Mungkin selama ini bisa dikatakan aku terlalu buta akan
dunia luas. Bagaimana tidak? Dulu, aku hanya berkutat dengan hal itu-itu saja.
Tak begitu mengenal teknologi, fashion style apalagi ranah Eropa yang rata-rata
menjadi kiblat bagi penduduk dunia.
Seperti kita tahu bahwa bumi Eropa di huni oleh
negri-negri dengan sejuta pesona dan membawa gebrakan baru bagi dunia secara
keseluruhan. Ambil contoh negara Prancis. Negara dengan ikon Eiffel ini menjadi
salah satu tujuan wisata yang banyak diburu.
Prancis. Berbincang mengenai negara ini. Hal pertama yang
terbesit pada benak kita selain menjulang tingginya Eiffel, pasti juga keju dan
anggurnya. Ya. Negara satu ini terkenal dengan keju yang dalam bahasa Prancis
disebut fromage, juga anggur yang
disebut vin.
Aku mengenal Prancis ketika pertama kali aku belajar
bahasa indah tersebut pada saat duduk manis dibangku pertama sekolah menengah
atas. Selanjutnya, memutuskan untuk lebih mendalami bahasa itu, maka semakin
berbaur lah aku bersamanya.
Apalagi saat ini aku sedang mengenyam pendidikan di
sastra Prancis. Semakin dan semakin kenyang lah aku melahap semua tentang dunia
Prancis.
Pertama, mulai dikenalkan dengan pelafalan dalam bahasa
Prancis ketika berada pada tahun pertama dibangku kuliah. Lucu, unik, dan tentu
menarik kesan yang hingga kini masih terngiang di benakku. Mengotak-atik mulut
demi melafalkan kata berbahasa Prancis secara baik dan benar adalah tugas
utamaku sebagai pemula. Bunyi sengau, nazal, bunyi yang bacanya terbalik dari
tulisannya adalah sekilas hal yang selalu membuatku begitu terpikat dan agak
sedikit geli dengan bahasa yang satu ini.
Juga keunikan orang Prancis yang tak bisa mengucapkan
huruf R yang sebenarnya, juga tak bisa melafalkan huruf H. Sungguh bahasa yang
unik dan selalu memancingku untuk tetap dan bertambah cinta padanya.
Dan satu hal lagi mengenai negara gemerlap ini.
Keindahannya. Beberapa tempat wisata yang terangkul dalam dekapan tanah Prancis
telah aku masukan dalam daftar tempat-tempat yang begitu ingin aku kunjungi.
Menara Eiffel
L'arc de Triomphe
Musee du Louvre
La Sorbonne
Place de la Concorde
Menara Eiffel, tentunya. Aku ingin bisa meng-klik foto di
depan menara tersohor di dunia itu, kemudian bisa berada di ketinggian
puncaknya untuk menikmati malamnya kota Paris. Lalu, Musee du Louvre yang merupakan museum terbesar yang mana mempunyai
arsitektur unik bergaya piramida dari kaca. Juga di dalamnya konon terdapat
lukisan asli Monalisa karya sang legendaris Leonardo Da Vinci yang hingga kini
misterinya masih simpang siur.
Menilik La Sorbonne,
boleh juga. Komplek universitas yang telah tersohor di dunia ini begitu
membuatku iri dengan semua sistem pendidikannya. Arsitek Gothic yang tak kalah
memikatnya menambah keunikan tempat yang telah menjadi salah satu tempat wisata
yang wajib dukinjungi ketika menginjakkan kaki di Prancis.
Satu lagi tempat yang wajib aku kunjungi ketika suatu
saat nanti Takdir bisa membawaku ke bumi Eropa, L’arc de Triomphe atau yang dalam bahasa Indonesia berarti gapura
kemenangan. Monumen berbentuk pelengkung kemenangan di Paris yang berdiri
dengan gagahnya di tengah area Place de
l’Etoile, di ujung barat wilayah Champs-Elysees
ini dibangun atas perintah Napoleon Bonaperte dengan tujuan untuk menghormati
jasa para tentara kebesarannya.
Arc de Tromphe ini merupakan salah satu monumen yang terkenal di Paris
dimana konon katanya terdapat makam Napoleon di dalamnya. Namun ada juga yang
menyebutkan jenazah Napoleon hanya diarak melewatinya saja sebelum dimakamkan
di Invalides. Juga kasak-kusuk
menyebutkan di bawah Arc de Triomphe
terdapat sebuah makam prajurit tak dikenal sebagai wujud penghargaan atas
jasa-jasanya.
Selain itu aku juga ingin mengunjungi alun-alun terluas
di Prancis yang dikenal dengan nama Place
de la Concorde. Alun-alun yang dibangun pada sekitar tahun 1755 diatas
lahan seluas 86.400 meter ini memiliki ciri khasnya dengan monumen dan air
mancur. Agak ngeri, sebelum dinamai Place
de la Concorde, dulu pada masa Revolusi, tempat ini pernah digunakan
sebagai tempat guillotine atau
eksekusi hukuman mati. Termasuk hukuman mati pada Raja Louis XVI dan istrinya
yang dijuluki madame defisit, Marie Antoinette.
Dan, ada yang ketinggalan. Sungai Seine tak boleh dilewatkan tentunya. Sungai yang mengalir indah di
sekitaran sang Eiffel ini terkenal dengan suasan romantisnya. Sungguh tak bisa
dibayangkan jika aku bisa berada di Prancis lalu mengunjungi sungai Seine dan menikmati keromantisan kotanya
yang khas.
Wow, luar biasa, bukan? Terbang ke Prancis seolah mimpi
wajib bagi anak-anak jebolan sastra Prancis. Mungkin kalau sedang mengenyam
pendidikan di sastra Korea atau Jepang juga mimpinya juga akan pergi ke dua
negara itu. Korea dan Jepang.
Begitu pula lah dengan aku yang semenjak mengenal dan
lebih memperdalam bahasa Prancis, hasrat ingin mencumbunya begitu luar biasa.
Meski aku tak punya uang yang cukup untuk terbang kemudian hidup di sana, tapi
aku percaya Tuhan itu selalu mempunyai rencana yang indah yang tentu tak pernah
kita duga. Bisa saja tiba-tiba ada orang kaya raya yang baik hati yang secara cuma-cuma
memberiku tiket pulang pergi ke Prancis lengkap biaya hidupnya untuk semakin
mendalami bahasa Prancis. Tentu, semua itu mungkin saja terjadi.
Bagiku, mimpi setinggi mungkin itu harus. Buang jauh-jauh
pikiran yang mengatakan bahwa buat apa mimpi setinggi mungkin, kalau jatuh
nanti sakit. Aihh,, pepatah jebolan kapan itu? Justru anak muda jaman sekarang
dituntut untuk bermimpi sejauh mungkin. Asalkan tidak hanya bermimpi, melainkan
juga dibarengi usaha pastinya.
Aku teringat dengan sebuah perkataan seseorang yang
pernah menyemangatiku :
“ Kalau kebanyakan
orang mempunyai mimpi yang masuk akal tapi cara meraihnya melalui hal-hal yang
tida masuk akal, maka aku sebaliknya. Aku mempunyai mimpi yang tidak masuk
akal, tapi aku menggunakan cara-cara yang masuk akal untuk meraihya.”
Kurang lebihnya seperti itu lah.
Hmm.... sederhana namun mengandung makna yang luar biasa
jika dirasakan. Memang benar,kan? Kita boleh kok mempunyai mimpi yang mungkin
bagi orang tidak masuk akal. Seperti suatu saat aku benar-benar bisa
melanjutkan pendidikanku di Prancis melalui beasiswa bergengsi Erasmus Mundus,
lalu bertemu dengan pengusaha asli Prancis yang menyerahkan salah satu
perusahaannya kepadaku untuk aku kelola di Indonesia. Haha, kedengarannya tidak
masuk akal,dan juga terlalu muluk, tapi hari depan siapa yang tahu? Di hadapan
Allah, semua tidak ada yang tidak masuk akal. Saat ini aku langsung nemu tiket
pesawat ke Prancis juga sah-sah saja kalau memang Allah mengaturnya begitu.
Jadi, percyalah. Mimpi setinggi mungkin itu sangat perlu
untuk membangkitkan naluri hidup kita agar lebih maju dan lebih baik lagi
tentunya. (Motivasi untuk diriku sendiri)
Intinya, aku percaya bahwa aku pasti bisa meraih semua
mimpiku. Aku pasti bisa terbang ke Prancis secara gratis ( Aamiin, Ya Allah)...
Kun Fayakun, maka jadilah!