Jumat, 29 Agustus 2014
Kereta Malang-Banyuwangi akan segera berangkat tepat pada pukul
14.55 WIB. Dengan sebelumnya menyempatkan diri berfoto berlima, kami pun dengan
langkah tenang dan senang memasuki gerbong nomor satu dan segera mengitari
tempat duduk bernomor 9. Duduklah kami berlima saling berhadapan. Juga, inilah
kali pertama untukku berada dalam kereta. Jujur, ada perasaan takut yang
menyelinap kala itu. Paranoid yang kupunya selalu muncul ketika aku
memberanikan untuk mencoba berbagai hal baru. Apalagi berangkat mbolang bersama
kawan-kawan pesantren itu tanpa meminta persetujuan dari orang tua
masing-masing, nekad. Iya, lima gadis nekad.
Satu kata yang dapat kugambarkan ketika menikmati suasana dalam
lajunya kereta. Menyenangkan. Menikmati pemandangan alam yang terbentang
sepanjang jalanan yang dilalui dan merasakan benar-benar mengusir kejenuhan.
Perjalanan sekitar 8 jam pun sama sekali tidak terasa karena kami berlima juga
memutuskan untuk membunuh putaran detak jam dengan bermain kartu Uno. Tertawa
selama permainan, berisik adalah hal yang mewarnai selama berjam-jam
perjalanan, kamipun sempat menjadi pusat perhatian bapak-bapak yang duduk di
seberang kami. Tapi masa bodoh, kami sangat menikmatinya.
Hingga waktu memukul angka delapan, kami menyudahi permainan seru
dan mulai menikmati aktivitas masing-masing. Menutup telinga dengan headset
maupun earphone yang telah kami persiapkan sebagai teman perjalanan. Seperti
yang sering kulakukan ketika dalam perjalanan, aku pun menenggelamkan mata dan
mimpiku dalam lantunan lagu-lagu yang melintasi telingaku sebegitu anggunnya.
Tak lupa, membaca sebuah buku yang sengaja ku bawa sebagai pelengkap ritual me
time. Sangat menikmati, malam hari di atas sebuah kereta yang tengah
melaju, di tengah-tengah banyak orang yang tertidur entah pulas maupun tak
nyaman, aku begitu tenggelam dalam alunan musik dan huruf-huruf yang bermunculan
dari satu buku ringan yang berada di tanganku.
Dingin menyeruak ketika pukul sepuluh malam kami telah tiba di
stasiun Banyuwangi. Masker dan sarung tangan buru-buru kami kenakan demi
menahan dingin malam. Begitu keluar dari gerbang, seorang lelaki entah
bagaimana langsung mengenali kami sebagai penumpangnya. Iya, kami telah memesan
via telepon untuk antar-jemput mengendarai semacam mobil jip yang akan
mengantarkan menuju tujuan utama kami, Kawah Ijen.
Dari stasiun, kami masih harus menempuh perjalanan tengah malam
selama kurang lebih satu setengah jam. Dengan rasa kantuk yang cukup luar
biasa, kami melewati pepohonan, pedesaan yang sepi hingga mulai memasuki hutan
dan sampailah di wisata Kawah Ijen yang cukup dikenal hingga manca negara.
Dingin. Hanya itu satu kata yang mewakili keadaan kami ketika
pertama kali membuka pintu mobil di arena parkir. Pukul satu pagi, sudah
terdengar sedikit hiruk pikuk orang-orang yang sama-sama mempunyai misi menuju
puncak Ijen. Jaket tebal, sarung tangan hingga masker yang menutupi kami
sepertinya memang tak cukup menghangatkan. Saking dinginnya, uap air keluar
dari mulut ketika kami membuka mulut, tak kalah dengan berbagai adegan drama
Korea ketika musim dingin atau salju.
Usai membayar tiket sebesar tujuh ribu rupiah, dan waktu
menunjukkan sekitar pukul dua malam, kami pun segera melancarkan aksi muncak!
Dengan bekal senter, kami menulusuri jalanan tanah yang lumayan bagus untuk
ukuran jalanan menuju puncak sebuah gunung atau hutan. Meski hanya berlima dan
itu pun terdiri dari para gadis, kami tak sendirian. Di tengah-tengah
perjalanan, banyak rombongan lainnya yang juga melakukan muncak bahkan
tak ketinggalan para turis manca negara yang kebanyakan dari Jerman dan Prancis
pun dengan antusiasnya melangkahkan kaki menanjak demi puncak.
Ngos-ngosan, setiap tikungan atau tanjakan kami berhenti. Itulah
perjalanan kala itu. Terdiri dari para gadis dengan kekuatan sekedarnya, kami
menanjaki jalanan yang tinggi dengan napas tersengal-sengal dan tak jarang
mengeluh. Pula, meski tak saling mengenal, kami saling menyemangati ketika
berpapasan dengan rombongan lainnya yang sama-sama sering berhenti hanya untuk
meluruskan kaki sejenak atau hanya mengambil napas.
Perjalanan yang sangat melelahkan ditengah kegelapan hutan yang
memakan waktu sekitar dua hingga dua setengah jam pun akhirnya berakhir ketika
kami telah melihat dari kejauhan pemandangan blue fire. Memang api biru
itulah yang seolah menjadi menu wajib para pendaki kawah Ijen. Karena kami
menghabiskan waktu cukup lama di perjalanan mendaki, alhasil kami hanya
mendapat sedikit saja pertunjukkan blue fire, dan itupun hanya dari
kejauhan. Tetapi kaki yang melelahkan itu sudah sangat terbayar ketika kami
meneruskan langkah menuju kawasan yang mengarakan ke puncak yang benar-benar
puncak.
Tak tahan dengan hawa dingin yang sampai menyakitkan tangan ketika
bersentuhan dengan air, kami segera mencari area untuk bakar-bakar. Mengeluarkan
segala perbekalan yang telah kami boyong dari Malang, seperti kompor mini,
panci, pop mie, kopi hingga jajanan ringan pun kami koyak demi mengganjal
perut. Menyeduh pop mie, menyerutup kopi susu dan melahap makanan ringan agaknya
sedikit membantu pikiran untuk mengalihkan protes akan hawa dingin.
Tak puas hanya berdiam diri, aku dan salah seorang temanku bernama
Emil memutuskan untuk mendaki sekali lagi menuju puncak yang lebih tinggi. Udara
semakin dingin menyapa, kabut mulai menampakkan diri menutup hampir semua
pegununganan kawah yang terlihat. Menapaki jalanan yang tak sama, tanah luas
yang kanan kirinya jurang, jurang kawah sepertinya. Berhenti setelah melangkah
beberapa jangkah hanya untuk mengambil sudut indah dan berpose. Jepret sana
jepret sini seolah tak cukup menggambarkan keindahan lukisan Allah.
Waktu terus mengejar teratur, satu tujuan demi menuju puncak adalah
matahari terbit. Kupikir langkah kami sudah tinggal beberapa lagi, ternyata
menuju puncak untuk melihat sunset membutuhkan langkah kaki yang lebih
cepat dan tentu tenaga yang lebih. Tak tahu arah, dan hanya mengikuti arah kaki
para bule yang dengan kaki panjangnya sepertinya tidak merasakan lelah dalam
melangkah.
Subhanallah, begitu indah lukisan Allah. Meski tidak menyapa puncak
dalam matahari terbit, tapi pemandangan yang telah ku lalui begitu memikat hati
siapapun. Tak melewatkan kesempatan emas, aku dan Emil terus memanfaatkan
kamera, membidik suguhan Illahi yang menawan. Entah sudah berada di ketinggian
berapa, aku bisa melihat kawah di bawah sana yang mulai tersibak kabut pagi. Tak
lupa, meminta foto dengan para bule dan kali itu aku mengandalkan kemampuan
bahasa Prancisku untuk berbicara sepenggal dengan orang-orang berambut pirang
itu.
Puas berpose dan menangkap pemandangan menakjubkan, kami berlima
segera mengakhiri kegiatan di puncak dan turun. Perjalanan turun membutuhkan
waktu yang lebih singkat, pastinya. Dalam perjalanan, beberapa kali bertemu
dengan bule Prancis, malu-malu aku menyapa bonjour yang artinya selamat
pagi.
Dan baiklah, perjalanan Kawah Ijen sudah berhasil kami lalui. Senang,
gembira, takjub dan ah tidak bisa dilontarkan dengan kata-kata lagi bagaimana
indahnya. Kembali diantar dengan jip, kami meninggalkan kawasan Kawah Ijen dan
segera meluncur dalam rasa kantuk yang luar biasa menuju terminal. Kami harus
menaiki bis jurusan Jember untuk sampai ke rumah salah satu rombongan kami yang
terletak di pinggiran Banyuwangi.
Begitu sampai, kami segera berbasah ria menghilangkan penat,
berganti kostum lagi dan melanjutkan perjalanan menuju kebun jeruk. Lalu,
petualangan kami tidak langsung berhenti meski kami menyimpan banyak lelah. Usai
Ashar, dengan diantar ayah dari teman kami, kami melewati jalanan yang tak
cukup lebar dengan pemandangan khas pedesaan, kami tiba di Pulau Merah.
Mengapa dinamakan Pulau Merah? Ah, itu juga yang pernah kutanyakan. Jawabannya singkat. Karena dulu pasirnya berwarna merah. Lalu sekarang? Pasirnya biasa saja seperti pasir-pasir pada umumnya. Itu kan dulu.
Pulau merah hampir sama dengan pantai lainnya. Pasir lembut
membentang, deburan ombak berisik bernyanyi nyaring. Tapi bedanya, terdapat
area menuju pulau di tengah laut yang hampir mirip dengan Tanah Lot di Bali. Jika
sedang surut, akan terlihat banyak bebatuan karang dengan ikan-ikan kecil dan
lumut yang membungkusnya. Kami meloncat pelan dari satu karang licin ke karang
lainnya, dan menginjak pasir di sekitar pulau tengah laut itu. Lagi dan lagi
jepret sana jepret sini, dan I got it! Sunrise! Menyaksikan matahari
perlahan nan anggun kembali ke peraduannya dan menutup tirai sinarnya
sayup-sayup. Subhanallah, betapa anggunnya. Decak kagumku tak usai kutampakkan
dalam keheninganku.
Waktu menyentuh gusar angka setengah sembilan malam, telah tiba di
rumah teman, juga telah mengisi perut keroncongan, kami segera mengencani kasur
empuk. Betapa leganya meluruskan kaki dan punggung usai berjam-jam mata terus
terjaga dan tenaga terbuang. Tanpa menunggu menit lama, mata kami segera
melekat pulas dalam keheningan malam kota Banyuwangi.
Esoknya, pukul lima pagi kami sudah kembali terburu-buru mengemasi
perkakas kami untuk meluncur kembali ke Malang. Au, sakit dimana-mana. Ngilu,
pegal menjalar disekujur tubuh begitu kami menggerakkan badan pertama kala
bangun. Efek muncak tanpa pemanasan sepertinya.
Kereta Banyuwangi-Malang berangkat sekitar pukul enam pagi. Berada di
kereta lagi dalam gerbong nomor dua dan membawa lima kardus sekaligus berisi
buah jeruk hasil perkebunan.
Perjalanan pulang sepertinya tidak selama ketika berangkat, padahal
memakan waktu yang sama. Tetap membunuh kejenuhan dengan bergelut Uno maupun
menikmati alunan musik mengantarkan kami tiba di Stasiun Malang.
Perjalanan Jumat hingga Minggu itu pun telah usai tanpa terasa. Meninggalkan
banyak kenangan melalui ratusan bingkai foto yang kelak akan menjadi saksi
sejarah, sejarah untukku sendiri khususnya. Terima kasih Ya Allah, Engkau telah
memberiku kesempatan untuk menelusuri alam-Mu.
Terima kasih telah mengukirkan sejarah yang kelak akan kubagi dengan
orang-orang yang aku cintai.
Aucun commentaire:
Enregistrer un commentaire