Hari itu, aku melangkah
pasti diselimuti perasaan bahagia begitu memuncah. Langkahku kian kupercepat,
mataku memburu penuh nafsu, kedua telapak tanganku basah karena ulah keringat
dinginku. Berkali-berkali mulutku berkomat-kamit berucap “aku akan melihatnya
langsung”.
Dan benar saja ketika
aku menginjakkan langkah pertamaku menuju sebuah toko buku terkenal, aku
menangkap sosoknya yang sedang asyik berpatner dengan mike-nya untuk
mengeluarkan kalimat-kalimat yang pastinya telah dinanti oleh orang-orang yang
duduk manis dihadapannya.
Dengan senyum
mengembang dan mata teduh yang mengitari sekitarnya, ia berucap layaknya
seorang profesor yang sedang memberi ilmu-ilmunya pada mahasiswa. Begitu
lancang dan tak pernah lepas dari senyum yang kian menambah gurat ketampanan
khas seorang pria sesungguhnya.
Kutujukan kedua
mataku lurus agar bisa menangkap dan mengamati wajah penuh wibawanya.
Tampan,bersahaja,sederhana,murah senyum adalah coretan wajahnya yang sigap
membuatku terus mengukir senyum kecil penuh arti. Mataku terkagum-kagum menatap
mata syahdunya meski dari jarak cukup jauh.
Kedatanganya ke kota
dimana saat ini aku berdiam adalah momen yang paling aku nantikan. Selama ini
aku begitu mengagumi sosoknya dengan segala cerita yang mengikutinya. Dan tanpa
aku duga, karena anugrah Dia yang bisa merubah segalanya, aku bisa bertemu
secara langsung tanpa mengeluarkan sepeser-pun uang seperti orang lain.
Bahkan malam itu, aku
bisa mendampingi dia dalam sebuah gala dinner. Semakin spesifik lah aku berada
pada satu ruang yang sama. Meski bukan hanya aku yang mendampingi dia, tapi itu
tetaplah menjadi sebuah kesempatan langka yang tidak semua orang bisa
mereguknya begitu saja.
Dan seusai sesi gala
dinner itu, aku dan segenap teman-temanku yang lain segera meluncur menuju kota
wisata Batu pukul sembilan malam dengan hawa dingin mulai menyeruak menusuk
pori-pori kulit ampuh membuat bulu kuduk menari ria.
Meski malam itu tak
bisa berbincang ria dengannya, tetapi rasa senangku tetap bergemuruh ketika aku
bisa menghabiskan malam itu bertempat di alun-alun kota Batu untuk berbicara
banyak hal dengan ibunya. Tentang hidup lengkap dengan perjuangan didalamnya.
Wanita setengah baya yang paling utama dalam hidup pria 25 tahun itu begitu banyak
menyuntikkan cairan-cairan positif dalam tubuhku. Beliau mengajari aku tentang
bagaimana hakikat hidup yang sesunguhnya. Bagaimana sebuah kesuksesan bisa
diraih dan apa itu sebenarnya kesuksesan.
Mataku spontan
berkaca-kaca begitu wanita yang masih tetap memancarkan aura muda meski sudah
melewati setengah abad lebih masa hidupnya itu menyentuh pundakkku dengan
kelembutan khas seorang ibu lalu tersenyum dengan sorot mata penuh ketulusan
seorang wanita.
Lalu keesokan
harinya, sang pria muda itu kembali muncul dihadapanku dan dengan kegagahanya
ia berbicara dan tak lepas dari atribut keramahanya membius semua orang dihadapannya
yang telah mematenkan pandangan dan perhatiannya hanya untuk seorang pria yang
sebentar lagi akan meraih gelar seorang master jebolan dari universitas “wow”
dari negeri terkaya Qatar.
Mataku tak henti
melihat gerak-geriknya.
Ia mengajariku banyak
hal yang belum pernah aku sentuh sebelumnya. Tentang tiga hal kunci sukses
diusia mudanya.
3’P :
-
Positive
-
Presistence
-
Pray
3’H :
-
Honest
-
Humble
-
Helpful
Tak hanya itu, ia
juga dengan santunnya tak lupa mengajari aku tentang indahnya sebuah sedekah.
Bahwa dengan sedekah, Allah akan selalu membukakan pintu rezeki untuk kita. Dia
adalah sosok yang menjadikan sedekah adalah salah satu dari hobinya. Bahwa sedekah
adalah investasi aman kita didunia maupun diakhirat nanti.
Ia juga mengajari aku
tentang mimpi. Bahwa kita harus bermimpi setinggi mungkin. Bahwa kita harus
menjadi orang sekaya mungkin. Bahkan kalau bisa terkaya sedunia. Karena dia
mengajari untuk kaya demi orang-orang disekitar kita bukan semata-mata demi hasrat duniawi kita.
Dengan bekal jebolan
S1 di Malaysia dan S2 di Qatar, pemikirannya sangat membangun dan
menginspirasi. Bahkan tak diduga seorang mantan presiden Indonesia, BJ Habibi
pernah menuturkan dengan raut kebanggaan terhadap dirinya “ jadilah presiden
menggantikan posisi saya “.
Suatu kebanggaan dan
kehormatan seorang pria 25 tahun mendengar dirinya mendapat sebuah amanah dari
seseorang yang pernah menjadi orang nomor satu di Indonesia.
Ia pun meng-amini
pertuturan tersebut sebagai sebuah doa untuknya. Karena aku tahu, bahwa cita-citanya ketika ia duduk manis
dibangku kelas lima SD adalah menjadi seorang presiden dan membrantas semua
ketidakadilan dinegeri ini.
Sungguh pemikiran
yang langka. Sungguh pemikiran yang brilian. Dia benar-benar mengajari aku banyak hal yang belum pernah aku dapatkan
sebelumnya dari pria manapun.
Sungguh bagiku dia adalah sosok pria sesungguhnya masa kini.
Dia adalah pria
sesungguhnya dengan tampilan apa adanya. Sungguh aku belum pernah bertemu
dengan seorang laki-laki sepertinya. Laki-laki yang bukan sekedar laki-laki.
Tapi dia adalah seorang pria sesungguhnya.
Ia dan ibunya mulai
membuka hatiku akan indahnya dunia karunia dari Sang Ilahi...
Ya Allah, pertemukan
aku kembali denganya dan berikan aku seseorang yang sepertinya...
Dan malam ini, aku
akan tertidur dengan sebuah senyum indah menemaniku untuk segera berkelana dalam
mimpi setinggi mungkin.... wajahnya bergelantungan dalam tidurku....
Muhammad Assad
namanya. Si Singa dari padang pasir julukannya.
Aucun commentaire:
Enregistrer un commentaire