Here, I am



dimanche, juillet 12, 2015

Robotic ...

(Random short story I ever made, yang saya tahu saya hanya ingin menulis kisah ini)

Vio terus saja berpikir. Memutar otaknya, memainkan jemarinya, mondar-mandir menimbulkan suara hentak kaki, menggigit bibir pula memasang wajah serius. Mungkin sedang fokus pada skripsi, begitu batin teman-temannya. Berulang menarikan sepuluh jarinya di atas keyboard yang  menimbulkan suara agak berisik, dan tak jarang pula terdengar hembusan dengus kekesalan. Menyibak rambut panjangnya menjadi alibi penenangnya sendiri meskipun acap kali tak mujarab.

Bukan skripsi, bukan juga dunia perkuliahan yang sedang bergelantung sadis dalam otaknya. Tapi? Tapi … tapi tentang laki-laki lebih tepatnya. Mengucap ‘ini gila’ berkali-kali dalam hatinya karena bisa-bisanya ada laki-laki yang berani merobohkan pertahanan otak dan hatinya. Laki-laki macam apa itu? Laki-laki yang mengantongi angka seratus kah atau minimal Sembilan puluh sekian? Atau laki-laki yang pas tuntas dengan deretan kriteria paten seorang Vio? Sepertinya bukan, dan memang bukan. Bukan laki-laki berkategori seratus, bahkan banyak menyimpang dari kriteria dan rentetan teori antah berantahnya.

“Dia pasti udah sayang sama cewe lain, bukan sayang lagi, udah jadian malah. Kok bisa? Cepet banget gitu? Anj*r aku dikibulin gitu?” keluhnya entah kepada siapa ia mengeluhkan. Laptop menyala yang sedari tadi hanya membatu menatapnya? Atau kasur yang begitu pasrah ia tiduri?
“Tapi kan baru kemaren-kemaren dia bilang sayang? Dih, pasti cuman sayang di mulut doang.” Tambahnya makin berpikir keras.

Laki-laki yang bukan tipenya itu ajaib membuat seorang Vio ‘dipaksa’ memikirkan kenapa belakangan laki-laki ini berubah. Baiklah, Vio harus mengakui bahwa akhir-akhir ini ia sedang tertuju pada seseorang. Teman kelas yang tak pernah ia bayangkan akan sedekat ini. Dekat? Sebelumnya ia tak pernah merasa sedekat ini dengan laki-laki. Akhir-akhir ini ia sering menghabiskan sepenggal waktu bersama laki-laki yang sama sekali gagal menjadi laki-laki idaman Vio. Tapi kenapa tidak? Vio adalah seseorang yang membahas cinta melalui hati. Baginya, hati tidak bisa direncanakan untuk berlabuh kemana. Begitu pula dengan rasa nyaman. Untuknya, begitu sulit untuk merasa sekedar nyaman yang benar-benar nyaman dengan seseorang. Baginya pula, bukan tentang masalah waktu. Bukan berarti yang sudah sekian lama mendekatinya, berhak mendapat kenyamanan dari gadis ‘gila’ satu ini. Lihat saja, ia baru saja dekat dengan laki-laki ini tapi sudah mendapat rasa nyaman yang entah ia akui belum pernah ia rasakan.

Laki-laki yang Vio sendiri juga tak bisa menggambarkannya seperti apa. Yang jelas sama sekali bukan kriterianya. Seorang laki-laki yang puitis, mencintai dunia menulis, dekat dengan alat bernama gitar, bukan laki-laki yang tegas, tidak begitu pintar dalam perkuliahan tapi lumayan mengantongi pengetahuan umum yang luas, dan yang paling menggelikan adalah brondong. Baiklah, itu adalah beberapa daftar dari laki-laki yang tidak disukai Vio. But see what? Ia merasa senang ketika laki-laki itu pernah mengucap sekilas sayang padanya. Pada malam itu, laki-laki itu mengatakan saat ini hanya nyaman dengannya dan dari nyaman itulah rasa sayang mulai mengikuti.

“Karena perasaan nyaman semua ini bisa terjadi. Dan dari perasaan nyaman itu ada rasa sayang. Tapi mungkin rasa sayangku belum sampai ke rasa cinta. Perasaanku belum kuat sama seperti kuatnya perasaan si dia.”

Kalimat dari laki-laki itu masih terngiang di kepala Vio. Entah tersenggol setan dari mana, ia merasa senang mendapat pengakuan ‘sekedar sayang’ dari laki-laki itu. Padahal biasanya, ia mendadak ilfeel jika laki-laki sok mengatakan sayang di depannya. Tapi kali ini?

“Kamu nyaman dan sayang sama siapa lagi sekarang?” Tanya Vio
“Ehmm, ga ada sih cuma kamu aja saat ini sayangnya.”
“ Adik tingkat itu?”
“ Dulu sempet suka tapi kayaknya dia udah punya pacar atau entahlah apa itu, sekarang udah biasa aja.”

Hanya itu poin pembicaraan yang selalu Vio ingat dari malam itu. Pembicaraan yang seketika memberanikan Vio untuk mengirimi sebuah surat elektronik pada laki-laki itu malam ini juga. Ia tidak betah dihindari seseorang. Dan sedetik kemudian, dengan cepat jemarinya mengetik sekian banyak huruf dan mulai merangkai kata-kata sebagai perwakilan perasaannya. Dan Hei, ia menuliskan ‘aku sayang kamu’ dalam rangkaian banyak katanya. Sejak kapan ia berani mengatakan kalimat sakral dalam hidupnya itu? Sakral? ‘aku cinta kamu’, ‘aku sayang kamu’, ‘aku kangen kamu’ adalah deretan kalimat sakral dalam kamus pribadinya. Ia belum pernah mengucapkannya pada laki-laki manapun sebelumnya? Lalu saat ini? Entahlah, ia tak mengikut sertakan otaknya untuk bekerja kali ini. Yang ia turuti hanya nasihat hati yang mengatakan ‘katakan apa yang ingin kamu katakan’. Jika laki-laki itu tidak pernah mengatakan ‘sayang’ padanya, ia pun tak akan seberani ini mengakui perasaannya. Ini sama halnya dengan ia dipancing.

Setelah berhasil menekan tanda ‘send’, sekian menit setelahnya ia mendapat balasan. Membaca paragraf pertama hingga beberapa paragraf selanjutnya, ia merasa senang, sangat senang. Laki-laki itu mengatakan ia memang sayang Vio. Dua alasan pertama laki-laki itu menghindarinya adalah mengalah karena ada orang lain yang lebih ‘mengejar’ Vio dan alasan kedua adalah menjaga perasaan Vio agar tidak lagi sakit hati karena kelakuan mantan pacar si laki-laki. Oke, alasan yang masuk akal meski sulit dicerna untuk ukuran kepala Vio yang menginginkan segalanya realistis. Memasuki alasan yang ketiga, Vio diam seketika. Perasaan marah pelan-pelan menyusup lembut menampilkan guratan kekecewaan. Ia jatuh cinta dengan gadis lain meski gadis itu sudah punya pacar. Pikiran Vio seketika tertuju pada adik kelas yang pernah mereka bicarakan malam itu. Bukankah ia mengatakan hanya nyaman dengan aku? Perasaan dengan adik tingkat itu adalah perasaan kemarin? Begitu pertanyaan yang menohok hatinya. Lalu apa ini?

Tanpa pikir panjang, ia segera menulis surat balasan. Yang intinya sebuah pertanyaan yang ia inginkan jawabannya.

Jadi intinya, waktu kamu ngomong sayang sebenernya kamu udah duluan dan masih sayang plus cinta sama si cewe itu kan ya? Trus buat apa ngomong begitu?

Lima menit, lima belas menit setelah mengirim, nihil tidak ada balasan lagi. Oke, otaknya masih berusaha mencerna alur cerita yang sudah lebih dulu terjadi.

Esoknya, suasana canggung mulai terbangun. Meskipun dalam surat itu pula, sama-sama sepakat untuk tetap saling menyapa, tapi bagi Vio tidak mudah menyapa laki-laki seperti itu. Hari pertama, mereka masih bertegur sapa meski atmosfer super canggung benar-benar tercipta. Hari-hari selanjutnya, Vio mulai malas disusul geram untuk sekedar menyapanya.

Tak lama setelah berkirim surat, Vio mendapati laki-laki itu berpacaran dengan adik tingkat yang dimaksud. Tepat sasaran! Bahkan semakin hari, laki-laki itu sudah mulai mempublikasikan hubungan mereka. Baginya, siapapun gadis itu, cantik ataupun tidak, terkenal ataupun kuper, menarik ataupun cupu, Vio tidak akan pernah mau tahu. Ia tidak ada urusan dengan gadis itu, yang ia tahu ia sudah dipermainkan brondong br*ngsek.

Iya. Bahkan ia sudah berani memasukkan laki-laki itu dalam daftar cowo br*ngsek. Selama ini ia tidak pernah menyebutkan kata-kata itu, tapi kali ini hatinya sudah marah, lebih tepatnya kecewa. Terlebih karena ia sadar, laki-laki itu sudah mendapatkan apa yang tidak bisa didapat laki-laki lain dari dirinya.

Semua terjadi sebegitu cepat. Proses hubungan dekat yang mesra, secuil perhatian yang mengagumkan, canda tawa singkat yang menenangkan, juga sentuhan manis itu. Semua tiba-tiba lenyap tanpa bekas, hanya meninggalkan jejak menyakitkan yang tidak akan pernah Vio lupakan. Selamanya, laki-laki itu akan selalu ia ingat sebagai laki-laki pertama yang menyakiti dan merusaknya.

Tapi Vio tahu, ini semacam teguran halus dari Sang Maha Pembolak-balik Hati. Ia sering mempermainkan perasaan laki-laki yang mendekatinya. Ia selalu menolak perasaan mereka dengan sejuta alasan. Karena memang prinsipnya, rasa nyaman tidak bisa dipaksakan. Kini, ketika Vio sudah berhasil menggugah perasaan nyaman juga sayang, hanya ampas yang ia kenang. Ketika laki-laki itu yang pada suatu malam menggegam erat kedua tangannya sembari meminta untuk membuka hatinya, entah untuk siapa, justru laki-laki itu pula yang mematahkan hatinya ketika Vio telah memberikan setengah celah hatinya.

Ia benci laki-laki itu. Ia membencinya. Tapi ia tidak semudah itu menghilangkan perasaan sayangnya. Teorinya sekali lagi berfatwa  bahwa orang yang tidak mudah jatuh cinta berarti orang yang tidak mudah melupakan. Meski dengan dibumbuhi emosi ia menuliskan dalam surat elektroniknya bahwa ia akan dengan mudah menghapus perasaan sayangnya, tapi ia yakin akan butuh banyak waktu untuk menjalaninya. Baginya, jatuh cinta lalu melupakan bukan hal semudah ia menghabiskan seloyang coklat cair kegemarannya. Semua butuh proses yang entah akan berakhir kapan. Yang ia tahu, ia hanya kecewa dengan laki-laki itu. Pada waktu bersamaan, berapa laki-laki yang ia tolak dan hindari hanya untuk memantapkan perasaan sayangnya pada laki-laki itu? Bahkan setelah laki-laki itu gencar menyebutkan nama gadisnya di media sosial, Vio justru baru menolak laki-laki mapan dan dewasa yang bermaksud memperistrinya. Kurang gila apa gadis yang tidak mau berkompromi dengan hati ini?

Entah dan hanya akan ada entah yang tersisa. Vio benci jika harus membicarakan masalah hati. Untuknya, hati itu rumit. Otak dan hati tidak pernah berjalan bergandengan menuju satu tujuan. Mereka selalu menjadi musuh satu sama lain. Saat ini yang ia tahu, ia hanya kecewa.


Yang ia ingin lakukan hanya ia ingin segera jatuh cinta dan menemukan penyembuh hati robotnya. Hanya itu. Ia ingin bisa jatuh cinta dengan laki-laki yang ‘tidak sekedar menyayanginya’.

Teori Antah Berantah

(Behind the Vio's life)

Menjadi cewe yang tidak mudah jatuh cinta itu bagai anugrah juga petaka. Anugrah yang berarti dia tidak harus pusing-pusing memikirkan cinta kacangan bernuansa picisan, tapi pula petaka dimana tidak mudah jatuh cinta berbanding lurus dengan tidak mudah melupakan. Iya itu salah satu teori dari deretan teori antah berantahnya Vio. Cewe yang lama-kelamaan semakin menyadari ada yang tidak beres dari dirinya. Tidak bisa jatuh cinta adalah hal yang dirinya claim sebagai sesuatu yang tidak beres. Ikut nimbrung bernafas di dunia ini selama 21 tahun diakuinya tidak ada satupun laki-laki yang bisa meluluh-lantahkan hatinya. Alhasil, meskipun sudah kepala dua, pacaran masih menjadi hal yang wajib ia pikirkan paling tidak sepuluh kali dalam sehari. Jangankan pacaran, mengatakan ‘aku sayang kamu’ yang sedang kekinian pun masih menjadi kalimat ter-ekstrem dalam hidpunya.
Dibesarkan dalam keluarga yang keras hasil didikan tegas orang tuanya, membuat seorang Vio tumbuh menjadi gadis yang luar biasa keras kepalanya. Keras kepala yang ia miliki menjalar ke hampir seluruh aspek kehidupannya. Mulai dari pendidikan hingga masalah perasaan. Asal tahu, gadis yang tak pernah bosan bertemu dengan coklat dalam bentuk apapun ini pernah membantah keras orang tuanya sambil menangis ala-ala drama Korea karena tidak terima jika harus pindah sekolah. Orang tua yang menginginkannya untuk pindah ke sekolah yang lebih terpercaya ditolaknya mentah-mentah dengan janji mati ia akan menjadi juara kelas di sekolah lamanya. Trik nya kali itu mujarab. Menjadi langganan juara kelas akhirnya memenangkan sayembara gadungan Vio dan orang tuanya. Sejak itu, ia menemukan dirinya menjelma sebagai gadis berkepala batu.
Tapi itu belum seberapa dibanding keras kepala perasaannya. Jika iya ya akan iya jika tidak ya selamanya tidak. Tapi dalam kasus percintaan, lebih banyak ‘tidak’ yang ia suarakan. Meskipun tidak pernah mencicipi yang orang sebut pacaran, tapi jangan salah, gebetannya bisa lebih dari satu dalam satu waktu. Tergolong playgirl? Tidak juga menurutnya. Ia hanya menjalani apa yang ada di depan matanya saja (itu alibinya). Dari semua gebetan yang ada, tidak ada satupun dari mereka yang berakhir dengan cintanya mulus diterima. Paling mentok mereka hanya akan menjadi sahabat atau kakak-adik zone.
Entah apa yang menjadi penyebabnya, jika menyinggung masalah hati dan jatuh cinta, ia akan menutupnya rapat-rapat. Juga karena ia mengakui ketidakberesannya selama ini, ia mendaftar sekian daftar mengenai perasaannya.
Tipe laki-laki idaman:
1.   Yang primer dan wajib dimiliki adalah laki-laki dengan iman yang kuat. Baginya, kalau imannya sudah kuat, maka kata-kata seperti komitmen, tanggung jawab, menjaga dan semua yang diinginkan wanita akan ada dengan sendirinya.
2.      Ada lima hal yang menjadi kriteria sekunder nya:
a.       Pecinta travelling. Karena Vio adalah seorang yang tergila-gila dengan sebuah perjalanan, maka baginya akan lebih indah jika ia bisa keliling Indonesia bersama dengan suaminya kelak.
b.   Pecinta wisata kuliner. Sejak makanan menjadi salah satu mood booster nya, ia gemar sekali menjelajah aneka tempat yang sekiranya menyediakan makanan-makanan yang belum pernah ia cicipi. Terbayang dalam benaknya, akan indah sekiranya ditengah perjalanan menyalurkan hobi jalan-jalannya, ia bisa menikmati semangkok makanan khas suatu daerah di depan laki-laki tercinta.
c.     Pecinta buku. Meskipun Vio adalah orang yang menurutnya ‘amburadul’ tak karuan, tapi ia begitu mencintai buku. Paling betah ‘ngadem’ di toko buku yang menyajikan musik mengalun indah, tapi kurang tertarik jika harus mengunjungi perpustakaan. Yang ia mau, laki-lakinya nanti juga mencintai buku sama seperti dirinya. Karena salah satu mimpinya adalah bangun pagi dengan sapaan rapi perpustakaan mini dalam kamar pribadinya.
d.  Pecinta anak kecil. Entah ke-ibu-an atau justru kekanak-kanakan, Vio sangat antusias berinteraksi dengan makhluk kecil lucu yang menggemaskan. Dimanapun dan kapanpun, ia tak segan melambaikan tangan atau sekedar iseng mencubit pipi anak kecil manapun yang ia anggap lucu (sering pula dipelototin mak-nya si anak). Tak jauh beda dengan dirinya, ia ingin laki-laki yang menaruh cinta dan perhatiannya kepada anak kecil. Menurutnya, laki-laki penyayang anak kecil adalah laki-laki yang bisa bertanggung jawab dan tidak memiliki minat dan bakat dalam  menyakiti.
e.    Pecinta kucing dan anjing. Kucing dan anjing adalah dua hewan yang paling ia cintai. Sama dengan jika bertemu dengan anak kecil, ia akan heboh kegirangan jika bersapaan dengan dua hewan mamalia itu. Pun, ia mengimpikan seseorang yang mencintai dua hewan paling menggemaskan dalam kamus hidupnya.
Masih belum cukup sampai disitu, berikut teori antah-berantah seorang Vio.
1.     Teori pertamanya, ia paling tidak suka dengan pertanyaan basa-basi ‘kamu lagi ngapain?’, pertanyaan kacangan yang baginya sudah buang-buang waktu.
2.    Yang kedua, ia anti brondong! Meskipun faktanya ia sering dekat dengan para brondong, tapi baginya meskipun ganteng, baik dan kriteria sempurna lainnya tapi kalau brondong, lebih baik tidak.
3.   Meskipun ia suka menulis, dan memang ia adalah seorang penulis novel abal-abal juga pecinta sastra, ia tidak suka dengan laki-laki yang juga gemar menulis dan sastra.
4.      Ia benci laki-laki romantis. Baginya romantis itu alay.
5.      Laki-laki yang pintar dan rapi akan menambah nilai super plus dimatanya.
6.      Benci laki-laki manja, gemar selfie, terlalu pencitraan.
7.   Laki-laki adalah mahluk yang mudah jatuh cinta sekaligus melupakan. mereka akan secepat kilat mencari pengganti.
8.      Laki-laki itu ‘habis manis sepah dibuang’. Mereka terkungkung nafsu sesaat.
9.   Baginya, jatuh cinta adalah hal sulit kedua setelah rumus matematika atau ilmu eksak lainnya.
10.  Ketika ia sudah jatuh cinta kelak, ia akan sulit untuk melupakan. Dibenaknya, melupakan orang yang kita sayang adalah hal sulit selanjutnya setelah jatuh cinta.
11.  Meski ia punya kriteria, ia percaya ‘love is blind’. Tidak menutup kemungkinan ia akan jatuh cinta dengan laki-laki yang jauh dari kriterianya.
12.  Ia sangat percaya ‘witing trisno jalaran soko kulino’ yang artinya munculnya cinta karena adanya kebersamaan yang terus-menerus, dan ia tidak percaya ‘love at first sight’.
13.  Sulit baginya pula untuk menceritakan sepenggal kisah hidupnya kepada laki-laki. Jika ia sudah menceritakannnya, berarti ia telah menaruh kepercayaan dan kenyamanan yang sesungguhnya pada laki-laki itu.
14.  Sekali kepercayaannya dihancurkan, ia tidak akan pernah percaya pada laki-laki itu lagi.
15. Ketika ia belum bisa nyaman, apapun yang dilakukan laki-laki itu akan selalu salah dimatanya.
16.  Tapi ketika ia telah jatuh cinta suatu saat nanti, tanpa diminta ia akan menerima laki-laki itu apa adanya.
17.  Jika telah jatuh cinta, kesetiannya akan mengiringi dengan sendirinya.
18.  Hatinya akan luluh jika diterpa perhatian dan perjuangan, hanya saja ia tidak tahu kapan akan luluh dan luluh yang berakhir seperti apa.
19.  Laki-laki kerap  mengumbar ‘sayang’ ke beberapa cewe dalam waktu bersamaan.
Beberapa kalimat sakral dalam kamus hidup seorang Vio:
1.      I love you, aku cinta kamu
2.      Aku sayang kamu
3.      Aku kangen kamu
4.      Cuma kamu dan akan tetap kamu.
5.      Aku butuh kamu
6.      Dan kalimat-kalimat senada lainnya.
kalimat-kalimat sakral yang tidak pernah Vio ucapkan kepada laki-laki manapun. Ia pun tidak akan seketika percaya ketika laki-laki manapun mengatakan kalimat-kalimat diatas, baginya semua yang diucapkan akan selalu butuh pembuktian. Jika suatu saat ia berani mengatakan kalimat sakral diatas entah pada siapapun yang ia pilih, dan laki-laki itu mengecewakannya, ia yakin tidak akan pernah mengulang kalimat yang pernah ia katakana lagi.
Begitulah, banyak teori gila seorang Vio yang menjadikannya seorang gadis robot yang sulit menjatuhkan hatinya.