Inilah hidup. Inilah kehidupan. Hidup dan kehidupan itu pasti diselimuti pilihan. Ada iya ada tidak. Ada berhasil ada gagal, ada senang ada sedih, ada tersenyum ada menangis. Semua itu adalah sebuah pilihan yang mutlak akan dijalani setiap manusia.
itulah yang saat ini sedang coba aku telisik lebih mendalam lagi. Tentang hakikat kehidupan yang sebenarnya. Aku mencoba untuk mulai menjadi seorang yang lebih dewasa seiring berlarinya usia. Dan, semakin kedepan, aku semakin tahu bahwa kedewasaan itu bukan berdasar pada seberapa tua kah usia seseorang, melainkan seberapa matang kah pemikiran seseorang itu. Dan pernah seseorang menghadirkan katanya untukku, bahwa masalah itu datang tak lain demi mendewasakan kita.
Ternyata kini aku merasakannya. Bahwa, memang masalah dihadirkan untuk mematangkan pemikiran kita, untuk mendewasakan kita agar kedepannya kita bisa peka terhadap setiap masalah yang akan lanjut menerpa kita.
Sejak aku menginjakkan kedua kakiku di bumi Arema ini, aku masih terlalu ingat dengan masalah pertamaku. Masalah yang hampir menyurutkan niat batinku. Namun, ku kira hati kecilku mengetukku bahwa ini hanyalah kerikil paling kecil yang menyentuh tubuhku. Bukankah selanjutnya akan ada batu-batuan lebih besar bahkan raksasa yang akan menggamparku? entah dengan cara apa, aku pun masih buta dibuatnya.
Hingga akhirnya, aku dapat menaklukan satu masalah pertamaku itu. dan berkelanjutan, anak-anak masalah itu silih berganti menggandengku.
Bahkan kini, otakku diminta berputar keras menembus jalan keluar yang tepat. Mendobrak gerbang yang sempat buntu gelap. Aku tahu, apapun yang kita ambil, belum tentu terpeluk oleh orang-orang yang mematrikan diri untuk kita.
Secuplik cerita, kini aku mulai menjalani tiga kehidupan yang berbeda. Menjadi mahasiswi pada dua universitas yang berbeda, juga menjadi seorang santri pada sebuah pesantren yang pasti terikat dengan segala peraturannya.
sempat membuat bingung hampir semua kawan dalam lingkupku. Sempat juga diam mendengar berbagai hiruk omongan kanan-kiri yang terkadang menjatuhkan semangatku. Mereka bilang, buat apa kuliah lagi? apa kampus pertamamu kurang bagus? bagaimana time management nya?
Memang jika dilihat, semua itu rumit. Jadwal bentrok, waktu mepet, dan pasti lelah teramat. Minggu pertama telah mengawali dengan kelelahan dan kewalahan yang tak terkira. Mondar-mandir dari kampus satu ke kampus berikutnya. Menghadap orang-orang atas demi mendapatkan kemudahan sudah menjadi menuku tiap hari. Bahkan, aku harus rela berpindah-pindah kelas demi menyetarakan semua jadwal. Agak pusing jika sudah berbicara mengenai berbagai tugas.
Tapi sedikitpun tak ada niatan untuk melepas salah satunya. Bagiku, ini adalah cobaan selanjutnya yang harus dan mutlak aku taklukan. Sama seperti cobaan terdahulu, aku pasti bisa menghempaskannya. Dan disaat hampir semua orang memberi saran yang bagiku tak sesuai, dua orang lelaki yang begitu berharga dalam hidupku selalu datang menyuratkan kata-kata motivasi agar aku tak berhenti sampai disini. Bahwa aku pasti bisa. Mereka ucapkan kalimat yang menyejukkan nuraniku kala aku merasa semua ini tak sanggup aku pikul sendiri.
Adalah ayah dan pamanku. Lewat udara, mereka berkata agar aku tetap sabar berada diatas tebing yang curam. Karena mereka tahu, inilah yang akan terbaik untukku. Dengan lembut, mereka membelai sanubariku untuk lebih kuat. Dan mereka selalu meyakinkanku bahwa mereka selalu ada untukku.
dan, saat ini aku percaya bahwa semua ini hanyalah sementara. Tentu kesulitan dan kelelahan yang memelukku takkan selamanya bersamaku.
Aku semakin percaya, masalah hadir hanya untuk mendewasakan kita ...
Dan, aku tak sendirian ... aku bersama Tuhan dan orang-orang hebat dimataku ...
Aku pasti bisa menghempaskan semua kerikil maupun bebatuan besar sekalipun ...
Aucun commentaire:
Enregistrer un commentaire