Sabtu.
Malam. 13. September. 2014. Malang. Jawa Timur.
Hari
ini bukan lagi hari Sabtu apalagi Sabtu malam dimana kebanyakan mereka membuka
pintu dan menjelajah dunia malam bersama mereka yang diinginkan. Iya, mereka.
Mereka yang berkesempatan mengalami berbagai hal yang sepertinya menyenangkan.
Tapi bagiku? Menyenangkan memang. Angka delapan dari angka sepuluh sebagai
penilaian. Tapi cukup mencicipinya saja, hanya sekedar pula. Ngopi di pinggir
jalanan yang kerap dihujani sekian banyak kendaraan berebut celah, hingga
memutari kota Malang tanpa tujuan sampai larut malam. Sebagai anak muda yang
menyimpan begitu banyak rasa penasaran dan keingintahuan, aku selalu membujuk
hatiku untuk mengikuti ajakan mereka yang terlalu akrab dengan gemerlapnya
lampu dimalam hari. Tak apalah hanya sesekali saja, pikirku.
Dan
semalam, tepatrnya malam minggu dimana jalanan tak cukup lebar tepat di depan
pesantren tempatku merebahkan tubuh begitu padat hampir tak tersisa celah bagi
pejalan kaki, satu kejadian menohok membuka mataku. Tentang rasa lebih
bersyukur dan tak perlu menyesali apapun yang telah terjadi.
Berawal
dari berjalan kaki menuju kampus rindang nan sejuk, adalah kampus UIN yang
hanya berjarak sekian meter dari pesantren. Berjalan dengan mata menyapu segala
hiruk pikuk juga deru suara kendaraan yang berebut jalan satu sama lain.
Pemandangan lazim itu menyumbang secuil senyum tersembunyiku. Tak henti
berpapasan dengan berbagai bentuk manusia yang lalu lalang menikmati kehidupan
mereka sendiri, menikmati waktu yang tengah memeluk sebegitu indahnya.
Semua
terasa menyenangkan, dunia malam dengan segala aksesoris yang menutupinya. Tak
terkecuali para pedagang juga mungkin beberapa pengemis turut menambah
semaraknya malam di jalan Sumbersari yang memang terkenal penuh sesak. Tapi
tidak untuk satu pengemis yang berjalan tepat di depanku. Seorang wanita dengan
sebuah jaket jins rombeng, topi dan segala peralatan lusuh atau memang sengaja
dilusuhkan, menggendong seorang bayi mungil yang sedang terlelap dalam
dekapannya. Di belakangnya seorang bocah kecil yang berpakaian tak kalah
lusuhnya mengekor dengan tatapan tanpa dosa khas anak kecil.
Entah
berbalut sebab apa, si wanita itu dengan tanpa sungkan pada para pejalan kaki
lainnya, tiba-tiba mencubit dengan ‘sadisnya’ pipi si bocah kecil yang setia
membuntuti di belakangnya. Aku yang melintas sejenak mendengar sepercik
kata-kata yang dilontarkan si wanita itu dengan amat kesalnya.
“
Dikandani ojok ngeyel ta! Koen tak tutuk!”
“
Dikasih tahu jangan ngeyel! Aku pukul kamu!”
Tak
sebegitu jelas apa yang diucapkan si wanita itu dalam raut wajah yang kukira
makin menyuguhkan aura seramnya. Kurang lebih itu yang dapat kutangkap. Ketika
aku telah melewati meraka, aku segera berbalik dan ku tangkap wajah bocah kecil
dibalik topi tak kalah lusuh dari ibunya. Melas, sangat melas. Memegang pipi
bekas cubitan ibunya, memamerkan kedua mata yang menyimpan air mata yang seolah
ditahan dipelupuknya.
Pemandangan
itu tak serta merta menghentikan langkahku untuk menyaksikan apa yang akan
terjadi nanti. Tetap berjalan dan berhenti pada sebuah warung untuk membeli
makan malam. Sembari menanti pesanan, tak lama setelahnya sepasang ibu dan anak
‘pengemis’ itu muncul lagi dan kali ini menengadahkan sebuah gelas plastik
bekas minuman. Si bocah malang itu berkeliling dari meja menuju meja lainnya
kedalam warung, sedangkan si ibu memainkan genjrengan ala kadarnya sambil
mengomat-ngamitkan mulutnya entah lagu apa yang ia nyanyikan di luar warung.
Kuperhatikan,
si bocah malang itu menunggu lama sambil mengantongkan gelas plastik bekas di
tangan kanannya. Jika pengunjung tidak segera memberinya uang, si bocah itu
akan semakin memasang wajah paling melas dan tetap menunggu di pinggir meja.
Entah, karena memang merasa iba dengan si bocah pengemis atau mungkin merasa
risih karena terlalu lama melihat pemandangan si bocah lusuh itu, semua
pengunjung memberinya uang. Dan ajaibya, si wanita pengemis itu langsung
menampilkan senyum kecilnya pada si bocah itu. Begitu seterusnya dari warung ke
warung mereka melangkah dengan tak hentinya memaparkan wajah kompak melas dan
nelangsanya mengharap sejumput belas kasihan orang yang mungkin kebanyakan tak
lagi bersimpati pada profesi mereka.
Dengan
tatapan antara menyimpan rasa kasihan dan penasaran juga kesal, aku hanya bisa
melihat punggung mereka yang semakin lama semakin tenggelam berbaur dengan
kerumunan pejalanan kaki. Diam, lalu kubiarkan otakku memikirkan apapun yang
berkaitan dengan kejadian itu. Ibu pengemis dengan dua anak pengemisnya. Miris rasanya
disuguhi pemadangan seperti itu.
Memang
tidak ada yang ganjal karena sudah terlalu banyak pasangan ibu dan anak yang
mengais rezeki sebagai peminta-minta di negeri kita, tapi jika kita lebih dalam
lagi menelusuri, timbul pertanyaan inti. Bagaimana bisa? Bagimana bisa seorang
anak yang masih dibawah umur diajak atau mungkin bisa saja dipaksa untuk
membantu orang tua mencari uang dengan cara berkeliling meminta rezeki orang? Atau
kasarannya, dimana pikiran si orang tua yang memperkerjakan si anak?
Si anak
yang kebanyakan masih berusia dibawah angka sepuluh, seharusnya menjadi masa
keemasan untuk menelurkan imajinasi mereka juga berkesempatan menikmati masa
bermain dengan kawan sejawatnya. Atau bahkan menjadi masa dimana mereka bisa bermanja-manjaan kepada keluarga dan
masih pantas merengek meminta ini dan itu sesuai dengan naluri kekanank-kanakan
alami yang Tuhan berikan.
Tapi
menjadi bocah pengemis yang mengekor orang tuanya menengadahkan tangan sambil
memainkan alat musik yang benar-benar seadaanya lalu menggumamkan mulut
bernyayi nyanyian tak jelas, ditambah pula berjalan entah berapa kilometer
jauhnya sambil memaksakan muka memelas, tentu bukan menjadi keinginan mereka. Mereka
sebagai anak kecil dalam masa pertumbuhan dan sekolah hanya ingin melakukan
kegiatan layaknya anak-anak normal lainnya. Bersekolah dan bermain. Bukan berjalan
sejauh mungkin ditengah banyak orang menyantap makanan lezat.
Tapi
sekali lagi, mereka memang hanya seorang bocah kecil. Mana punya andil dalam
keluarga? Mana berani melawan orang tua yang kemungkinan mendidik dengan cara
keras? Mereka tetap bocah kecil yang disetir paksa orang tua dan dengan segala
keterpaksaan harus rela meninggalkan masa-masa kecil bahagia mereka.
Jika
keturunan atau generasi pengemis makin bertambah tiap hari, lalu bagaimana
kiranya tumbuh kembang anak-anak mungil yang dipaksa lusuh itu? Tidak sekolah
atau mungkin masih dibiarkan sekolah tapi setelahnya harus berlelah letih
hingga larut malam dan mengabaikan tugas-tugas sekolah. Sebegitukah adanya? Belum
lagi bagaimana jika kita mulai berbicara mengenai dampak psikologis dari si
anak? Merasa tertekan dan kehilangan masa kecilnya? Dipaksa bekerja yang setara
dengan orang tuanya? Berhadapan dengan banyak orang dengan harapan mengiba? Bagaimana
bentuk masa depan mereka? Apa memungkinkan mental mereka akan sekuat baja
karena kerasnya kehidupan? Bagaimana jika mereka tak sanggup mengubah nasib
lalu menyerah dan akan terus meneruskan profesi itu hingga generasi berikutnya?
Entahlah
begitu banyak misteri kehidupan yang masih menyelimuti kehidupan ini. Terlalu
banyak hal yang menjadi tanda tanya besar dalam benak dan kita sendiri masih
meraba kemana semestinya kita harus bertanya dan memperoleh jawabannya. Yang jelas,
gambaran sepasang ibu dan anak pengemis itu semakin membuka lebar rasa syukur
dalam hidupku. Bersyukur karena aku maupun lapisan keluargaku tidak ada yang
mengalaminya, masih diperkenankan untuk mengais rezeki dari jalan yang tidak
harus meminta.
Hanya
dapat mengukir doa agar siapapun yang telah menjabat sebagai orang tua, tidak
menyertakan anak emasnya untuk terjun bekerja keras dan lebih membiarkan mereka
menikmati kehidupan kecil yang Tuhan anugrahkan sekali seumur hidup.

Aucun commentaire:
Enregistrer un commentaire