Here, I am



mercredi, septembre 10, 2014

Tirai ...



Duhai sang permaisuri,
Tak perlu kau risau, gundah maupun gulana
Duduklah dengan anggun mahkotamu di singgasana kebesaran
Di samping sang Raja yang menganugrahkan kasihnya menujumu

Wahai sang pemilik hati Raja,
Jangan pudarkan rona pipimu pada tangis tak bertuan
Jangan lumasi bibir indahmu pada sumpah serapah tak berTuhan
Dan jangan ludahi hatimu pada cemburu tak berfirman

Engkau, sang penggenggam kekar tangan Raja,
Kan kubisiki dengan segala rendahku
Aku hanya penyandang seragam bersama ratusan pekerjamu
Aku cuma penghuni setia tempat perabot mewah istanamu
Aku pun tak lebih dari banyak orang mengabdimu

Sekali lagi, padamu penyeka lelah sang Raja,
Kubisiki dengan segala nyanyi sunyi hatiku
Aku telah pelihara kekaguman sejak dulu
Aku telah kurung kerinduan tak terhitung
Juga, telah kurawat segala cinta tak ternilai
Iya, pada pemilik kata kagum, rindu juga cintamu
Iya, pada Rajamu.

Tapi, akan selalu ada kata tapi dalam lembar sejarah ini
Aku cukup lihai menahan,
Aku cukup pintar menyembunyikan,
Yang terpenting, pelayanmu ini cukup tau nasibnya
Ku kan persembahkan kata ‘Takkan’ padamu
Takkan ku peluk, takkan ku sandar, dan takkan ku rampas.
Meski jika kau tahu, takkan ku lupa pula.
Tenang, hatinya masih tetap dan akan selalu berjalan padamu
Rindunya akan berlari mengiringimu
Dan cintanya takkan lelah menjagamu.
Nyanyian senduku takkan bisa mengusik puisi cintanya untukmu
Lontaran rinduku takkan mampu menembus bait indah sajaknya padamu
Aku sadar. Sekarang, nanti hingga seterusnya.
Tapi biarkan aku mencintainya dalam diamku, permaisuri terindah.
 Dalam tangan terbukaku ...



Aucun commentaire:

Enregistrer un commentaire