Here, I am



lundi, décembre 10, 2012

Atap-Atap ku ...


Berbicara tentang lingkungan, aku adalah orang yang bergumul dengan tiga lingkungan berbeda sekaligus. Untuk hampir semua orang yang mengetahui lingkungan ini menganggap aku “cukup hebat”. Tapi sejatinuya mereka tidak tahu seperti apa aslinya aku mempertarhkan ketiganya.  Sedikit lebay, mati-matian aku mempertahankan ketinganya agar meraih keseimbangan. Tetapi kerap saja bingung, linglung, lelah, malas menyatroni ku dengan kadar luar biasa.
Mengenai ketiga lingkungan itu, ku paparkan sekilas. Sedang mengenyam pendidikan pada dua tempat yang berbeda, juga menikmati tidur dibawah tempat yang dikelilingi berbagai peraturan yang mengikat. Artinya, aku sedang bergumul dengan tiga lingkungan yang berbeda. Berbeda dalam pandangan, berbeda dalam rasa, dan yang pasti berbeda di hampir segalanya.
Ketika berada pada lingkungan pendidikan yang lebih dahulu aku jalani, rasa aman lebih kerap menyelimutiku. Dari segi fasilitas,infrastruktur, dan “kemewahan” mungkin lebih diatas dibanding lingkungan pendidikan ku yang kedua aku tempuh.
Busana stylist, up date informasi-informasi hollywood, juga menggenggam ponsel keluaran terbaru yang menyuratkan jebolan dari kalangan menengah keatas adalah sedikit gambaran atapku yang pertama. Sedangkan kebalikan dari semua itu bisa ku katakan sebagai secuil gambaran dari atap ku yang selanjutnya.
Juga tampilan fisik yang semua orang bisa membedakan keduanya. Jika di atapku yang pertama aku tak perlu merusak binder ku karena ku kibas-kibaskan sebagai kipas pengusir gerah, maka di atapku yang kedua aku harus melakukanya demi mengusir panas agar tak mengganggu proses otakku mencerna menu sehari-hari para mahasiswa. Juga aku tak perlu mencapai lantai yang menjulang hanya dengan mengandalkan anak-anak tangga yang melelahkan ketika bernaung pada atapku yang pertama. Cukup dengan memainkan tombol lalu memasuki sebuah kotak baja mungil yang orang sebut dengan nama “lift” dan sampailah aku pada lantai yang ku tuju.
Tapi keadaan sebaliknya menyapaku. Aku harus menginjak sekian banyak anak-anak tangga entah sebanyak apa aku enggan menghitung, demi kedua kakiku mencapai lantai paling atas. Belum lagi gerah dan panas yang disajikan sebagai tempat menampung ilmu-ilmu dari para perantara ilmu. Dan satu hal yang ku soroti selanjutnya adalah tempat makan. Dimana tak ada cafetaria di setiap gedung, yang ada hanyalah satu tempat  untuk makan yang aku pun hanya pernah sekali saja menjamahnya. Dan tempat untuk makan yang selanjutnya lebih tak ku sukai lagi. tak terawat tentu tak bersih, dekat dengan beberapa tong sampah dan lalat-lalat dengan senangnya bertebangan seolah ingin merebut makanan yang ada. Sungguh pemandangan yang bagiku sangat tak nyaman untuk dijadikan tempat melahap sesuatu.
Begitu banyak kata “beda” yang aku dapat dari kedua atapku itu. Bukan hanya segi fisik, namun turut pula segalanya. Aku tak harus  merasa bosan berada di atap pertama karena banyaknya tempat yang bisa ku jadikan tempat meletakkan punggung sejenak atau menyegarkan otak seusai panas merangkum kewajiban mahasiswa seharian. Tapi kerap merasa tak nyaman dan kebingungan mencari tempat yang pas karena sejumlah keterbatasan ketika aku menjelajah di atap kedua.
Tapi dibalik itu semua, ada satu kelebihan yang lebih unggul digenggam atapku yang kedua. Yakni kekompakan. Selalu tolong-menolong, ramah, dan satu lagi yang tak pernah aku temui yakni berjabat tangan ketika bertemu adalah salah satunya. Itu hal yang mungkin aku nilai tak bisa aku dalami pada atapku yang pertama.
Itulah putaran kehidupan. Dimana-mana pastilah kata “beda” selalu menyertai. Kini, sedikit demi sedikit aku mulai tahu perbedaan diantara kedua atapku. Dan kini pula, pelan tapi pasti aku ingin menyelami perbedaan itu lalu mengkombinasikannya agar tak lagi asing dengan keduanya. Inilah resiko yang telah aku ambil meski didahului dengan kata “terpaksa”. Harus mulai membiasakan terburu-buru dengan harus melewati sekian anak tangga lalu mencapai ruangan yang ku tuju dengan tanpa penyegar ruangan dan hanya disambut ruangan yang tak pernah aku bayangkan. Juga bingung kala ingin memantulkan bayangan melalui kaca wastafel di toilet. Bingung karena belum pernah ku temui sebuah wastafel dengan cermin besar yang menunggui toilet-toilet seperti yang ada pada atapku yang pertama, dimana setiap toilet pastilah memiliki wastafel sebagai pelengkapnya.
Mungkin perlahan aku akan bisa semakin berbaur dengan itu semua. Tapi terkecuali untuk satu hal ini. Makanan. Sebisa mungkin aku akan menghindari untuk tidak melahap makanan di tempat yang telah aku paparkan tadi. Pastinya lebih ku utamakan berada di cafetaria atap ku yang pertama dengan berbagai alasan yang masuk akal. Bukan karena jiwa angkuh atau apapun yang ingin orang lontarkan. Namun setiap orang tentunya memiliki selera yangg tak sama. Jika memungkinkan untuk berada di tempat yang lebih sehat untuk makanan, mengapa tidak?
Dan selanjutnya yang ingin sedikit ku paparkan adalah atap yang ku tiduri selama ini. Lebih tepatnya beberapa bulan belakangan. Jujur. Atap sangat sempit yang ku punya, dilengkapi dengan sekumpulan orang yang turut bernaung yang kerap  menunjukkan wajah tak bersahabat.  Huft. Atap yang tiap kali aku pikir, menyeramkan. Selalu kata hati ingin meninggalkan tapi kedua “tiang hidupku” selalu mempunyai alasan untuk kembali menahanku dan selanjutnya aku harus kembali tertahan entah untuk berapa waktu.
Tapi ya sudahlah. Jika ku pikirkan dengan nurani yang bersih, ini semua memang yang terbaik yang harus aku lakukan. Namun sayangnya aku belum menjumpai nurani ku yang bersih.

Aucun commentaire:

Enregistrer un commentaire