Meski aku belum
banyak mengenal sebegitu banyak sastrawan-sastrawan nasional apalagi
internasional, tetapi paling tidak ada hasrat dalam hatiku untuk menekuni dunia
sastra secara mendalam. Aku menyukai puisi, aku menyukai novel, cerpen dan
bahkan hikayat yang dianggap orang telah ketinggalan zaman pun, aku masih tetap
menyukainya.
Dan sejak aku
bermukim dikota inilah, aku mempunyai kesempatan yang lebih besar lagi untuk
sesegera mungkin menemui deretan orang-orang hebat yang telah sekian banyak
menelurkan karya-karyanya yang memukau.
Seorang Putu Wijaya.
Seorang sastrawan Indonesia yang lahir di Puri Anom Tabanan,Bali pada 11 April
68 tahun silam itu telah banyak menorehkan karyanya dan menjadikannya seorang
sastrawan yang cukup terkenal juga dikenal sebagai sastrawan yang serba bisa.
Tak hanya jago merangkai kata-kata indah dalam puisi, beliau juga dikenal
sebagai penulis drama,novel,essay, juga skenario film dan sinetron.
Dan beliau adalah
sastrawan Indonesia kedua yang berhasil aku temui dan aku jabat tangannya.
Sebelum bertemu seorang lelaki tinggi besar dan bertopi, Putu Wijaya, terlebih
dahulu aku sudah berhasil bertemu kemudian berfoto sekaligus bersalaman dengan
seorang sastrawan Indoenesia yang tak kalah hebatnya. Beliau adalah Rama Zawawi
Imron.
Kembali ke Putu
Wijaya. Hari Sabtu tertanggal 09 Juni 2012 bertempat di Hall Rektorat kampus
tercintaku, sebuah acara dari fakultasku yang bertajuk tentang budaya
menghadirkan seorang Putu Wijaya. Hanya dengan HTM 10.000 saja, aku bisa masuk
ke Hall tersebut dan berhadapan langsung dengan beliau.
Begitu pertama aku
melihat sosok sastrawan hebat itu, kedua mataku seketika langsung memusatkan
pandangan ke seorang lelaki bertopi dengan style yang tetap masa kini meski
menilik usianya yang memang sudah tak muda lagi.
Dengan ramah dan
suara yang agak pelan, beliau mulai mengeluarkan kata-kata. Mataku hampir tak
berkedip dibuatnya. Beliau mengatakan satu kalimat yang meneduhkan hati. Beliau
ambil dari perkataan kakak iparnya ...
“ kita boleh
berkeinginan apapun , boleh bermimpi setinggi apapun untuk kebaikan kita nantinya,
akan tetapi apapun yang akan terjadi pada diri kita nantinya, itulah yang
terbaik”
Banyak
ungkapan-ungakpan khas seorang sastrawan yang beliau suguhkan kepada kami yang
terus memusatkan pandangan hanya untuk beliau. Tak jarang, riuhnya tepuk tangan
penonton terdengar menggelegar meramaikan ruangan.
Beliau juga terus
dan terus menyuntikkan kata-kata berbumbu motivasi yang tak lupa dikombinasikan
dengan indahnya bahasa sastra..
“ Dalam satu menit,
seluruh formula kita bisa dibalik oleh sesuatu yang sebelumnya kita tidak tahu”
Ataupun memberi
sebuah kalimat khusus untuk kami-kami yang merasa hidup begitu didekap masalah.
“ Konflik adalah sebuah dialek kehidupan karena tanpa
adanya konflik, kita tidak akan menemukan sesuatu yang baru”
Dalam pertemuan itu,
materi yang beliau utarakan adalah tentang kondisi bangsa Indonesia yang kian
terpuruk saja karena mulai punahnya kebudayaan kita.
Beliau juga sedikit
menyinggung dan menjunjung adanya Fakultas dimana aku saat ini menimba ilmu.
“ Syukurlah ada
Fakultas Ilmu Budaya ini, kalau tidak ada, Indonesia akan bertengkar terus
karena Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas dan kompetitif
namun juga berbudaya”
Kemudian, pertemuan
singkat namun mengesankan itu, beliau tutup dengan sebuah kalimat yang langsung
menyelubung dalam benakku.
“ Berubah itu tidak
berarti berkhianat. Berubah untuk sebuah perubahan positif itu mutlak dilakukan
“
Itulah sepenggal
saja kalimat-kalimat yang paling berkesan dari seorang Putu Wijaya beberapa
hari yang lalu. Senang sekali rasanya aku bisa bertemu,bersalaman lalu
mengabadikannya dalam sebuah bingkai foto bersamanya.
Dalam hati, aku
sangat yakin bahwa suatu hari nanti aku akan kembali bertemu dengan
sastrawan-sastrawan lainnya. Aku yakin akan mengorek ilmu sastra langsung dari
Sang Empunya.
Aku yakin, sastra
adalah hidupku...
Karena lewat sastra,
aku bernyanyi dengan indahnya.....