Here, I am



mardi, août 06, 2013

Malam Puncak Muwadda'ah ...

Pagi ini, ternyata aku masih menjelajah alam internet di blok B tempat warnet murah ala pesantren LUHUR, rumahku tercinta. Dan, eng ing eng ... sepi, sunyi, senyap, yang terdengar hanyalah berisiknya siaran TV tepat di depanku kini. Sangat kontras dengan yang sering teradi. Jika sehari-hari bisingnya TV harus selalu bersaing dengan super bisingnya suara penghuni pesantren ini, kini yang ada hanya seglintir orang yang agaknya tidak berminat "guyonan" seperti biasanya.

Kenapa? karena hari ini adalah H-2. Kenapa kalau H-2? karena tradisi turun-temurun di pesantren kami, baru boleh pulang lebaran kalau sudah H-2, meskipun pada kenyataanya banyak yang melanggar. Tapi karena aku sudah betah meninggali pesantren mungil tapi unik ini, akupun hingga hari ini masih berkutat dengan laptop kesayanganku di sini. 

Dan seperti tradisi tahunan, malam tadi telah diadakan sebuah acara intern terbesar di pesantren LUHUR tercinta. Adalah malam puncak Muwadda'ah sebagai acara perpisahan sebelum para santri kembali ke habitatnya masing-masing. Dan, aku mendapat kesempatan dengan menjadi panitianya dalam divisi PDD. Membuat poster, stiker, banner, backdrop, panggung dan tak ketinggalan dokumentasi adalah bagian tim ku. 

Awalnya sempat uring-uringan dengan diri sendiri karena merasa dibebani amanah yang menurutku tidak sanggup aku laksanakan. Tapi karena tekad dan bantuan dari orang-orang sekitar, akhirnya aku bisa melaksanakan semu tugasku dengan baik, alhamdulillah. Dan serangkaian acara Muwadda'ah telah aku lalui dengan lancar dan disusul dengan suksesnya acara Malam Puncak Muwadda'ah tadi malam.

Dengan konsep yang hampir sama tapi banyak berubah dari Muwadda'ah tahun kemarin, kami men-setting panggung yang mungil dengan backdrop yang sederhana namun terkesan mewah, dan dibuntuti dengan serangkaian penampilan dan video yang menarik dan bagiku semakin menumbuhkan rasa cinta terhadap pesantren.

Terdiri dari berbagai penampilan wajib, juga lomba comic motion per blok atau per lantai, juga diikuti berbagai persembahan yang tak kalah meriahnya dengan disempurnakan dentuman drum, piano, dan juga gitar yang menggelegar keras semakin memeriahkan acara dengan nuansa gelap elegan. Dan yang semakin membuat haru birunya kami, adalah ketika persembahan terakhir kami persembahkan untuk salah seorang santriwati, tetangga kamarku yang telah lebih dulu berpulang ke rahmatullah awal tahun ini. Salah seorang sahabatnya membacakan sebait puisi dengan diiringi video tampilan foto-foto almarhumah yang kian mengharukan suasana gelap semalam.

Dan kini, seolah aku enggan untuk meninggalkan pesantren ini. Masih ingin berlibur disini meskipun hanya gulung-gullung tidak ada kegiatan. Tapi paling tidak aku tidak harus disibukkan dengan sekian aktivitas perkuliahan yang melelahkan. 

Tapi rasa rinduku pada keluarga dan kampung halamab juga membuncah, dan memaksaku untuk kembali secepatnya...

Kini aku sudah "merumahkan" pesantren ini. Sebuah rumah temapt aku bernaung dan surga bagiku untuk mengais kepingan surga sebenarnya, insyaallah ...

jeudi, août 01, 2013

Halaqoh Perdana ...



Ternyata hari itu tiba juga. Adalah hari yang aku tunggu-tunggu agar cepat berlalu. Tapi sebenarnya hari itu adalah satu dari sekian hari yang cukup menegangkan, setidaknya bagiku. 
Kamis, 25 Juli 2013. Dengan judul ilmiah motto  Every dark cloud has a silver lining  aku mulai berdiri diantara ratusan santri lainnya dan yang pasti berdiri didepan Kyai ku tercinta untuk mempresentasikan judulku itu. Deg degan? sebuah hal yang pasti akan dialami oleh semua yang berdiri dibalik mimbar coklat pagi itu. Terkadang mempresentasikan ilmu yang belum pernah dipelajari dan harus siap  kalau-kalau "dibantai" Kyai yang kami panggil Abah. Ah, ternyata itu sudah sangat biasa. Karena hampir tiap pagi ketika pidato ilmiah yang kami sebut halaqoh itu, abah sering “membantai” si pemateri yang terdiri dari satu santri putra dan satu santri putri dengan judul yang sama.

Pertama, setelah sholat shubuh berjamaah, seperti biasa dilanjut dengan serentetan istighosah, seketika hatiku bergetar lumayan cepat juga, pertanda kegugupan mulai melanda. Tapi, aku berusaha mengalahkan  kegugupan itu dengan terus tersenyum dan mengalihkan perhatianku pada sebuah mic yang tengah menanti untuk kujamah. Dan tanpa basa-basi lagi, pagi itu aku langsung menuju pada judulku yang berbahasa Inggris.

Every dark cloud has a silver lining, it means that every problem or darkness in a human life has a positive sign hidden in it. Not being afraid of the darkness if we only focus on the edges of the cloud we can see the sunshine, a shine of hope.

Kalimat diatas merupakan kalimat yang aku ucapkan alhamdulillah dengan fasihnya (kata teman-temanku yang menonton) dan ketika aku mengucap kalimat itupun banyak mata seketika tertuju kepadaku yang mulai berhasil menghilangkan rasa gugup.

Dan, eng ing eng, ternyata aku sama sekali tidak “dibantai” abah justru aku hanya diberi kesempatan untuk membaca judul berikut penjelasan singkatnya tanpa harus membeberkan secara rinci latar belakangnya. Dan ketika abah mengutus pemateri kedua yang berarti jatahku berdiri sudah selesai, hembusan nafas lega selega-leganya langsung aku suguhkan beserta senyum gemilangku. Akhirnya, aku telah berhasil melewati hari halaqoh dengan sukses. Hanya sesingkat itu.

Tapi agak geli ketika sedikit menengok kebelakang. Kepikiran karena halaqoh sebenarnya sudah ada dikepalaku sejak pertama kali aku menjadi santri baru. Membayangkan harus mempresentasikan judul yang lebih seringnya nyeleneh dari jurusan yang kita ambil dibangku kuliah juga sekaligus berhadapan langsung dengan sang kyai yang mengantongi berbagai disiplin ilmu dan tak ketinggalan serentetan jabatan, Prof.Dr.Kyai H.Achmad Mudlor, SH. Beliau dikenal sebagai guru besar Filsafat dan menguasai berbagai bahasa asing salah satunya bahasa yang tengah aku dalami, Prancis.

Tentu membayangkannya saja membuat kami, para santri baru dulu agak takut. Bahkan, hal itu yang dulu membuat aku hampir mengundurkan diri dari pesantren dimana aku tinggal sekarang. Tapi sebenarnya halaqoh itu juga tidak terlalu menyeramkan seperti yang dulu sering aku bayangkan. Kata penghuni lama disini, “dibantai” atau tidaknya itu tergantung mood abah pada pagi hari itu. Kalau beliau sedang enak hati, insyaallah halaqoh kita sukses dan tidak banyak revisi. Tapi kalau sebaliknya, alamat malu di depan kaum santri yang lainnya. Tapi sekali lagi, itu adalah hal yang kata mereka para senior sudah sangat biasa terjadi. Begitu juga kata teman-temanku menyemangatiku.

Dan untuk mempersiapkan hari halaqohku itu, aku sudah mondar-mandir di dunia internet demi menemukan referensi yang tepat, selama dua minggu. Sempat pusing dan hampir putus asa karena merasakan begitu susah mencari referensi yang sesuai. Bahkan aku tanya sana-sini. Tanya beberapa dosenku di Unisma meskipun hasilnya jauh dari yang aku inginkan. Juga sempat bertanya pada sejumlah teman kampus, juga teman-teman pesantren. Bahkan sempat kepikiran untuk bertanya pada rektor Brawijaya. Dan, akhirnya jurus kepepet keluar. Karena hingga sehari sebelum aku maju, aku belum menemukan apa yang akan aku tuangkan dalam paper ku, terpaksa aku lebih dulu menghubungi partner ku yakni santri putra. Niatnya ingin menyelesaikan sendiri, tapi apa boleh buat, otak sudah keburu ditumbuhi ketakutan akan “dibantai” abah.

Alhasil, karena karja sama dengan partner ku via sms, aku langsung menyelesaikan tugas wajibku malam itu juga. Dan ternyata ketika aku sudah menyelesaikan seluruh paper ku hingga pembahasanku tujuh lembar, aku hanya berkesempatan membacakan judul dengan penjelasan singkatnya. Hanya itu saja! Sama sekali tidak sebanding dengan “perjuangan” ku selama dua minggu apalagi ditambah dengan “ketakutan”ku dari awal menjadi santri baru, tahun lalu.

Dan satu lagi, halaqoh itu meninggalkan kesan indah yang tidak akan pernah bisa aku lupakan, karena dipagi itu pula, banyak yang mendukungku. Terutama Fitroh dan kawan-kawan di blok Azka yang mendukung di samping aku berdiri. Rasanya aku tidak sendirian.

Sekarang aku telah melewati salah satu hal yang selama ini bisa dibilang menjadi penghambat aku untuk membetahkan diri tinggal disini. Rasanya ramadhan ini tidak ingin berakhir saja. Halaqoh sudah terlewatkan dengan sukses, dua kuliah libur juga diniyah sudah berakhir sementara. Rasanya indah untuk menikmati hidup meski di kota perantauan ini aku hanya gulung-gulung kebingungan karena tidak tahu aktivitas apa yang bisa aku lakukan untuk mengisi liburan. Ngaji? Belajar? Ah, itu sudah merupakan makanan sehari-hari ...

Dan, biarlah hidupku berlanjut apa adanya dengan kehendak-Nya ...