Here, I am



lundi, septembre 15, 2014

Sepasang Pengemis ...





Sabtu. Malam. 13. September. 2014. Malang. Jawa Timur.

Hari ini bukan lagi hari Sabtu apalagi Sabtu malam dimana kebanyakan mereka membuka pintu dan menjelajah dunia malam bersama mereka yang diinginkan. Iya, mereka. Mereka yang berkesempatan mengalami berbagai hal yang sepertinya menyenangkan. Tapi bagiku? Menyenangkan memang. Angka delapan dari angka sepuluh sebagai penilaian. Tapi cukup mencicipinya saja, hanya sekedar pula. Ngopi di pinggir jalanan yang kerap dihujani sekian banyak kendaraan berebut celah, hingga memutari kota Malang tanpa tujuan sampai larut malam. Sebagai anak muda yang menyimpan begitu banyak rasa penasaran dan keingintahuan, aku selalu membujuk hatiku untuk mengikuti ajakan mereka yang terlalu akrab dengan gemerlapnya lampu dimalam hari. Tak apalah hanya sesekali saja, pikirku.
Dan semalam, tepatrnya malam minggu dimana jalanan tak cukup lebar tepat di depan pesantren tempatku merebahkan tubuh begitu padat hampir tak tersisa celah bagi pejalan kaki, satu kejadian menohok membuka mataku. Tentang rasa lebih bersyukur dan tak perlu menyesali apapun yang telah terjadi.
Berawal dari berjalan kaki menuju kampus rindang nan sejuk, adalah kampus UIN yang hanya berjarak sekian meter dari pesantren. Berjalan dengan mata menyapu segala hiruk pikuk juga deru suara kendaraan yang berebut jalan satu sama lain. Pemandangan lazim itu menyumbang secuil senyum tersembunyiku. Tak henti berpapasan dengan berbagai bentuk manusia yang lalu lalang menikmati kehidupan mereka sendiri, menikmati waktu yang tengah memeluk sebegitu indahnya.
Semua terasa menyenangkan, dunia malam dengan segala aksesoris yang menutupinya. Tak terkecuali para pedagang juga mungkin beberapa pengemis turut menambah semaraknya malam di jalan Sumbersari yang memang terkenal penuh sesak. Tapi tidak untuk satu pengemis yang berjalan tepat di depanku. Seorang wanita dengan sebuah jaket jins rombeng, topi dan segala peralatan lusuh atau memang sengaja dilusuhkan, menggendong seorang bayi mungil yang sedang terlelap dalam dekapannya. Di belakangnya seorang bocah kecil yang berpakaian tak kalah lusuhnya mengekor dengan tatapan tanpa dosa khas anak kecil.
Entah berbalut sebab apa, si wanita itu dengan tanpa sungkan pada para pejalan kaki lainnya, tiba-tiba mencubit dengan ‘sadisnya’ pipi si bocah kecil yang setia membuntuti di belakangnya. Aku yang melintas sejenak mendengar sepercik kata-kata yang dilontarkan si wanita itu dengan amat kesalnya.
“ Dikandani ojok ngeyel ta! Koen tak tutuk!”
“ Dikasih tahu jangan ngeyel! Aku pukul kamu!”
Tak sebegitu jelas apa yang diucapkan si wanita itu dalam raut wajah yang kukira makin menyuguhkan aura seramnya. Kurang lebih itu yang dapat kutangkap. Ketika aku telah melewati meraka, aku segera berbalik dan ku tangkap wajah bocah kecil dibalik topi tak kalah lusuh dari ibunya. Melas, sangat melas. Memegang pipi bekas cubitan ibunya, memamerkan kedua mata yang menyimpan air mata yang seolah ditahan dipelupuknya.
Pemandangan itu tak serta merta menghentikan langkahku untuk menyaksikan apa yang akan terjadi nanti. Tetap berjalan dan berhenti pada sebuah warung untuk membeli makan malam. Sembari menanti pesanan, tak lama setelahnya sepasang ibu dan anak ‘pengemis’ itu muncul lagi dan kali ini menengadahkan sebuah gelas plastik bekas minuman. Si bocah malang itu berkeliling dari meja menuju meja lainnya kedalam warung, sedangkan si ibu memainkan genjrengan ala kadarnya sambil mengomat-ngamitkan mulutnya entah lagu apa yang ia nyanyikan di luar warung.
Kuperhatikan, si bocah malang itu menunggu lama sambil mengantongkan gelas plastik bekas di tangan kanannya. Jika pengunjung tidak segera memberinya uang, si bocah itu akan semakin memasang wajah paling melas dan tetap menunggu di pinggir meja. Entah, karena memang merasa iba dengan si bocah pengemis atau mungkin merasa risih karena terlalu lama melihat pemandangan si bocah lusuh itu, semua pengunjung memberinya uang. Dan ajaibya, si wanita pengemis itu langsung menampilkan senyum kecilnya pada si bocah itu. Begitu seterusnya dari warung ke warung mereka melangkah dengan tak hentinya memaparkan wajah kompak melas dan nelangsanya mengharap sejumput belas kasihan orang yang mungkin kebanyakan tak lagi bersimpati pada profesi mereka.
Dengan tatapan antara menyimpan rasa kasihan dan penasaran juga kesal, aku hanya bisa melihat punggung mereka yang semakin lama semakin tenggelam berbaur dengan kerumunan pejalanan kaki. Diam, lalu kubiarkan otakku memikirkan apapun yang berkaitan dengan kejadian itu. Ibu pengemis dengan dua anak pengemisnya. Miris rasanya disuguhi pemadangan seperti itu.
Memang tidak ada yang ganjal karena sudah terlalu banyak pasangan ibu dan anak yang mengais rezeki sebagai peminta-minta di negeri kita, tapi jika kita lebih dalam lagi menelusuri, timbul pertanyaan inti. Bagaimana bisa? Bagimana bisa seorang anak yang masih dibawah umur diajak atau mungkin bisa saja dipaksa untuk membantu orang tua mencari uang dengan cara berkeliling meminta rezeki orang? Atau kasarannya, dimana pikiran si orang tua yang memperkerjakan si anak?
Si anak yang kebanyakan masih berusia dibawah angka sepuluh, seharusnya menjadi masa keemasan untuk menelurkan imajinasi mereka juga berkesempatan menikmati masa bermain dengan kawan sejawatnya. Atau bahkan menjadi masa dimana mereka  bisa bermanja-manjaan kepada keluarga dan masih pantas merengek meminta ini dan itu sesuai dengan naluri kekanank-kanakan alami yang Tuhan berikan.
Tapi menjadi bocah pengemis yang mengekor orang tuanya menengadahkan tangan sambil memainkan alat musik yang benar-benar seadaanya lalu menggumamkan mulut bernyayi nyanyian tak jelas, ditambah pula berjalan entah berapa kilometer jauhnya sambil memaksakan muka memelas, tentu bukan menjadi keinginan mereka. Mereka sebagai anak kecil dalam masa pertumbuhan dan sekolah hanya ingin melakukan kegiatan layaknya anak-anak normal lainnya. Bersekolah dan bermain. Bukan berjalan sejauh mungkin ditengah banyak orang menyantap makanan lezat.
Tapi sekali lagi, mereka memang hanya seorang bocah kecil. Mana punya andil dalam keluarga? Mana berani melawan orang tua yang kemungkinan mendidik dengan cara keras? Mereka tetap bocah kecil yang disetir paksa orang tua dan dengan segala keterpaksaan harus rela meninggalkan masa-masa kecil bahagia mereka.
Jika keturunan atau generasi pengemis makin bertambah tiap hari, lalu bagaimana kiranya tumbuh kembang anak-anak mungil yang dipaksa lusuh itu? Tidak sekolah atau mungkin masih dibiarkan sekolah tapi setelahnya harus berlelah letih hingga larut malam dan mengabaikan tugas-tugas sekolah. Sebegitukah adanya? Belum lagi bagaimana jika kita mulai berbicara mengenai dampak psikologis dari si anak? Merasa tertekan dan kehilangan masa kecilnya? Dipaksa bekerja yang setara dengan orang tuanya? Berhadapan dengan banyak orang dengan harapan mengiba? Bagaimana bentuk masa depan mereka? Apa memungkinkan mental mereka akan sekuat baja karena kerasnya kehidupan? Bagaimana jika mereka tak sanggup mengubah nasib lalu menyerah dan akan terus meneruskan profesi itu hingga generasi berikutnya?
Entahlah begitu banyak misteri kehidupan yang masih menyelimuti kehidupan ini. Terlalu banyak hal yang menjadi tanda tanya besar dalam benak dan kita sendiri masih meraba kemana semestinya kita harus bertanya dan memperoleh jawabannya. Yang jelas, gambaran sepasang ibu dan anak pengemis itu semakin membuka lebar rasa syukur dalam hidupku. Bersyukur karena aku maupun lapisan keluargaku tidak ada yang mengalaminya, masih diperkenankan untuk mengais rezeki dari jalan yang tidak harus meminta.
Hanya dapat mengukir doa agar siapapun yang telah menjabat sebagai orang tua, tidak menyertakan anak emasnya untuk terjun bekerja keras dan lebih membiarkan mereka menikmati kehidupan kecil yang Tuhan anugrahkan sekali seumur hidup.




Aucun commentaire:

Enregistrer un commentaire