Here, I am



jeudi, juillet 18, 2013

An Interesting Book : Snow Flower and The Secret Fan ...




Berawal dari ketertarikanku pada sejarah dan seluk beluk dunia tradisional dari belahan negeri lain, aku pun tanpa ragu menjadikan sebuah buku cukup tebal yang berjudul Snow Flower and The Secret Fan sebagai milikku. Sebuah buku berselimut warna orange khas Cina itu bercerita tentang kehidupan negeri Cina pada abad 19 khususnya tentang kehidupan wanita.
Salah satu karya yang disebut-sebut sebagai karya terbaik dari seorang novelis Lisa See yang saat ini berdomisili di Los Angeles yang telah mampu mengikut sertakan pembacanya masuk dan mencampur adukan emosi ketika menyelami berbagai tradisi bangsa lain yang begitu berbeda dan bahkan hampir tidak masuk akal (menurutku). Tapi pada nyatanya, penulis bisa membuat pembacanya enggan untuk berhenti membaca karena sudah terlanjur hanyut dalam “permainan” nya yang menceritakan segala sesuatunya secara rinci.
Salah satu yang unik adalah ketika didalamnya penulis mencoba berinteraksi dengan pembacanya sehingga seolah-olah kisah kehidupan seorang wanita yang ia tuangkan adalah kisah nyata. Menceritakan kehidupan dua wanita Cina mulai dari usia sangat muda hingga tua dan meninggal berikut dengan macam-macam tradisi yang berlaku pada jaman itu.
Tradisi pengikatan kaki, Loutong, saudara-saudara sejati, tulisan rahasia wanita Nu Shu, Festival pengusiran burung, Hari beras dan garam, kamar wanita lantai atas dan lain sebagainya tergambar jelas dalam balutan novel tersebut. Tradisi-tradisi yang bagiku sangat aneh ternyata bisa menggugah keinginan untuk semakin menenggelamkan diri dalam tiap cerita novel terjemahan yang kukira sebuah kisah nyata si tokoh utama.
Benar-benar sebuah karya yang mengaggumkan hasil observasi si penulis beserta tim nya yang langsung terjun ke TKP, daerah-daerah di daratan Cina yang bisa dikatakan masih terisolir dengan penduduknya yang masih menjalani beberapa tradisinya. Tradisi pengikatan kaki saat ini telah dihapuskan karena adanya berbagai protes, sedangkan tulisan Nu Shu yang kini dilindungi oleh pemerintah karena merupakan aset sejarah bangsa yang begitu berharga.  

***

Well, adalah kisah tentang seorang gadis bernama Lily yang merupakan keturunan asli Cina pada abad 19, tinggal di sebuah desa kecil bernama Puwei, dan takdir melahirkan ia sebagai seorang anak perempuan kedua dari keluarga petani yang tak mendapat jaminan hidup berlimpah dari kekaisaran. Mama dan bapa nya memiliki empat orang anak. Anak laki-laki pertama, anak perempuan kedua _Lily_, anak laki-laki ketiga, dan anak perempuan keempat. Begitulah cara orang Cina terdahulu mendeskripsikan keluarganya, dengan menyebut urutan anak ketimbang nama.
Pada jaman tersebut terdapat salah satu tradisi yang sangat unik namun sangat mengerikan pula, yakni tradisi pengikatan kaki bagi gadis berusia antara enam atau tujuh tahun (umumnya enam tahun). Pengikatan kaki bertujuan untuk menjadikan kaki si gadis seperti bunga lotus yang indah dan mungil. Kaki yang dianggap sempurna setelah pengikatan kaki adalah kaki mungil sempurna dan berbentuk dengan apiknya. Gadis dengan kaki mungil sempurna diidentifikasikan akan mendapatkan suami dari keluarga yang berada dan terpandang, sedangkan gadis berkaki besar yang artinya ia tak pernah menjalani masa pengikatan kaki, maka ia akan menjadi perawan tua alias tidak berhak untuk menikah. Dalam hal ini ia akan menjadi seorang budak rendahan.
Dengan bantuan peramal atau yang mereka sebut sebagai Mak Comblang, dalam buku tersebut adalah Madame Wang, Lily melakukan tradisi pengikatan kaki pada usia tujuh tahun. Dia menjalani tradisi itu bebarengan dengan adik perempuan dan sepupunya yang bernama Bulan Indah. Pertama, kedua kakinya harus diikat sekencang mungkin dengan perban bersih hingga menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Ikatan perban tersebut bertujuan untuk meretakan tulang-tulang nya dan kemudian agar bisa membentuk kaki yang jauh lebih kecil dan terbentuk (ia dicekoki berbagai makanan khusus untuk peretekan tulang dan pengendoran kulit). Selama berbulan-bulan, ia harus menahan sakit akibat terikatnya kaki sebegitu kencang dan menahan ngilu atas darah dan nanah yang keluar. Tiap empat hari sekali perbannya harus dibuka untuk dibersihkan dan diganti perban yang baru. Tiap hari ia dipaksa untuk terus berjalan di dalam kamar wanita lantai atas (ruangan di lantai atas yang dikhususkan bagi para wanita) demi mematahkan tulang-tulang yang diperban agar dapat terbentuk sesuai yang diinginkan.
Tradisi pengikatan kaki yang sedemikian itu bagi wanita adalah antara hidup dan mati. Jika berhasil, maka akan didapat sepasang kaki yang mungil dan indah yang menyaratkan pribadi gadis yang baik dan anggun, seperti halnya sepasang kaki Lily setelah melewati pengikatan kaki, ia mendapati sepasang kaki nya begitu mungil bahkan memiliki panjang hanya tujuh centimenter. Tapi ada pula yang berdampak buruk mulai dari cacat permanen hingga berujung kematian. Seperti mama Lily yang harus mengandalkan sebuah tongkat untuk berjalan akibat tidak sempurnanya kaki setelah menjalani tradisi itu. Atau tentang adik perempuan Lily yang nyatanya harus menemui ajal pada hari-hari awal masa pengikatan kaki karena terjadi peradangan darah.
Setelah mendapatkan sepasang kaki hasil tradisi turun temurun dari pengikatan kaki, tradisi selanjutnya yang harus dilalui oleh para gadis normal adalah semacam salah satu tahap perjodohan dikemudian hari. Dalam hal ini, mak comblang yang bernama Madame Wang yang merupakan mak comblang terkemuka lah yang mencarikan jodoh bagi Lily. Hingga akhirnya, karena suatu alasan, Lily mendapatkan kesempatan yang langka untuk memiliki seorang Loutong atau seorang kembaran hati. Yang artinya pasangan (ia adalah seorang gadis pula) yang akan selalu menjadi sahabat terbaik selama hidup. Biasanya para gadis hanya akan dicarikan saudara perempuan sejati yang akan selalu menemani hanya hingga terjadinya pernikahan. Tetapi Loutong adalah kembaran hati yang akan selalu menemani hingga maut menjemput. Loutong Lily adalah seorang gadis dari desa makmur Toungku yang merupakan gadis dari keluarga yang jauh lebih berada ketimbang dirinya, bernama Bunga Salju.
Alasan mereka dijodohkan sebagai sepasang Loutong karena mereka memiliki delapan kesamaan. Diantaranya, mereka sama-sama bershio kuda, lahir di tahun, bulan, juga hari yang sama, menajalani pengikatan kaki dihari yang sama, memiliki saudara dengan jumlah yang sama, dan memiliki adik perempuan yang sama-sama telah meninggal. Dari sekian persamaan itulah, Madame Wang merasa mereka cocok untuk dijadikan sepasang Loutong yang akan saling mencintai hingga akhir hayat.
Mereka pun menjalani hari-hari mulai dari usia tujuh tahun hingga tua bersama-sama. Saling berbagi kesedihan dan kebahagiaan yang sama, menikmati masa-masa gadis yang indah hingga dihadapkan pada takdir tentang sebuah pernikahan. Pada usia tujuh belas tahun, mereka menikah. Lily menikah dengan salah satu keluarga terpandang di desa Toungku yang merupakan tanah kelahiran Bunga Salju. Keluarga suaminya adalah orang-orang terpandang yang memiliki banyak warisan, bahkan mendapat jaminan dari kekaisaran. Suaminya adalah seorang laki-laki (anak lelaki pertama) yang tampan, tinggi, gagah, dan tentu berpendidikan. Lily merasa sangat beruntung dengan takdir yang terjadi padanya, kendati perjalanannya tak semulus yang ia harapkan. Pada jaman itu, perjodohan yang mutlak terjadi, selalu mengakibatkan hubungan yang tidak dekat antara suami dan istri. Dunia laki-laki adalah diluar, mereka bekerja dan lain sebagainya. Sedangkan, dunia wanita adalah di rumah dengan kewajiban mutlak mengurus ibu kandung suami dan menjalani “urusan ranjang” untuk mendapatkan keturunan.
Pada masa itu, semua orang begitu menginginkan kelahiran anak laki-laki. Karena dengan adanya anak laki-laki, maka kedudukan mereka bisa aman. Seperti halnya posisi Lily yang merupakan menantu perempuan pertama dalam keluarga suaminya, ketika ia melahirkan anak laki-laki maka posisinya akan aman juga suaminya. Karena mereka berpandangan bahwa anak lelaki adalah segalanya, sama sekali tidak ada bandingannya dengan anak perempuan. Bahkan, mereka berfilosofi bahwa anak perempuan dibesarkan hanya untuk keluarga orang lain. Maksutnya, orang tua membesarkan anak perempuan ibarat seperti barang titipan. Mereka hanya membesarkan dengan kasih sayang ‘ala kadarnya’ dan kemudian pada usia yang dianggap cukup, anak tersebut dinikahkan. Dalam tradisi Cina dulu, setelah seorang gadis menikah, dan setelah melahirkan, ia harus tinggal di rumah suami selamanya. Diperbolehkan kembali mengunjungi rumah kelahiran hanya jika terdapat perayaan besar tahunan.
Kehidupan pasca menikah antara Lily dan Bunga Salju sangat berbeda. Jika Lily mendapat keluarga yang berada bahkan terkaya di daerahnya, lain hal dengan suami Bunga Salju. Ia yang menikah sebulan setelah Lily, mendapatkan suami seorang tukang jagal yang dianggap masyarakat setempat adalah pekerjaan kotor karena harus menyembelih binatang-binatang yang tak berdosa. Suaminya pun adalah seseorang yang pendek, agak gemuk, berkulit agak coklat lusuh dan kasar. Sering memukul, selalu tidak menghiraukan, jarang melakukan komunikasi meski sering meminta melakukan kegiatan ranjang. Ibu mertuanya yang bershio tikus pun adalah seorang wanita tua yang cerewet, rakus, dan kasar. Kehidupan Bunga Salju di daerah suaminya, desa Jintan sangat berat. Dipaksa selalu bekerja dan hanya makan nasi dan sayur.
Setelah menikah, Bunga Salju dan Lily selalu berkomunikasi melalui surat yang ditulis dengan huruf Nu Shu yang merupakan tulisan rahasia bagi kaum wanita. Hingga mereka melahirkan anak laki-laki pertama dan anak-anak selanjutnya.
Dalam novel tersebut, diceritakan kisah-kisah yang mengalir apa adanya sesuai situasi pada abad ketika itu. Hingga Bunga Salju meninggal karena tumor di perutnya yang sebesar bayi telah menggerogotinya selama depalan tahun. Dan hingga kedua wanita itu menjadi seorang nenek dengan banyak cucu, meninggal dan berharap bertemu kembali di alam baka.