Berawal dari ketertarikanku pada sejarah dan seluk beluk dunia tradisional
dari belahan negeri lain, aku pun tanpa ragu menjadikan sebuah buku cukup tebal
yang berjudul Snow Flower and The Secret
Fan sebagai milikku. Sebuah buku berselimut warna orange khas Cina itu bercerita tentang kehidupan negeri Cina pada
abad 19 khususnya tentang kehidupan wanita.
Salah satu karya yang disebut-sebut sebagai karya terbaik dari seorang
novelis Lisa See yang saat ini berdomisili di Los Angeles yang telah mampu
mengikut sertakan pembacanya masuk dan mencampur adukan emosi ketika menyelami
berbagai tradisi bangsa lain yang begitu berbeda dan bahkan hampir tidak masuk
akal (menurutku). Tapi pada nyatanya, penulis bisa membuat pembacanya enggan
untuk berhenti membaca karena sudah terlanjur hanyut dalam “permainan” nya yang
menceritakan segala sesuatunya secara rinci.
Salah satu yang unik adalah ketika didalamnya penulis mencoba berinteraksi
dengan pembacanya sehingga seolah-olah kisah kehidupan seorang wanita yang ia
tuangkan adalah kisah nyata. Menceritakan kehidupan dua wanita Cina mulai dari
usia sangat muda hingga tua dan meninggal berikut dengan macam-macam tradisi
yang berlaku pada jaman itu.
Tradisi pengikatan kaki, Loutong, saudara-saudara
sejati, tulisan rahasia wanita Nu Shu, Festival
pengusiran burung, Hari beras dan garam, kamar wanita lantai atas dan lain
sebagainya tergambar jelas dalam balutan novel tersebut. Tradisi-tradisi yang
bagiku sangat aneh ternyata bisa menggugah keinginan untuk semakin
menenggelamkan diri dalam tiap cerita novel terjemahan yang kukira sebuah kisah
nyata si tokoh utama.
Benar-benar sebuah karya yang mengaggumkan hasil observasi si penulis
beserta tim nya yang langsung terjun ke TKP, daerah-daerah di daratan Cina yang
bisa dikatakan masih terisolir dengan penduduknya yang masih menjalani beberapa
tradisinya. Tradisi pengikatan kaki saat ini telah dihapuskan karena adanya
berbagai protes, sedangkan tulisan Nu Shu
yang kini dilindungi oleh pemerintah karena merupakan aset sejarah bangsa
yang begitu berharga.
***
Well, adalah kisah tentang seorang gadis bernama Lily yang
merupakan keturunan asli Cina pada abad 19, tinggal di sebuah desa kecil
bernama Puwei, dan takdir melahirkan ia sebagai seorang anak perempuan kedua
dari keluarga petani yang tak mendapat jaminan hidup berlimpah dari kekaisaran.
Mama dan bapa nya memiliki empat orang anak. Anak laki-laki pertama, anak
perempuan kedua _Lily_, anak laki-laki ketiga, dan anak perempuan keempat.
Begitulah cara orang Cina terdahulu mendeskripsikan keluarganya, dengan
menyebut urutan anak ketimbang nama.
Pada jaman tersebut terdapat salah satu tradisi yang sangat unik namun
sangat mengerikan pula, yakni tradisi pengikatan kaki bagi gadis berusia antara
enam atau tujuh tahun (umumnya enam tahun). Pengikatan kaki bertujuan untuk
menjadikan kaki si gadis seperti bunga lotus yang indah dan mungil. Kaki yang
dianggap sempurna setelah pengikatan kaki adalah kaki mungil sempurna dan
berbentuk dengan apiknya. Gadis dengan kaki mungil sempurna diidentifikasikan
akan mendapatkan suami dari keluarga yang berada dan terpandang, sedangkan
gadis berkaki besar yang artinya ia tak pernah menjalani masa pengikatan kaki,
maka ia akan menjadi perawan tua alias tidak berhak untuk menikah. Dalam hal
ini ia akan menjadi seorang budak rendahan.
Dengan bantuan peramal atau yang mereka sebut sebagai Mak Comblang, dalam
buku tersebut adalah Madame Wang, Lily melakukan tradisi pengikatan kaki pada
usia tujuh tahun. Dia menjalani tradisi itu bebarengan dengan adik perempuan
dan sepupunya yang bernama Bulan Indah. Pertama, kedua kakinya harus diikat
sekencang mungkin dengan perban bersih hingga menimbulkan rasa sakit yang luar
biasa. Ikatan perban tersebut bertujuan untuk meretakan tulang-tulang nya dan
kemudian agar bisa membentuk kaki yang jauh lebih kecil dan terbentuk (ia
dicekoki berbagai makanan khusus untuk peretekan tulang dan pengendoran kulit).
Selama berbulan-bulan, ia harus menahan sakit akibat terikatnya kaki sebegitu
kencang dan menahan ngilu atas darah dan nanah yang keluar. Tiap empat hari
sekali perbannya harus dibuka untuk dibersihkan dan diganti perban yang baru.
Tiap hari ia dipaksa untuk terus berjalan di dalam kamar wanita lantai atas
(ruangan di lantai atas yang dikhususkan bagi para wanita) demi mematahkan
tulang-tulang yang diperban agar dapat terbentuk sesuai yang diinginkan.
Tradisi pengikatan kaki yang sedemikian itu bagi wanita adalah antara hidup
dan mati. Jika berhasil, maka akan didapat sepasang kaki yang mungil dan indah
yang menyaratkan pribadi gadis yang baik dan anggun, seperti halnya sepasang
kaki Lily setelah melewati pengikatan kaki, ia mendapati sepasang kaki nya
begitu mungil bahkan memiliki panjang hanya tujuh centimenter. Tapi ada pula
yang berdampak buruk mulai dari cacat permanen hingga berujung kematian.
Seperti mama Lily yang harus mengandalkan sebuah tongkat untuk berjalan akibat
tidak sempurnanya kaki setelah menjalani tradisi itu. Atau tentang adik
perempuan Lily yang nyatanya harus menemui ajal pada hari-hari awal masa
pengikatan kaki karena terjadi peradangan darah.
Setelah mendapatkan sepasang kaki hasil tradisi turun temurun dari
pengikatan kaki, tradisi selanjutnya yang harus dilalui oleh para gadis normal
adalah semacam salah satu tahap perjodohan dikemudian hari. Dalam hal ini, mak
comblang yang bernama Madame Wang yang merupakan mak comblang terkemuka lah
yang mencarikan jodoh bagi Lily. Hingga akhirnya, karena suatu alasan, Lily
mendapatkan kesempatan yang langka untuk memiliki seorang Loutong atau seorang kembaran hati. Yang artinya pasangan (ia
adalah seorang gadis pula) yang akan selalu menjadi sahabat terbaik selama
hidup. Biasanya para gadis hanya akan dicarikan saudara perempuan sejati yang
akan selalu menemani hanya hingga terjadinya pernikahan. Tetapi Loutong adalah kembaran hati yang akan
selalu menemani hingga maut menjemput. Loutong
Lily adalah seorang gadis dari desa makmur Toungku yang merupakan gadis
dari keluarga yang jauh lebih berada ketimbang dirinya, bernama Bunga Salju.
Alasan mereka dijodohkan sebagai sepasang Loutong karena mereka memiliki delapan kesamaan. Diantaranya,
mereka sama-sama bershio kuda, lahir di tahun, bulan, juga hari yang sama,
menajalani pengikatan kaki dihari yang sama, memiliki saudara dengan jumlah
yang sama, dan memiliki adik perempuan yang sama-sama telah meninggal. Dari
sekian persamaan itulah, Madame Wang merasa mereka cocok untuk dijadikan
sepasang Loutong yang akan saling mencintai hingga akhir hayat.
Mereka pun menjalani hari-hari mulai dari usia tujuh tahun hingga tua
bersama-sama. Saling berbagi kesedihan dan kebahagiaan yang sama, menikmati
masa-masa gadis yang indah hingga dihadapkan pada takdir tentang sebuah
pernikahan. Pada usia tujuh belas tahun, mereka menikah. Lily menikah dengan
salah satu keluarga terpandang di desa Toungku yang merupakan tanah kelahiran
Bunga Salju. Keluarga suaminya adalah orang-orang terpandang yang memiliki
banyak warisan, bahkan mendapat jaminan dari kekaisaran. Suaminya adalah
seorang laki-laki (anak lelaki pertama) yang tampan, tinggi, gagah, dan tentu
berpendidikan. Lily merasa sangat beruntung dengan takdir yang terjadi padanya,
kendati perjalanannya tak semulus yang ia harapkan. Pada jaman itu, perjodohan
yang mutlak terjadi, selalu mengakibatkan hubungan yang tidak dekat antara suami
dan istri. Dunia laki-laki adalah diluar, mereka bekerja dan lain sebagainya.
Sedangkan, dunia wanita adalah di rumah dengan kewajiban mutlak mengurus ibu
kandung suami dan menjalani “urusan ranjang” untuk mendapatkan keturunan.
Pada masa itu, semua orang begitu menginginkan kelahiran anak laki-laki.
Karena dengan adanya anak laki-laki, maka kedudukan mereka bisa aman. Seperti
halnya posisi Lily yang merupakan menantu perempuan pertama dalam keluarga
suaminya, ketika ia melahirkan anak laki-laki maka posisinya akan aman juga
suaminya. Karena mereka berpandangan bahwa anak lelaki adalah segalanya, sama
sekali tidak ada bandingannya dengan anak perempuan. Bahkan, mereka berfilosofi
bahwa anak perempuan dibesarkan hanya untuk keluarga orang lain. Maksutnya,
orang tua membesarkan anak perempuan ibarat seperti barang titipan. Mereka
hanya membesarkan dengan kasih sayang ‘ala kadarnya’ dan kemudian pada usia
yang dianggap cukup, anak tersebut dinikahkan. Dalam tradisi Cina dulu, setelah
seorang gadis menikah, dan setelah melahirkan, ia harus tinggal di rumah suami
selamanya. Diperbolehkan kembali mengunjungi rumah kelahiran hanya jika
terdapat perayaan besar tahunan.
Kehidupan pasca menikah antara Lily dan Bunga Salju sangat berbeda. Jika Lily
mendapat keluarga yang berada bahkan terkaya di daerahnya, lain hal dengan
suami Bunga Salju. Ia yang menikah sebulan setelah Lily, mendapatkan suami
seorang tukang jagal yang dianggap masyarakat setempat adalah pekerjaan kotor
karena harus menyembelih binatang-binatang yang tak berdosa. Suaminya pun
adalah seseorang yang pendek, agak gemuk, berkulit agak coklat lusuh dan kasar.
Sering memukul, selalu tidak menghiraukan, jarang melakukan komunikasi meski
sering meminta melakukan kegiatan ranjang. Ibu mertuanya yang bershio tikus pun
adalah seorang wanita tua yang cerewet, rakus, dan kasar. Kehidupan Bunga Salju
di daerah suaminya, desa Jintan sangat berat. Dipaksa selalu bekerja dan hanya
makan nasi dan sayur.
Setelah menikah, Bunga Salju dan Lily selalu berkomunikasi melalui surat
yang ditulis dengan huruf Nu Shu yang
merupakan tulisan rahasia bagi kaum wanita. Hingga mereka melahirkan anak
laki-laki pertama dan anak-anak selanjutnya.
Dalam novel tersebut, diceritakan kisah-kisah yang mengalir apa adanya
sesuai situasi pada abad ketika itu. Hingga Bunga Salju meninggal karena tumor
di perutnya yang sebesar bayi telah menggerogotinya selama depalan tahun. Dan
hingga kedua wanita itu menjadi seorang nenek dengan banyak cucu, meninggal dan
berharap bertemu kembali di alam baka.
Aucun commentaire:
Enregistrer un commentaire