Pagi ini, ternyata aku masih menjelajah alam internet di blok B tempat warnet murah ala pesantren LUHUR, rumahku tercinta. Dan, eng ing eng ... sepi, sunyi, senyap, yang terdengar hanyalah berisiknya siaran TV tepat di depanku kini. Sangat kontras dengan yang sering teradi. Jika sehari-hari bisingnya TV harus selalu bersaing dengan super bisingnya suara penghuni pesantren ini, kini yang ada hanya seglintir orang yang agaknya tidak berminat "guyonan" seperti biasanya.
Kenapa? karena hari ini adalah H-2. Kenapa kalau H-2? karena tradisi turun-temurun di pesantren kami, baru boleh pulang lebaran kalau sudah H-2, meskipun pada kenyataanya banyak yang melanggar. Tapi karena aku sudah betah meninggali pesantren mungil tapi unik ini, akupun hingga hari ini masih berkutat dengan laptop kesayanganku di sini.
Dan seperti tradisi tahunan, malam tadi telah diadakan sebuah acara intern terbesar di pesantren LUHUR tercinta. Adalah malam puncak Muwadda'ah sebagai acara perpisahan sebelum para santri kembali ke habitatnya masing-masing. Dan, aku mendapat kesempatan dengan menjadi panitianya dalam divisi PDD. Membuat poster, stiker, banner, backdrop, panggung dan tak ketinggalan dokumentasi adalah bagian tim ku.
Awalnya sempat uring-uringan dengan diri sendiri karena merasa dibebani amanah yang menurutku tidak sanggup aku laksanakan. Tapi karena tekad dan bantuan dari orang-orang sekitar, akhirnya aku bisa melaksanakan semu tugasku dengan baik, alhamdulillah. Dan serangkaian acara Muwadda'ah telah aku lalui dengan lancar dan disusul dengan suksesnya acara Malam Puncak Muwadda'ah tadi malam.
Dengan konsep yang hampir sama tapi banyak berubah dari Muwadda'ah tahun kemarin, kami men-setting panggung yang mungil dengan backdrop yang sederhana namun terkesan mewah, dan dibuntuti dengan serangkaian penampilan dan video yang menarik dan bagiku semakin menumbuhkan rasa cinta terhadap pesantren.
Terdiri dari berbagai penampilan wajib, juga lomba comic motion per blok atau per lantai, juga diikuti berbagai persembahan yang tak kalah meriahnya dengan disempurnakan dentuman drum, piano, dan juga gitar yang menggelegar keras semakin memeriahkan acara dengan nuansa gelap elegan. Dan yang semakin membuat haru birunya kami, adalah ketika persembahan terakhir kami persembahkan untuk salah seorang santriwati, tetangga kamarku yang telah lebih dulu berpulang ke rahmatullah awal tahun ini. Salah seorang sahabatnya membacakan sebait puisi dengan diiringi video tampilan foto-foto almarhumah yang kian mengharukan suasana gelap semalam.
Dan kini, seolah aku enggan untuk meninggalkan pesantren ini. Masih ingin berlibur disini meskipun hanya gulung-gullung tidak ada kegiatan. Tapi paling tidak aku tidak harus disibukkan dengan sekian aktivitas perkuliahan yang melelahkan.
Tapi rasa rinduku pada keluarga dan kampung halamab juga membuncah, dan memaksaku untuk kembali secepatnya...
Kini aku sudah "merumahkan" pesantren ini. Sebuah rumah temapt aku bernaung dan surga bagiku untuk mengais kepingan surga sebenarnya, insyaallah ...