Langkahku kian mengayun anggun
menapaki dan menyusuri jalanan yang penuh dedaunan tergolek dengan sesekali
berterbangan ria tertiup lembutnya angin.
Mataku semakin menyapu detail sekitaran yang terlalu asing bagiku.
Mengitari pandangan kesegala penjuru
arah dengan ketajaman indra penglihatan. Mendaratkan pijakan pada rerumputan
pucat tanpa dosa. Dan pada akhirnya terduduk mengadu pada hembusan angin yang
berusaha membelai dengan indahnya.
Tiba-tiba saja tanpa diundang air mataku
menjelajahi pipiku dan dengan seksama
kunikmati sentuhannya. Perlahan, mulutku mulai terbuka dan mulai melontarkan
sesuatu untuk didengar sang alam. Dengan parau, aku mulai bercerita entah pada siapa. Rerumputan yang
mengelilingiku mungkin.
Jika kau tahu? Aku kesepian. Aku
merasa telah kehilangan semua orang yang pernah ada dihidupku menyumbang tawa
dan canda dalam liku suka duka perjalananku.
Jika kau tahu? Aku menangis. Aku
merasa masa itu begitu sulit kuhadirkan kembali dalam duniaku saat ini. Masa itu
seolah melambai layu berucap tak akan mendatangiku lagi.
Jika kau tahu? Aku tersakiti. Aku
merasa semua berbalik dengan mimpiku. Mereka tak sadar menyakiti hatiku. Mereka menggoreskan luka dalam yang
sampai kapanpun akan kubawa dalam genggaman dukaku.
Dan andai kau tahu, aku ingin darahku
mengalir kental membasuh seluruh tubuhku, menyirami rambutku, merubah wajahku
menjadi merah darah seutuhnya. Dan selanjutnya aku ingin merasakan darahku
sendiri. Merasakan pahitnya darah dari luka hebat.
Lalu sesekali kudengar desahan angin
mencium telingaku dan mengarak rambutku. Ingin aku meneriakkan pada alam
tentang semua keluhku yang telah teronggok beku dalam benakku..
Tentang seorang sahabat yang kurasa
semakin hilang entah ditelan apa. Tentang sahabat yang kini memudar perlahan dan semakin jauh dengan
meninggalkan jejak-jejak semu merindukan.
Tentang sahabat yang saat ini sulit
kutangkap bayangan sempurnanya. Tentang sahabat yang terkadang tersenyum sinis
menjajikan diujung pengharapanku. Dan tentang sahabat yang merangkul hangat
sehangat kucuran darah tersembur dari
jantungku....
Dunia ini memang dikuasai misteri.
Secara kasat mata, semua itu begitu indah memukau. Begitu ceria dengan segala
senyum termanis dari segala sisi. Namun, dibalik itu melalui kaca mata
kemunafikan, akan terasa begitu berserakannya pisau-pisau dengan bekas darah
menempel mmenyelimutinya. Pisau-pisau bekas penusukan tragis yang meninggalkan
luka dalam takkan terobati.
Kini, benar saja wajah-wajah itu telah
hilang telah pudar telah lenyap dan sekali lagi juga telah meninggalkan jejak
semu merindukan. Sangat meridukan.
Oh Tuhan,,, kembalikan wajah-wajah
sahabat itu....
Kembalikan jejak-jejak itu lagi...
Entah sampai kapan aku harus berdiri diujung kabut menanti
kembalinya wajah-wajah yang selalu ingin kupeluk erat enggan kulepas itu...
Entah sampai kapan aku harus menahan
lelah beriring peluh demi sebuah pelukan sayang dari wajah-wajah yang telah
terukir begitu apiknya hanya dalam bingkai bayangku..
Tuhan.. sekali lagi, aku rindu pada
wajah-wajah itu... aku ingin kembali menangkap mata dengan binar hangat dari
wajah-wajah itu..
Sungguh aku ingin wajah-wajah itu
kembali kudekap lagi dan takkan kulepas begitu saja...
Sungguh aku ingin wajah-wajah itu
mengiringi simponi hidupku....
Kembalikan wajah-wajah itu..
Kembalikan padaku...
Mereka, wajah-wajah semu
merindukan........
Yang sampai kapanpun akan selalu
terindukan olehku.....
ini yang kamu maksud satu atau lebih orang? :D aku rada bingung soalnya awalnya satu orang, terus ada banyak orang .
RépondreSupprimeryaudah tenang aja. gak usah merasa kesepian....
di dunia ini ada banyak orang kok. :D
ini multi tafsir kok shannnnn...
Supprimer.. haha curahan hati yang trpendam aja...
. jangan tinggalin aku kalo aku lagi kesepian...
. haha
Ce commentaire a été supprimé par l'auteur.
RépondreSupprimer