Here, I am



mardi, avril 24, 2012

Hilangnya Wajah Sahabat




Langkahku kian mengayun anggun menapaki dan menyusuri jalanan yang penuh dedaunan tergolek dengan sesekali berterbangan ria tertiup lembutnya angin.  Mataku semakin menyapu detail sekitaran yang terlalu asing bagiku. Mengitari pandangan kesegala  penjuru arah dengan ketajaman indra penglihatan. Mendaratkan pijakan pada rerumputan pucat tanpa dosa. Dan pada akhirnya terduduk mengadu pada hembusan angin yang berusaha membelai dengan indahnya.

Tiba-tiba saja tanpa diundang air mataku  menjelajahi pipiku dan dengan seksama kunikmati sentuhannya. Perlahan, mulutku mulai terbuka dan mulai melontarkan sesuatu untuk didengar sang alam. Dengan parau, aku mulai  bercerita entah pada siapa. Rerumputan yang mengelilingiku mungkin.

Jika kau tahu? Aku kesepian. Aku merasa telah kehilangan semua orang yang pernah ada dihidupku menyumbang tawa dan canda dalam liku suka duka perjalananku.

Jika kau tahu? Aku menangis. Aku merasa masa itu begitu sulit kuhadirkan kembali dalam duniaku saat ini. Masa itu seolah melambai layu berucap tak akan mendatangiku lagi.

Jika kau tahu? Aku tersakiti. Aku merasa semua berbalik dengan mimpiku. Mereka tak sadar menyakiti  hatiku. Mereka menggoreskan luka dalam yang sampai kapanpun akan kubawa dalam genggaman dukaku.

Dan andai kau tahu, aku ingin darahku mengalir kental membasuh seluruh tubuhku, menyirami rambutku, merubah wajahku menjadi merah darah seutuhnya. Dan selanjutnya aku ingin merasakan darahku sendiri. Merasakan pahitnya darah dari luka hebat.

Lalu sesekali kudengar desahan angin mencium telingaku dan mengarak rambutku. Ingin aku meneriakkan pada alam tentang semua keluhku yang telah teronggok beku dalam benakku..

Tentang seorang sahabat yang kurasa semakin hilang entah ditelan apa. Tentang sahabat yang  kini memudar perlahan dan semakin jauh dengan meninggalkan jejak-jejak semu merindukan.

Tentang sahabat yang saat ini sulit kutangkap bayangan sempurnanya. Tentang sahabat yang terkadang tersenyum sinis menjajikan diujung pengharapanku. Dan tentang sahabat yang merangkul hangat sehangat kucuran  darah tersembur dari jantungku....

Dunia ini memang dikuasai misteri. Secara kasat mata, semua itu begitu indah memukau. Begitu ceria dengan segala senyum termanis dari segala sisi. Namun, dibalik itu melalui kaca mata kemunafikan, akan terasa begitu berserakannya pisau-pisau dengan bekas darah menempel mmenyelimutinya. Pisau-pisau bekas penusukan tragis yang meninggalkan luka dalam takkan terobati.

Kini, benar saja wajah-wajah itu telah hilang telah pudar telah lenyap dan sekali lagi juga telah meninggalkan jejak semu merindukan. Sangat meridukan.

Oh Tuhan,,, kembalikan wajah-wajah sahabat itu....
Kembalikan jejak-jejak itu lagi...

Entah sampai kapan aku  harus berdiri diujung kabut menanti kembalinya wajah-wajah yang selalu ingin kupeluk erat enggan kulepas itu...

Entah sampai kapan aku harus menahan lelah beriring peluh demi sebuah pelukan sayang dari wajah-wajah yang telah terukir begitu apiknya hanya dalam bingkai bayangku..

Tuhan.. sekali lagi, aku rindu pada wajah-wajah itu... aku ingin kembali menangkap mata dengan binar hangat dari wajah-wajah itu..

Sungguh aku ingin wajah-wajah itu kembali kudekap lagi dan takkan kulepas begitu saja...
Sungguh aku ingin wajah-wajah itu mengiringi simponi hidupku....
Kembalikan wajah-wajah itu..
Kembalikan padaku...

Mereka, wajah-wajah semu merindukan........
Yang sampai kapanpun akan selalu terindukan olehku.....



3 commentaires:

  1. ini yang kamu maksud satu atau lebih orang? :D aku rada bingung soalnya awalnya satu orang, terus ada banyak orang .

    yaudah tenang aja. gak usah merasa kesepian....
    di dunia ini ada banyak orang kok. :D

    RépondreSupprimer
    Réponses
    1. ini multi tafsir kok shannnnn...
      .. haha curahan hati yang trpendam aja...
      . jangan tinggalin aku kalo aku lagi kesepian...
      . haha

      Supprimer
  2. Ce commentaire a été supprimé par l'auteur.

    RépondreSupprimer