Here, I am



lundi, avril 20, 2015

Memiliki. Hanya Itu Saja ...

Oke, disela-sela waktu kuliah pagi menjelang siang ini, nyempil di warnet pula, rasanya jemariku sudah gatal ingin menuangkan pikiranku. Kali ini mari berbicara tentang satu kata yang sering terdengar namun sakral untuk kuucapkan. Kata yang mewakili perasaan, apalagi jika bukan tentang cinta. Tentu, mari bercengkrama tentang cinta.

Cinta dan sayang. Dua hal semu sama namun beda. Setidaknya menurut kamus hidupku. Kamu bisa memberikan rasa sayang kepada semua orang, namun tidak dengan cinta. Cinta. Satu kata banyak makna. Cinta. Satu kata beribu ungkapan. Cinta. Satu kata penyimpan sejuta asa. Itukah? Hanya itu? Tidak, kurasa. Siapapun boleh menelurkan katanya untuk cinta, tak terkecuali aku tentunya. 

Cinta itu omong kosong. Kuulangi sekali lagi, cinta itu omong kosong. Bualan nafas bau belaka. Juga, genjrengan pengamen jalanan ogah-ogahan bernyanyi. Atau bisa juga, meong-an kucing tetangga yang sedang kawin, sangat memekakan telinga. Sekali lagi, hanya rentengan kata munafik.

Sebelum ada pernikahan, begitulah cinta. Sekumpulan janji-janji palsu dibumbui lantunan lagu sok romantis. Sungguh memuakan. Hanya itu, hanya pemberian hal-hal biasa yang di romantis-romantiskan saja. Tidak lebih. Tapi setelah bersanding menjadi satu dalam untuain kata janji suci yang sebenarnya, cinta itu hanya tentang memiliki. 

Memiliki berarti bertanggung jawab. Memiliki berarti melindungi. Memiliki berarti memberikan yang terbaik. Dan yang terpenting, memiliki berarti mencintai, sepenuh hati. Tapi bagimana jika sebelum terjadi pernikahan? Ah, jangan mudah goblok tertipu bualan genit yang katanya sehidup semati. Sehidup semati? Haha tertawalah sekencang mungkin. 

Kubisiki, seseorang yang bukan hanya mengaku cinta saja tapi juga menanam keseriusan, dia tidak akan berlaku konyol. Dia tidak akan berbuat kasar, berkata seenak jidat, apalagi berlaku 'habis manis sepah dibuang'. Yang dia tahu dia hanya akan menjaga dan melindungi, bukan menikmati. Yang dia pahami, dia hanya akan bertimgkah bukan berucap saja, dengan hati bukan hanya dengan kepala.

Apakah aku sudah ahli dalam hal ini? Haha tentu tidak. Tidak pernah berpacaran bukan berarti buta dalam hal ini. Mengantongi banyak pengalaman hasil curcol berbagai bentuk teman dengan segala ceritanya, menciptakan mesin pemilih cinta otomatis dalam diriku. Haha, dari mereka, seorang Novi yang tidak pernah mencicipi 'nikmat' pacaranpun jadi semakin tahu 'musibah' pacaran. 

Sudahlah, aku tidak akan mengungkap cinta yang sesungguhnya hingga janji pasti itu. Kapan? Hingga kutemukan kunci membuka rasaku. Entahlah, hingga terbesit kalimat 'Aku telah siap'.

Baiklah, sepertinya rasa bosanku sudah terusir setelah menarikan jemariku. Saatnya kembali menyapa serentetan aktivitas melelahkan. Melelahkan? Kurasa tidak ketimbang harus diam mengimajinasikan cinta konyol.

T R A U M A

Orang-orang terbiasa menyebutnya ‘terpuruk’. Keadaan dimana semua terasa menyakitkan, bahkan mengenaskan. Atau ada pula yang berceloteh ‘sudah jatuh tertimpa tangga pula’. Ada lagi kata kekinian ‘Aku mah orangnya ga bisa diginiin’ yang sedang ngehits jadi meme di akun instagram. Entahlah, terlalu banyak hal yang mendefiniskan ‘terpuruk’.
Baiklah, ceritaku kali ini bermula dari kata itu. Terpuruk. Terpuruk yang mewakili semuanya. Entah bisa disebut terpuruk ataupun tidak, siapa peduli? Yang jelas itu yang kini sedang menggerogotiku. Peduli amat orang lain berceloteh ria.
Semua data di laptop hilang mendadak karena hardisk rusak. Tidak ada tanda-tanda sebelumnya, ibarat kata seperti orang mati mendadak karena serangan jantung. Awalnya sehat sehat saja, mendadak tak bernyawa begitu saja. Laptop yang kuberi nama ‘Della’ itu tiba-tiba mati tidak berfungsi. Setelah dicek, hardisk tidak terdeteksi. Tamatlah riwayatku! Semuanya tersembunyi dalam laptop berusia hampir empat tahun itu. Bisa dibilang, semua yang terjadi dalam hidupku, kisahku, tertuang dalam berbagai bentuk. Berupa foto atau bisa berupa tulisan-tulisan. Si Della yang menyimpan memori semuanya. Bahkan, foto-foto keluarga yang hanya aku yang menyimpan pun ikut lenyap. Oh Tuhan, apa-apaan ini? Semua musnah tanpa bekas secuilpun yang terselamatkan.
Data kuliah mulai semester satu hingga semester ini di dua kampus yag berbeda, koleksi foto-foto, koleksi album musik berbagai negara favorit hingga hasil tulisan tanganku berupa novel dan cerpen atau sekedar diary, semua tak tersisa? Empat tahun semua tersimpan rapi hingga pada malam itu sejarahku hilang.
Terlepas dari ikhlas ataupun tidak, jika kembali memikirkan, terselip rasa marah. Entah marah pada siapa. Bagi mereka, mungkin hanyalah masalah sepele. Hanya kehilangan data. Itu saja. Tapi tidak sesimpel itu dimataku. Kehilangan data sama saja kehilangan sejarah. Jika kau tahu, sejak dulu, selalu berangan-angan suatu saat nanti bisa menunjukkan semua sejarah itu kepada anak cucu (lebay kah bagi kalian?) tapi jika sudah tak ada lagi yang tersisa, apa yang harus ditunjukkan? Sejarah yang mana? Sejarah adalah bukti, sedang aku tak punya bukti.
Hingga, terbesit satu kata lagi. Trauma. Kehilangan data yang tiga tahun lalupun meninggalkan rasa takut untuk kembali menulis novel ataupun apapun yang kugemari. Apalagi kehilangan data yang jauh lebih besar kali ini? Sudah kupastikan trauma itu akan datang lagi. Takut menulis kembali, takut mengulang apapun lagi. Dan hanya takut. Sekali lagi, bagi mereka akan terdengar berlebihan. Tapi apa lah arti sejarah bagi mereka jika mereka tidak bisa menghargainya?
Lalu sekarang? apa yang tersisa? Sebenarnya hanyalah onggokan kenangan semu dalam pikiran yang tak banyak dari mereka mengerti, tahu pun tidak. Kembali menulis lagi? Novel ataupun cerpen? Atau sekedar menuliskan diary harian? Sepertinya butuh waktu, panjang pula. Mengingat kemana perginya ribuan foto? Ah, semakin menyisakan gemetar hati saja. Atau ratusan file hasil mengenyam kuliah sehari-hari? Apalagi mengingat itu. Semakin gila saja memikirkannya. Kalau begitu tinggalkan saja lalu lupakan. Haha, kadang, hidup tak semudah hanya melahirkan bayi kecil ke dunia lalu membuangnya di got begitu saja. Sekali lagi, ini tentang untaian sejarah. Sejarah tentang kehadiran manusia. Lalu apa bukti demi menunjang kehadiran manusia itu jika semua musnah terlebih dulu? Hanya bualan kata-kata di udara, kah? Atau oksigen yang menempel pada kaca dipagi hari? Sungguh omong kosong.

Entahlah, semua bercampur jadi satu. Beradu menjadi padu. Tak tersisa, tak berbekas. Sejarahku juga kisahku. Bagimana aku bisa menceritakan kepadamu?