Here, I am



dimanche, septembre 21, 2014

Pasukan Berisik ...




Ini Pasukan Berisik. Satu orang yang tertinggal, Zesma

Pesantren Luhur namanya. Pesantren unik tak terlalu ketat peraturannya. Mungil bentuknya dengan ratusan penghuninnya. Lalu apa hubungannya dengan Pasukan Berisik? Oke, hold on. Sebelum berkisah tentang pasukan berisik, terlebih dahulu ku ulas kembali surga duniaku saat ini.
Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang atau yang kerap disingkat LTPLM. Berdiri tepat di pinggir jalan raya Sumbersari bernomor 88, dan ups di depan karaoke Tralala. Menegakkan tiga menara sebagai kebesarannya, bangunan berwajah hijau ini berada pada posisi strategis. Butuh peralatan bulanan atau sekedar camilan, tinggal menjangkah menuju Indomart. Lapar atau haus? Terlalu banyak warung makanan yang tersedia dengan menu khasnya masing-masing. Barang elektronik kesayangan mulai rewel rusak? Sepanjang jalan berjejer aneka toko atau servis barang elektronik. Tak punya waktu karena terlalu sibuk dengan dunia kampus atau sekedar malas mencuci sendiri? Laundry pun bersaing apik di pinggir jalanan maupun mengumpat di gang-gang sempit. Juga yang paling penting dan alasan utama, apalagi jika bukan dekat dengan kampus. Mengenyam pendidikan di kampus Brawijaya? Tinggal berseok-seok ria untuk menyentuh pagar-pagar kecil tembusan kampus yang memiliki tiga gerbang utama dan banyak gerbang ‘tikus’ itu. Atau sedang menjadi mahasiswa UIN Malang? Lebih dekat lagi justru. Hanya mengerahkan secuil tenaga untuk jarak kurang lebih 100 hingga 150 meter langsung berhadapan dengan gerbang utamanya. Terjangkau, bukan?
Pesantren ini begitu unik dengan segala keunikannya. Terlebih pada tata ruang di dalamnya yang berkotak-kotak dan sempit hingga terlontar guyonan ‘bisa masuk sulit keluar’. Juga dengan embel-embel peraturannya yang tak seketat pesantren lain pada umumnya. Jika kubandingkan dengan pesantren lainnya, terdapat aturan ketat tidak boleh keluar melebihi pukul lima sore, terdapat bel penanda aktivitas wajib seperti sholat, tiap malam juga wajib dibangunkan sholat Tahajjud. Bahkan, masih ada tradisi hukuman berupa menulis kalimat hukuman dalam sekian banyak halaman.
Itu sangat mirip dengan peraturan pesantren ketika aku masih SMA, yang orang juluki sebagai pesantren Shalafiyah yang artinya hanya fokus pada kitab-kitab kuning dan terkenal dengan peraturan ketat yang mengikatnya. Sedangkan bagimana dengan pesantren Luhur? Santri putra dan putri tinggal dalam satu atap bersama (tentu berbeda tembok), boleh berada di luar pesantren maksimal pukul sembilan malam, jama’ah wajib ialah Shubuh dan Magrib, tidak ada acara bangun wajib untuk sholat Tahajjud, hukumanpun berupa hukuman ro’an atau bersih-bersih hingga halaqoh ilmiah atau muraja’ah. Yang menjadi bonusnya adalah libur kegiatan pada Sabtu dan Minggu juga interaksi ‘bebas’ antara santri putra dan putri. Mengapa dikatakan bebas? Jika pada umumnya di pesantren tidak diperkenankan adanya interaksi langsung antar santri lawan jenis, berbeda yang terjadi di sini. Terdapat banyak acara atau ekstrakurikuler yang membutuhkan kepanitian dari berbagai pihak membuat rapat antar santri putra dan putri sering terjalin menyalurkan ide masing-masing. Bukan karena tidak tahu aturan, tetapi semua yang tinggal adalah mahasiswa bahkan tak sedikit yang telah bekerja. Semua seolah sudah tahu porsi dan batasannya masing-masing tanpa harus diatur dan diperlakukan layaknya anak masih sekolah. Toh, nyatanya interaksi yang terjalin semua masih tetap dalam koridor yang santun.
Ada hal unik lainnya yang juga menjadi ciri khasnya, yakni Halaqoh ilmiah. Yakni semacam presentasi dengan judul-judul ilmu pengetahuan yang akan dikaitkan dengan dunia keIslaman dengan pemateri yang digilir tiap harinya sesuai jadwal yang telah ditempel. Bisa dikatakan semacam diskusi ilmiah berbau keagamaan. Jika dulu, ketika Kyai yang kami panggil Abah  masih hidup, tidak ada diskusi karena kekeliruan yang ada telah mutlak dibenarkan oleh Abah. Tetapi cerita tak lagi sama, tidak ada pembenar yang mutlak, semua masih dalam tahap belajar mencari ilmu, jadilah diskusi itu dilakukan tiap hari usai jamaah Shubuh.
Terlalu banyak hal yang tersembunyi dari balik tembok Luhur, tentang segala rutinitasnya, kesehariannya, penghuninnya juga filosofinya. Semuanya terbungkus rapi dalam satu bangunan mungil penampung para pencari ilmu dunia dan akhirat.
Nah, di dalam bangunan yang juga terdapat warung makan bernama ‘Ceker Wa’alaikumsalam’ itu bernafaslah tujuh gadis dengan wajah rupa-rupa. Datang dari penjuru pulau Jawa yang berbeda pada tahun yang tak sama. Adalah Novi (aku), Azizah, Arini, Ridha, Nelly, Kuni, dan Zesma. 

Check this out 

Aku sendiri adalah mahasiswa dari kota mungil Jepara, Jawa Tengah yang sedang berjuang di semester akhir jurusan Sastra Prancis, Brawijaya juga berada disemester lima Bahasa Inggris Unisma. Mengantongi kesukaan menulis dan membaca. Menuliskan apapun kata yang ingin aku keluarkan dan membaca buku apa saja yang ingin aku lahap, terlebih novel-novel terjemahan. Sifat? Iya, harus kuakui aku adalah orang yang sensitif, emosional dan terkadang egois juga tapi mudah luluh dan terpengaruh. Penyuka warna pink, kucing dan bayi mungil yang lucu! Bandel? Cukup juga dikategorikan bandel. Terutama jarang sekali aku berhasil dibangunkan untuk jamaah sholat shubuh. Sibuk? Mungkin iya. Kuliah paling pagi dan biasanya pulang paling larut karena harus mendatangi dua kampus dengan banyak mata kuliah. Hedon? Paling iya! Pecinta kuliner dan penyuka belanja baju sekaligus buku. Selera film dan musik? Pecinta film Hollywood, Korea, juga film Indonesia yang bermakna dan sangat berselera pada musik melow atau slow Barat maupun Indonesia terlebih musik jaman dulu. Satu lagi, penikmat instrumental piano dan biola. Oh masih ada lagi. Paling cerewet jika ada yang menginjak kasur kesayanganku, paling setia ditemani oleh lantunan musik ketika belajar bahkan tidur, dan kata mereka aku perfeksionis. Ah, entahlah.
Azizah. Gadis blesteran Malang-Cilegon yang seumuran denganku, semester akhir jurusan Fisika Brawijaya. Berkulit putih bermodel sedikit tomboy dengan balutan kemejanya. Paling cuek tapi paling perhatian. Kerap menutup malam dengan bercerita mengenai kisah cintanya. Mempunyai hasrat terbesar pada dunia fotografi dan desain. Sifat? Itu tadi, cuek tapi perhatian, dan sabar. Sabar menghadapiku yang terkadang uring-uringan tidak jelas juga sabar ketika ada yang meminta bantuannya. Penyuka warna biru dan tidak tertarik dengan segala aksesoris yang berbau cewe seperti baju, dia selalu tampil cuek dengan gaya asiknya sendiri. Bandel? Cukup juga. Dia sendiri yang mengatakan tidak terlalu alim soal agama. Hedon? Nah, dia partner hedonku ketika aku sedang tidak berhedon ria dengan teman kampusku. Sama-sama pecinta kuliner. Aliran film dan musik? Kurasa dia memang lebih updet dibanding aku. Pecinta film Hollywood, sedikit drama Korea, dan pecinta banyak anime Jepang. Sedang untuk musik, tak jauh beda denganku. Tapi dia begitu jatuh cinta kepada musik Jepang.
Arini. Gadis Gresik bertubuh mungil kelahiran ‘94 tapi sedang berada disemester yang sama denganku dan Azizah, dia satu jurusan dan satu kampus dengan Azizah. Penyuka warna coklat. Menjadi keamanan di blok kami, blok E. Sifat? Kupikir, sensitif juga, tapi tidak se-emosional aku, dia lebih bisa mengontrolnya. Cuek? Iya, tapi juga perhatian. Lebih tepatnya cuek terhadap penampilannya. Kuliah pagi, tak mandi seolah tak menjadi masalah baginya, memakai pakaian kuliah yang nabrak warna maupun motifnya pun dia tetap berlenggok cuek. Lupa menaruh barang terlebih hape dan uang pun sudah menjadi rutinitasnya. Bandel? Oh tentu tidak. Menjabat sebagai kemanan sepertinya menjadi bumerang untuk menjadi santri bandel. Selalu tepat waktu ketika pengajian dan mengobrak-obrak yang lain adalah yang selalu ia lakukan. Soal musik dan film? Penggemar film sekaligus pengoleksi musik India, dan selalu menyetel berulang kali lagu apa saja yang saat itu sedang ia senangi. Satu lagi yang tak boleh dilewatkan. Ia menyimpan satu obsesi sekaligus cita-cita, ingin gemuk. Alhasil ia harus rutin mengkonsumsi STMJ atau susu tiap harinya.
Ridha. Gadis asli Nganjuk duduk disemester lima jurusan Pendidikan Agama Islam, UIN Malang. Penyuka warna hijau, tidak begitu tertarik dengan kegiatan membaca dan menulis. Sifat? Cukup sabar, baik hati. Paling rajin bangun malam untuk sholat Tahajjud. Cukup pintar memadu-padankan style baju ketika berangkat ke kampus atau bepergian. Berkomitmen ingin dijodohkan dan tidak mau berpacaran, langsung menikah. Bandel? Tidak juga. Selalu rajin mengikuti kegiatan wajib pesantren seperti jamaah dan pengajian tapi ogah-ogahan jika mengikuti kegiatan sunnah. Musik dan film? Kalau yang satu ini aliraannya asli Indonesia. Paling cukup sering menyetel lagu koploan atau dangdutan yang sedang booming di Indonesia dan terkadang mengibur diri dengan aliran raege. Gadis satu kamar denganku dan Arini ini memiliki kebiasaan cukup menyebalkan tapi lucu, tepatnya sepulangnya ia dari PM atau pengabdian masyarakat, yakni memegang payudara kami (sori, sedikit fulgar). Diantara yang lain, aku dan Rida memiliki standar pasangan hidup yang sama, yakni selain ada embel-embel sholeh, juga harus tampan dan kaya, haha (sebagai bahan bercandaan saja).
Nelly. Gadis berperwakan berisi asal Tuban, mengenyam pendidikan semester lima jurusan Ekonomi Universitas Negeri Malang. Satu kamar denganku, Arini dan Ridha. Penyuka warna janda, Ungu. Dijuluki aktivis oleh kami karena begitu jarangnya ia berada di pesantren, sibuk mengikuti berbagai organisasi keislaman. Iya, dia yang terlihat paling islami diantara kami dengan penampilan kerudung cukup besarnya. Sifat? Baik tentu, sedikit cerewet, terlihat tenang dan santai. Dan sama dengan Arini yang kerap lupa menaruh hapenya dimana. Selalu berpenampilan busana muslim kemanapun ia melangkahkan kaki. Bandel? Tentu tidak, hanya tak jarang telat bangun untuk sholat Shubuh dan meninggalkan jamaah ataupun telat pengajian karena masih berkecimpung di kampus yang memakan waktu berjalan kaki paling cepat 20 menit. Musik dan film? Soal musik, ia menyimpan banyak sekali surat-surat Al-Qur’an dan qosidahan-qosidahan favoritnya, sedangkan untuk film ia tak kalah sebagai penonton setia drama Korea bahkan ia kerap menontonnya hingga larut malam.
Kuni. Gadis yang terliat tak kalah berisinya dengan Nelly, berasal dari Pasuruan berpendidikan di Fakultas Pertanian Brawijaya semester lima dan lancar berbicara bahasa Madura. Penyuka warna Kuning. Satu kamar dengan Azizah yang menjadi tetangga tepat sebelah kamarku. Satu yang khas jika berbicara tentang Kuni, yakni Toa Masjid atau speaker masjid. Mengapa? Karena gadis berkulit hitam manis ini memiliki suara yang dahsyat kerasnya. Jarang satu kilometer sudah bisa mendengar suaranya. Sifat? Selalu heboh sendiri ketika bercerita, baik tapi terkadang sensitif. Memiliki jiwa wirausaha yang tinggi dibanding kami yang lain. Bandel? Biasa saja. Selalu bangun ketika pesantren telah mengundangkan Iqomah, dan kerap tertidur ketika sedang mengikuti pengajian. Aliran musik dan film? Ia suka musik Indonesia dan yang berbau perjuangan mahasiswa. Dan soal film ia tak suka dengan yang berbau Korea. Ia lebih menyukai film Barat maupun Indonesia. Satu kebiasan joroknya yang disebali teman-teman sekamarnya, suka menaruh celana dalam sembarangan (sori, fulgar lagi).
Dan yang terakir yang paling kecil diantara kami semua dan yang paling sering dibully. Zesma, gadis Jakarta semester 3 Teknologi Pertanian Brawijaya. Penyuka warna pink pula. Sifat? Manja, mudah panik, paling benci dikepoin, cuek dan lucu, tapi paling bersedia diajak kemanapun. Dari gaya bicaranya yang khas anak Jakarta manja menjadikan gadis satu kamar dengan Azizah dan Kuni yang paling sering dibully habis-habisan. Ia juga yang paling sering beradu mulut dengan Kuni karena masalah-masalah sepele. Ah, mereka menggemaskan sekali. Bandel? Cukup. Sering alfa pengajian karena banyak mengikuti kepanitian di kampus dan masih bingung mengatur jadwalnya. Musik dan film? Ia beraliran musik Barat, pecinta film Hollywood dan drama Korea, juga penggemar beratnya Kristen Stewart, dan paling tidak suka dengan media sosial meskipun mengenggam android. Satu kebiasaannya, kentut sehabis makan dan ngantuk setiap duduk di pengajian ataupun ketika istighosah usai sholat jamaah. Ada satu sisi tersembunyi yang memang sengaja ia sembunyikan. Pecinta shopping dan kuliner. Menamani ia belanja pakaian bisa memakan lama waktu yang berputar.
Iya itulah kami. Tujuh gadis dengan latar belakang yang berbeda, tinggal satu atap, berbaur dan berbagi tiap  hari. Mengapa Pasukan Berisik? Aku yang memberikan nama itu. Jawabannya simpel. Karena kami selalu berisik ketika berkumpul. Ketika pulang kuliah atau usai pengajian sore dan ketika waktunya makan bersama sebelum magrib datang, kami selalu heboh bercerita kejadian apa saja yang kami alami ketika diluar. Tertawa renyah, saling mem-bully dan ritual lainnya tak jarang mengundang gedoran peringatan dari santri putra yang kamarnya bersebelahan dengan kami (terhalangi tembok dan triplek) yang merasa terganggu.
Siapa yang paling dekat? Aku cukup dekat dengan semua. Aku dan Azizah, Arini, Rida maupun Kuni sering membagi cerita satu sama lain. Dan satu kesamaan yang kami miliki. Pada dasarnya kami adalah kumpulan orang cuek terhadap lawan jenis. Kenapa? Banyak alasan. Tapi bukan berarti kami membatasi pergaulan dengan kaum Adam. Semuanya sama saja, hanya saja kami lebih menseleksi mereka yang ingin memasuki kehidupan kami.
Sebutan lain untuk kami adalah Single Ladies Gang. Gengnya para gadis jomblo. Iya, kami bertujuh memang sengaja menjomblokan diri. Menerima yang tepat untuk dijadikan imam yang baik nantinya. Masing-masing dari kami sama-sama menyimpan alasan untuk tidak berpacaran saat ini.
Dan aku harap apa yang telah terjadi dan terbentuk saat ini tak pernah terlupa apalagi terhapus oleh kikisan waktu yang makin kejam berputar tanpa kembali. Aku harap, mereka akan benar-benar menjadi salah satu dari lembar sejarah hidup dimasa mendatangku. Dan besar anganku, lima atau sepuluh atau bahkan berpuluh tahun lagi kami akan kembali dipertemukan dengan kebahagiaan dan cerita hidup masing-masing.








Aucun commentaire:

Enregistrer un commentaire