Here, I am



lundi, avril 23, 2012

Sirami Aku Dengan llmumu



Hari itu, aku melangkah pasti diselimuti perasaan bahagia begitu memuncah. Langkahku kian kupercepat, mataku memburu penuh nafsu, kedua telapak tanganku basah karena ulah keringat dinginku. Berkali-berkali mulutku berkomat-kamit berucap “aku akan melihatnya langsung”.

Dan benar saja ketika aku menginjakkan langkah pertamaku menuju sebuah toko buku terkenal, aku menangkap sosoknya yang sedang asyik berpatner dengan mike-nya untuk mengeluarkan kalimat-kalimat yang pastinya telah dinanti oleh orang-orang yang duduk manis dihadapannya.

Dengan senyum mengembang dan mata teduh yang mengitari sekitarnya, ia berucap layaknya seorang profesor yang sedang memberi ilmu-ilmunya pada mahasiswa. Begitu lancang dan tak pernah lepas dari senyum yang kian menambah gurat ketampanan khas seorang pria sesungguhnya.

Kutujukan kedua mataku lurus agar bisa menangkap dan mengamati wajah penuh wibawanya. Tampan,bersahaja,sederhana,murah senyum adalah coretan wajahnya yang sigap membuatku terus mengukir senyum kecil penuh arti. Mataku terkagum-kagum menatap mata syahdunya meski dari jarak cukup jauh.

Kedatanganya ke kota dimana saat ini aku berdiam adalah momen yang paling aku nantikan. Selama ini aku begitu mengagumi sosoknya dengan segala cerita yang mengikutinya. Dan tanpa aku duga, karena anugrah Dia yang bisa merubah segalanya, aku bisa bertemu secara langsung tanpa mengeluarkan sepeser-pun uang seperti orang lain.

Bahkan malam itu, aku bisa mendampingi dia dalam sebuah gala dinner. Semakin spesifik lah aku berada pada satu ruang yang sama. Meski bukan hanya aku yang mendampingi dia, tapi itu tetaplah menjadi sebuah kesempatan langka yang tidak semua orang bisa mereguknya begitu saja.

Dan seusai sesi gala dinner itu, aku dan segenap teman-temanku yang lain segera meluncur menuju kota wisata Batu pukul sembilan malam dengan hawa dingin mulai menyeruak menusuk pori-pori kulit ampuh membuat bulu kuduk menari ria.

Meski malam itu tak bisa  berbincang ria dengannya, tetapi rasa senangku tetap bergemuruh ketika aku bisa menghabiskan malam itu bertempat di alun-alun kota Batu untuk berbicara banyak hal dengan ibunya. Tentang hidup lengkap dengan perjuangan didalamnya. Wanita setengah baya yang paling utama dalam hidup pria 25 tahun itu begitu banyak menyuntikkan cairan-cairan positif dalam tubuhku. Beliau mengajari aku tentang bagaimana hakikat hidup yang sesunguhnya. Bagaimana sebuah kesuksesan bisa diraih dan apa itu sebenarnya kesuksesan.

Mataku spontan berkaca-kaca begitu wanita yang masih tetap memancarkan aura muda meski sudah melewati setengah abad lebih masa hidupnya itu menyentuh pundakkku dengan kelembutan khas seorang ibu lalu tersenyum dengan sorot mata penuh ketulusan seorang wanita.

Lalu keesokan harinya, sang pria muda itu kembali muncul dihadapanku dan dengan kegagahanya ia berbicara dan tak lepas dari atribut keramahanya membius semua orang dihadapannya yang telah mematenkan pandangan dan perhatiannya hanya untuk seorang pria yang sebentar lagi akan meraih gelar seorang master jebolan dari universitas “wow” dari negeri terkaya Qatar.

Mataku tak henti melihat gerak-geriknya.
Ia mengajariku banyak hal yang belum pernah aku sentuh sebelumnya. Tentang tiga hal kunci sukses diusia mudanya.

3’P :
-       Positive
-       Presistence
-       Pray

3’H :
-       Honest
-       Humble
-       Helpful

Tak hanya itu, ia juga dengan santunnya tak lupa mengajari aku tentang indahnya sebuah sedekah. Bahwa dengan sedekah, Allah akan selalu membukakan pintu rezeki untuk kita. Dia adalah sosok yang menjadikan sedekah adalah salah satu dari hobinya. Bahwa sedekah adalah investasi aman kita didunia maupun diakhirat nanti.

Ia juga mengajari aku tentang mimpi. Bahwa kita harus bermimpi setinggi mungkin. Bahwa kita harus menjadi orang sekaya mungkin. Bahkan kalau bisa terkaya sedunia. Karena dia mengajari untuk kaya demi orang-orang disekitar kita bukan semata-mata demi hasrat duniawi kita.

Dengan bekal jebolan S1 di Malaysia dan S2 di Qatar, pemikirannya sangat membangun dan menginspirasi. Bahkan tak diduga seorang mantan presiden Indonesia, BJ Habibi pernah menuturkan dengan raut kebanggaan terhadap dirinya “ jadilah presiden menggantikan posisi saya “.

Suatu kebanggaan dan kehormatan seorang pria 25 tahun mendengar dirinya mendapat sebuah amanah dari seseorang yang pernah menjadi orang nomor satu di Indonesia.

Ia pun meng-amini pertuturan tersebut sebagai sebuah doa untuknya. Karena aku tahu,  bahwa cita-citanya ketika ia duduk manis dibangku kelas lima SD adalah menjadi seorang presiden dan membrantas semua ketidakadilan dinegeri ini.

Sungguh pemikiran yang langka. Sungguh pemikiran yang brilian. Dia benar-benar mengajari  aku banyak hal yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya dari pria manapun.
Sungguh bagiku  dia adalah sosok pria sesungguhnya masa kini.

Dia adalah pria sesungguhnya dengan tampilan apa adanya. Sungguh aku belum pernah bertemu dengan seorang laki-laki sepertinya. Laki-laki yang bukan sekedar laki-laki. Tapi dia adalah seorang pria sesungguhnya.

Ia dan ibunya mulai membuka hatiku akan indahnya dunia karunia dari Sang Ilahi...
Ya Allah, pertemukan aku kembali denganya dan berikan aku seseorang yang sepertinya...
Dan malam ini, aku akan tertidur dengan sebuah senyum indah menemaniku untuk segera berkelana dalam mimpi setinggi mungkin.... wajahnya bergelantungan dalam tidurku....

Muhammad Assad namanya. Si Singa dari padang pasir julukannya.





Aucun commentaire:

Enregistrer un commentaire