk beliau. Tak jarang, riuhnya tepuk tangan penonton terdengar menggelegar meramaikan ruangan.

Beliau juga terus dan terus menyuntikkan kata-kata berbumbu motivasi yang tak lupa dikombinasikan dengan indahnya bahasa sastra..
“ Dalam satu menit, seluruh formula kita bisa dibalik oleh sesuatu yang sebelumnya kita tidak tahu”
Ataupun memberi sebuah kalimat khusus untuk kami-kami yang merasa hidup begitu didekap masalah.
“ Konflik  adalah sebuah dialek kehidupan karena tanpa adanya konflik, kita tidak akan menemukan sesuatu yang baru”

Dalam pertemuan itu, materi yang beliau utarakan adalah tentang kondisi bangsa Indonesia yang kian terpuruk saja karena mulai punahnya kebudayaan kita.

Beliau juga sedikit menyinggung dan menjunjung adanya Fakultas dimana aku saat ini menimba ilmu.
“ Syukurlah ada Fakultas Ilmu Budaya ini, kalau tidak ada, Indonesia akan bertengkar terus karena Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas dan kompetitif namun juga berbudaya”
Kemudian, pertemuan singkat namun mengesankan itu, beliau tutup dengan sebuah kalimat yang langsung menyelubung dalam benakku.

“ Berubah itu tidak berarti berkhianat. Berubah untuk sebuah perubahan positif itu mutlak dilakukan “
Itulah sepenggal saja kalimat-kalimat yang paling berkesan dari seorang Putu Wijaya beberapa hari yang lalu. Senang sekali rasanya aku bisa bertemu,bersalaman lalu mengabadikannya dalam sebuah bingkai foto bersamanya.

Dalam hati, aku sangat yakin bahwa suatu hari nanti aku akan kembali bertemu dengan sastrawan-sastrawan lainnya. Aku yakin akan mengorek ilmu sastra langsung dari Sang Empunya.
Aku yakin, sastra adalah hidupku...

Karena lewat sastra, aku bernyanyi dengan indahnya.....






samedi, juin 09, 2012

Biola Itu.....



Biola itu menjadi awal tumbuhnya sebuah benih cinta yang terus berkembang dan entah kapan akan layu...
Biola itu menjadi magnet yang berhasil menarikku..
Biola itu menjadi pupuk yang mengembangkan hatiku...
Dan biola itulah yang telah membawaku kepada seseorang.....
Pemilik biola itu....
Pemilik biola itu adalah seseorang yang memang kuimpikan sejak dulu...seseorang yang mampu gelorakan jiwaku...seseorang yang mampu menggetarkan hatiku dengan gesekan biolanya..seseorang yang telah membuatku jatuh cinta kepadanya...
Aku menyukai alunan suara biola yang anggun dan merdu... aku menyukai bodi biola yang elegan namun meyakinkan..aku menyukai riuhnya yang membawa kebahagiaan...
Dan pada akhirnya aku tak hanya menyukai biola itu tapi kini hatiku berlabuh tepat di pelabuhan milik pemilik biola itu....
Dia begitu indah..dia begitu memukau...dia begitu berbeda..dia begitu mempesona..
Wajahnya yang tentram dan damai menyiratkan raut kepintaran berkolaborasi kewibawaan pada setiap guratan wajah tampannya..
Langkahnya yang cepat dan pasti,juga tak ketinggalan senyum kecil yang mengundang kegaguman selalu menghiasi hari-harinya...
Penampilan yang sangat apik dan berwibawa selalu membingkai tubuhnya dalam keseharian... sebuah tas biola memeluk punggungnya kemanapun ia melangkah...
Sungguh dia begitu indah.... decakan penuh rasa kagum selalu kutorehkan untuknya.... angka 100 tak cukup untuk menilainya...
Tapi,,sayang..sangat amat disayangkan..
Disaat aku sudah menemukan seseorang yang sempurna dimataku,,sesuatu telah menghapus semuanya..membinasakan angka kesempurnaan yang kusuguhkan hanya untuknya..
Menghancurkan semua asa yang telah kurangkai indah dalam angan tanpa nyataku....
Satu tembok amat besar telah membatasi rasa yang kurasakan saat ini,,hampir meniadakan angan sempurna bak orang paling beruntung di dunia ini...
Semua itu hampir musnah seiring suatu kesadaran nyataku menggembor-gemborkan bahwa aku dan dia sampai kapanpun takkan pernah bisa disatukan dalam ikatan suci..
Sekali lagi hatiku selalu mengingatkanku bahwa dia dan aku tak sama sampai kapanpun...
Keyakinan itu menghalangi cintaku....
Dia tak sama denganku...dia bukan dari kalangan yang satu tujuan denganku.
Tak seharusnya aku melabuhkan cintaku untuknya..tak semestinya perasaan ini kujatuhkan di pelabuhan nya...
Tak sebaiknya aku jatuh cinta dengannya..
Mencoba melupakan,tapi begitu sulit karena dia begitu indah diciptakan untuk hadir dalam hidupku.
Dia begitu sempurna dimataku... dia berbeda dari semua orang yang kutemui..dia adalah sosok yang memang kucari selama ini...
Dia mencakup semua aspek yang memang kuinginkan dari seorang lelaki..
Namun sayang sungguh amat disayangkan aku takkan mungkin bersanding memenangkan hatinya dan tersenyum penuh derai bahagia...
Aku tak mungkin berada disampingnya untuk selalu menemaninya..
Itu hanyalah khayal yang penuh imaji belaka...
Sungguh takkan mungkin...
Aku memejamkan kedua mataku untuk menanti sebuah keajaiban indah pada suatu hari nanti...
Andai perbedaan itu musnah dengan akhir senyuman abadi diujung penantianku...

Dedicated : someone in my dreams,, but he was lost in my mind.... and my hope still for him...

lundi, juin 04, 2012

It's Amazing

Sabtu, 02 Juni 2012 adalah salah satu hari bersejarah dalam hidupku. pada tanggal itu, ayahku telah memasuki gerbang usai yang baru. Ya. beliau telah menggenapkan usianya tertanggal 03 Juni kemaren. Meski aku tidak bisa mencium tanganya lalu dengan urai air mata aku mengatakan "selamat ulang tahun ayahku tercinta" tetapi paling tidak beliau tahu bahwa putrinya disini selalu menengadahkan kedua tangannya mendoakan semua yang terbaik untuknya.
sedih memang hanya bisa mengucapkan via sms, tapi aku bersyukur aku masih tetap bisa mengingat hari jadinya yang tak pernah dirayakan itu. selamat ulang tahun ayahandaku tercinta. putrimu disini akan selalu berdoa yang terbaik untukmu dan meminta Allah untuk selalu memudakan usiamu.
tak hanya itu, hari itu ternyata sebuah kebahagiaan yang tak terduga terduga menghampiriku. pagi itu, aku bergegas menuju sebuah Universitas di kota tempatku merajut hidup saat ini. dengan salah satu sponsor dari perusahaan yang terkenal, sebuah workshop itu digelar dengan meriahnya. aku bisa bertemu dengan sejumlah sutradara-sutradara hebat yang telah lalu lalang di dunia per film-an.
mereka dengan ciri khasnya menyebarkan berbagai ilmu pada semua yang datang. semua dibuat takjub dengan kelihaian yang mereka miliki.
dan momen yang paling aku tunggu pun akhirnya tiba juga. dihampir penghujung acara, dua orang idolaku didunia film mulai menampakan hidungnya setelah cukup lama semua menantikan sosok mereka. adalah seorang aktor laga yang sangat profesional bernama Doni Alamsyah dan seorang aktris berbakat Prisia Nasution. mereka muncul begitu sesi shooting akan dimulai.
pada sesi shooting itu, semua crew akan melakukan shooting indie movie langsung dengan kedua pemain itu dan kemudian juga langsung dilakukan editing dan selanjutnya akan dipertontonkan bersama dipenghujung acara.
proses shooting nya pun dimulai. semua terlihat memusatkan pandangan pada kedua aktor dan aktris itu yangs sedang melakukan adegan shooting. terlihat mereka begitu profesional melakoninnya.
dan riuh suara tepuk tangan dari semua kalangan yang hadir mengakhiri proses shooting tersebut. semua terkesima dan takjub. terlebih aku yang baru kali pertama itu menyaksikan proses shooting secara langsung tak jauh dari tempat dudukku.
usai acara selesai, aku dengan langkah yang secepat mungkin menerobos kerumunan yang lain, hanya mengarahkan tujuan pada sebuah backdrop yang terlihat sebuah gambar cukup besar seorang Doni Alamsyah. aktor keren itu sudah dikerumuni penggemarnya yang mangantri untuk berfoto dan menjabat tangannya. tak mau ketinggalan, aku pun segera mendesal sana-sini untuk mencapai posisi paling depan dan selanjutnya memberanikan diri mendekati sang idola yang siap berdiri untuk selanjutnya berfoto bersamanya. dan tak keitnggalan pula sebuah jabat tangan telah berhaasil aku dapatkan. 
betapa senangnya aku pada saat itu. bisa bertemu dengan idola yang memang dari dulu aku idolakan bahkan bisa berfoto dan menjabat tanganya yang kekar? it's amazing. kalau pun memang banyak orang yang mencibir tingkahku ini terlalu berlebihan, toh aku percaya bahwa kesempatan ini tak sembarang orang bisa dengan gampang mnadapatkannya. tak semua orang yang beruntung bisa mendapatkan kesempatan untuk bertemu langsung dengan idolanya.
yang jelas hari itu, aku bisa tersenyum puas, AKU BISA BERTEMU DENGAN SALAH SATU IDOLAKU!
dan dalam hati, aku mempunyai keyakinan bahwa suatu saat nanti aku akan bertemu dengan orang-orang hebat lainnya yang akan menyalurkan ilmunya untukku...
sebuah rasa optimisme muncul sekelebat lalu kupastikan rasa itu akan mulai mendiami kedalaman hatiku...