Here, I am



jeudi, juin 04, 2015

GOYAH ...

Bukan Novi yang sekarang. Novi yang sekarang sepertinya sudah tersesat. Bukan sepertinya, tapi memang iya, sudah tersesat. Sudah jauh tersesatnya. Sadar? Iya, Novi sendiripun sudah sadar tentang semua hal yang dia lakukan sekarang itu salah. Bukan dirinya yang sekarang, begitu katanya. Lihat saja apa yang akhir-akhir ini dia lakukan di luar sangkar yang kata orang telah mengurung kebebasannya. Pulang larut malam setelah menyelesaikan perkuliahannya hingga berulang kali menginap di kontrakan teman-temannya. Mending kalau hanya menginap, dia bahkan kluyuran bersama teman-temannya hingga dini hari. Memang tidak melakukan apapun, tapi tetap saja bukan suatu hal yang kerap dia lakukan sebelumnya.

Seminggu lebih tidak bercumbu dengan segala buku kuliahnya, melahap banyak makanan entah apa saja isi dalam perutnya, hingga berhari-hari menduakan laptop yang sebelumnya menjadi teman setia disetiap malamnya. Bahkan, satu hal terekstrim dalam hidupnya telah berani dia lakukan, meskipun dia tahu telah mematahkan prinsip hanya demi mencari jawaban dari segala teori gilanya juga menutupi semua rasa penasarannya selama ini. Ini gila! Sepertinya dia tidak akan pernah menceritakan hal gila dan ekstrim apa yang telah dia lalui, yang jelas, itu memang sudah gila. Setidaknya baginya.

Menyesal? Tentu iya katanya. Kadang, dia hanya melamun sendiri di atas kasur busa kesayangannya dan segera mengajak pikirannya untuk kembali ke masa-masa sebelumnya. Katanya, dulu dia bukan dia yang sekarang. Dulu, dia tidak akan mau melakukan hal-hal gila itu. Tapi sekarang bagaimana? Sudah menabrak garis hidupnya sendiri. Semua jadi terbengkalai, desahnya. Semua rencana manis yang tadinya berlenggok ria di kepalanya, sebentar lagi akan berlenggok lesu mati tanpa sisa.

Bisiknya, tidak ada yang bisa mengetuk pintu hatinya. Sudah sekeras batu dia rasa. Hingga pada suatu malam, salah seorang sahabat baiknya menanyakan satu pertanyaan menohok hatinya “Kapan kamu kembali?” Tak kunjung dia lontarkan jawaban, sahabatnya lebih dulu menimpali “Kapanpun kamu kembali, aku selalu menunggu kamu”. Meleleh? Iya, dia hampir menangis. Dalam tangisnya, dia justru sibuk mencari nama Novi minimal setahun yang lalu. Novi yang dalam bayangannya masih baik-baik saja.

Sudah sekian hari dia jarang menyuarakan suaranya di lingkungan kesayangannya. Jangankan suara, menunjukkan muka pun sudah bisa dihitung dengan jari. Pulang larut malam, besok paling pagi dia sudah menghilang lagi. Begitu seterusnya belakangan ini.

Entah, mau sampai kapan ini menggeluti hari-hari sumpeknya. Sumpek? Iya sih, sumpek dan bosan yang menjadi alibinya. Dia sempat mengeluh kalau dia jenuh dan bosan dengan semua yang terjadi. Banyak hal yang menjadi beban juga pikirannya. Sebenarnya dia sedang marah. Tapi marah pada siapa juga dia tidak pernah tahu. Akhirnya dia menyimpulkan untuk memarahi dirinya sendiri.

Saat ini dia sedang diterjang badai cukup hebat, begitu lirihnya dalam hati. Tapi dia bukan orang yang suka menyuarakkan seluruh isi hatinya pada kebanyakan orang. Dia hanya akan terus menyimpannya sendiri. Baginya, tidak perlu mereka tahu apa yang sedang terjadi. Segala prosesnya biar dia yang tahu, tunggu dan lihat saja hasil akhirnya apapun nanti. Begitu teorinya.

Saat ini, dia sedang butuh pencerahan. Tidak butuh siapa-siapa sih kata egonya. Hanya beri dia sedikit waktu sendiri dan melakukan apa yang sedang ingin dia lakukan. Jangan ganggu dan jangan beri pertanyaan menyakitkan. Cukup diam, temani dan amati dari jauh dan jangan pernah tinggalkan. Dia adalah orang yang paling benci ditinggalkan orang-orang di sekitarnya. Hanya itu saja yang dia pinta saat ini.


Jangan pernah tinggalkan dia yang sedang ada pada titik paling rendah.