Orang-orang terbiasa
menyebutnya ‘terpuruk’. Keadaan dimana semua terasa menyakitkan, bahkan
mengenaskan. Atau ada pula yang berceloteh ‘sudah jatuh tertimpa tangga pula’.
Ada lagi kata kekinian ‘Aku mah
orangnya ga bisa diginiin’ yang sedang ngehits
jadi meme di akun instagram. Entahlah,
terlalu banyak hal yang mendefiniskan ‘terpuruk’.
Baiklah, ceritaku kali
ini bermula dari kata itu. Terpuruk. Terpuruk yang mewakili semuanya. Entah bisa
disebut terpuruk ataupun tidak, siapa peduli? Yang jelas itu yang kini sedang
menggerogotiku. Peduli amat orang lain berceloteh ria.
Semua data di laptop
hilang mendadak karena hardisk rusak. Tidak ada tanda-tanda sebelumnya, ibarat
kata seperti orang mati mendadak karena serangan jantung. Awalnya sehat sehat saja,
mendadak tak bernyawa begitu saja. Laptop yang kuberi nama ‘Della’ itu
tiba-tiba mati tidak berfungsi. Setelah dicek, hardisk tidak terdeteksi. Tamatlah
riwayatku! Semuanya tersembunyi dalam laptop berusia hampir empat tahun itu. Bisa
dibilang, semua yang terjadi dalam hidupku, kisahku, tertuang dalam berbagai
bentuk. Berupa foto atau bisa berupa tulisan-tulisan. Si Della yang menyimpan
memori semuanya. Bahkan, foto-foto keluarga yang hanya aku yang menyimpan pun
ikut lenyap. Oh Tuhan, apa-apaan ini? Semua musnah tanpa bekas secuilpun yang
terselamatkan.
Data kuliah mulai
semester satu hingga semester ini di dua kampus yag berbeda, koleksi foto-foto,
koleksi album musik berbagai negara favorit hingga hasil tulisan tanganku
berupa novel dan cerpen atau sekedar diary, semua tak tersisa? Empat tahun
semua tersimpan rapi hingga pada malam itu sejarahku hilang.
Terlepas dari ikhlas
ataupun tidak, jika kembali memikirkan, terselip rasa marah. Entah marah pada
siapa. Bagi mereka, mungkin hanyalah masalah sepele. Hanya kehilangan data. Itu saja.
Tapi tidak sesimpel itu dimataku. Kehilangan data sama saja kehilangan sejarah. Jika kau tahu, sejak dulu, selalu berangan-angan suatu saat nanti bisa menunjukkan
semua sejarah itu kepada anak cucu (lebay kah bagi kalian?) tapi jika sudah tak
ada lagi yang tersisa, apa yang harus ditunjukkan? Sejarah yang mana? Sejarah adalah
bukti, sedang aku tak punya bukti.
Hingga, terbesit satu
kata lagi. Trauma. Kehilangan data yang tiga tahun lalupun meninggalkan rasa
takut untuk kembali menulis novel ataupun apapun yang kugemari. Apalagi kehilangan
data yang jauh lebih besar kali ini? Sudah kupastikan trauma itu akan datang lagi.
Takut menulis kembali, takut mengulang apapun lagi. Dan hanya takut. Sekali lagi,
bagi mereka akan terdengar berlebihan. Tapi apa lah arti sejarah bagi mereka
jika mereka tidak bisa menghargainya?
Lalu sekarang? apa yang
tersisa? Sebenarnya hanyalah onggokan kenangan semu dalam pikiran yang tak
banyak dari mereka mengerti, tahu pun tidak. Kembali menulis lagi? Novel ataupun
cerpen? Atau sekedar menuliskan diary harian? Sepertinya butuh waktu, panjang
pula. Mengingat kemana perginya ribuan foto? Ah, semakin menyisakan gemetar
hati saja. Atau ratusan file hasil mengenyam kuliah sehari-hari? Apalagi
mengingat itu. Semakin gila saja memikirkannya. Kalau begitu tinggalkan saja
lalu lupakan. Haha, kadang, hidup tak semudah hanya melahirkan bayi kecil ke
dunia lalu membuangnya di got begitu saja. Sekali lagi, ini tentang untaian
sejarah. Sejarah tentang kehadiran manusia. Lalu apa bukti demi menunjang
kehadiran manusia itu jika semua musnah terlebih dulu? Hanya bualan kata-kata
di udara, kah? Atau oksigen yang menempel pada kaca dipagi hari? Sungguh omong
kosong.
Entahlah, semua
bercampur jadi satu. Beradu menjadi padu. Tak tersisa, tak berbekas. Sejarahku
juga kisahku. Bagimana aku bisa menceritakan kepadamu?
Aucun commentaire:
Enregistrer un commentaire