Berbicara
tentang lingkungan, aku adalah orang yang bergumul dengan tiga lingkungan
berbeda sekaligus. Untuk hampir semua orang yang mengetahui lingkungan ini
menganggap aku “cukup hebat”. Tapi sejatinuya mereka tidak tahu seperti apa aslinya
aku mempertarhkan ketiganya. Sedikit
lebay, mati-matian aku mempertahankan ketinganya agar meraih keseimbangan.
Tetapi kerap saja bingung, linglung, lelah, malas menyatroni ku dengan kadar
luar biasa.
Mengenai
ketiga lingkungan itu, ku paparkan sekilas. Sedang mengenyam pendidikan pada
dua tempat yang berbeda, juga menikmati tidur dibawah tempat yang dikelilingi
berbagai peraturan yang mengikat. Artinya, aku sedang bergumul dengan tiga lingkungan
yang berbeda. Berbeda dalam pandangan, berbeda dalam rasa, dan yang pasti
berbeda di hampir segalanya.
Ketika
berada pada lingkungan pendidikan yang lebih dahulu aku jalani, rasa aman lebih
kerap menyelimutiku. Dari segi fasilitas,infrastruktur, dan “kemewahan” mungkin
lebih diatas dibanding lingkungan pendidikan ku yang kedua aku tempuh.
Busana
stylist, up date informasi-informasi hollywood, juga menggenggam ponsel
keluaran terbaru yang menyuratkan jebolan dari kalangan menengah keatas adalah
sedikit gambaran atapku yang pertama. Sedangkan kebalikan dari semua itu bisa
ku katakan sebagai secuil gambaran dari atap ku yang selanjutnya.
Juga
tampilan fisik yang semua orang bisa membedakan keduanya. Jika di atapku yang
pertama aku tak perlu merusak binder ku karena ku kibas-kibaskan sebagai kipas
pengusir gerah, maka di atapku yang kedua aku harus melakukanya demi mengusir
panas agar tak mengganggu proses otakku mencerna menu sehari-hari para
mahasiswa. Juga aku tak perlu mencapai lantai yang menjulang hanya dengan mengandalkan
anak-anak tangga yang melelahkan ketika bernaung pada atapku yang pertama.
Cukup dengan memainkan tombol lalu memasuki sebuah kotak baja mungil yang orang
sebut dengan nama “lift” dan sampailah aku pada lantai yang ku tuju.
Tapi
keadaan sebaliknya menyapaku. Aku harus menginjak sekian banyak anak-anak
tangga entah sebanyak apa aku enggan menghitung, demi kedua kakiku mencapai
lantai paling atas. Belum lagi gerah dan panas yang disajikan sebagai tempat
menampung ilmu-ilmu dari para perantara ilmu. Dan satu hal yang ku soroti
selanjutnya adalah tempat makan. Dimana tak ada cafetaria di setiap gedung,
yang ada hanyalah satu tempat untuk
makan yang aku pun hanya pernah sekali saja menjamahnya. Dan tempat untuk makan
yang selanjutnya lebih tak ku sukai lagi. tak terawat tentu tak bersih, dekat
dengan beberapa tong sampah dan lalat-lalat dengan senangnya bertebangan seolah
ingin merebut makanan yang ada. Sungguh pemandangan yang bagiku sangat tak
nyaman untuk dijadikan tempat melahap sesuatu.
Begitu
banyak kata “beda” yang aku dapat dari kedua atapku itu. Bukan hanya segi
fisik, namun turut pula segalanya. Aku tak harus merasa bosan berada di atap pertama karena
banyaknya tempat yang bisa ku jadikan tempat meletakkan punggung sejenak atau
menyegarkan otak seusai panas merangkum kewajiban mahasiswa seharian. Tapi
kerap merasa tak nyaman dan kebingungan mencari tempat yang pas karena sejumlah
keterbatasan ketika aku menjelajah di atap kedua.
Tapi
dibalik itu semua, ada satu kelebihan yang lebih unggul digenggam atapku yang
kedua. Yakni kekompakan. Selalu tolong-menolong, ramah, dan satu lagi yang tak
pernah aku temui yakni berjabat tangan ketika bertemu adalah salah satunya. Itu
hal yang mungkin aku nilai tak bisa aku dalami pada atapku yang pertama.
Itulah
putaran kehidupan. Dimana-mana pastilah kata “beda” selalu menyertai. Kini,
sedikit demi sedikit aku mulai tahu perbedaan diantara kedua atapku. Dan kini
pula, pelan tapi pasti aku ingin menyelami perbedaan itu lalu
mengkombinasikannya agar tak lagi asing dengan keduanya. Inilah resiko yang
telah aku ambil meski didahului dengan kata “terpaksa”. Harus mulai membiasakan
terburu-buru dengan harus melewati sekian anak tangga lalu mencapai ruangan
yang ku tuju dengan tanpa penyegar ruangan dan hanya disambut ruangan yang tak
pernah aku bayangkan. Juga bingung kala ingin memantulkan bayangan melalui kaca
wastafel di toilet. Bingung karena belum pernah ku temui sebuah wastafel dengan
cermin besar yang menunggui toilet-toilet seperti yang ada pada atapku yang
pertama, dimana setiap toilet pastilah memiliki wastafel sebagai pelengkapnya.
Mungkin
perlahan aku akan bisa semakin berbaur dengan itu semua. Tapi terkecuali untuk
satu hal ini. Makanan. Sebisa mungkin aku akan menghindari untuk tidak melahap
makanan di tempat yang telah aku paparkan tadi. Pastinya lebih ku utamakan
berada di cafetaria atap ku yang pertama dengan berbagai alasan yang masuk
akal. Bukan karena jiwa angkuh atau apapun yang ingin orang lontarkan. Namun
setiap orang tentunya memiliki selera yangg tak sama. Jika memungkinkan untuk
berada di tempat yang lebih sehat untuk makanan, mengapa tidak?
Dan
selanjutnya yang ingin sedikit ku paparkan adalah atap yang ku tiduri selama
ini. Lebih tepatnya beberapa bulan belakangan. Jujur. Atap sangat sempit yang
ku punya, dilengkapi dengan sekumpulan orang yang turut bernaung yang
kerap menunjukkan wajah tak
bersahabat. Huft. Atap yang tiap kali
aku pikir, menyeramkan. Selalu kata hati ingin meninggalkan tapi kedua “tiang
hidupku” selalu mempunyai alasan untuk kembali menahanku dan selanjutnya aku
harus kembali tertahan entah untuk berapa waktu.
Tapi
ya sudahlah. Jika ku pikirkan dengan nurani yang bersih, ini semua memang yang
terbaik yang harus aku lakukan. Namun sayangnya aku belum menjumpai nurani ku
yang bersih.
Aucun commentaire:
Enregistrer un commentaire