Here, I am



dimanche, octobre 14, 2012

Tangisan Semu ...

Menangis itu adalah sebuah hal yang manusiawi. Tak ada larangan untuk menumpahkan kekesalan, kemarahan atau perasaan apapun lewat untaian air mata. Karena dengan memupuskan air mata, hati akan sedikit menyentuh kelegaan.
Aku pun juga hanya manusia kerdil biasa yang hidup dibawah jutaan debu yang tiap detik menari-nari secara kasat mata. Aku hanya setitik bulatan kecil tak terlihat di tengah-tengah lautan antah berantah.
Ketika menemui guratan masalah, aku memilih untuk bungkam dan tanpa isak, menitikan air mata di tempat yang ku pikir akan menutupi kekonyolanku. Merasakan air mata membelaiku , menelusuriku kemudian menghempaskan sedetik sedihku..
Dan, ketika saat ini aku berada pada sebuah llingkungan yang  ku pikir tak sesuai dengan suara hatiku, aku hanya menerimanya dengan anggapan yang terbaik untuk orang-orang yang memohonku untuk menyentuh dasarnya. Aku ingin berkorban. Aku merelakan semua yang kujalani tak sesuai dengan apa yang kuteriakan dalam benakku. Tapi sekali lagi, aku rela. Aku rela jika itu jalan mengukir senyum terindah untuk mereka .
Meski begitu, meski sakit, aku mau untuk tetap berdiri. Aku mau untuk tetap terjaga dalam kebaikan diriku sendiri. Aku mau untuk berbaur dengan yang tak kuinginkan sebenarnya.
Dan ketika aku mulai mencoba untuk melebur di dalamya, tetap saja wajah-wajah memuakkan kerap menampakkan seramnya keaslian. Selalu  menepiskan semangatku untuk memulai semuanya dengan sesuatu yang baru dan lebih baik. Wajah-wajah yang sama sekali tak kuinginkan untuk menumpang dalam kehidupanku.
Tetapi dibalik itu semua, tak ada ruang kosong untuk aku bisa berkiprah bersama tangisanku. Tak ada tempat untuk menemani air mataku. Semua hanya teronggok dalam sarangku. Tanpa aku bisa membaginya, tanpa aku bisa menelurkan pada siapapun.
Yang ada hanya sebuah tangisan abstrak yang tak pernah mau terdengar oleh telinga asing lainnya dan hanya menari dalam kedalaman perasaanku...
Memang yang ada hanyalah tangisan semu yang tak semua mata mampu menatapnya, tak semua hati bisa merasakannya ...
Kemudian aku harap agar suatu saat nanti, aku bisa mengarak air mataku sepuasnya di pundak yang tepat. Di dekapan yang sebenarnya ....

Aucun commentaire:

Enregistrer un commentaire