Sepertinya setiap yang hidup pasti akan berjumpa dengan masalah. Bukan sepertinya lagi. Tapi lebih tepatnya pastinya. Manusia pasti akan menjumpai bertubi-tubi masalah dalam hidupnya yang akan setia menggandengnya untuk berjalan berarakan.
Seperti aku saat ini. Sedang mengambang didera masalah yang kerap membuat aku berpikir aku tak akan mampu menjalaninya. Masalah pendidikan dengan dua lingkungan dan segala sistemnya yang berbeda, juga tentang tempat tinggal yang selalu membuatku merasa aku ini hanya orang bodoh yang mencoba menumpang hidup di dunia ini.
Mungkin saat ini untuk masalah pendidikan, aku berusaha untuk bisa menyatukan keduanya meski aku tahu itu begitu sulit. Tapi sulit bukan berarti tidak bisa,kan? Aku mau mencoba untuk menjalanni keduanya. Berjalan beriringan ditengah-tengahnya kemudian tersenyum karena telah menggapai keduanya. Tapi, tempat tinggal? seketika otakku dipaksa untuk berhenti bekerja ketika teringat tentang sebuah penjara suci itu. Penjara yang selalu membuatku tidak nyaman dengan segala hiruk pikuk didalamnya. Penjara yang menurutku dihuni oleh ratusan manusia yang dengan segala karakteristiknya sukses membuatku menjadi manusia terkerdil di dunia.
Sebenarnya, tidak mengambil pusing masalah manusia-manusia itu bisa saja aku lakukan. Bersikap acuh tak acuh seolah tak mempedulikan apa yang mereka lakukan dan bicarakan tentangku. Toh, mereka sama sekali tak tahu apa-apa tentang hidupku, pikirku. Tapi manusia adalah makhluk sosial, teori yang ku kenal sejak berseragam merah putih itu selalu membuatku membalikkan semua pemikiranku. Bahwa hidup itu pasti membutuhkan uluran tangan dari yang lain juga. Bahwa kita takkan mampu menjalani kehidupan seorang diri.
Tapi lingkungan saat ini sama sekali bukan lingkungan yang aku harapkan untuk menyempurnakan kehidupanku. Berkumpul dengan orang-orang berpendidikan namun terkadang pelupa dengan yang mereka ucapkan sendiri merupakan salah satu dari sekian gambaran yang paling memuakkan yang pernah aku tahu.
Ya. Tapi aku bisa apa saat ini. Meski aku berteriak sekencang mungkin mengatakan bahwa aku ingin keluar dari lingkungan ini lalu menjalani kehidupan lebih "normal" dengan lingkungan yang lebih nikmat lagi, takkan mampu mengubah semua ini. Tetap saja aku akan berada dalam naungan atap hijau ini.
Dan saat ini, aku ingin melancong dan menyentuh deburan pantai kemudian berteriak sekencang mungkin. Aku ingin sejenak saja bermain-main dengan ombak, membasahi kainku, membaurkan tubuhku lalu memejamkan mata dan menikmati sentuhan lembut angin dalam tenangnya laut.
Sejenak saja, menikmati itu semua. Sejenak saja menyentuh bintang. Dan, sejenak saja tertidur dalam nyenyak nya nyanyian malam ...
Aucun commentaire:
Enregistrer un commentaire