Here, I am



lundi, septembre 15, 2014

5 Kilometer : Kawah Ijen dan Pulau Merah

Jumat, 29 Agustus 2014
Dengan terburu-buru, kami berempat segera menuruni anak tangga dan sigapnya menyetop angkot yang lewat tepat di depan pesantren kami, pesantren Luhur. Berdandan ala kadarnya, bahkan terkesan culun karena kami harus menutupi celana cukup ketat yang membalut kaki kami dengan rok seadanya. Ya, memang begitu aturannya. Kami, para santri putri boleh mengenakan celana jika sudah berada di luar area pesantren. Alhasil, begitu kami berempat yang sudah ditunggu satu teman lainnya di stasiun, segera ngacir mencari toilet dan segera melepas rok. Jadilah kami berpenampilan layaknya pecinta alam sejati. Mengenakan kaos trendy, celana pensil masa kini dan tak ketinggalan sebuah jaket cukup tebal turut melingkar.
Kereta Malang-Banyuwangi akan segera berangkat tepat pada pukul 14.55 WIB. Dengan sebelumnya menyempatkan diri berfoto berlima, kami pun dengan langkah tenang dan senang memasuki gerbong nomor satu dan segera mengitari tempat duduk bernomor 9. Duduklah kami berlima saling berhadapan. Juga, inilah kali pertama untukku berada dalam kereta. Jujur, ada perasaan takut yang menyelinap kala itu. Paranoid yang kupunya selalu muncul ketika aku memberanikan untuk mencoba berbagai hal baru. Apalagi berangkat mbolang bersama kawan-kawan pesantren itu tanpa meminta persetujuan dari orang tua masing-masing, nekad. Iya, lima gadis nekad.
Satu kata yang dapat kugambarkan ketika menikmati suasana dalam lajunya kereta. Menyenangkan. Menikmati pemandangan alam yang terbentang sepanjang jalanan yang dilalui dan merasakan benar-benar mengusir kejenuhan. Perjalanan sekitar 8 jam pun sama sekali tidak terasa karena kami berlima juga memutuskan untuk membunuh putaran detak jam dengan bermain kartu Uno. Tertawa selama permainan, berisik adalah hal yang mewarnai selama berjam-jam perjalanan, kamipun sempat menjadi pusat perhatian bapak-bapak yang duduk di seberang kami. Tapi masa bodoh, kami sangat menikmatinya.
Hingga waktu memukul angka delapan, kami menyudahi permainan seru dan mulai menikmati aktivitas masing-masing. Menutup telinga dengan headset maupun earphone yang telah kami persiapkan sebagai teman perjalanan. Seperti yang sering kulakukan ketika dalam perjalanan, aku pun menenggelamkan mata dan mimpiku dalam lantunan lagu-lagu yang melintasi telingaku sebegitu anggunnya. Tak lupa, membaca sebuah buku yang sengaja ku bawa sebagai pelengkap ritual me time. Sangat menikmati, malam hari di atas sebuah kereta yang tengah melaju, di tengah-tengah banyak orang yang tertidur entah pulas maupun tak nyaman, aku begitu tenggelam dalam alunan musik dan huruf-huruf yang bermunculan dari satu buku ringan yang berada di tanganku.
Dingin menyeruak ketika pukul sepuluh malam kami telah tiba di stasiun Banyuwangi. Masker dan sarung tangan buru-buru kami kenakan demi menahan dingin malam. Begitu keluar dari gerbang, seorang lelaki entah bagaimana langsung mengenali kami sebagai penumpangnya. Iya, kami telah memesan via telepon untuk antar-jemput mengendarai semacam mobil jip yang akan mengantarkan menuju tujuan utama kami, Kawah Ijen.
Dari stasiun, kami masih harus menempuh perjalanan tengah malam selama kurang lebih satu setengah jam. Dengan rasa kantuk yang cukup luar biasa, kami melewati pepohonan, pedesaan yang sepi hingga mulai memasuki hutan dan sampailah di wisata Kawah Ijen yang cukup dikenal hingga manca negara.
Dingin. Hanya itu satu kata yang mewakili keadaan kami ketika pertama kali membuka pintu mobil di arena parkir. Pukul satu pagi, sudah terdengar sedikit hiruk pikuk orang-orang yang sama-sama mempunyai misi menuju puncak Ijen. Jaket tebal, sarung tangan hingga masker yang menutupi kami sepertinya memang tak cukup menghangatkan. Saking dinginnya, uap air keluar dari mulut ketika kami membuka mulut, tak kalah dengan berbagai adegan drama Korea ketika musim dingin atau salju.
Usai membayar tiket sebesar tujuh ribu rupiah, dan waktu menunjukkan sekitar pukul dua malam, kami pun segera melancarkan aksi muncak! Dengan bekal senter, kami menulusuri jalanan tanah yang lumayan bagus untuk ukuran jalanan menuju puncak sebuah gunung atau hutan. Meski hanya berlima dan itu pun terdiri dari para gadis, kami tak sendirian. Di tengah-tengah perjalanan, banyak rombongan lainnya yang juga melakukan muncak bahkan tak ketinggalan para turis manca negara yang kebanyakan dari Jerman dan Prancis pun dengan antusiasnya melangkahkan kaki menanjak demi puncak.
Ngos-ngosan, setiap tikungan atau tanjakan kami berhenti. Itulah perjalanan kala itu. Terdiri dari para gadis dengan kekuatan sekedarnya, kami menanjaki jalanan yang tinggi dengan napas tersengal-sengal dan tak jarang mengeluh. Pula, meski tak saling mengenal, kami saling menyemangati ketika berpapasan dengan rombongan lainnya yang sama-sama sering berhenti hanya untuk meluruskan kaki sejenak atau hanya mengambil napas.
Perjalanan yang sangat melelahkan ditengah kegelapan hutan yang memakan waktu sekitar dua hingga dua setengah jam pun akhirnya berakhir ketika kami telah melihat dari kejauhan pemandangan blue fire. Memang api biru itulah yang seolah menjadi menu wajib para pendaki kawah Ijen. Karena kami menghabiskan waktu cukup lama di perjalanan mendaki, alhasil kami hanya mendapat sedikit saja pertunjukkan blue fire, dan itupun hanya dari kejauhan. Tetapi kaki yang melelahkan itu sudah sangat terbayar ketika kami meneruskan langkah menuju kawasan yang mengarakan ke puncak yang benar-benar puncak.
Tak tahan dengan hawa dingin yang sampai menyakitkan tangan ketika bersentuhan dengan air, kami segera mencari area untuk bakar-bakar. Mengeluarkan segala perbekalan yang telah kami boyong dari Malang, seperti kompor mini, panci, pop mie, kopi hingga jajanan ringan pun kami koyak demi mengganjal perut. Menyeduh pop mie, menyerutup kopi susu dan melahap makanan ringan agaknya sedikit membantu pikiran untuk mengalihkan protes akan hawa dingin.
Tak puas hanya berdiam diri, aku dan salah seorang temanku bernama Emil memutuskan untuk mendaki sekali lagi menuju puncak yang lebih tinggi. Udara semakin dingin menyapa, kabut mulai menampakkan diri menutup hampir semua pegununganan kawah yang terlihat. Menapaki jalanan yang tak sama, tanah luas yang kanan kirinya jurang, jurang kawah sepertinya. Berhenti setelah melangkah beberapa jangkah hanya untuk mengambil sudut indah dan berpose. Jepret sana jepret sini seolah tak cukup menggambarkan keindahan lukisan Allah.
Waktu terus mengejar teratur, satu tujuan demi menuju puncak adalah matahari terbit. Kupikir langkah kami sudah tinggal beberapa lagi, ternyata menuju puncak untuk melihat sunset membutuhkan langkah kaki yang lebih cepat dan tentu tenaga yang lebih. Tak tahu arah, dan hanya mengikuti arah kaki para bule yang dengan kaki panjangnya sepertinya tidak merasakan lelah dalam melangkah.
Subhanallah, begitu indah lukisan Allah. Meski tidak menyapa puncak dalam matahari terbit, tapi pemandangan yang telah ku lalui begitu memikat hati siapapun. Tak melewatkan kesempatan emas, aku dan Emil terus memanfaatkan kamera, membidik suguhan Illahi yang menawan. Entah sudah berada di ketinggian berapa, aku bisa melihat kawah di bawah sana yang mulai tersibak kabut pagi. Tak lupa, meminta foto dengan para bule dan kali itu aku mengandalkan kemampuan bahasa Prancisku untuk berbicara sepenggal dengan orang-orang berambut pirang itu.
Puas berpose dan menangkap pemandangan menakjubkan, kami berlima segera mengakhiri kegiatan di puncak dan turun. Perjalanan turun membutuhkan waktu yang lebih singkat, pastinya. Dalam perjalanan, beberapa kali bertemu dengan bule Prancis, malu-malu aku menyapa bonjour yang artinya selamat pagi.
Dan baiklah, perjalanan Kawah Ijen sudah berhasil kami lalui. Senang, gembira, takjub dan ah tidak bisa dilontarkan dengan kata-kata lagi bagaimana indahnya. Kembali diantar dengan jip, kami meninggalkan kawasan Kawah Ijen dan segera meluncur dalam rasa kantuk yang luar biasa menuju terminal. Kami harus menaiki bis jurusan Jember untuk sampai ke rumah salah satu rombongan kami yang terletak di pinggiran Banyuwangi.
Begitu sampai, kami segera berbasah ria menghilangkan penat, berganti kostum lagi dan melanjutkan perjalanan menuju kebun jeruk. Lalu, petualangan kami tidak langsung berhenti meski kami menyimpan banyak lelah. Usai Ashar, dengan diantar ayah dari teman kami, kami melewati jalanan yang tak cukup lebar dengan pemandangan khas pedesaan, kami tiba di Pulau Merah.

Mengapa dinamakan Pulau Merah? Ah, itu juga yang pernah kutanyakan. Jawabannya singkat. Karena dulu pasirnya berwarna merah. Lalu sekarang? Pasirnya biasa saja seperti pasir-pasir pada umumnya. Itu kan dulu.
Pulau merah hampir sama dengan pantai lainnya. Pasir lembut membentang, deburan ombak berisik bernyanyi nyaring. Tapi bedanya, terdapat area menuju pulau di tengah laut yang hampir mirip dengan Tanah Lot di Bali. Jika sedang surut, akan terlihat banyak bebatuan karang dengan ikan-ikan kecil dan lumut yang membungkusnya. Kami meloncat pelan dari satu karang licin ke karang lainnya, dan menginjak pasir di sekitar pulau tengah laut itu. Lagi dan lagi jepret sana jepret sini, dan I got it! Sunrise! Menyaksikan matahari perlahan nan anggun kembali ke peraduannya dan menutup tirai sinarnya sayup-sayup. Subhanallah, betapa anggunnya. Decak kagumku tak usai kutampakkan dalam keheninganku.
Waktu menyentuh gusar angka setengah sembilan malam, telah tiba di rumah teman, juga telah mengisi perut keroncongan, kami segera mengencani kasur empuk. Betapa leganya meluruskan kaki dan punggung usai berjam-jam mata terus terjaga dan tenaga terbuang. Tanpa menunggu menit lama, mata kami segera melekat pulas dalam keheningan malam kota Banyuwangi.
Esoknya, pukul lima pagi kami sudah kembali terburu-buru mengemasi perkakas kami untuk meluncur kembali ke Malang. Au, sakit dimana-mana. Ngilu, pegal menjalar disekujur tubuh begitu kami menggerakkan badan pertama kala bangun. Efek muncak tanpa pemanasan sepertinya.
Kereta Banyuwangi-Malang berangkat sekitar pukul enam pagi. Berada di kereta lagi dalam gerbong nomor dua dan membawa lima kardus sekaligus berisi buah jeruk hasil perkebunan.
Perjalanan pulang sepertinya tidak selama ketika berangkat, padahal memakan waktu yang sama. Tetap membunuh kejenuhan dengan bergelut Uno maupun menikmati alunan musik mengantarkan kami tiba di Stasiun Malang.
Perjalanan Jumat hingga Minggu itu pun telah usai tanpa terasa. Meninggalkan banyak kenangan melalui ratusan bingkai foto yang kelak akan menjadi saksi sejarah, sejarah untukku sendiri khususnya. Terima kasih Ya Allah, Engkau telah memberiku kesempatan untuk menelusuri alam-Mu.  Terima kasih telah mengukirkan sejarah yang kelak akan kubagi dengan orang-orang yang aku cintai.



Aucun commentaire:

Enregistrer un commentaire