Here, I am



jeudi, septembre 25, 2014

A Confused Person ...




First sentence that I wanna say in my both situation, sadness and happiness is, Now I am in the last semester! The seventh semester. I can’t believe it. Time flies so fast, I think. In my mind, I just enrolled to my university yesterday, but now, who I am? A student university at the last grade. How old I am. Unbelievable. I’ve memorized many things which happen in my life and they’ll be my own history. I’ve met many friends with different culture or character who make me learn more about life.
Yeah, I’ve written on my own paper about was going on in my life, my sad or my fun stories. Ten years later, I’m gonna open and read them again so I can back to my past or even to be the story teller for my children. I know, it’ll be satisfied for me. Hold on, for making my real history, I love taking many photoes everywhere and everytime, and that’s why I love travelling so much. Every place which I visited, I took photoes as many as I want. As same reason, ten years later, when I miss my colorfull past I’ll open and I swear that crying is the best way to express. Defenitly, I beg God will let me opening those my histories ten or fifty years later.
But now, I am a confused person who can’t open the brilliant gate yet. One main point which is an obligation for the students postgraduate is theses. Yup, it’s my turn, it’s my time for finishing my theses. What makes me so confused is about the deadline. I make my deadline, I must finish my education in this semester, I must pass my theses as fast as possible in order to concentrate more with my another university. Saying is easier than doing. I can say that easily but my mind scream loudly. I don’t know what will happen then. Will I finish that on time as my deadline, or maybe I have to keep my words and just lock my mouth?
There are many reasons why I wanna and also I must take theses this semester. Firstly, I don’t have any course anymore, only one course left on Thursday. Am I carzy for paying Rp 2.100.000 only for one course in this semester? Secondly, if I decide to take it for the next semester, it’ll make me more crazy. For the next semester, I am at the sixth semester in my another university, it means that there will be KKN. So, if I can take it later, it’ll crash and without asking, I’ll be more crazy to face it.
But, once again I’ve to say that I’m a confused person. Until this time I’m lying on my comfort bed, I still can’t find even only a title yet. I don’t know what I am thinking about. Every night, I always make a date with my beloved laptop, but no inspiration comes to me. There is an old saying that explains starting something is more difficult than doing regurally. It seems very difficult to start doing my theses, my imagination always approach me for touching the keybord and start writing something else which doesn’t have a corelation with my deadline.
I need a special motivator. Someone who has ability for forcing me to finish my theses. He doesn’t need text me everytime just for accompanying me, but what I need is his great support. As my friend said that his boyfriend always waiting for and support her to finish her theses and welcoming two years later for their marriage. If I were her, I’ll arrange all of my energy and as fast as possible I get my sweet graduation.
Exactly, it’s not about a special someone who will give me such as support. As usual, I still alive without that special someone, I have my beloved family and friends, they’re my spirit. Especially my parents who always love me, care of me, pray for me, and help me, I always do my best for making them to be proud of their daughter. But, I save a big question on my mind and my soul. Can I get my dream? Will I be the best for them whom I love?
God, I beg You fot letting me reach my big dream. You must know what big dream is. I don’t wanna make them are dissapointed. Now, the lazyness comes to distrub me over. Make me hate it and pass my days in brilliant ways. Let me be the best daughter for my lovely parents, make me be the great sister for my brothers then. I really wanna change my life to be better, I wanna help my parents for continuing my brothers’ education. Don’t leave me, God. Always touch my foot in each better way, don’t let me turn to the wrong way. I love You, my Allah ...




mardi, septembre 23, 2014

Monsieur Agoes



Rabu, 17 September 2014. 

Laki-laki bertubuh besar dan tinggi dengan penampilan gagahnya yang tersembunyi dibalik kemeja agak ketat, berjalan tenang tapi pasti dengan sepasang sepatu hitam mengkilat menopangnya. Menyemerakkan kelas dengan banyolan garing tapi cukup memancing tawa mahasiswanya usai kelas, tak jarang menari lucu menirukan gaya orang lain, atau pada mata kuliah tertentu sering menciptakan ketegangan dengan menyingkirkan sejenak raut senyum pada wajahnya. Semua itu masih terkenang.
Pada hari itu, keluarga Sastra Prancis Brawijaya tengah berduka. Sosok Ketua Program Studi juga dosen. Sosok pemimpin yang telah banyak mengantarkan anak didiknya meraih pintu cemerlang usai lulus. Sosok dosen Pembimbing Akademikku. Pak Agoes Soeswanto banyak orang memanggilnya. Laki-laki yang menutup lembar hidupnya pada usia 41 tanpa ikatan pernikahan itu menjadi pukulan tersendiri bagi kebanyakan mahasiswa yang mengenalnya.
Orang pintar rata-rata diidentifikasikan dengan idealisme yang tinggi. Begitulah bapak satu ini yang kerap menjalankan pemikiran yang tidak sejalan dengan anak-anak didiknya. Siapa yang menang? Layaknya orang tua dan anak pada umumnya yang berbeda jalan, yang menguasai adalah orang tua ketimbang anak yang tidak memiliki andil apapun. Semasa berbaur dengannya, banyak bully an, celotehan pedas hingga hujatan dan tak ketinggalan nama khusus kami haturkan sebagai tanda kekesalan. Mahasiswa Sastra Prancis kompak menjulukinya “Gomes” yang jika dibalik artinya semog, Iya, semog berdasarkan postur tubuhnya yang semakin rapat dengan balutan kemeja dan celana ketatnya.
Masih terlintas sejelas mungkin duduk di kelas Audition Pronountation sekian semester yang lalu. Beliau dengan rapinya memasuki kelas dan mengajari kami cara melafalkan kata dalam bahasa Prancis. Kelas yang tegang, tanpa tertawa, juga dibumbuhi emosi dan sindiran yang khas membuat kami selalu malas mengikuti perkuliahannya. Belum lagi setelah berhasil mengakhiri kelas, beribu omelan, makian yang juga terbungkus dalam wajah kusut kucel marah selalu ditujukan kepada beliau yang sepertinya juga sudah menyadari.
Tapi hujatan, omelan, cacian untuknya sudah berhenti. Tak ada lagi yang dipanggil Gomes, tidak ada lagi si gagah dengan perut buncit terbungkus kemeja kerennya, juga tidak ada lagi gaya kocak ketika menciptakan lelucon garing di kelas. Semuanya tiba-tiba lenyap. Liver menggerogoti tubuh kekarnya hingga nyaris tersisa tulang sebelum ajal mengajaknya berpindah tempat. Semua sungguh hanya tinggal kenangan.
Terima kasih kami haturkan, beribu maaf hanya dapat kami layangkan melalui udara.
Selamat jalan pimpinan, dosen, juga bapak tercinta kami.
Semoga ilmumu selalu mengalir menggantikan candamu.



dimanche, septembre 21, 2014

Pasukan Berisik ...




Ini Pasukan Berisik. Satu orang yang tertinggal, Zesma

Pesantren Luhur namanya. Pesantren unik tak terlalu ketat peraturannya. Mungil bentuknya dengan ratusan penghuninnya. Lalu apa hubungannya dengan Pasukan Berisik? Oke, hold on. Sebelum berkisah tentang pasukan berisik, terlebih dahulu ku ulas kembali surga duniaku saat ini.
Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang atau yang kerap disingkat LTPLM. Berdiri tepat di pinggir jalan raya Sumbersari bernomor 88, dan ups di depan karaoke Tralala. Menegakkan tiga menara sebagai kebesarannya, bangunan berwajah hijau ini berada pada posisi strategis. Butuh peralatan bulanan atau sekedar camilan, tinggal menjangkah menuju Indomart. Lapar atau haus? Terlalu banyak warung makanan yang tersedia dengan menu khasnya masing-masing. Barang elektronik kesayangan mulai rewel rusak? Sepanjang jalan berjejer aneka toko atau servis barang elektronik. Tak punya waktu karena terlalu sibuk dengan dunia kampus atau sekedar malas mencuci sendiri? Laundry pun bersaing apik di pinggir jalanan maupun mengumpat di gang-gang sempit. Juga yang paling penting dan alasan utama, apalagi jika bukan dekat dengan kampus. Mengenyam pendidikan di kampus Brawijaya? Tinggal berseok-seok ria untuk menyentuh pagar-pagar kecil tembusan kampus yang memiliki tiga gerbang utama dan banyak gerbang ‘tikus’ itu. Atau sedang menjadi mahasiswa UIN Malang? Lebih dekat lagi justru. Hanya mengerahkan secuil tenaga untuk jarak kurang lebih 100 hingga 150 meter langsung berhadapan dengan gerbang utamanya. Terjangkau, bukan?
Pesantren ini begitu unik dengan segala keunikannya. Terlebih pada tata ruang di dalamnya yang berkotak-kotak dan sempit hingga terlontar guyonan ‘bisa masuk sulit keluar’. Juga dengan embel-embel peraturannya yang tak seketat pesantren lain pada umumnya. Jika kubandingkan dengan pesantren lainnya, terdapat aturan ketat tidak boleh keluar melebihi pukul lima sore, terdapat bel penanda aktivitas wajib seperti sholat, tiap malam juga wajib dibangunkan sholat Tahajjud. Bahkan, masih ada tradisi hukuman berupa menulis kalimat hukuman dalam sekian banyak halaman.
Itu sangat mirip dengan peraturan pesantren ketika aku masih SMA, yang orang juluki sebagai pesantren Shalafiyah yang artinya hanya fokus pada kitab-kitab kuning dan terkenal dengan peraturan ketat yang mengikatnya. Sedangkan bagimana dengan pesantren Luhur? Santri putra dan putri tinggal dalam satu atap bersama (tentu berbeda tembok), boleh berada di luar pesantren maksimal pukul sembilan malam, jama’ah wajib ialah Shubuh dan Magrib, tidak ada acara bangun wajib untuk sholat Tahajjud, hukumanpun berupa hukuman ro’an atau bersih-bersih hingga halaqoh ilmiah atau muraja’ah. Yang menjadi bonusnya adalah libur kegiatan pada Sabtu dan Minggu juga interaksi ‘bebas’ antara santri putra dan putri. Mengapa dikatakan bebas? Jika pada umumnya di pesantren tidak diperkenankan adanya interaksi langsung antar santri lawan jenis, berbeda yang terjadi di sini. Terdapat banyak acara atau ekstrakurikuler yang membutuhkan kepanitian dari berbagai pihak membuat rapat antar santri putra dan putri sering terjalin menyalurkan ide masing-masing. Bukan karena tidak tahu aturan, tetapi semua yang tinggal adalah mahasiswa bahkan tak sedikit yang telah bekerja. Semua seolah sudah tahu porsi dan batasannya masing-masing tanpa harus diatur dan diperlakukan layaknya anak masih sekolah. Toh, nyatanya interaksi yang terjalin semua masih tetap dalam koridor yang santun.
Ada hal unik lainnya yang juga menjadi ciri khasnya, yakni Halaqoh ilmiah. Yakni semacam presentasi dengan judul-judul ilmu pengetahuan yang akan dikaitkan dengan dunia keIslaman dengan pemateri yang digilir tiap harinya sesuai jadwal yang telah ditempel. Bisa dikatakan semacam diskusi ilmiah berbau keagamaan. Jika dulu, ketika Kyai yang kami panggil Abah  masih hidup, tidak ada diskusi karena kekeliruan yang ada telah mutlak dibenarkan oleh Abah. Tetapi cerita tak lagi sama, tidak ada pembenar yang mutlak, semua masih dalam tahap belajar mencari ilmu, jadilah diskusi itu dilakukan tiap hari usai jamaah Shubuh.
Terlalu banyak hal yang tersembunyi dari balik tembok Luhur, tentang segala rutinitasnya, kesehariannya, penghuninnya juga filosofinya. Semuanya terbungkus rapi dalam satu bangunan mungil penampung para pencari ilmu dunia dan akhirat.
Nah, di dalam bangunan yang juga terdapat warung makan bernama ‘Ceker Wa’alaikumsalam’ itu bernafaslah tujuh gadis dengan wajah rupa-rupa. Datang dari penjuru pulau Jawa yang berbeda pada tahun yang tak sama. Adalah Novi (aku), Azizah, Arini, Ridha, Nelly, Kuni, dan Zesma. 

Check this out 

Aku sendiri adalah mahasiswa dari kota mungil Jepara, Jawa Tengah yang sedang berjuang di semester akhir jurusan Sastra Prancis, Brawijaya juga berada disemester lima Bahasa Inggris Unisma. Mengantongi kesukaan menulis dan membaca. Menuliskan apapun kata yang ingin aku keluarkan dan membaca buku apa saja yang ingin aku lahap, terlebih novel-novel terjemahan. Sifat? Iya, harus kuakui aku adalah orang yang sensitif, emosional dan terkadang egois juga tapi mudah luluh dan terpengaruh. Penyuka warna pink, kucing dan bayi mungil yang lucu! Bandel? Cukup juga dikategorikan bandel. Terutama jarang sekali aku berhasil dibangunkan untuk jamaah sholat shubuh. Sibuk? Mungkin iya. Kuliah paling pagi dan biasanya pulang paling larut karena harus mendatangi dua kampus dengan banyak mata kuliah. Hedon? Paling iya! Pecinta kuliner dan penyuka belanja baju sekaligus buku. Selera film dan musik? Pecinta film Hollywood, Korea, juga film Indonesia yang bermakna dan sangat berselera pada musik melow atau slow Barat maupun Indonesia terlebih musik jaman dulu. Satu lagi, penikmat instrumental piano dan biola. Oh masih ada lagi. Paling cerewet jika ada yang menginjak kasur kesayanganku, paling setia ditemani oleh lantunan musik ketika belajar bahkan tidur, dan kata mereka aku perfeksionis. Ah, entahlah.
Azizah. Gadis blesteran Malang-Cilegon yang seumuran denganku, semester akhir jurusan Fisika Brawijaya. Berkulit putih bermodel sedikit tomboy dengan balutan kemejanya. Paling cuek tapi paling perhatian. Kerap menutup malam dengan bercerita mengenai kisah cintanya. Mempunyai hasrat terbesar pada dunia fotografi dan desain. Sifat? Itu tadi, cuek tapi perhatian, dan sabar. Sabar menghadapiku yang terkadang uring-uringan tidak jelas juga sabar ketika ada yang meminta bantuannya. Penyuka warna biru dan tidak tertarik dengan segala aksesoris yang berbau cewe seperti baju, dia selalu tampil cuek dengan gaya asiknya sendiri. Bandel? Cukup juga. Dia sendiri yang mengatakan tidak terlalu alim soal agama. Hedon? Nah, dia partner hedonku ketika aku sedang tidak berhedon ria dengan teman kampusku. Sama-sama pecinta kuliner. Aliran film dan musik? Kurasa dia memang lebih updet dibanding aku. Pecinta film Hollywood, sedikit drama Korea, dan pecinta banyak anime Jepang. Sedang untuk musik, tak jauh beda denganku. Tapi dia begitu jatuh cinta kepada musik Jepang.
Arini. Gadis Gresik bertubuh mungil kelahiran ‘94 tapi sedang berada disemester yang sama denganku dan Azizah, dia satu jurusan dan satu kampus dengan Azizah. Penyuka warna coklat. Menjadi keamanan di blok kami, blok E. Sifat? Kupikir, sensitif juga, tapi tidak se-emosional aku, dia lebih bisa mengontrolnya. Cuek? Iya, tapi juga perhatian. Lebih tepatnya cuek terhadap penampilannya. Kuliah pagi, tak mandi seolah tak menjadi masalah baginya, memakai pakaian kuliah yang nabrak warna maupun motifnya pun dia tetap berlenggok cuek. Lupa menaruh barang terlebih hape dan uang pun sudah menjadi rutinitasnya. Bandel? Oh tentu tidak. Menjabat sebagai kemanan sepertinya menjadi bumerang untuk menjadi santri bandel. Selalu tepat waktu ketika pengajian dan mengobrak-obrak yang lain adalah yang selalu ia lakukan. Soal musik dan film? Penggemar film sekaligus pengoleksi musik India, dan selalu menyetel berulang kali lagu apa saja yang saat itu sedang ia senangi. Satu lagi yang tak boleh dilewatkan. Ia menyimpan satu obsesi sekaligus cita-cita, ingin gemuk. Alhasil ia harus rutin mengkonsumsi STMJ atau susu tiap harinya.
Ridha. Gadis asli Nganjuk duduk disemester lima jurusan Pendidikan Agama Islam, UIN Malang. Penyuka warna hijau, tidak begitu tertarik dengan kegiatan membaca dan menulis. Sifat? Cukup sabar, baik hati. Paling rajin bangun malam untuk sholat Tahajjud. Cukup pintar memadu-padankan style baju ketika berangkat ke kampus atau bepergian. Berkomitmen ingin dijodohkan dan tidak mau berpacaran, langsung menikah. Bandel? Tidak juga. Selalu rajin mengikuti kegiatan wajib pesantren seperti jamaah dan pengajian tapi ogah-ogahan jika mengikuti kegiatan sunnah. Musik dan film? Kalau yang satu ini aliraannya asli Indonesia. Paling cukup sering menyetel lagu koploan atau dangdutan yang sedang booming di Indonesia dan terkadang mengibur diri dengan aliran raege. Gadis satu kamar denganku dan Arini ini memiliki kebiasaan cukup menyebalkan tapi lucu, tepatnya sepulangnya ia dari PM atau pengabdian masyarakat, yakni memegang payudara kami (sori, sedikit fulgar). Diantara yang lain, aku dan Rida memiliki standar pasangan hidup yang sama, yakni selain ada embel-embel sholeh, juga harus tampan dan kaya, haha (sebagai bahan bercandaan saja).
Nelly. Gadis berperwakan berisi asal Tuban, mengenyam pendidikan semester lima jurusan Ekonomi Universitas Negeri Malang. Satu kamar denganku, Arini dan Ridha. Penyuka warna janda, Ungu. Dijuluki aktivis oleh kami karena begitu jarangnya ia berada di pesantren, sibuk mengikuti berbagai organisasi keislaman. Iya, dia yang terlihat paling islami diantara kami dengan penampilan kerudung cukup besarnya. Sifat? Baik tentu, sedikit cerewet, terlihat tenang dan santai. Dan sama dengan Arini yang kerap lupa menaruh hapenya dimana. Selalu berpenampilan busana muslim kemanapun ia melangkahkan kaki. Bandel? Tentu tidak, hanya tak jarang telat bangun untuk sholat Shubuh dan meninggalkan jamaah ataupun telat pengajian karena masih berkecimpung di kampus yang memakan waktu berjalan kaki paling cepat 20 menit. Musik dan film? Soal musik, ia menyimpan banyak sekali surat-surat Al-Qur’an dan qosidahan-qosidahan favoritnya, sedangkan untuk film ia tak kalah sebagai penonton setia drama Korea bahkan ia kerap menontonnya hingga larut malam.
Kuni. Gadis yang terliat tak kalah berisinya dengan Nelly, berasal dari Pasuruan berpendidikan di Fakultas Pertanian Brawijaya semester lima dan lancar berbicara bahasa Madura. Penyuka warna Kuning. Satu kamar dengan Azizah yang menjadi tetangga tepat sebelah kamarku. Satu yang khas jika berbicara tentang Kuni, yakni Toa Masjid atau speaker masjid. Mengapa? Karena gadis berkulit hitam manis ini memiliki suara yang dahsyat kerasnya. Jarang satu kilometer sudah bisa mendengar suaranya. Sifat? Selalu heboh sendiri ketika bercerita, baik tapi terkadang sensitif. Memiliki jiwa wirausaha yang tinggi dibanding kami yang lain. Bandel? Biasa saja. Selalu bangun ketika pesantren telah mengundangkan Iqomah, dan kerap tertidur ketika sedang mengikuti pengajian. Aliran musik dan film? Ia suka musik Indonesia dan yang berbau perjuangan mahasiswa. Dan soal film ia tak suka dengan yang berbau Korea. Ia lebih menyukai film Barat maupun Indonesia. Satu kebiasan joroknya yang disebali teman-teman sekamarnya, suka menaruh celana dalam sembarangan (sori, fulgar lagi).
Dan yang terakir yang paling kecil diantara kami semua dan yang paling sering dibully. Zesma, gadis Jakarta semester 3 Teknologi Pertanian Brawijaya. Penyuka warna pink pula. Sifat? Manja, mudah panik, paling benci dikepoin, cuek dan lucu, tapi paling bersedia diajak kemanapun. Dari gaya bicaranya yang khas anak Jakarta manja menjadikan gadis satu kamar dengan Azizah dan Kuni yang paling sering dibully habis-habisan. Ia juga yang paling sering beradu mulut dengan Kuni karena masalah-masalah sepele. Ah, mereka menggemaskan sekali. Bandel? Cukup. Sering alfa pengajian karena banyak mengikuti kepanitian di kampus dan masih bingung mengatur jadwalnya. Musik dan film? Ia beraliran musik Barat, pecinta film Hollywood dan drama Korea, juga penggemar beratnya Kristen Stewart, dan paling tidak suka dengan media sosial meskipun mengenggam android. Satu kebiasaannya, kentut sehabis makan dan ngantuk setiap duduk di pengajian ataupun ketika istighosah usai sholat jamaah. Ada satu sisi tersembunyi yang memang sengaja ia sembunyikan. Pecinta shopping dan kuliner. Menamani ia belanja pakaian bisa memakan lama waktu yang berputar.
Iya itulah kami. Tujuh gadis dengan latar belakang yang berbeda, tinggal satu atap, berbaur dan berbagi tiap  hari. Mengapa Pasukan Berisik? Aku yang memberikan nama itu. Jawabannya simpel. Karena kami selalu berisik ketika berkumpul. Ketika pulang kuliah atau usai pengajian sore dan ketika waktunya makan bersama sebelum magrib datang, kami selalu heboh bercerita kejadian apa saja yang kami alami ketika diluar. Tertawa renyah, saling mem-bully dan ritual lainnya tak jarang mengundang gedoran peringatan dari santri putra yang kamarnya bersebelahan dengan kami (terhalangi tembok dan triplek) yang merasa terganggu.
Siapa yang paling dekat? Aku cukup dekat dengan semua. Aku dan Azizah, Arini, Rida maupun Kuni sering membagi cerita satu sama lain. Dan satu kesamaan yang kami miliki. Pada dasarnya kami adalah kumpulan orang cuek terhadap lawan jenis. Kenapa? Banyak alasan. Tapi bukan berarti kami membatasi pergaulan dengan kaum Adam. Semuanya sama saja, hanya saja kami lebih menseleksi mereka yang ingin memasuki kehidupan kami.
Sebutan lain untuk kami adalah Single Ladies Gang. Gengnya para gadis jomblo. Iya, kami bertujuh memang sengaja menjomblokan diri. Menerima yang tepat untuk dijadikan imam yang baik nantinya. Masing-masing dari kami sama-sama menyimpan alasan untuk tidak berpacaran saat ini.
Dan aku harap apa yang telah terjadi dan terbentuk saat ini tak pernah terlupa apalagi terhapus oleh kikisan waktu yang makin kejam berputar tanpa kembali. Aku harap, mereka akan benar-benar menjadi salah satu dari lembar sejarah hidup dimasa mendatangku. Dan besar anganku, lima atau sepuluh atau bahkan berpuluh tahun lagi kami akan kembali dipertemukan dengan kebahagiaan dan cerita hidup masing-masing.








lundi, septembre 15, 2014

Sepasang Pengemis ...





Sabtu. Malam. 13. September. 2014. Malang. Jawa Timur.

Hari ini bukan lagi hari Sabtu apalagi Sabtu malam dimana kebanyakan mereka membuka pintu dan menjelajah dunia malam bersama mereka yang diinginkan. Iya, mereka. Mereka yang berkesempatan mengalami berbagai hal yang sepertinya menyenangkan. Tapi bagiku? Menyenangkan memang. Angka delapan dari angka sepuluh sebagai penilaian. Tapi cukup mencicipinya saja, hanya sekedar pula. Ngopi di pinggir jalanan yang kerap dihujani sekian banyak kendaraan berebut celah, hingga memutari kota Malang tanpa tujuan sampai larut malam. Sebagai anak muda yang menyimpan begitu banyak rasa penasaran dan keingintahuan, aku selalu membujuk hatiku untuk mengikuti ajakan mereka yang terlalu akrab dengan gemerlapnya lampu dimalam hari. Tak apalah hanya sesekali saja, pikirku.
Dan semalam, tepatrnya malam minggu dimana jalanan tak cukup lebar tepat di depan pesantren tempatku merebahkan tubuh begitu padat hampir tak tersisa celah bagi pejalan kaki, satu kejadian menohok membuka mataku. Tentang rasa lebih bersyukur dan tak perlu menyesali apapun yang telah terjadi.
Berawal dari berjalan kaki menuju kampus rindang nan sejuk, adalah kampus UIN yang hanya berjarak sekian meter dari pesantren. Berjalan dengan mata menyapu segala hiruk pikuk juga deru suara kendaraan yang berebut jalan satu sama lain. Pemandangan lazim itu menyumbang secuil senyum tersembunyiku. Tak henti berpapasan dengan berbagai bentuk manusia yang lalu lalang menikmati kehidupan mereka sendiri, menikmati waktu yang tengah memeluk sebegitu indahnya.
Semua terasa menyenangkan, dunia malam dengan segala aksesoris yang menutupinya. Tak terkecuali para pedagang juga mungkin beberapa pengemis turut menambah semaraknya malam di jalan Sumbersari yang memang terkenal penuh sesak. Tapi tidak untuk satu pengemis yang berjalan tepat di depanku. Seorang wanita dengan sebuah jaket jins rombeng, topi dan segala peralatan lusuh atau memang sengaja dilusuhkan, menggendong seorang bayi mungil yang sedang terlelap dalam dekapannya. Di belakangnya seorang bocah kecil yang berpakaian tak kalah lusuhnya mengekor dengan tatapan tanpa dosa khas anak kecil.
Entah berbalut sebab apa, si wanita itu dengan tanpa sungkan pada para pejalan kaki lainnya, tiba-tiba mencubit dengan ‘sadisnya’ pipi si bocah kecil yang setia membuntuti di belakangnya. Aku yang melintas sejenak mendengar sepercik kata-kata yang dilontarkan si wanita itu dengan amat kesalnya.
“ Dikandani ojok ngeyel ta! Koen tak tutuk!”
“ Dikasih tahu jangan ngeyel! Aku pukul kamu!”
Tak sebegitu jelas apa yang diucapkan si wanita itu dalam raut wajah yang kukira makin menyuguhkan aura seramnya. Kurang lebih itu yang dapat kutangkap. Ketika aku telah melewati meraka, aku segera berbalik dan ku tangkap wajah bocah kecil dibalik topi tak kalah lusuh dari ibunya. Melas, sangat melas. Memegang pipi bekas cubitan ibunya, memamerkan kedua mata yang menyimpan air mata yang seolah ditahan dipelupuknya.
Pemandangan itu tak serta merta menghentikan langkahku untuk menyaksikan apa yang akan terjadi nanti. Tetap berjalan dan berhenti pada sebuah warung untuk membeli makan malam. Sembari menanti pesanan, tak lama setelahnya sepasang ibu dan anak ‘pengemis’ itu muncul lagi dan kali ini menengadahkan sebuah gelas plastik bekas minuman. Si bocah malang itu berkeliling dari meja menuju meja lainnya kedalam warung, sedangkan si ibu memainkan genjrengan ala kadarnya sambil mengomat-ngamitkan mulutnya entah lagu apa yang ia nyanyikan di luar warung.
Kuperhatikan, si bocah malang itu menunggu lama sambil mengantongkan gelas plastik bekas di tangan kanannya. Jika pengunjung tidak segera memberinya uang, si bocah itu akan semakin memasang wajah paling melas dan tetap menunggu di pinggir meja. Entah, karena memang merasa iba dengan si bocah pengemis atau mungkin merasa risih karena terlalu lama melihat pemandangan si bocah lusuh itu, semua pengunjung memberinya uang. Dan ajaibya, si wanita pengemis itu langsung menampilkan senyum kecilnya pada si bocah itu. Begitu seterusnya dari warung ke warung mereka melangkah dengan tak hentinya memaparkan wajah kompak melas dan nelangsanya mengharap sejumput belas kasihan orang yang mungkin kebanyakan tak lagi bersimpati pada profesi mereka.
Dengan tatapan antara menyimpan rasa kasihan dan penasaran juga kesal, aku hanya bisa melihat punggung mereka yang semakin lama semakin tenggelam berbaur dengan kerumunan pejalanan kaki. Diam, lalu kubiarkan otakku memikirkan apapun yang berkaitan dengan kejadian itu. Ibu pengemis dengan dua anak pengemisnya. Miris rasanya disuguhi pemadangan seperti itu.
Memang tidak ada yang ganjal karena sudah terlalu banyak pasangan ibu dan anak yang mengais rezeki sebagai peminta-minta di negeri kita, tapi jika kita lebih dalam lagi menelusuri, timbul pertanyaan inti. Bagaimana bisa? Bagimana bisa seorang anak yang masih dibawah umur diajak atau mungkin bisa saja dipaksa untuk membantu orang tua mencari uang dengan cara berkeliling meminta rezeki orang? Atau kasarannya, dimana pikiran si orang tua yang memperkerjakan si anak?
Si anak yang kebanyakan masih berusia dibawah angka sepuluh, seharusnya menjadi masa keemasan untuk menelurkan imajinasi mereka juga berkesempatan menikmati masa bermain dengan kawan sejawatnya. Atau bahkan menjadi masa dimana mereka  bisa bermanja-manjaan kepada keluarga dan masih pantas merengek meminta ini dan itu sesuai dengan naluri kekanank-kanakan alami yang Tuhan berikan.
Tapi menjadi bocah pengemis yang mengekor orang tuanya menengadahkan tangan sambil memainkan alat musik yang benar-benar seadaanya lalu menggumamkan mulut bernyayi nyanyian tak jelas, ditambah pula berjalan entah berapa kilometer jauhnya sambil memaksakan muka memelas, tentu bukan menjadi keinginan mereka. Mereka sebagai anak kecil dalam masa pertumbuhan dan sekolah hanya ingin melakukan kegiatan layaknya anak-anak normal lainnya. Bersekolah dan bermain. Bukan berjalan sejauh mungkin ditengah banyak orang menyantap makanan lezat.
Tapi sekali lagi, mereka memang hanya seorang bocah kecil. Mana punya andil dalam keluarga? Mana berani melawan orang tua yang kemungkinan mendidik dengan cara keras? Mereka tetap bocah kecil yang disetir paksa orang tua dan dengan segala keterpaksaan harus rela meninggalkan masa-masa kecil bahagia mereka.
Jika keturunan atau generasi pengemis makin bertambah tiap hari, lalu bagaimana kiranya tumbuh kembang anak-anak mungil yang dipaksa lusuh itu? Tidak sekolah atau mungkin masih dibiarkan sekolah tapi setelahnya harus berlelah letih hingga larut malam dan mengabaikan tugas-tugas sekolah. Sebegitukah adanya? Belum lagi bagaimana jika kita mulai berbicara mengenai dampak psikologis dari si anak? Merasa tertekan dan kehilangan masa kecilnya? Dipaksa bekerja yang setara dengan orang tuanya? Berhadapan dengan banyak orang dengan harapan mengiba? Bagaimana bentuk masa depan mereka? Apa memungkinkan mental mereka akan sekuat baja karena kerasnya kehidupan? Bagaimana jika mereka tak sanggup mengubah nasib lalu menyerah dan akan terus meneruskan profesi itu hingga generasi berikutnya?
Entahlah begitu banyak misteri kehidupan yang masih menyelimuti kehidupan ini. Terlalu banyak hal yang menjadi tanda tanya besar dalam benak dan kita sendiri masih meraba kemana semestinya kita harus bertanya dan memperoleh jawabannya. Yang jelas, gambaran sepasang ibu dan anak pengemis itu semakin membuka lebar rasa syukur dalam hidupku. Bersyukur karena aku maupun lapisan keluargaku tidak ada yang mengalaminya, masih diperkenankan untuk mengais rezeki dari jalan yang tidak harus meminta.
Hanya dapat mengukir doa agar siapapun yang telah menjabat sebagai orang tua, tidak menyertakan anak emasnya untuk terjun bekerja keras dan lebih membiarkan mereka menikmati kehidupan kecil yang Tuhan anugrahkan sekali seumur hidup.