![]() |
| Ini Pasukan Berisik. Satu orang yang tertinggal, Zesma |
Pesantren
Luhur namanya. Pesantren unik tak terlalu ketat peraturannya. Mungil bentuknya
dengan ratusan penghuninnya. Lalu apa hubungannya dengan Pasukan Berisik? Oke,
hold on. Sebelum berkisah tentang pasukan berisik, terlebih dahulu ku ulas
kembali surga duniaku saat ini.
Lembaga
Tinggi Pesantren Luhur Malang atau yang kerap disingkat LTPLM. Berdiri tepat di
pinggir jalan raya Sumbersari bernomor 88, dan ups di depan karaoke
Tralala. Menegakkan tiga menara sebagai kebesarannya, bangunan berwajah hijau
ini berada pada posisi strategis. Butuh peralatan bulanan atau sekedar camilan,
tinggal menjangkah menuju Indomart. Lapar atau haus? Terlalu banyak warung
makanan yang tersedia dengan menu khasnya masing-masing. Barang elektronik
kesayangan mulai rewel rusak? Sepanjang jalan berjejer aneka toko atau servis
barang elektronik. Tak punya waktu karena terlalu sibuk dengan dunia kampus
atau sekedar malas mencuci sendiri? Laundry pun bersaing apik di pinggir
jalanan maupun mengumpat di gang-gang sempit. Juga yang paling penting dan
alasan utama, apalagi jika bukan dekat dengan kampus. Mengenyam pendidikan di
kampus Brawijaya? Tinggal berseok-seok ria untuk menyentuh pagar-pagar kecil
tembusan kampus yang memiliki tiga gerbang utama dan banyak gerbang ‘tikus’
itu. Atau sedang menjadi mahasiswa UIN Malang? Lebih dekat lagi justru. Hanya
mengerahkan secuil tenaga untuk jarak kurang lebih 100 hingga 150 meter
langsung berhadapan dengan gerbang utamanya. Terjangkau, bukan?
Pesantren
ini begitu unik dengan segala keunikannya. Terlebih pada tata ruang di dalamnya
yang berkotak-kotak dan sempit hingga terlontar guyonan ‘bisa masuk sulit
keluar’. Juga dengan embel-embel peraturannya yang tak seketat pesantren lain
pada umumnya. Jika kubandingkan dengan pesantren lainnya, terdapat aturan ketat
tidak boleh keluar melebihi pukul lima sore, terdapat bel penanda aktivitas
wajib seperti sholat, tiap malam juga wajib dibangunkan sholat Tahajjud.
Bahkan, masih ada tradisi hukuman berupa menulis kalimat hukuman dalam sekian
banyak halaman.
Itu
sangat mirip dengan peraturan pesantren ketika aku masih SMA, yang orang juluki
sebagai pesantren Shalafiyah yang artinya hanya fokus pada kitab-kitab kuning
dan terkenal dengan peraturan ketat yang mengikatnya. Sedangkan bagimana dengan
pesantren Luhur? Santri putra dan putri tinggal dalam satu atap bersama (tentu
berbeda tembok), boleh berada di luar pesantren maksimal pukul sembilan malam,
jama’ah wajib ialah Shubuh dan Magrib, tidak ada acara bangun wajib untuk
sholat Tahajjud, hukumanpun berupa hukuman ro’an atau bersih-bersih
hingga halaqoh ilmiah atau muraja’ah. Yang menjadi bonusnya adalah libur
kegiatan pada Sabtu dan Minggu juga interaksi ‘bebas’ antara santri putra dan
putri. Mengapa dikatakan bebas? Jika pada umumnya di pesantren tidak
diperkenankan adanya interaksi langsung antar santri lawan jenis, berbeda yang
terjadi di sini. Terdapat banyak acara atau ekstrakurikuler yang membutuhkan
kepanitian dari berbagai pihak membuat rapat antar santri putra dan putri
sering terjalin menyalurkan ide masing-masing. Bukan karena tidak tahu aturan,
tetapi semua yang tinggal adalah mahasiswa bahkan tak sedikit yang telah
bekerja. Semua seolah sudah tahu porsi dan batasannya masing-masing tanpa harus
diatur dan diperlakukan layaknya anak masih sekolah. Toh, nyatanya
interaksi yang terjalin semua masih tetap dalam koridor yang santun.
Ada
hal unik lainnya yang juga menjadi ciri khasnya, yakni Halaqoh ilmiah. Yakni
semacam presentasi dengan judul-judul ilmu pengetahuan yang akan dikaitkan
dengan dunia keIslaman dengan pemateri yang digilir tiap harinya sesuai jadwal
yang telah ditempel. Bisa dikatakan semacam diskusi ilmiah berbau keagamaan.
Jika dulu, ketika Kyai yang kami panggil Abah
masih hidup, tidak ada diskusi karena kekeliruan yang ada telah mutlak
dibenarkan oleh Abah. Tetapi cerita tak lagi sama, tidak ada pembenar yang
mutlak, semua masih dalam tahap belajar mencari ilmu, jadilah diskusi itu
dilakukan tiap hari usai jamaah Shubuh.
Terlalu
banyak hal yang tersembunyi dari balik tembok Luhur, tentang segala
rutinitasnya, kesehariannya, penghuninnya juga filosofinya. Semuanya terbungkus
rapi dalam satu bangunan mungil penampung para pencari ilmu dunia dan akhirat.
Nah,
di dalam bangunan yang juga terdapat warung makan bernama ‘Ceker
Wa’alaikumsalam’ itu bernafaslah tujuh gadis dengan wajah rupa-rupa. Datang
dari penjuru pulau Jawa yang berbeda pada tahun yang tak sama. Adalah Novi
(aku), Azizah, Arini, Ridha, Nelly, Kuni, dan Zesma.
Check
this out
Aku
sendiri adalah mahasiswa dari kota mungil Jepara, Jawa Tengah yang sedang
berjuang di semester akhir jurusan Sastra Prancis, Brawijaya juga berada
disemester lima Bahasa Inggris Unisma. Mengantongi kesukaan menulis dan
membaca. Menuliskan apapun kata yang ingin aku keluarkan dan membaca buku apa
saja yang ingin aku lahap, terlebih novel-novel terjemahan. Sifat? Iya, harus
kuakui aku adalah orang yang sensitif, emosional dan terkadang egois juga tapi
mudah luluh dan terpengaruh. Penyuka warna pink, kucing dan bayi mungil yang
lucu! Bandel? Cukup juga dikategorikan bandel. Terutama jarang sekali aku
berhasil dibangunkan untuk jamaah sholat shubuh. Sibuk? Mungkin iya. Kuliah
paling pagi dan biasanya pulang paling larut karena harus mendatangi dua kampus
dengan banyak mata kuliah. Hedon? Paling iya! Pecinta kuliner dan penyuka
belanja baju sekaligus buku. Selera film dan musik? Pecinta film Hollywood, Korea,
juga film Indonesia yang bermakna dan sangat berselera pada musik melow atau
slow Barat maupun Indonesia terlebih musik jaman dulu. Satu lagi, penikmat
instrumental piano dan biola. Oh masih ada lagi. Paling cerewet jika ada yang
menginjak kasur kesayanganku, paling setia ditemani oleh lantunan musik ketika
belajar bahkan tidur, dan kata mereka aku perfeksionis. Ah, entahlah.
Azizah.
Gadis blesteran Malang-Cilegon yang seumuran denganku, semester akhir jurusan
Fisika Brawijaya. Berkulit putih bermodel sedikit tomboy dengan balutan
kemejanya. Paling cuek tapi paling perhatian. Kerap menutup malam dengan
bercerita mengenai kisah cintanya. Mempunyai hasrat terbesar pada dunia
fotografi dan desain. Sifat? Itu tadi, cuek tapi perhatian, dan sabar. Sabar
menghadapiku yang terkadang uring-uringan tidak jelas juga sabar ketika ada
yang meminta bantuannya. Penyuka warna biru dan tidak tertarik dengan segala
aksesoris yang berbau cewe seperti baju, dia selalu tampil cuek dengan gaya
asiknya sendiri. Bandel? Cukup juga. Dia sendiri yang mengatakan tidak terlalu
alim soal agama. Hedon? Nah, dia partner hedonku ketika aku sedang tidak
berhedon ria dengan teman kampusku. Sama-sama pecinta kuliner. Aliran film dan
musik? Kurasa dia memang lebih updet dibanding aku. Pecinta film
Hollywood, sedikit drama Korea, dan pecinta banyak anime Jepang. Sedang untuk
musik, tak jauh beda denganku. Tapi dia begitu jatuh cinta kepada musik Jepang.
Arini.
Gadis Gresik bertubuh mungil kelahiran ‘94 tapi sedang berada disemester yang
sama denganku dan Azizah, dia satu jurusan dan satu kampus dengan Azizah. Penyuka
warna coklat. Menjadi keamanan di blok kami, blok E. Sifat? Kupikir, sensitif
juga, tapi tidak se-emosional aku, dia lebih bisa mengontrolnya. Cuek? Iya,
tapi juga perhatian. Lebih tepatnya cuek terhadap penampilannya. Kuliah pagi,
tak mandi seolah tak menjadi masalah baginya, memakai pakaian kuliah yang
nabrak warna maupun motifnya pun dia tetap berlenggok cuek. Lupa menaruh barang
terlebih hape dan uang pun sudah menjadi rutinitasnya. Bandel? Oh tentu tidak.
Menjabat sebagai kemanan sepertinya menjadi bumerang untuk menjadi santri
bandel. Selalu tepat waktu ketika pengajian dan mengobrak-obrak yang lain
adalah yang selalu ia lakukan. Soal musik dan film? Penggemar film sekaligus pengoleksi
musik India, dan selalu menyetel berulang kali lagu apa saja yang saat itu
sedang ia senangi. Satu lagi yang tak boleh dilewatkan. Ia menyimpan satu
obsesi sekaligus cita-cita, ingin gemuk. Alhasil ia harus rutin mengkonsumsi
STMJ atau susu tiap harinya.
Ridha.
Gadis asli Nganjuk duduk disemester lima jurusan Pendidikan Agama Islam, UIN
Malang. Penyuka warna hijau, tidak begitu tertarik dengan kegiatan membaca dan
menulis. Sifat? Cukup sabar, baik hati. Paling rajin bangun malam untuk sholat
Tahajjud. Cukup pintar memadu-padankan style baju ketika berangkat ke kampus
atau bepergian. Berkomitmen ingin dijodohkan dan tidak mau berpacaran, langsung
menikah. Bandel? Tidak juga. Selalu rajin mengikuti kegiatan wajib pesantren
seperti jamaah dan pengajian tapi ogah-ogahan jika mengikuti kegiatan sunnah.
Musik dan film? Kalau yang satu ini aliraannya asli Indonesia. Paling cukup
sering menyetel lagu koploan atau dangdutan yang sedang booming di
Indonesia dan terkadang mengibur diri dengan aliran raege. Gadis satu kamar
denganku dan Arini ini memiliki kebiasaan cukup menyebalkan tapi lucu, tepatnya
sepulangnya ia dari PM atau pengabdian masyarakat, yakni memegang payudara kami
(sori, sedikit fulgar). Diantara yang lain, aku dan Rida memiliki standar
pasangan hidup yang sama, yakni selain ada embel-embel sholeh, juga harus
tampan dan kaya, haha (sebagai bahan bercandaan saja).
Nelly.
Gadis berperwakan berisi asal Tuban, mengenyam pendidikan semester lima jurusan
Ekonomi Universitas Negeri Malang. Satu kamar denganku, Arini dan Ridha. Penyuka
warna janda, Ungu. Dijuluki aktivis oleh kami karena begitu jarangnya ia berada
di pesantren, sibuk mengikuti berbagai organisasi keislaman. Iya, dia yang
terlihat paling islami diantara kami dengan penampilan kerudung cukup besarnya.
Sifat? Baik tentu, sedikit cerewet, terlihat tenang dan santai. Dan sama dengan
Arini yang kerap lupa menaruh hapenya dimana. Selalu berpenampilan busana
muslim kemanapun ia melangkahkan kaki. Bandel? Tentu tidak, hanya tak jarang
telat bangun untuk sholat Shubuh dan meninggalkan jamaah ataupun telat
pengajian karena masih berkecimpung di kampus yang memakan waktu berjalan kaki
paling cepat 20 menit. Musik dan film? Soal musik, ia menyimpan banyak sekali
surat-surat Al-Qur’an dan qosidahan-qosidahan favoritnya, sedangkan untuk film
ia tak kalah sebagai penonton setia drama Korea bahkan ia kerap menontonnya
hingga larut malam.
Kuni.
Gadis yang terliat tak kalah berisinya dengan Nelly, berasal dari Pasuruan
berpendidikan di Fakultas Pertanian Brawijaya semester lima dan lancar
berbicara bahasa Madura. Penyuka warna Kuning. Satu kamar dengan Azizah yang menjadi
tetangga tepat sebelah kamarku. Satu yang khas jika berbicara tentang Kuni,
yakni Toa Masjid atau speaker masjid. Mengapa? Karena gadis berkulit hitam
manis ini memiliki suara yang dahsyat kerasnya. Jarang satu kilometer sudah
bisa mendengar suaranya. Sifat? Selalu heboh sendiri ketika bercerita, baik
tapi terkadang sensitif. Memiliki jiwa wirausaha yang tinggi dibanding kami
yang lain. Bandel? Biasa saja. Selalu bangun ketika pesantren telah
mengundangkan Iqomah, dan kerap tertidur ketika sedang mengikuti pengajian.
Aliran musik dan film? Ia suka musik Indonesia dan yang berbau perjuangan
mahasiswa. Dan soal film ia tak suka dengan yang berbau Korea. Ia lebih
menyukai film Barat maupun Indonesia. Satu kebiasan joroknya yang disebali
teman-teman sekamarnya, suka menaruh celana dalam sembarangan (sori, fulgar
lagi).
Dan
yang terakir yang paling kecil diantara kami semua dan yang paling sering
dibully. Zesma, gadis Jakarta semester 3 Teknologi Pertanian Brawijaya. Penyuka
warna pink pula. Sifat? Manja, mudah panik, paling benci dikepoin, cuek dan
lucu, tapi paling bersedia diajak kemanapun. Dari gaya bicaranya yang khas anak
Jakarta manja menjadikan gadis satu kamar dengan Azizah dan Kuni yang paling
sering dibully habis-habisan. Ia juga yang paling sering beradu mulut dengan
Kuni karena masalah-masalah sepele. Ah, mereka menggemaskan sekali. Bandel?
Cukup. Sering alfa pengajian karena banyak mengikuti kepanitian di kampus dan
masih bingung mengatur jadwalnya. Musik dan film? Ia beraliran musik Barat,
pecinta film Hollywood dan drama Korea, juga penggemar beratnya Kristen
Stewart, dan paling tidak suka dengan media sosial meskipun mengenggam android.
Satu kebiasaannya, kentut sehabis makan dan ngantuk setiap duduk di pengajian
ataupun ketika istighosah usai sholat jamaah. Ada satu sisi tersembunyi yang
memang sengaja ia sembunyikan. Pecinta shopping dan kuliner. Menamani ia
belanja pakaian bisa memakan lama waktu yang berputar.
Iya
itulah kami. Tujuh gadis dengan latar belakang yang berbeda, tinggal satu atap,
berbaur dan berbagi tiap hari. Mengapa
Pasukan Berisik? Aku yang memberikan nama itu. Jawabannya simpel. Karena kami selalu
berisik ketika berkumpul. Ketika pulang kuliah atau usai pengajian sore dan
ketika waktunya makan bersama sebelum magrib datang, kami selalu heboh
bercerita kejadian apa saja yang kami alami ketika diluar. Tertawa renyah,
saling mem-bully dan ritual lainnya tak jarang mengundang gedoran peringatan
dari santri putra yang kamarnya bersebelahan dengan kami (terhalangi tembok dan
triplek) yang merasa terganggu.
Siapa
yang paling dekat? Aku cukup dekat dengan semua. Aku dan Azizah, Arini, Rida
maupun Kuni sering membagi cerita satu sama lain. Dan satu kesamaan yang kami
miliki. Pada dasarnya kami adalah kumpulan orang cuek terhadap lawan jenis.
Kenapa? Banyak alasan. Tapi bukan berarti kami membatasi pergaulan dengan kaum
Adam. Semuanya sama saja, hanya saja kami lebih menseleksi mereka yang ingin
memasuki kehidupan kami.
Sebutan
lain untuk kami adalah Single Ladies Gang. Gengnya para gadis jomblo.
Iya, kami bertujuh memang sengaja menjomblokan diri. Menerima yang tepat untuk
dijadikan imam yang baik nantinya. Masing-masing dari kami sama-sama menyimpan
alasan untuk tidak berpacaran saat ini.
Dan
aku harap apa yang telah terjadi dan terbentuk saat ini tak pernah terlupa
apalagi terhapus oleh kikisan waktu yang makin kejam berputar tanpa kembali.
Aku harap, mereka akan benar-benar menjadi salah satu dari lembar sejarah hidup
dimasa mendatangku. Dan besar anganku, lima atau sepuluh atau bahkan berpuluh
tahun lagi kami akan kembali dipertemukan dengan kebahagiaan dan cerita hidup
masing-masing.

Aucun commentaire:
Enregistrer un commentaire