Ternyata hari itu tiba juga. Adalah hari yang aku
tunggu-tunggu agar cepat berlalu. Tapi sebenarnya hari itu adalah satu dari
sekian hari yang cukup menegangkan, setidaknya bagiku.
Kamis, 25 Juli 2013. Dengan judul ilmiah motto Every dark cloud has a silver lining aku mulai berdiri diantara ratusan santri
lainnya dan yang pasti berdiri didepan Kyai ku tercinta untuk mempresentasikan
judulku itu. Deg degan? sebuah hal yang pasti akan dialami oleh semua yang
berdiri dibalik mimbar coklat pagi itu. Terkadang mempresentasikan ilmu yang
belum pernah dipelajari dan harus siap kalau-kalau "dibantai" Kyai yang
kami panggil Abah. Ah, ternyata itu sudah sangat biasa. Karena hampir tiap pagi ketika pidato
ilmiah yang kami sebut halaqoh itu, abah sering “membantai” si pemateri yang
terdiri dari satu santri putra dan satu santri putri dengan judul yang sama.
Pertama, setelah sholat shubuh
berjamaah, seperti biasa dilanjut dengan serentetan istighosah, seketika hatiku
bergetar lumayan cepat juga, pertanda kegugupan mulai melanda. Tapi, aku
berusaha mengalahkan kegugupan itu
dengan terus tersenyum dan mengalihkan perhatianku pada sebuah mic yang tengah
menanti untuk kujamah. Dan tanpa basa-basi lagi, pagi itu aku langsung menuju
pada judulku yang berbahasa Inggris.
Every
dark cloud has a silver lining, it means that every
problem or darkness in a human life has a positive sign hidden in it. Not being
afraid of the darkness if we only focus on the edges of the cloud we can see
the sunshine, a shine of hope.
Kalimat diatas merupakan
kalimat yang aku ucapkan alhamdulillah dengan fasihnya (kata teman-temanku yang
menonton) dan ketika aku mengucap kalimat itupun banyak mata seketika tertuju
kepadaku yang mulai berhasil menghilangkan rasa gugup.
Dan, eng ing eng, ternyata aku
sama sekali tidak “dibantai” abah justru aku hanya diberi kesempatan untuk
membaca judul berikut penjelasan singkatnya tanpa harus membeberkan secara
rinci latar belakangnya. Dan ketika abah mengutus
pemateri kedua yang berarti jatahku berdiri sudah selesai, hembusan nafas
lega selega-leganya langsung aku suguhkan beserta senyum gemilangku. Akhirnya,
aku telah berhasil melewati hari halaqoh dengan sukses. Hanya sesingkat itu.
Tapi agak geli ketika sedikit
menengok kebelakang. Kepikiran karena halaqoh sebenarnya sudah ada dikepalaku
sejak pertama kali aku menjadi santri baru. Membayangkan harus mempresentasikan
judul yang lebih seringnya nyeleneh dari
jurusan yang kita ambil dibangku kuliah juga sekaligus berhadapan langsung
dengan sang kyai yang mengantongi berbagai disiplin ilmu dan tak ketinggalan
serentetan jabatan, Prof.Dr.Kyai H.Achmad Mudlor, SH. Beliau dikenal sebagai
guru besar Filsafat dan menguasai berbagai bahasa asing salah satunya bahasa
yang tengah aku dalami, Prancis.
Tentu membayangkannya saja
membuat kami, para santri baru dulu agak takut. Bahkan, hal itu yang dulu
membuat aku hampir mengundurkan diri dari pesantren dimana aku tinggal
sekarang. Tapi sebenarnya halaqoh itu juga tidak terlalu menyeramkan seperti
yang dulu sering aku bayangkan. Kata penghuni lama disini, “dibantai” atau
tidaknya itu tergantung mood abah
pada pagi hari itu. Kalau beliau sedang enak hati, insyaallah halaqoh kita
sukses dan tidak banyak revisi. Tapi kalau sebaliknya, alamat malu di depan kaum
santri yang lainnya. Tapi sekali lagi, itu adalah hal yang kata mereka para
senior sudah sangat biasa terjadi. Begitu juga kata teman-temanku
menyemangatiku.
Dan untuk mempersiapkan hari
halaqohku itu, aku sudah mondar-mandir di dunia internet demi menemukan
referensi yang tepat, selama dua minggu. Sempat pusing dan hampir putus asa
karena merasakan begitu susah mencari referensi yang sesuai. Bahkan aku tanya
sana-sini. Tanya beberapa dosenku di Unisma meskipun hasilnya jauh dari yang
aku inginkan. Juga sempat bertanya pada sejumlah teman kampus, juga teman-teman
pesantren. Bahkan sempat kepikiran untuk bertanya pada rektor Brawijaya. Dan,
akhirnya jurus kepepet keluar. Karena hingga sehari sebelum aku maju, aku belum
menemukan apa yang akan aku tuangkan dalam paper
ku, terpaksa aku lebih dulu menghubungi partner
ku yakni santri putra. Niatnya ingin menyelesaikan sendiri, tapi apa boleh
buat, otak sudah keburu ditumbuhi ketakutan akan “dibantai” abah.
Alhasil, karena karja sama
dengan partner ku via sms, aku
langsung menyelesaikan tugas wajibku malam itu juga. Dan ternyata ketika aku
sudah menyelesaikan seluruh paper ku
hingga pembahasanku tujuh lembar, aku hanya berkesempatan membacakan judul
dengan penjelasan singkatnya. Hanya itu saja! Sama sekali tidak sebanding
dengan “perjuangan” ku selama dua minggu apalagi ditambah dengan “ketakutan”ku
dari awal menjadi santri baru, tahun lalu.
Dan satu lagi, halaqoh itu
meninggalkan kesan indah yang tidak akan pernah bisa aku lupakan, karena dipagi
itu pula, banyak yang mendukungku. Terutama Fitroh dan kawan-kawan di blok Azka
yang mendukung di samping aku berdiri. Rasanya aku tidak sendirian.
Sekarang aku telah melewati
salah satu hal yang selama ini bisa dibilang menjadi penghambat aku untuk
membetahkan diri tinggal disini. Rasanya ramadhan ini tidak ingin berakhir
saja. Halaqoh sudah terlewatkan dengan sukses, dua kuliah libur juga diniyah
sudah berakhir sementara. Rasanya indah untuk menikmati hidup meski di kota
perantauan ini aku hanya gulung-gulung kebingungan karena tidak tahu aktivitas
apa yang bisa aku lakukan untuk mengisi liburan. Ngaji? Belajar? Ah, itu sudah
merupakan makanan sehari-hari ...
Dan, biarlah hidupku berlanjut
apa adanya dengan kehendak-Nya ...
Aucun commentaire:
Enregistrer un commentaire