Here, I am



mardi, septembre 23, 2014

Monsieur Agoes



Rabu, 17 September 2014. 

Laki-laki bertubuh besar dan tinggi dengan penampilan gagahnya yang tersembunyi dibalik kemeja agak ketat, berjalan tenang tapi pasti dengan sepasang sepatu hitam mengkilat menopangnya. Menyemerakkan kelas dengan banyolan garing tapi cukup memancing tawa mahasiswanya usai kelas, tak jarang menari lucu menirukan gaya orang lain, atau pada mata kuliah tertentu sering menciptakan ketegangan dengan menyingkirkan sejenak raut senyum pada wajahnya. Semua itu masih terkenang.
Pada hari itu, keluarga Sastra Prancis Brawijaya tengah berduka. Sosok Ketua Program Studi juga dosen. Sosok pemimpin yang telah banyak mengantarkan anak didiknya meraih pintu cemerlang usai lulus. Sosok dosen Pembimbing Akademikku. Pak Agoes Soeswanto banyak orang memanggilnya. Laki-laki yang menutup lembar hidupnya pada usia 41 tanpa ikatan pernikahan itu menjadi pukulan tersendiri bagi kebanyakan mahasiswa yang mengenalnya.
Orang pintar rata-rata diidentifikasikan dengan idealisme yang tinggi. Begitulah bapak satu ini yang kerap menjalankan pemikiran yang tidak sejalan dengan anak-anak didiknya. Siapa yang menang? Layaknya orang tua dan anak pada umumnya yang berbeda jalan, yang menguasai adalah orang tua ketimbang anak yang tidak memiliki andil apapun. Semasa berbaur dengannya, banyak bully an, celotehan pedas hingga hujatan dan tak ketinggalan nama khusus kami haturkan sebagai tanda kekesalan. Mahasiswa Sastra Prancis kompak menjulukinya “Gomes” yang jika dibalik artinya semog, Iya, semog berdasarkan postur tubuhnya yang semakin rapat dengan balutan kemeja dan celana ketatnya.
Masih terlintas sejelas mungkin duduk di kelas Audition Pronountation sekian semester yang lalu. Beliau dengan rapinya memasuki kelas dan mengajari kami cara melafalkan kata dalam bahasa Prancis. Kelas yang tegang, tanpa tertawa, juga dibumbuhi emosi dan sindiran yang khas membuat kami selalu malas mengikuti perkuliahannya. Belum lagi setelah berhasil mengakhiri kelas, beribu omelan, makian yang juga terbungkus dalam wajah kusut kucel marah selalu ditujukan kepada beliau yang sepertinya juga sudah menyadari.
Tapi hujatan, omelan, cacian untuknya sudah berhenti. Tak ada lagi yang dipanggil Gomes, tidak ada lagi si gagah dengan perut buncit terbungkus kemeja kerennya, juga tidak ada lagi gaya kocak ketika menciptakan lelucon garing di kelas. Semuanya tiba-tiba lenyap. Liver menggerogoti tubuh kekarnya hingga nyaris tersisa tulang sebelum ajal mengajaknya berpindah tempat. Semua sungguh hanya tinggal kenangan.
Terima kasih kami haturkan, beribu maaf hanya dapat kami layangkan melalui udara.
Selamat jalan pimpinan, dosen, juga bapak tercinta kami.
Semoga ilmumu selalu mengalir menggantikan candamu.



Aucun commentaire:

Enregistrer un commentaire