Rabu,
17 September 2014.
Laki-laki
bertubuh besar dan tinggi dengan penampilan gagahnya yang tersembunyi dibalik
kemeja agak ketat, berjalan tenang tapi pasti dengan sepasang sepatu hitam
mengkilat menopangnya. Menyemerakkan kelas dengan banyolan garing tapi cukup
memancing tawa mahasiswanya usai kelas, tak jarang menari lucu menirukan gaya
orang lain, atau pada mata kuliah tertentu sering menciptakan ketegangan dengan
menyingkirkan sejenak raut senyum pada wajahnya. Semua itu masih terkenang.
Pada
hari itu, keluarga Sastra Prancis Brawijaya tengah berduka. Sosok Ketua Program
Studi juga dosen. Sosok pemimpin yang telah banyak mengantarkan anak didiknya
meraih pintu cemerlang usai lulus. Sosok dosen Pembimbing Akademikku. Pak Agoes
Soeswanto banyak orang memanggilnya. Laki-laki yang menutup lembar hidupnya
pada usia 41 tanpa ikatan pernikahan itu menjadi pukulan tersendiri bagi
kebanyakan mahasiswa yang mengenalnya.
Orang
pintar rata-rata diidentifikasikan dengan idealisme yang tinggi. Begitulah
bapak satu ini yang kerap menjalankan pemikiran yang tidak sejalan dengan
anak-anak didiknya. Siapa yang menang? Layaknya orang tua dan anak pada umumnya
yang berbeda jalan, yang menguasai adalah orang tua ketimbang anak yang tidak
memiliki andil apapun. Semasa berbaur dengannya, banyak bully an,
celotehan pedas hingga hujatan dan tak ketinggalan nama khusus kami haturkan
sebagai tanda kekesalan. Mahasiswa Sastra Prancis kompak menjulukinya “Gomes”
yang jika dibalik artinya semog, Iya, semog berdasarkan postur tubuhnya yang
semakin rapat dengan balutan kemeja dan celana ketatnya.
Masih
terlintas sejelas mungkin duduk di kelas Audition Pronountation sekian
semester yang lalu. Beliau dengan rapinya memasuki kelas dan mengajari kami
cara melafalkan kata dalam bahasa Prancis. Kelas yang tegang, tanpa tertawa,
juga dibumbuhi emosi dan sindiran yang khas membuat kami selalu malas mengikuti
perkuliahannya. Belum lagi setelah berhasil mengakhiri kelas, beribu omelan,
makian yang juga terbungkus dalam wajah kusut kucel marah selalu ditujukan
kepada beliau yang sepertinya juga sudah menyadari.
Tapi
hujatan, omelan, cacian untuknya sudah berhenti. Tak ada lagi yang dipanggil
Gomes, tidak ada lagi si gagah dengan perut buncit terbungkus kemeja kerennya,
juga tidak ada lagi gaya kocak ketika menciptakan lelucon garing di kelas.
Semuanya tiba-tiba lenyap. Liver menggerogoti tubuh kekarnya hingga nyaris
tersisa tulang sebelum ajal mengajaknya berpindah tempat. Semua sungguh hanya
tinggal kenangan.
Terima
kasih kami haturkan, beribu maaf hanya dapat kami layangkan melalui udara.
Selamat
jalan pimpinan, dosen, juga bapak tercinta kami.
Semoga
ilmumu selalu mengalir menggantikan candamu.

Aucun commentaire:
Enregistrer un commentaire